
Berjalan di malam hari yang begitu panjang, Aiden dan Marie menyelesaikan waktu bersama dengan cukup bahagia di restoran kelas atas, walau mungkin dengan sedikit tekanan dan paksaan, namun tidak masalah baginya.
"Kamu ... berhenti memegang tanganku, itu membuatku malu!!"
"Malu? Lihatlah kebohonganmu itu~"
"Bohong??"
"Sayang sekali, aku masih sempat membaca isi hatimu, kamu sangat senang menyentuh tanganku bukan? Tapi itu terhalang rasa canggung dan kaku karena kamu tidak terbiasa memegang tangan wanita, bukan? Kamu tidak bisa mengelak dari pernyataan ini."
Sayang sekali, dia lengah lagi, pikirannya berhasil di baca oleh Marie setelah beberapa waktu mencoba membaca pikiran dan isi hati yang tidak terlihat. Membuat Aiden melepaskan tangannya dari genggaman tangan Marie, rasa malu yang menyelimuti seluruh dirinya, terasa tidak ingin menampakkan wajahnya.
"Tanganmu begitu kaku, tidak perlu sejauh itu dariku." Ucap Marie sambil memegang kembali tangan Aiden.
Begitu jari-jarinya terus menggeliat sedikit mengubah posisinya, Aiden hanya terus dengan posisi telapak tangan dan jari-jari yang tetap pada titik awalnya, tidak bergerak sedikitpun dari sana, dan begitu ragu untuk menggerakkan sedikit jarinya, bagaikan makanan yang membeku di freezer.
"Marie."
Satu ucapan yang begitu singkat hanya dengan mengucapkan namanya. Membuat Marie menoleh padanya dengan balasan "Apa?" Wajah dingin yang begitu gugup ingin mengatakan sesuatu, namun lidah yang seperti membeku dan terlipat di dalam membuat kata-kata itu sulit untuk keluar, kecuali menunggu beberapa saat ketika kata-kata itu bisa terucap dengan kaku.
...
"B-b-bisakah ... bisakah kamu pergi lagi ke akademi bersamaku?"
"Ehh? Tumben kamu memiliki permintaan seperti itu. Ada apa? Katakan, katakan."
"Untuk menjadi raja iblis yang menyamar sebagai ... umm, menyamar sebagai gadis sekolah! bagaimana?"
Dengan wajah gugup dan mati gaya...
Marie bertanya lagi : "Lalu?"
"Lalu ... raja iblis yang menyamar sebagai gadis sekolah akan menyamar sebagai pacarku."
DEG ... DEG!!
DEG ... DEGGG!!
Detakan jantung yang sedikit tidak teratur dan begitu berdetak kencang, sangat membuat nya tegang dan gugup.
"Kamu terlalu gugup~ aku bisa merasakan detak jantung yang gugup itu, tenang saja, maka jawabannya aku akan menerima."
Sambil menyentuh tangannya pada detak jantung Aiden. Membuat Aiden merasa bahagia tak terukur di dalam hatinya, rasa gembira itu membuatnya senang untuk pertama kalinya, jika itu adalah dirinya, maka Marie akan terus menerimanya dengan senang hati, tidak ada wanita seperti ini di dunia atau kisah lamanya.
Membuatnya terasa seperti tenang sebentar tanpa ada beban di dadanya, detakan itu tidak lagi terasa kacau, membuatnya meraba dadanya dan merasakan detakan yang tidak ada, sampai membuat wajah dan ekspresinya pucat seketika.
Dia berbicara dan bertanya di dalam hati :
"Hah? Detakan ... dimana detak jantungku? Apa yang terjadi pada jantungku? Tidak ada getaran sama sekali!"
"Maksudmu ... ini? Yang kamu cari? Hahaha!"
Ucap Marie sambil memperlihatkan sebuah jantung di tangannya yang berdetak kencang dengan sangat keras dan irama yang tidak terlalu teratur.
"J-j-jantungku!!! Bagaimana bisa??"
Sambil meraih seperti akan merampas jantungnya kembali dari tangan Marie, namun dia terus mengelak dari rampasan Aiden yang begitu lemah, seperti tidak berdaya dan akan menuju akhir hidupnya.
"Tenanglah, tenanglah, kamu tidak akan mati hanya karena jantungmu berada di luar tubuhmu, aku memegangnya, itu berarti aku menguasainya. Ini ... ambillah."
