Reborn As A Tyrannical Demon Lord

Reborn As A Tyrannical Demon Lord
Chapter 74 : Six circle gate




Pertarungan dan pertarungan lain terus berganti, hanya ada dua poin untuk setiap orang. Artinya, jika pihak A menang telak dengan dua skor kemenangan, maka pihak B memiliki skor 0 dan sudah pasti kalah, begitupun sebaliknya. Tapi jika dua pertandingan dengan skor yang sama rata dimana pihak A adalah 1 skor, dan pihak B adalah 1 skor juga, maka pertandingan ketiga adalah pertandingan akhir untuk menentukan peserta yang akan lanjut ke tahap berikutnya.


"Aiden, lihatlah bukan anak berambut putih itu terus menang daritadi? Dia terlihat beberapa kali dalam pertandingan tadi."


Ucap Leon.


"Kurasa benar, setelah tidak muncul lagi dalam beberapa saat, dia datang lagi dan kembali memenangkan beberapa pertandingan, anak ini sudah menumbangkan banyak sekolah."


Ucap Eiji dan mereka berdua terus menatap layar proyeksi.


Aku memang melihat beberapa peserta yang memiliki kemampuan unggul tanpa membiarkan lawannya memiliki satu pun skor daritadi, aku masih mengingat beberapa nama mereka di antaranya adalah ; Vastar, Zefa, Neeze, Hugo, dan Celyn. Yang kulihat dari mereka adalah pengambilan posisi pertarungan yang baik, mengandalkan lawan ketika tidak fokus dan menyerang mereka dengan celah-celah terbaik. Beberapa di antara mereka berasal dari sekolah yang sama, ketika Zefa menggantikan Hugo dalam pertandingan kedua nya. Disana di katakan bahwa kaki nya cedera dan patah, maka membutuhkan beberapa waktu untuk penyembuhannya.


Yang terbaik adalah Vastar, anak dari akademi iblis hitam ini memang benar-benar luar biasa, kemampuan berpedang nya cukup hebat, dia bahkan menahan tiga ratus tebasan pedang dalam satu detik. Membuat banyak penonton cukup takjub dan teriakan yang bersorak serentak. Pendukung Vastar akan berteriak dengan suara keras, begitupun dengan pendukung lawannya, ketika seluruh penonton bersorak atas dua nama, namun bertabrakan menjadi kacau. Anda tidak akan mendengar dengan jelas nama itu, Terkecuali mendengarkan sorakan-sorakan itu dengan seksama.


Bahkan suara yang terdengar untuk seluruh spectator menyebutkan ratusan akademi yang sudah gugur dan bahkan tereliminasi karena melakukan pelanggaran. Terus menghindar tanpa menyerang satu kali pun selama waktu pertandingan akan menghilangkan poin nya, dan walau dia tidak tumbang pada ronde pertama, namun pertandingan tidak akan seri, karena lawannya yang menyerang akan mendapatkan 1 poin.


Bagaimana dengan mereka yang mencoba untuk lari dan berteleportasi keluar dari arena? Oh tentu saja tidak bisa, pertandingan ini mengharuskan setiap peserta saling melakukan sihir Ligar, dimana sihir pengikatan antara peserta A dengan peserta B, dengan begini, di antara salah satu dari mereka yang akan lari dari pertandingan akan mati dan kalah, sekaligus tereliminasi. Itu lah maksud dari eliminasinya disini.


Aku akan segera tidur jika sorakan hanya terdengar seperti biasanya, tetapi jika bahkan beberapa orang itu kembali ke arena dan membuat para spectator ricuh dengan teriakan mereka, maka aku akan bangun, dan jika itu adalah lawan yang dapat mengimbangi mereka lagi, aku akan menyaksikan nya. Sorakan penonton yang seperti ingin membuat seluruh arena ini runtuh.


Jika ada hal yang ingin ku tunggu, maka aku ingin menyaksikan para juara bertahan ini bertemu satu sama lain di arena, itu akan membuat semuanya semakin memanas. Kekuatan yang saling mendominasi.


"Leon, Eiji ... menurut kalian, bagaimana jika pertarungan selanjutnya kalian akan bertemu mereka?"


Leon: "Hmmm, kupikir boleh juga, tapi aku akan berusaha sebaik mungkin."


Sementara Eiji masih terdiam memikirkan hal itu, entah dia bisa melawan atau tidak. Tapi aku memiliki sesuatu untuk mencoba mereka tidak merasa bosan.


Bagaimana kalau kita berlatih bertiga lagi? Kita masih memiliki dua hari latihan penuh, kali ini tidak perlu ada guru Valerie atau siapapun, bagaimana?


Dengan pertanyaan ku itu, Leon menggangap nya cukup bagus, dan Eiji hanya menerima, lagipula ini akan memanfaatkan waktu selain terus menonton pertandingan peserta lain. Kupikir masih akan ada banyak lawan yang lebih hebat akan datang pada hari-hari berikutnya. Kami memutuskan untuk turun ke lantai terbawah secara normal, tanpa sihir.


"Jadi begini, kalian akan mulai latihan dari tangga ini."


Eiji: "Hah?"


"Benar, kalian berdua harus berlari untuk sampai lebih dulu ke dasar, aku akan berlari juga untuk berlomba bersama kalian."


Leon: "Hmm, bagus juga walau ini konyol."


