
Malam berlalu sebagai malam penuh darah untuk para tahanan penjara. Banyak tahanan memang merupakan ahli sihir, namun penjara ini adalah penjara dengan jeruji besi biasa yang sebenarnya di lapisi oleh sihir area yang meniadakan kekuatan sihir di baliknya.
Maka dari itu, semua tahanan tidak akan bisa melangkah keluar dari sel mereka walau menggunakan sihir, karena mereka akan kehabisan sihir di dalam sel tahanan. Tapi ini tidak berlaku untuk kemampuanku, karena kemampuan ku bukanlah sihir, melainkan Wil Power yang ada jauh pada level berbeda.
Di tengah malam, para penjaga itu datang lagi dan kami berpura-pura seakan-akan kami sekarat dari serangan iblis, kami membuat kebohongan tentang pembantaian iblis di penjara bawah tanah.
Seluruh kerajaan heboh akan peristiwa ini, namun raja dan beberapa orang di dekatnya tidak akan mempercayai kami. Mereka akan melanjutkan ekseskusi kami tepat pada pagi hari tanpa penundaan.
Dengan pakaian putih berlumuran darah, kami berdua berjalan dengan borgol sihir ini sambil di giring ke tempat eksekusi. Semua penduduk kerajaan bersorak begitu keras.
"Bunuh! Bunuh! Bunuh!"
Mereka terus mengatakan itu, sementara kami naik ke suatu area dari tangga batu besar menuju sebuah guillotine. Tiga pasukan bertubuh besar dengan zirah besi melepaskan borgol ku sambil memasang kepalaku di tempat pisau guillotine akan terjatuh, kemudian tangan kanan dan kiri ku berada di samping kepala ku.
Tempat ini cukup luas, bangunan-bangunan kerajaan yang bertingkat di tempati oleh seluruh rakyat kerajaan untuk menyaksikan eksekusi kami. Raja dan para pengawalnya berada gedung yang ada di depanku untuk duduk dan menyaksikan. Lelaki bernama Javel itu kemudian berdiri di hadapan seluruh rakyat kerajaan sambil mengucapkan sesuatu dengan suara lantang yang terdengar pada semua orang. Sementara lelaki dengan tubuh yang cukup besar juga keluar dari suatu tempat dengan mengenakan zirah besi hitam.
Dan ternyata keberadaan kami di anggap bencana bagi semua rakyat kerajaan disini, bahkan terdengar hingga ke kerjaan lain. Eksekusi mati yang akan kami jalani akan di tetapkan hari ini dan kerajaan tidak memberikan waktu dua puluh empat jam untuk memberi hal-hal kami sebelum ekseskusi mati.
Tapi....
Kami tidak membutuhkan hal-hal seperti itu, karena kekacauan seperti ini adalah akibat yang kami ciptakan karena rasa bosan dan merusak kehidupan dunia lain.
Selain itu, raja ini terlalu banyak bicara di depan rakyatnya seolah-olah dia benar-benar raja yang kuat dan bijaksana. Sampai pembicaraan tentang hukuman mati kami selesai, algojo dengan jubah hitam segera bersiap untuk melepas tali guillotine nya padaku, namun semuanya sudah menunggu keputusan raja.
Seperti yang sudah kuketahui, namanya adalah Raja Elvis Vahesta, merupakan raja dari kerajaan Valheisa sekaligus raja muda berusia dua puluh tujuh tahun yang di katakan akan terus memerintah kerajaan ini hingga keturunannya siap untuk mewarisi tahta nya.
Dia sudah menyelesaikan semua pidato nya di hadapan seluruh rakyat kerajaan, dan keputusan absolute kerajaan berada di tangannya. Dengan itu, kami akan di eksekusi sekarang setelah algojo mendapat perintah.
Di atas sana, ada sebuah meja mewah dan kursi besar yang di penuhi corak emas, tempat dimana raja itu duduk sambil di tuangkan secangkir anggur oleh pelayannya. Di kanan dan kirinya juga ada pengawal berziarah besi yang berjarak sekitar delapan meter darinya.
