Reborn As A Tyrannical Demon Lord

Reborn As A Tyrannical Demon Lord
Chapter 168: The Unknown Devil Worshiper



"Kurangi pikiran berat di kepalamu"-Aiden kemudian mengarahkan suapan selanjutnya pada Razel-"Makan, dan beristirahatlah setelah ini. Biarkan aku yang memikirkan semuanya."


Dengan begitu lemah, Razel mengangguk, dia menerima begitu banyak suapan, sehingga hanya tersisa porsi makanan kucing untuk Aiden. Wanita itu akhirnya tertidur bersama bayinya.


Hujan mulai turun disertai badai. Jeritan anjing aneh terdengar dari luar. Aiden bukan keluar untuk memastikan jeritan anjing, melainkan menerobos hujan hanya untuk mencari vending machine jalanan dan membeli dua kaleng kopi lagi.


Tapi ada sesuatu yang mengotori pemandangannya, seekor anjing berbulu hitam lebat terlihat sedang merobek dan mencabik-cabik anjing jalanan. Saat anjing itu menyadari tatapan Aiden, dia menatap balik Aiden untuk waktu yang lama, namun suara kecilnya terdengar bagaikan kambing yang sekarat.


"Oh, bukan, bukan anjing-anjing ini ... tapi kau, mahluk jadi-jadian yang lebih hina sebagai alat sihir seseorang. Siapapun itu,"-ucap Aiden sambil mengeluarkan pistol dari saku dalam mantelnya-"berani-beraninya kamu mengawasi ku menggunakan anjing!!!"


BANG!!


Setelah menembak, tangannya tetap tegas sambil memegang pistol yang mengarah pada anjing aneh tersebut. Dia sudah yakin bahwa dua mayat kucing dan anjing yang selama ini tergeletak di depan pagar rumahnya adalah ulah mahluk ini.


Anjing itu tetap berdiri tanpa terjatuh sedikit pun, dengan suara yang semakin buruk, mahluk aneh ini dengan cepat menerjang ke arah Aiden. Wajah Aiden tetap tenang, tapi jantungnya benar-benar berdetak kencang sambil memanggil setan-setan dari cincinnya.


"Bunuh!!!"


Perintahnya begitu cepat, semua setan itu terbuka kembali ke alam nyata. Membentuk tubuh mereka dari setiap bayangan yang ada dan menusuk anjing itu dari segala arah. Namun, semua darah anjing itu memancar ke pakaian Aiden, aromanya juga benar-benar membuatnya menjadi lebih emosi.


"Para setan!! Cari keberadaan pemilik mahluk sihir ini, dan tunjukkan jalan padaku! Aku akan membiarkan kalian bersenang-senang di luar sini untuk sementara waktu."


Di bawah hujan badai, setan-setan itu bergerak menjadi penunjuk jalan dengan bentuk-bentuk bayangan apa saja. Aiden tetap berjalan, tidak peduli meski seluruh bajunya basah kuyup, asalkan dia bisa menghajar orang tersebut maka dia bisa pulang dengan senyuman.


Sambil berjalan, Aiden menyadari sosok di balik bayangan yang melempar sebuah kapak. Lebih tepatnya, sosok tersebut muncul bersama bayangan yang membawanya dari suatu tempat.


"Luar biasa! Menggunakan setan yang sama untuk melacak seseorang yeah~" ucap pria tersebut.


Aiden tetap berjalan ke arah pria itu saat dia mengatakan keluh kesahnya karena mahluk sihirnya yang di musnahkan. Aiden langsung mengarahkan pukulan ke wajahnya, namun pria itu langsung menahan pukulannya dan memukul balik. Pria itu juga tidak mahir menggunakan sihir, maka dia bertarung layaknya orang normal.


Pukulannya yang mengenai dada lumayan keras, membuat Aiden terhempas ke tembok sekitar. Kepala Aiden terbentur keras dan mengeluarkan sedikit darah dari bagian belakang leher dan telinganya. Selanjutnya, dia bergerak kembali untuk membalas pria itu dengan hantaman di wajah diikuti tendangan ke perut.