Ayo!


Eiji hampir menyamai posisi Leon, tapi aku mengejar mereka lagi dan mendahuluinya, siapa yang sampai paling terakhir harus membeli es krim atau apapun itu. Jadi beginilah kami yang berbeda dari peserta lain yang menunggu urutan mereka, mereka akan terus menonton hingga giliran itu tiba. Tapi, terus menyaksikan juga membosankan, jadi kami memutuskan untuk melakukan aktifitas lain yang konyol tapi mungkin berguna untuk latihan dan mengisi waktu.


Pada akhirnya, aku sampai lebih dulu menuruni seribu tiga ratus anak tangga dalam tiga puluh tujuh detik, Eiji mendapatkan empat puluh delapan detik, dan Leon mendapatkan lima puluh dua detik. Mereka benar-benar menarik napas tak karuan di bawah, yeah, ini melelahkan.


"Anak-anak! Jangan berlarian di tangga, kalian bisa jatuh dan terluka." Ucap satpam yang berkeliling menjaga tempat-tempat ini.


Wah, Paman, kami ini peserta yang cukup hebat lho, kami tidak akan terluka hanya dengan terjatuh dari tangga.


Leon dan Eiji: "..."


Hu... hah! huh... hah! Keduanya terus menarik napas dan membuang napas karena begitu menguras tenaga.


"Benarkah? Kalian sudah mengikuti pertandingannya? Jangan sombong dulu anak-anak, masih ada seribu peserta lebih lagi, kalian bahkan belum bertemu seseorang yang lebih hebat yang bisa membuat arena ini lebih ricuh." Ucapnya dengan sedikit ngeri.


Dia khawatir karena para spectator kali ini berjumlah lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya, dimana jumlah penonton untuk membayar kursi terhitung mencapai lima puluh juta penonton lebih. Di katakan bahwa begitu banyak peserta yang hebat dari dunia iblis yang tidak pernah ikut serta selama ini. Akademi-akademi baru dari dunia iblis yang belum pernah muncul. Yeah, host dan para pengurus arena ini pasti benar-benar banjir dengan tumpukan uang sekarang.


"Paman satpam, bagaimana jika kami akan menempati posisi pertama pada final? katakan, apa yang akan kau berikan pada kami?"


"Pada kalian? Baiklah, pertama-tama, aku tidak bisa berjanji atau menjanjikan hal apapun itu, karena aku tidak memiliki banyak hal yang berharga untuk di berikan kepada siapapun."


"Benarkah? Jadi tidak ingin bertaruh denganku? Jika aku menang, aku akan menghancurkan seluruh arena ini sepenuhnya, bagaimana?"


"Tidak, aku ... baiklah, aku tidak berani bertaruh, silahkan pergi."


Hahaha, paman petugas, aku sudah yakin kamu tidak akan berani menerima tantangan ku.


Jadi...


"...Bagaimana sekarang?" Tanya Eiji dengan binggung, sama seperti Leon.


"Baiklah, mau mencoba latihan lain? Kebetulan aku hanya ingin mencoba beberapa sihir baruku, ada begitu banyak hal yang harus ku wujudkan."


Aku mengajak mereka ke tempat sepi yang jauh dari stadion ini, tempat ini begitu besar dan sulit untuk mencari tempat yang sepi, kerumunan orang masih terus berdatangan, datang dan pergi ke tempat ini. Dunia iblis kami kini di penuhi orang-orang dari dunia iblis lain, dan seluruh bagian negari lainnya pasti akan di penuhi oleh pengunjung dari dunia lain. Tiba saatnya, aku akan membuat diriku tidak bisa di lihat oleh siapapun, termasuk Marie dan semua bawahannya, jangan ada ikut campur dari mereka.


Selama Eiji dan Leon terus berada bersamaku, jangkauan sihirku akan terus menyembunyikan keberadaan kami. Jadi, aku menemukan tempat lain yang tidak benar-benar ramai. Ku ciptakan sebuah rune spesial dengan jari-jari ku, membentuk lingkaran merah utama dan lima lingkaran dengan warna lainnya yang berbeda ; hijau, biru, ungu, kuning, dan putih.


Tentu saja aku akan mencoba menyempurnakan setiap aliran sihir ke dalam nya, membangkitkan kekuatan ku untuk membuka sebuah gerbang dunia iblis ku sendiri.


Kali ini, mereka akan melihat dengan seksama, bagaimana pintu untuk berpindah ke dunia lain kuciptakan dari diriku sendiri, kutukan raja iblis memang menyenangkan, aku jadi memiliki sihir-sihir sehebat ini, gerbang dengan warna hitam merah yang terbuka di kehampaan, menampilkan hal-hal yang tidak terpikirkan di depan sana. Aku melangkah dan membuat mereka terus mengikutiku berjalan ke sisi lain gerbang ini.


Dengan beberapa langkah saja, kami sampai ke sisi lain gerbang ini, sebuah dunia iblis yang kuharapkan, dimana tidak ada penghuninya, mungkin ada, tapi aku tidak tahu siapa, mungkin saja dunia yang satu ini baru saja terlahir, begitu tandus bagaikan zaman purba, gunung-gunung nya yang begitu besar. Tanah tak berujung tanpa tumbuhan, mungkin memang tidak ada yang benar-benar hidup di tempat ini.