Saat dia selesai menelan beberapa tegukan anggurnya, dia berdiri dari kursi ke hadapan semua orang sambil mengangkat tangannya secara tegas ke langit. Telunjuk tegak yang berdiri ke atas kemudian turun melambai jatuh dengan cepat dalam beberapa detik sebagai perintah eksekusi.
"Eksekusi pertama." Ucap nya dengan lantang.
Perintah yang di lontarkan segera membuat algojo itu melepas tali nya dan membuat pisau guillotine jatuh dengan cepat menerjang tengkuk leher ku, saat pisaunya hampir menyentuh ku, terdengar bunyi keras bagaikan besi yang menabrak sesuatu hingga pecah bagaikan suara kristal, pisau nya pecah saat hampir menyentuh tengkuk ku, karena itu adalah dinding inferno yang bahkan bisa membuat sesuatu yang akan menyentuhku secara paksa meledak berkeping-keping karena panas berlebihan.
Bunyi yang bisa di dengar oleh semua orang disini kemudian merubah ekspresi mereka semua, rakyat, pengawal, pelayan, algojo, raja dan siapapun itu. Raja itu baru saja ingin mengangkat gelasnya lagi, namun dia juga berhenti di sana untuk menajamkan matanya dan melihat apa yang terjadi di bawah sini.
Suara-suara kecil yang berisik itu menjadi tenang ketika mata yang tak terhitung jumlahnya memandang ke arah ku. Pisau guillotine hancur setengah, dan bagian terakhir adalah talinya yang terbakar menjadi abu hingga ke atas.
Selama satu menit semuanya menjadi hening sampai orang-orang mulai bertanya satu sama lain tentang apa yang terjadi pada guillotine nya dan apakah aku mati atau tidak. Raja itu berdiri kembali ke depan untuk melihat algojo dengan tatapan kacau balau.
Saat algojo itu juga mencoba menyentuh ku untuk memeriksa, semua tumbuhnya segera terbakar dan lenyap menjadi abu untuk terbang ke langit. Dia mati, dan tidak akan hidup kembali.
hehe......
Hmmmhahaha....
AHAHAHAHAHAHAHAHAHA!!
Aku berdiri dari posisiku yang terjebak pada alat ekse ini, melepas semuanya semudah membalik telapak tanganku. Saat aku menyentuh benda ini untuk terakhir kalinya, guillotine ini hancur menjadi debu tanpa meninggalkan bekas apapun.
Kini hanya aku dan Haumea yang berdiri tepat di atas tempat eksekusi dimana tempat ini benar-benar di kelilingi oleh semua orang untuk menyaksikan. Aku tertawa pelan hingga menjadi keras dan terdengar pada semua orang.
Dan aku berkata......
"Raja, apakah tidak ada proses eksekusi yang lebih menyakitkan? Guillotine hanyalah proses eksekusi paling manusiawi kamu tahu? Ini akan membunuhku dalam sekejap, tidak bisa kah eksekusi mati di lakukan dengan penyiksaan terlebih dahulu? Misalnya memotong semua tangan dan kaki ku saat aku masih hidup, atau semacamnya."
.......Aku kemudian berkata lagi.
"Walau aku menyarankan, percuma saja ... karena aku tidak bisa mati. Ahahahaha....!!!"
Wajah nya segera pucat, begitu juga dengan semua rakyat yang gemetar. Raja itu langsung bertindak dan mengerahkan semua pasukan kerajaan untuk mengepung kami, rakyat akan di ungsikan ke luar kerajaan, dan delapan ratus lebih pasukan berziarah hitam dengan pedang tajam mengkilat berkumpul melingkar untuk mengelilingi ku dari segala arah.