"Sialan, berani-beraninya kamu!"


Pria itu kemudian mengeluarkan pisau kecil dari pakaian hitamnya. Dia bergerak cepat untuk menyerang hingga bagian lengan dan telapak tangan Aiden tergores cukup dalam. Itu lumayan perih namun tidak akan terasa perih jika emosinya terus meningkat.


Tusukan berikutnya, pisau kecil itu mengenai bahu Aiden lagi yang membuatnya menjauh dan melepas mantelnya.


"Penyihir kotor, kamu tahu berita tentangku? Sosok misterius pembunuh psikopat, sekarang hanya ada kamu dan aku, terlebih lagi, kamu hanya sendirian." ucap Aiden sambil melangkah mundur perlahan.


"Aku memang hanya sendirian, tapi menjatuhkan ku bukanlah hal yang mudah."


Pria itu tahu bahwa Aiden akan mengambil kapak yang dia lempar sejak awal, kapak itu menancap di tempat sampah, maka segeralah dia melempar pisau kecilnya hingga kembali mengenai kaki Aiden. Pisau kecil itu menembus sepatunya cukup dalam dan membuatnya semakin marah.


Dengan cepat Aiden melakukan langkah terakhir untuk mengambil kapak tersebut karena pria itu berlari ke arahnya sekarang.


Saat dia menyentuh ujung kapak itu, tendangan datang mengenai tulang keringnya, kemudian membuatnya terbaring kesakitan, Aiden benar-benar dalam posisi kekalahan.


Di posisi itu, beberapa pukulan kembali mengarah ke wajahnya dan mengenainya satu kali hingga berdarah. Di posisi terkunci, Aiden kembali menendang keras perut pria itu hingga dia bisa bergerak bebas lagi dan mengambil kapaknya.


Pria itu kembali melayangkan tinjunya untuk mencegah Aiden mengambil kapaknya. Tinjunya yang mengenai Aiden membuat kapak itu terlempar ke langit dari tangan Aiden, namun lemparan itu juga dilakukan dengan sengaja.


Satu pukulannya meleset, kemudian di balas oleh pukulan Aiden yang juga meleset, namun berhasil menendang pria itu ke belakang bertepatan dengan titik jatuh kapak yang di lempar. Kapak yang jatuh dengan kecepatan tinggi benar-benar mengenai kepalanya dan membuatnya pingsan—pria itu belum mati.


Jatuh dan tergeletak di jalanan, bagian kiri kepalanya bocor dan terus-menerus mengeluarkan darah. Jari-jemari pria itu masih bergerak saat Aiden telah meninggalkannya, berdiri kembali setelah pingsan yang sangat singkat, dia mulai memerintahkan setan yang dia miliki untuk menyerang Aiden.


Sayang sekali, kekuatan seperti itu hanya satu banding seribu, Aiden kembali membalikkan wajahnya bersamaan dengan semua setan-setan yang bergerak untuk menyegel tubuh pria itu. Beberapa wujud bayangan berubah dengan bentuk bagaikan laba-laba yang memiliki sepuluh tangan dan sepuluh kaki untuk membawakan kapak itu pada Aiden.


Tangan, kaki, dan semua bagian tubuh pria itu menempel di bayangan pekat dan tidak bisa di lepaskan. Aiden mengambil kapak dengan tangan kanannya sambil mengangkatnya ke langit. Kemudian dia memukul tepat di tengah kepala, terus memukul hingga kepala pria itu bocor lebih banyak, menghancurkan otaknya hingga tewas.


"Mati saja!! MATI SAJAA!!! BAJINGANNN!!!!"


ucap Aiden sambil memecahkan kepala pria itu, otak dan kepalanya tidak lagi menyatu, kemudian kapak itu terus di pukul hingga tengkorak depan hancur dan menghantam bola matanya.