Sambil memberi perlahan jantung itu kembali ke tangan Aiden. Aiden hanya menerima kembali jantung itu ke tangannya, detakan yang terus berbunyi setiap detiknya.
Dia mengarahkan jantung itu untuk masuk kembali ke tubuhnya, namun tangannya tidak dapat menembus tubuhnya sendiri untuk memasukkan jantung itu kembali ke tempatnya. Jangankan menempatkan dengan posisi yang benar, tangannya saja bahkan tidak bisa menembus masuk ke dalam tubuh ini. Membuat Marie tertawa mengejeknya.
"Hahahaha!! Uhuhuhu~ sekarang bagaimana kamu ingin mengembalikannya masuk ke sana? Aiden yang malang."
SLUPP!!
Aiden memasukan tangannya dengan cepat kembali ke posisi jantung itu seharusnya berada pada tubuhnya. Membuat Marie terkejut dengan respon yang tidak terduga.
"Kamu!! Bagaimana bisa!!"
Marie membuat ekspresi marah yang sedikit lucu, namun wajah marah yang menggeram itu perlahan membuat tawa senyum kecil yang menunjukan tawa asli pada akhirnya, posisi berbalik lagi, membuat Aiden tidak mengerti kenapa dia tertawa.
Di tangannya tiba-tiba terlihat sebuah jantung yang di rampas Aiden padanya dengan cara meminta belas kasih untuk menipu, namun dia sudah mengambil kembali jantung itu dari Aiden ketika dia memasukan jantungnya kembali.
"Hahahaha!! Aiden! Sayang sekali, kamu tidak bisa menipuku. Aku akan menyegel jantungmu pada tempat pribadiku yang lainnya! Jangan berharap bisa mengambilnya kembali."
"Apa!! Bagaimana caranya! Aku bisa saja mati!"
"Tidak akan, selama aku yang memegang jantung itu, selama kamu membatalkan perkataan tadi, tidak boleh ada kata berpacaran palsu atau semacamnya yang berpura-pura! Aku ingin kenyataan! Ketika kamu mengelak ... kamu akan merasakan sakit seperti di bagian jantungmu, tentu saja itu adalah sebuah jarum tajam yang mungkin akan menusuk sedikit jantungmu."
"Ahh! Aku kalah lagi? Berapa banyak lagi bagian tubuhku yang akan kamu sita? Itu benar-benar ancaman yang berlebihan."
"Jantung ini sudah cukup, huhuhu~"
Sampai pada hari besoknya, gadis bernama Marie di kelas satu kembali lagi setelah kehadiran yang cukup lama tidak memenuhi centang pada kolom absen. Tidak ada masalah, lagipula guru sekaligus wali kelas mereka adalah Valerie. Benar-benar keberuntungan untuk Aiden. Gadis dengan poni dan rambut twintail merah tidak lagi di sebut dengan gaya rambut twintail. Wajahnya berubah lagi dengan mengubah gaya rambut itu menjadi sebagaimana rambutnya seharusnya, membuat seluruh kelas merasa bahwa dia seperti orang yang berbeda dari sebelumnya.
Di tambah lagi, sejak awal memasuki wilayah sekolah dia terus bergandengan tangan dengan Aiden. Hal seperti ini mungkin bisa menimbulkan rasa iri banyak orang kepada Aiden, tidak hanya dari teman kelasnya. Seorang anak kelas satu yang begitu payah dalam sihir dasar, hanya dengan mengubah penampilan rambutnya yang membuatnya berubah, bahkan mendapatkan pacar seorang gadis berambut merah kesukaannya, yang bahkan sebenarnya memakai almamater merah hitam, karena adanya darah murni Scarlet.
Jika dia menjawab keluarga Scarlet kepada siapapun, maka tidak ada siapapun yang akan mengenal nama keluarga itu lagi, kecuali nama akhiran dari raja iblis Haumea. Mengatakan asal-usul nya tidak penting kepada siapapun sekarang.
Eiji yang menghampiri Aiden bahkan terkejut melihat mereka berdua menjadi sedekat ini, lebih dari sebelumnya. Bahkan sekarang tangan mereka saling berpegangan ketika jalan bersama.
"Woah!!"
"Aiden! Marie! Apa yang kalian lakukan seperti itu? Tanganmu."
"Bukan urusanmu~" Ucap Marie.
"Jadi kalian sebenarnya berpacaran? Apa!?!?! Sejak kapan?"
"Kurasa sudah sejak lama." Jawab Aiden.
