Reborn As A Tyrannical Demon Lord

Reborn As A Tyrannical Demon Lord
Chapter 190: Which One Am I To You



Setelah pembukaan setengah cincinnya, Alaya melihat pemandangan sekitar yang terasa gelap gulita dan merasakan pusing yang luar biasa, tapi kali ini berbeda seperti sebelumnya, dia pingsan dan terjatuh dari kursi. Melihat kondisinya yang tiba-tiba seperti itu, Aiden harus segera memanggil ibu dan neneknya. Bersikap seolah-olah dia tidak tahu apa-apa dan melihat wanita ini pingsan begitu saja.


Ibunya panik ketika melihat kondisi putrinya, dia tidak bangun selama tiga jam lebih dan akhirnya harus di bawa ke rumah sakit dengan ambulance. Menunggu lebih lama sebenarnya akan baik-baik saja, tapi ibu dan neneknya terlalu khawatir.


Beberapa jam waktunya tertunda, Aiden harus balik ke Marinhe dan menyelesaikan beberapa urusan termasuk memberi laporan harian pada supervisor. Masih ada sekitar sembilan ratus ribu kemasan yang harus di berangkatkan ke luar negeri. Semua akan di muat ke beberapa mobil box dan di bawa ke ekspedisi.


Dia juga harus mengirim kembali pesan pada pria yang dia tuju sebelumnya, awalnya pria itu akan di bayar untuk meretas akun sosial media milik Rosa Vilakh dan suaminya, tapi pertemuan mereka akan di batalkan secara tiba-tiba dengan alasan bahwa dia tengah mengalami kecelakaan.


Tidak hanya itu, ketika hendak meninggalkan rumah Alaya, Razel menelponnya karena tidak ingin Aiden di bunuh. Jika Aiden mati, maka semua jiwa yang telah di segel ke dalam cincin hitam itu akan di hancurkan di pengadilan penyihir surgawi.


Aiden berkata bahwa dia telah di selamatkan oleh seorang wanita yang tampaknya merupakan putri dari keluarga kaya raya. Tapi kali ini, wanita tersebut kemungkinan besar akan terjerat ke dalam dunia sihir yang nyata. Mendengar suara Aiden ketika menjelaskan hal sepele tentang wanita itu, Razel seperti tertarik untuk memiliki wanita itu. Tapi Aiden merasa curiga bahwa Razel akan melakukan hal buruk pada wanita ini.


Di dalam panggilan telepon itu, Aiden bertanya-"Apa yang akan kamu lakukan kali ini? Jangan bilang segalanya hanya untuk ritual mewahmu itu"-setelah pertanyaan itu, Razel menjawab dengan jujur, bahwa dia akan melakukannya. Ritual ini tidak akan membiarkan dirinya menjadi uji coba. Maka dia membutuhkan kelinci percobaan.


Razel meminta agar Aiden mencari tahu hal-hal yang di alami wanita itu, dia bilang, dia ingin mencoba membuktikan hal yang sama menggunakan ritual percobaan seperti di buku berjudul May Brild yang di tulis oleh Galiana Ieverin pada 1988, buku itu adalah kisah nyata yang pernah di tulis oleh Galiana dan di temukan di dalam kamarnya setelah empat bulan dia tewas karena terjatuh dari sebuah gedung lantai lima.


Tidak hanya itu, ada kisah lain yang memiliki akhir cerita yang sedikit mirip dengan Galiana, keduanya berada di level yang lebih tinggi daripada sekedar kriminal, keduanya juga selalu berhasil lolos ketika perangkap maupun maut berada di dekat mereka. Yang kedua adalah buku berjudul Burning Scythe, merupakan buku yang juga di tulis dari kisah nyata pada tahun 2011.


Seorang pemuda berusia dua puluh enam tahun tewas karena kesalahan ritual yang diakibatkan oleh perbuatannya sendiri. Seo Jang Hyeon atau dengan identitas asli yang di kenal sebagai Firanh Svarta, merupakan pemuda kelahiran 1985. Di usia sebelas tahun, Firanh mengalami duka karena kematian yang terjadi pada kedua orang tuanya akibat perampokan sehingga dia harus menjadi anak yatim piatu.


Keluarganya tidak terlalu suka berkumpul dalam acara tahunan keluarga besar, itu sebabnya anggota keluarga yang lain seperti bibi dan pamannya berat hati untuk menerimanya menjadi anak angkat. Satu bulan setelah kematian kedua orang tuanya, Firanh akhirnya di asuh oleh paman dan bibi dari keluarga ayahnya.


Namun, itu tidak bertahan lama. Pada tahun 1996, Firanh di duga membunuh pamannya, dia memberi sedikit bisa ular ke dalam minuman mereka saat makan malam.


