Reborn As A Tyrannical Demon Lord

Reborn As A Tyrannical Demon Lord
Chapter 34 : Time freeze control




Aiden sekarang bisa berpindah kemana saja atas kemauannya, selama nama Fyrena di sebutkan sebagai syaratnya.


Dia bisa berpindah ke sekolah dalam sekejap. Yang perlu di lakukan setelah itu hanyalah melangkahkan kaki ke sana.


Valerie mengikutinya sampai kesini, sehingga tidak perlu ada tubuh tiruan sebagai guru, dia datang langsung ke sekolah mengikuti kemana Aiden pergi. Mencari tahu lebih lanjut apa yang akan di lakukannya, hingga dia melihat Aiden tepat berada di jalan selanjutnya.


"Aiden! Aiden! Tunggu!"


Dia mengejar Aiden yang sedikit jauh dari belokannya, dan menghampiri nya.


"Oh, Valerie."


Kata singkat itu membuat orang-orang di sekitar mengalihkan pandangan yang semuanya di tuju untuknya.


"Emm, ekhem, maksudku yeah guru!!" Ada yang bisa kubantu?"


"Apa yang kamu lakukan disini??"


Sambil berkata dengan suara pelan yang hampir setara dengan berbisik.


"Tentu saja sekolah! Untuk apa aku terus berada di rumah? Lagipula kamu tidak mengajariku secara rutin, sungguh membuang waktu."


Keduanya berjalan bersama menuju kelas, tapi sayangnya itu benar-benar lucu. Karena Valerie lebih pendek daripada Aiden, seorang guru yang lebih pendek dari muridnya. Mereka malah terlihat seperti seorang murid yang berpacaran dengan gurunya.


Lagipula...


"Hey! Lepaskan tanganmu! Kamu adalah guru, tidak perlu menarikku seperti itu, orang-orang akan menggangap kita aneh nantinya."


"Tidak masalah, aku hanya akan mengatakan bahwa kamu adalah anakku."


"Apa-apaan! Tidak mungkin! Itu adalah lelucon."


"Mungkin saja, aku adalah guru, disini aku lebih berkuasa daripada seorang murid. HAHAHA!!"


Membuka pintu kelas berjalan bersamaan, tiba-tiba sebuah serangan datang dengan cepat menuju wajah Aiden. Ember penuh kotoran yang sudah di rencanakan oleh satu kelas untuknya.


Karena seseorang yang memprovokasi teman lainnya melihat Aiden berjalan di bagian sekolah sebelum dia masuk lebih dulu, rencana ini sebenarnya sudah ada di antara mereka semua sejak dia tidak hadir. Hanya Eiji yang tidak terlibat dalam rencana ini, masa bodoh soal itu, Aiden adalah temannya sendiri.


Ember penuh kotoran yang melayang dengan cepat kearahnya dan Valerie segera berhenti di udara.


"Wah! Wah! Wah!! Lihatlah perangkap bodoh ini, mereka pikir apa yang datang kesini? aku adalah guru, apakah mereka selalu melakukan kejahatan ini padamu??"


Tanya Valerie pada waktu yang membeku.


"Kurasa mereka semua membenciku, mungkin karena aku begitu lemah dan payah? tawa hinaan mereka selalu di lontarkan padaku, memangnya kenapa?"


"Walau seperti itu, ini adalah keputusanku untuk membekukan waktu, tapi waktu yang kubekukan hanya terjadi di dalam kelas ini saja, orang luar tidak akan terpengaruh, cepat putuskan apa yang akan kamu lakukan selanjutnya, sebelum mereka yang tidak terkena efek ini masuk dan melihat kita berdua."


"Kamu memintaku untuk memutuskan, baiklah salah satu anak berengsek di kelas ini yang dikenali adalah dia!"


Sambil menunjuk ke wajah Cade, seorang preman sekolah yang merasa sok jagoan, dia merasa begitu hebat karena memiliki banyak kakaknya di akademi ini yang bisa melindunginya, dia bisa bertingkah sesuka hatinya. Berpikir demikian.


PTEK!!


Satu petikan jari Valerie membuat Cade yang di tunjuk Aiden terpindah sekejap mata di samping mereka berdiri sekarang. Keduanya menghindar dari titik berdiri itu, memindahkan posisi berdiri Cade tepat untuk ember yang akan mendarat di wajahnya.


"HAHAHAHA!!! Valerie! Luar biasa! Sekarang~ umm yeah! Ajarkan aku menghentikan waktu seperti ini."


"Untuk apa?"


"Itu perjanjian kita, tidak mungkin kamu melupakannya."