"Aku bisa membunuhmu sejak awal hanya dengan sekali tembak,"-ucap Aiden sambil mengeluarkan pistolnya ke arah mayat pria itu-"Tapi sayang sekali, peluruku tersisa satu ... dan satu peluru ini spesial untuk seseorang"-dia kemudian menyimpan kembali pistol itu di sakunya.


"Hanya satu setan panggilan tidak cukup untuk melawan ratusan jiwa jahat yang telah kumiliki, dasar bedebah! Aku benar-benar harus terluka seperti ini hanya untuk membalas mu."


Pertarungan itu terlalu singkat, seorang lelaki dengan omongan berisik di habisi begitu saja, memata-matai seseorang benar-benar membuat Aiden kesal.


"Benar juga ... apa tujuanku menerobos hujan badai seperti ini?" tanyanya dalam hati.


Dua minggu setelah Razel pulih kembali, Aiden menemaninya ke pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa kebutuhan sambil membawa Mira kecil dengan kereta bayi. Mereka berkeliling cukup lama untuk membeli banyak peralatan rumah yang belum ada, contohnya seperti beberapa bahan makanan.


Beberapa space iklan digital jalanan sempat di ganti menjadi berita. Berita itu menampilkan tragedi ledakan sebuah gedung dan pembunuhan menggunakan senjata api. Razel sebelumnya tidak menyadari layar-layar yang terus muncul di beberapa bagian dalam pusat perbelanjaan, pada akhirnya dia melihatnya di layar iklan sebuah gedung yang memperlihatkan video pembunuhan yang terekam kamera pengawas.


Aiden yang mendorong kereta bayinya kemudian mengarah ke beberapa mobil taksi yang berhenti di lokasi penjemputan penumpang. Dia sudah memesan mobil ini lebih dulu untuk membawa Razel dan anaknya pergi.


"Aiden, apa-apaan ini?!"


Razel tahu bahwa Aiden memiliki maksud tertentu, karena dia sendiri telah melihat wajah Aiden di layar berita dengan rambut berantakan sebagai pelaku pembunuhan kejam terhadap beberapa orang dan menyebabkan ledakkan besar di sebuah gedung tadi malam.


Layar juga menyoroti kembali sosoknya yang hadir dengan tanda aneh di leher. Mayat-mayat itu kini di temukan di bawah reruntuhan gedung yang meledak. Seluruh tubuh mereka hangus terbakar bersama darah yang terus mengalir.


"Aku tidak mau tahu, kamu harus tetap lari dari sini sekarang juga." jawab Aiden.


Setelah memasukkan istri dan anaknya ke dalam mobil, Aiden berlari sejauh mungkin di antara gedung-gedung dan jalanan sempit. Dia bersikeras untuk melakukan usahanya sendiri sejak terakhir kali membunuh seorang penyihir dengan kapak dan beberapa pukulan keras di kepala. Langkah terakhir sudah dekat.


Teror di lancarkan dengan setan-setan yang memancing beberapa orang seusianya untuk keluar di malam hari. Hipnotis setan dari cincinnya berhasil menarik orang-orang yang di inginkan Aiden ke hadapannya.


Dan kemudian dia berkata "Sudah lama sekali kita semua tidak bertemu ya?" setelah mengucapkan kata itu, orang-orang yang terhipnotis kemudian kembali pada kesadarannya, melihat sosok di dalam bayangan dengan mantel basah penuh darah di dekatnya.


Tentu saja sang pendendam masih mengingat tujuannya, mengingat hal-hal yang di tujukan pada dirinya, perundungan sosial dan fisik yang merugikan. Pemuda-pemuda dengan usia seperti itu bahkan tak memiliki pemikiran dewasa, setidaknya pada usia seperti itu, mengusik seseorang tak perlu terlalu berlebihan.


Maha Giovinco, Karen Wesley, begitu juga dengan beberapa anggota perundung lainnya. Aiden masih mengingat wajah mereka semua, tidak akan pudar dari zona kebenciannya. Hal-hal buruk yang mereka lakukan di masa lalu, akan di balas malam ini juga, dengan kematian mereka sebagai akhirnya.