Ketika mereka semua mendekat, aku merubah diriku dengan jubah hitam ku. Haumea mendekat di sampingku sambil memeluk lengan kiri ku. Aku bertanya apa yang dia lakukan, dan dia menjawab bahwa ia hanya ingin berada di dekat ku sambil melindungi dirinya.
Tangan ku masih tetap terangkat lebar, aku tersenyum jahat pada raja itu dan berkata lagi...
"Kamu di atas sana! ... jika semua pasukan mu ini lenyap, ku harap kamu tidak ikut kabur bersama para rakyat itu. Hmhmhmhahahahaha." Ucapku pada raja itu.
"SERAAAANGG!!! BUNUH MEREKA!!!"
Ucap seorang kesatria pemimpin semua pasukan zirah hitam ini.
Saat itu juga, mereka maju bersamaan untuk menyerang ku dari segala arah, dan ada delapan ratus pasukan. Lapangan ini terlalu luas untuk mayat kalian semua.
Aku menurunkan semua tanganku dengan santai, tangan kanan turun dan tangan kiri ku akan bergerak menunjuk ke tanah untuk menciptakan sebuah simbol yang tercipta dari darah iblis kemudian simbol itu menciptakan garis yang tidak terhubung dengan lima sisi untuk menciptakan bentuk bintang yang menghubungkan segi lima di luarnya pada lingkaran merah dua lapis berisi tiga simbol.
Bagi iblis-iblis yang hidup di lapisan dunia yang lebih tinggi, ini adalah mantra tingkat tinggi yang mampu membunuh siapapun dengan metode apapun sesuai keinginan pengguna yang menulis simbolnya. Bagi Haumea, ini tidak di perlukan oleh nya. Dan bagi ku, ini hanyalah hiasan semata.
Lingkaran merah tercipta tepat di bawah kaki kami, kami berada tepat di simbol tengah yang paling besar hingga menyala merah gelap untuk memberikan perasaan mematikan pada siapapun. Siapapun yang melihat simbol ini akan menjadi gila.
Saat itu juga, semua pasukan ini segera bergerak berkelintaran tanpa arah yang jelas, mereka menjadi gila dan mulai menusuk menyerang satu sama lain dengan keras. Siapa yang jatuh, zirah dan helm mereka akan di lepas secara paksa, kemudian mata dan otaknya akan di tanamkan sebuah pedang berkali-kali.
Aku melihat raja itu mulai terpengaruh oleh lingkaran ini, aku hanya bermain-main saja dengan sihir sekecil ini. Nampaknya, dia memiliki resistensi yang cukup untuk menahan mantra iblis perusak jiwa seperti ini, namun itu tidak akan bertahan lama jika dia terus menatap ke arahku dengan wajah ketakutan.
Lelaki bernama Javel itu kemudian membawanya untuk segera lari dan berlindung, istri raja, anaknya, bahkan orang-orang tertinggi di kerajaan ini akan segera hancur, mereka semua lari meninggalkan kerajaan ini.
"Seberapa lama lagi kamu akan menyiksa para kesatria ini?" Tanya Haumea.
"Tidak lama, mereka tidak akan mati, walau tubuh mereka robek dan terpotong-potong, namun aku akan terus membuat mereka melakukan itu selama dua ratus tahun."
...HAHAHAHAHAHAHA....!!!!!...
"Aku senang ketika kamu tertawa." Ucapnya.
"Aku tidak tertawa, aku hanya bersenang-senang untuk mempersembahkan kematian-kematian ini untukmu, bukankah kamu menyukainya?" Jawabku.
"Yeah, aku menyukai caramu." Ucapnya dengan jari telunjuk kiri nya di bibir ku.
Delapan ratus pasukan dan kesatria terdepan menjadi orang bodoh begitu saja yang saling melukai, aku tahu masih ada banyak pasukan kerajaan di balik tembok ini. Mereka semua rela mengorbankan nyawa mereka untuk melindungi raja dan rakyat. Hahaha, memang seperti itulah pengabdi kerajaan yang seharusnya.
Aku akan.........
Membunuh kalian semua.