Tidak hanya itu, ketika Firanh mencoba memaksa untuk memberikan minuman yang sama pada bibinya, pihak kepolisian telah datang untuk menangkapnya dalam keadaan di mana dia sedang mengarahkan pisau pada bibinya yang telah mengalami luka di bagian lengan.


Di duga karena depresi, Firanh di jatuhi hukuman penjara selama sembilan tahun enam delapan bulan, bibinya sempat membuka mulut di pengadilan walau harus menahan air mata begitu kuat karena kematian suaminya, dia mengatakan dengan jujur, sebagai pengasuh, bahwa kemungkinan besar Firanh belum lepas dari depresi setelah kedua orang tuanya tewas.


Ini bukan kisah kriminal lama, karena Firanh akan di bebaskan dari penjara pada tahun 2005. Satu tahun sebelum anak itu di bebaskan, ada seorang pria yang ingin mengadopsinya walau orang-orang berkata mengadopsi anak ini akan memiliki resiko, tapi pria itu menolak mendengarkan banyak orang dan tetap memilih untuk mengangkat Firanh sebagai anak asuhnya.


Tragedi Firanh Svarta berakhir di awal Februari 2011, Razel tidak menceritakan lebih lanjut tentang buku ini, tapi ketika Aiden pulang, dia ingin tahu tragedi seperti apa yang di lakukan Firanh, jadi dia memutuskan untuk mencari buku seperti itu di perpustakaan kota dan tidak menemukan hasil. Di sofa yang sama pada malam kamis, Aiden berhenti mencari buku itu untuk sementara, dia ingat ada hal yang perlu di bereskan.


"Mencoba mencari buku-buku yang kukatakan?" ucap Razel yang sedang turun dari tangga.


"Sepertinya tidak juga, ada hal lain yang harus ku bereskan."


Razel kemudian memeluknya dari belakang sofa dan berbisik, "Kamu lapar?"


"Kurasa begitu." ucap Aiden


Aiden kemudian meminta agar Razel duduk di sampingnya. Dia menatap matanya dengan lembut sambil mengelus bibir Razel jari-jari tangan kanannya dan berkata, "Kenapa kamu memalingkan wajah dan melirik kemana-mana ketika aku menatapmu sedekat ini?" Aiden bisa menebak asmara kacau dari wanita seperti Razel, karena dia pernah menjalin hubungan cinta sejak menjadi gadis remaja.


"A-aku hanya tidak—"


"Tidak apa? Kamu tidak suka ketika aku memperlakukanmu seperti ini? Atau ... kamu tidak mencintaiku?" ucap Aiden dengan nada yang begitu lembut dan menggoyahkan emosi Razel.


Sambil menunduk ke bawah, Razel mencoba mengucapkan sesuatu, tapi Aiden terus memotongnya untuk membuatnya kalah, "Aku m—"


Aiden semakin mendekatinya, "Kalau begitu, apa? Sang ratu memiliki benteng, dia juga memiliki banyak pion yang benar-benar di perbudak olehnya, ada kuda juga ... antara pion, kuda, dan benteng. Yang manakah diriku bagimu?"


"Kenapa kamu membahas itu?" tanya Razel dengan sedikit gelisah di hatinya.


"Aku bertanya tentang apakah aku ini pion, benteng, atau kudamu? Tapi ini bukan tentang permainan catur."


"Kamu berpikir bahwa aku mencoba mendekatimu sejak awal hanya untuk memanfaatkanmu dalam semua kegilaan ritual dan keinginanku, begitu?" tanya Razel kembali mengarahkan wajah pada Aiden.


"Bukankah itu yang sebenarnya? Lalu kenapa kamu kehilangan kendali atas dirimu sendiri? Membuatku harus menghilang dari dunia termasuk dunia pendidikan hanya untuk menikah dan menjalin hubungan ini bersamamu? Bukankah kamu sedang menunggu waktu, waktu dimana aku telah menyelesaikan semua tugasku untukmu yang terlepas dari kontrak lama kita."


"Dengar An, aku memang terpaksa pada saat itu, aku melampiaskan semua kemauanku padamu, aku minta maaf padamu, apakah kamu benar-benar semarah itu padaku? Hingga saat ini? Hah?" ucap Razel dengan mata yang berkaca hampir mengeluarkan air mata.


"Untuk permintaan-permintaan yang kamu inginkan, keabadian ... kecantikan?"


"Ya! Ya!! Itulah yang aku inginkan, aku ingin menjalin hubungan seperti yang kita berdua miliki saat ini, tapi bukan hubungan penyihir dan orang gila seperti kamu dan aku! Aku ingin hubungan yang nyata tanpa campur tangan sihir, cinta yang murni, keluarga yang hangat dari derasnya badai salju, sesuatu yang membuat kita hidup dengan normal layaknya orang lain."