Tidak ada jawaban "Sejak tadi malam." Atau "Hanya hubungan palsu."
Lagipula, dia telah memilih keputusan yang salah untuk mencoba hal seperti itu, sekarang dia harus mengatakannya dengan bersungguh-sungguh. Jika tidak, jantung nya akan di tusuk dengan jarum di dimensi lain.
Marie menarik Aiden ke sisi lain tanpa memperhatikan Eiji. Membawanya ke tempat lain hanya mereka berdua.
"Bagaimana? Bukankah ini maumu?"
"Kurasa memang benar, seperti ini. Tapi kamu terlalu banyak memakai ancaman."
"Tidak masalah, aku hanya mengurangi tindakanmu yang berada di luar keinginanku, lagipula jika kita bosan, kita bisa berhenti dari akademi ini saja bukan?"
"Lalu? Aku terus berdiam diri di rumah? Itu juga sama membosankan nya."
"Selama ada aku bersamamu? Bagaimana? Apakah itu juga membosankan?"
"Kurasa tidak, namun ancaman yang begitu banyak akan menjadi membosankan."
Hubungan sebagai pacar palsu ini tidak seperti terjalin dalam satu malam, namun sudah sejak lama ketika mereka tinggal di rumah yang sama, mereka memang akrab satu sama lain, lebih dekat daripada kata sahabat. Lagipula Aiden mengerti mengapa dia tidak lagi memilihi kendali atas rumah dan pelayannya. Itu karena mereka semua adalah ciptaan Marie, Marie bebas mengatur mereka atau mengubah mereka semua sesuai keinginannya.
Tapi setidaknya, dia ingin merasakan bagaimana rasanya bersekolah di sekolah sihir akademi iblis dalam dunia iblis. Tentu saja semua pelajaran akan berbeda dari dunia manusia. Dunia iblis juga memiliki sekolah yang sama jika itu hanya soal pelajaran alam dan sebagainya, atau matematika dan hal lainnya, namun iblis juga memiliki akademi iblis yang dimana populasi sekolah atau akademi seperti ini di dunia manusia mungkin sangat jarang di jumpai, karena manusia begitu banyak yang tidak terlalu percaya soal keberadaan sihir atau semacamnya.
Beberapa waktu sekolah sudah berlalu dalam kelas satu, kini mereka akan mendekati babak selanjutnya, dimana kelas satu akan memiliki seleksi untuk mereka yang mampu masuk ke kelas elit dengan kemampuan mereka yang lebih hebat di atas nilai rata-rata.
Mereka yang tetap memiliki kemapuan standar atau buruk, jumlah sihir yang terlalu kecil, sayang sekali, mereka hanya akan tetap berada di kelas biasa. Walau semua siswa kelas satu adalah tingkatan yang sama, namun mereka di bedakan antara elit dan normal karena bakat dan kekuatan yang mereka miliki. Kelas elit akan selalu lebih unggul daripada mereka yang berada di kelas biasa.
Kelas dua, tiga, dan bahkan kelas empat juga memiliki kelas biasa dan kelas elit di setiap tingkatan. Karena sebelum mereka naik ke kelas dua atau kelas selanjutnya yang lebih tinggi, semua angkatan atau di kelas satu berawal dari kelas biasa secara merata, hingga waktu yang di tentukan setiap waktunya tiba akan menjadi uji untuk semua siswa yang akan masuk seleksi ke kelas elit.
"Sebentar lagi akan ada pemisahan antara kelas elit dan kelas normal, bagaimana menurutmu?" Tanya Aiden pada Marie.
Marie yang bersandar padanya menjawab :
"Bagaimana dengan keputusanmu? aku akan mengikuti kemana kamu pergi, jika itu menyenangkan."
"Kurasa kita berdua bisa, bagiamana?"
Marie hanya tersenyum dengan bahagia, tidak peduli kelas biasa atau tidak, dia hanya ingin bersama Aiden, berada di sampingnya. Kelas elit pun, tidak naik kelas, tidak lulus selamanya dari akademi, bukan hal penting bagi Marie. Karena raja iblis adalah entitas tertinggi dari seluruh dunia iblis yang ada, baik pada tingkat dunia-dunia iblis yang berdiri sejajar dalam jumlah yang tak terhingga, atau dunia iblis bertangga, dengan jumlah mereka yang sama tak terhitung nya yang dengan menumpuk secara vertikal ke atas tanpa batas.