"Aku akan mengajarinya setelah kita pulang, untuk saat ini, tidak! Sekarang pergilah ke tempat dudukmu."


"Tidak, tidak, Valerie, bukan seperti itu taktiknya, aku akan membuat semuanya kembali seakan-akan kita masih berjalan di luar, kamu hanya akan membuat seluruh orang menuduhku, jika aku yang ada disana, satu-satunya orang yang mendukungku hanyalah Eiji."


"Walau sebenarnya aku berada di pihakmu, tapi baiklah~ mari kita kembali ke luar kelas."


Keduanya berjalan kembali keluar kelas, Aiden melewati tubuh Cade yang tepat berdiri di depan ember berisi kotoran pada waktu yang membeku. Dia lewat tepat di samping, mendekati telinga Cade yang bagaikan patung, kemudian berkata...


"Bersiaplah atas hiasan untuk wajahmu!!"


"Hihi ... ahAHAHAHAHAHA!!!"


Pintu kelas kembali di tutup, membuat skenario kedatangan yang terlambat, ini bukan kembali ke masa lalu atau memundurkan waktu, ini hanya membekukan waktu di antara mereka, kelas lain dan tempat manapun tidak akan terpengaruh kecuali Valerie menginginkan pembekuannya sampai sejauh itu.


PTEK!!


Waktu kembali berjalan seperti semula, posisi mereka berdua jelas tertukar dengan Cade. Ember penuh lumpur dan kotoran dari pembuangan sekolah jatuh tepat di wajahnya. Memenuhi semua bagian wajah dan baju nya dengan bau busuk, bahkan kotoran itu perlahan jatuh ke celananya, benar-benar buruk.


Semua wajah senyum jahat yang telah di atur di sana untuk tertawa tiba-tiba mengubah ekspresi itu menjadi datar.


"Cade? Apa yang? Tadi dia berada di sampingku."


"Kenapa bukan Aiden??"


Dan ada banyak lagi kata-kata pertanyaan yang tidak di mengerti. Mengapa Cade bisa berpindah ke posisi itu.


Cade benar-benar merasa marah, rencana yang dia buat malah berbalik pada dirinya sendiri. Itu benar-benar pagi yang menyebalkan.


"Kenapa!!?!?! Kenapa aku?!?! Apa yang terjadi?!"


Sungguh sesuatu yang tidak akan di mengerti oleh murid-murid baru yang menyedihkan. Mereka pikir Aiden tidak bisa melakukan kemampuan seperti yang di lakukan Valerie.


Membuat Valerie terkejut ketika yang menjentikkan jari untuk mengembalikkan waktu adalah Aiden, bukan dia.


"Aiden, b-b-bagaimana, bisa?"


"Tentu saja bisa, aku ini adalah calon rajamu."


"Secepat itu."


Nama Fyrena, aku hanya perlu menyebutkannya dalam hati tanpa di dengar oleh siapapun juga bisa, aku menginginkan waktu berjalan kembali, kalau begitu aku seharusnya tidak perlu mengucapkan Fyrena dari mulutku, aku cukup mengucapkannya dalam hatiku saja, dan itu akan langsung bekerja.


Sebenarnya aku tidak takut, walau dia raja iblis atau leluhur dan semacamnya sejak awal, aku akan membiarkan diriku melawan halangan. Semua rasa takut pada ekspresiku ini seharusnya hanyalah pura-pura. Begitu menyenangkan menipu banyak orang.


Ucapnya dalam hati.


Sementara Marie saat ini tidak mengawasinya dengan mata atau apapun, di luar jangkauan, dia hanya bersama kedua pelayan itu, memerintah mereka berdua untuk melakukan pijatan pada kakinya, sementara yang satunya akan menyisir rambut merahnya secara terus-menerus sampai dia bertemu rasa mengantuk dan tertidur.


Raja iblis juga bisa tertidur, itu jika mereka mau secara alami, walau seseorang yang memiliki gelar ini sudah pasti memiliki kekuatan besar untuk mengabaikan hal-hal seperti tidur, makan, dan lapar, mengabaikan luka kecil atau luka fatal dan beregenerasi dalam kedipan mata.


Pintu kelas terbuka, dengan kedatangan Valerie dan Aiden.


"Wah! Wah! Wah~ ada apa ini? Keributan di pagi hari? Apa yang kalian lakukan?"


Tidak satu orang pun mau menjawab, karena semua ini adalah perbuatan mereka bersama, untuk meletakkan perangkap di atas pintu ketika seseorang masuk. Seharusnya Aiden sudah masuk di saat itu, membuat semua orang tercengang.