"Kamu telah mendapatkannya Razel, ingat, kamu bukan terlahir dari keluarga yang miskin, aku mungkin tidak tahu seperti apa derita atau trauma masa lalumu, tapi sekarang aku berada di sisimu karena mu, inilah pilihanmu sejak pertama kali kita bertemu, kamu ... merupakan wanita berjubah hitam dengan topeng setan yang datang untuk menemuiku. Mencoba menjadikanku salah satu pion terbaikmu, tapi takdir berbelok. Aku tidak merasa seperti pion istimewa, maka dari itu, antara ketiganya, yang manakah diriku?"


"Itulah yang tidak kamu ketahui Aiden, itu karena kamu begitu cuek! Kamu tidak mengerti walau aku telah mendapatkannya saat ini, bersamamu. Tapi, kita hanyalah manusia! Kita hanya manusia yang akan menua dan mati, kita hanya akan berakhir di bawah batu nisan kita sendiri, aku ingin menjadi cantik selamanya, selamanya hingga satu orang saja, mau mencintaiku untuk selamanya, bahkan menjalani cinta yang kekal abadi."


"Itu adalah kehidupan yang di janjikan di surga, apa kamu juga tidak mempercayai surga?"


"An! Aku sudah pernah memberitahumu, di dalam agama ini, kitab satare, atau bahkan Haumea tidak pernah tertulis ayat yang mengatakan surga, Haseichta adalah tempat yang setara dengan surga, itulah kepercayaanku. Bukankah kamu juga ingin hidup bahagia di tempat indah seperti itu? Tanpa menua, menikmati hidup mewah dengan segelas anggur di atas kolam suci."


"Baiklah, baiklah, aku mengerti." Aiden kemudian diam sesaat dan mengusap air mata yang mengalir di pipi Razel, karena dia benar-benar serius kali ini.


"Aku ... aku awalnya terpaksa, ketika kita harus menjalani hubungan ini, tapi aku sudah belajar, belajar untuk mencintaimu, memahamimu, agar kamu juga bisa menerima wanita seperti diriku sebagai istrimu. Bukankah kamu juga sama? Kamu tidak ingin mencintai wanita aneh dan gila sepertiku kan?" ujar Razel.


"Begitulah, kamu benar, aku tidak ingin berada di dekat wanita sepertimu, aku pernah membencimu karena mencoba mengacaukan hidupm—"


Razel kemudian melepaskan tangannya dari genggaman Aiden menatap matanya begitu tajam dan berkata, "Sebenci itukah dirimu padaku? Aku sudah minta maaf sejak lama!!"


"Jika kamu memang tidak ingin memaafkanku sejak awal, kembalikanlah cincinku dan segeralah menjauh. Menjauh sejauh mungkin dari diriku!"


"Tapi cincin ini masih berada di jariku, itu menjadi bukti bahwa aku juga melakukan hal yang sama ... untuk menjadi milikmu. Kalau tidak, maka pernikahan kita dan semua sumpahnya benar-benar hanyalah omong kosong." ucap Aiden sambil menunjukkan cincin jiwa dan cincin pernikahan mereka di jari-jarinya.


Sambil menggertakkan giginya, Razel kemudian menampar wajah Aiden.


PAKKKK!!!!!


Dia mendekat kembali pada Aiden dan mengatakan, "Terima kasih untuk cintamu, tapi tamparan ini begitu mahal harganya, bukan untuk pion, benteng maupun kuda. Karena mereka semua tak sanggup."


"Lalu?" tanya Aiden sambil memegang pipinya yang memerah setelah di tampar.


"Tamparan tangan indahku hanya untuk Raja." ujar Razel.


"Apakah raja itu milik ratu sepenuhnya?"


"Ya, Ratu biadab ini telah menjadikan raja sebagai miliknya, mereka akan saling memiliki, dan bercinta dengan indah." ucap Razel.


"Apakah ratu percaya bahwa raja mencintainya?" tanya Aiden.


"Ya, ratu akan mencintainya lebih dari yang dia ketahui." jawab Razel dengan spontan.


"Buktikan."


Razel mendekatkan dirinya dengan cepat bersama gairah yang memanas, tatapan di antara mereka berdua benar-benar sulit di jelaskan, Razel menempelkan bibir ungu lembutnya dan mencium Aiden dengan kasar selama beberapa saat kenikmatannya.


Setelah dia melepas ciumannya, Razel bertanya tanpa melepas tatapan matanya, "Tahu tentang cerita kupu-kupu ungu?"


"Graphium Weiskei And Golden Knife?"


Sambil bersandar, Razel bertanya, "Sejauh mana kamu membacanya?"


"Hingga halaman akhir." jawab Aiden.


Razel mendekat dengan ribuan helai rambut keunguan yang berjatuhan di pipi Aiden sambil berbisik di telinganya, "Aku suka halaman dua ratus dua belas." ketika dia mulai menjauh lagi, perasaan di antara keduanya semakin menggila dan mencoba untuk terhubung bersama.