Pintu tertutup, dan yang berdiri di sana malah Cade, justru guru Valerie dan Aiden malah datang di saat yang bersamaan. Mereka tidak tahu harus menjawab apa.


"Jawab aku, siapa yang memasang perangkap ini? Apakah kalian bermaksud untuk menjahiliku?" Ucap Valerie dengan nada marah palsu.


Aiden berpikir bahwa tidak salah jika Marie memilih gadis ini sebagai bawahannya pada urutan pertama, tapi baginya, walau gadis ini pintar berakting, tidak semua rencananya bisa berhasil karena kemungkinan beberapa bisa menyebabkan jalan buntu dan permasalahan lain yang berlanjut.


Contohnya bagaimana jika Aiden tetap duduk di kursi dan melanjutkan kembali waktu, jelas dia akan di curigai memiliki kemampuan pengontrol waktu dan semua tuduhan akan di arahkan padanya, menyebabkannya dalam masalah untuk kedua kalinya, dia harus menghindari itu.


Eiji yang duduk dengan santai dan membaca buku mengeluarkan perkataannya dengan santai disana.


"Guru, jika tidak ada jawaban maka biarkan aku yang menjawab."


Kemudian dia mengatakan secara rinci bagaimana rencana ini di bentuk oleh Cade sendiri, yang lain adalah menjalankan pembagian tugas untuk mencari kotoran yang begitu busuk di pembuangan sekolah, bercampur sedikit bangkai hewan yang di masukkan kesana, membuat baunya sangat menyengat.


Hal yang sudah disiapkan pagi ini, yang mereka pikir akan berlangsung dengan sempurna malah di tabrak oleh keajaiban yang tidak terduga, si pencipta rencana malah terkena karma nya sendiri. Walau dia sebelumnya memaksa Eiji untuk bergabung dalam rencananya, namun Eiji menolak, karena dia merupakan teman Aiden sekarang.


Cade mengancam untuk memukulinya setelah pulang sekolah, satu hal yang membuat Eiji sekarang merasa tidak takut, adalah Aiden, melihat Aiden melawan begitu saja, menurutnya itu luar biasa dan lebih baik untuk di contohnya, dia ingin sekali menjadi seseorang seperti Aiden dengan pemikiran yang mungkin belum bisa di tebak sebagai teman biasa.


Apapun yang akan terjadi setelah ancaman itu, Eiji akan menerima walau dia harus berkelahi dengan Cade, satu hal yang tidak di duga Eiji seharusnya bahwa itu bukanlah perkelahian duel satu melawan satu, tetapi satu orang saja yang akan di jebak dan di pukuli bersama-sama.


Cade memiliki banyak teman di kelas, yang menjadi pengikutnya kesana kemari, mengelilingi sekolah bagaikan seorang jagoan. Berpikir bahwa mereka itu keren. Kedatangan Aiden hari ini harusnya membuatnya terselamatkan, karena dia bisa berjalan keluar dari wilayah sekolah bersama Aiden, dan mereka tidak akan mendekat.


Sekarang bagian itu terungkap, dan di ungkapkan langsung oleh Eiji di hadapan semua orang di kelas. Valerie yang sudah tahu sejak awal hanya bersikap seolah-olah baru paham akan penjelasannya.


Maka dari itu, semua murid akan secara rata membersihkan kotoran yang begitu menyengat ini, mereka semua yang terlibat dalam rencana entah itu hanya memberi bagian kecil dari rencana, atau hanya membagi sebuah saran dan ide untuk rencana, mereka tetap akan di anggap terlibat, dan satu-satunya yang tidak terlibat tanpa hukuman adalah Eiji itu sendiri.


Membuatnya melihat pemandangan terbalik karena keajaiban yang sebenarnya hanya di lakukan oleh guru dan muridnya secara bersamaan. Melihat Eiji yang membuka mulut lagi untuk kedua kalinya, malah menambah rasa benci Cade padanya juga, sekarang seluruh kelas juga mulai membenci Eiji, sama halnya seperti mereka tidak menyukai Aiden.


Aiden dan Eiji sebenarnya adalah murid yang tampan, mereka juga memiliki sesuatu yang berbeda, seperti Eiji menjadi salah satu jenius yang melakukan setiap praktek sihir dengan sempurna untuk pertama kalinya di dalam kelas, sedangkan Aiden adalah sosok yang menyembunyikan kemampuan rahasia dari Fyrena dan membuat dirinya tetap terlihat seperti pecundang.


Hanya kelas ini menjelek-jelekan mereka berdua, orang-orang dari kelas lain malah menggangap mereka adalah anak yang ramah dan suka membantu. Itu karena seluruh kelas ini sudah terprovokasi sejak awal.