
Aiden ingin agar Erine mencari seseorang yang mampu meretas sosial media seseorang. Mendengar permintaan Aiden, Erine bertanya maksud dan tujuannya meretas akun sosial media orang lain, terlebih lagi Aiden ingin seorang peretas yang mampu menembus lebih dalam untuk melihat aktivitas bahkan pesan-pesan interaksi seseorang di dalam ponselnya. Dia ingin melihat banyak hal tentang pria bernama Albert Evans dari akun sosial media Rosa Vilakh.
Di postingan lama, Aiden melihat postingan di mana foto tersebut merupakan foto pernikahan Rosa Vilakh dan Albert Evans di sebuah hotel mewah dengan tamu undangan yang berpakaian mewah juga. Di malam itu, Erine hanya menyetujuinya saja tanpa alasan tertentu, jadi dia memberikan nomor salah-satu orang yang dia kenal.
Ketika Aiden mencoba menghubungi nomor yang di berikan, suaranya terasa tak asing, tapi pria itu tidak menolak tawaran yang di berikan oleh Aiden. Karena dia menawarkan bayaran yang cukup tinggi. Di malam itu, dia mengatur pertemuannya di Vriska pada pukul sembilan siang, tempat itu merupakan stasiun kereta yang berada di dekat bar kopi tempat Aiden pernah bekerja sebagai barista.
Stasiun Vriska, Rabu, 5 April 2027
Aiden berjalan di antara keramaian stasiun setelah turun dari kereta, di tangga menuju parkiran luar stasiun, seseorang berjalan terlalu cepat dan akhirnya menabraknya dari belakang. Pria itu terjatuh, namun Aiden tidak mengabaikannya karena tidak ada banyak orang di sekitar tangga ini.
"Kamu baik-baik saja?" ucap Aiden sambil mengulurkan tangan kananya.
Pria itu menolak, dia berdiri sendiri kemudian memastikan bahwa tasnya baik-baik saja. Setelah itu dia memandang Aiden dan berkata, "Bisakah kamu memakai mata saat berjalan? Untung saja laptopku tidak rusak!"
"Aku?? Tidak memakai mata?" tanya Aiden sambil menurunkan kembali tangannya yang berniat baik.
"Aku sedang buru-buru, jangan menghalang." ucap pria bertopi tersebut.
Saat pria itu hendak pergi, Aiden menarik lengan kanan pria itu dan mendorongnya kembali ke belakang.
"Apa yang kamu ucapkan barusan?? Aku tidak memakai mata?"
"Dengar! Aku tidak memiliki urusan denganmu, menyingkir dari jalanku." ucap pria itu sambil berjalan ke samping Aiden untuk pergi.
"Bajingan ... jawab aku."
Ketika pria itu tidak mendengarkannya, lengan kanannya di tarik lagi dan pukulan mendarat di wajahnya hingga pria itu terjatuh. Akhirnya dia melepaskan tasnya dan memukul balik hingga terjadi perkelahian yang membuat orang-orang sekitar berkerumun untuk menghentikan mereka. Tapi ini bukan soal "Mereka" melainkan Aiden sendiri.
Dia telah menghajar pria itu habis-habisan hingga tak mampu lagi untuk berdiri, maka dari itu beberapa security keamanan stasiun segera menarik Aiden untuk menahannya untuk tidak memukul pria itu.
"Pak! Pak! Tolong hentikan!"
Awalnya Aiden sempat melepas tangan kedua petugas dan kembali menghajar pria itu, namun dia sadar bahwa ada begitu banyak orang menyaksikannya sekarang, jadi dia segera berhenti.
"Ada keributan apa disini?" ucap kepala petugas keamanan stasiun yang baru saja datang.
"Kedua orang ini baru saja melakukan perkelahian pak." ucap petugas yang menahan tangan kanan Aiden.
Pria itu kembali berdiri dan membenarkan posisi topi nya. Namun kacamata nya telah rusak dan pecah ketika Aiden menghancurkannya. Untung saja Aiden tidak memukul ke tembok dan menghancurkan beberapa tembok stasiun, jika itu terjadi maka dia harus mengganti rugi.
"Pria ini! Aku tidak tahu apa urusannya! Dia berjalan tanpa melihat dan membuatku terjatuh. Saat aku hendak pergi, dia terus menahanku dan akhirnya memukulku." ucap Pria itu dengan sangat marah.
"Huh?? Apa yang kamu katakan? Ucapkan sekali lagi???" ucap Aiden dengan kepalan tangan yang masih belum puas memukul wajah pria itu, dia bahkan berbicara tak sesuai fakta.
"Anda! Tolong tenang, kita bisa menyelesaikan ini tanpa keributan." ucap kepala keamanan stasiun.
Aiden menatap ke pria yang baru saja menegur dan mengatakan, "Aku tidak bisa menyelesaikan ini dengan damai, kalian semua para petugas perlu tahu kenapa aku harus menghajarnya." kemudian Aiden menunjuk ke kamera Cctv di ujung lorong tangga.
"Kamu benar-benar pria yang kasar ya," ucap seorang wanita yang tiba-tiba saja datang dan membasuh tangannya di wastafel.
"Nona, kamu salah toilet, ruang toilet wanita berada di sebelah kanan." ucap Aiden sambil meninggalkan wanita tersebut.
Saat dia mendekati pintu keluar, pintu toilet tiba-tiba tertutup dan terkunci dengan sendirinya. Aiden mencoba memutar kembali kuncinya, namun itu begitu keras seperti sesuatu melawan balik untuk tetap mengunci pintunya. Dia memiliki firasat buruk dan segera memandang wanita di wastafel yang tersenyum ke arahnya.
"Ini ulahmu?" tanya Aiden.
"Ya~ begitulah, sangat tidak sopan ketika pergi saat seseorang bertanya."
"Apa maumu?" ucap Aiden sambil mencoba membuka kembali kunci pintunya.
"Sudah ku duga, kamu bukan orang normal. Kamu tidak tercengang ketika sebuah sihir datang ke arahmu."
"Apakah aku harus terlihat peduli dan panik? Aku sudah terbiasa melihat hal semacam ini di dalam film horror, setan mengunci pintumu dan sebagainya, kamu pikir aku harus peduli dengan itu?"
"Aku melihat keributan yang baru saja terjadi, tapi aku telah menyaksikannya sebelum semua terjadi. Aku ingin bertanya ... bagaimana kamu bisa merusak kamera pengawas?" tanya wanita itu.
"Apa maksudmu?"
"Kamu pikir aku tidak melihatnya? Cincin di jari manis tangan kirimu. Kamu menggunakan sesuatu dari cincin itu untuk merusak kamera pengawas, bukan hanya itu, sebelum kamu datang ke stasiun ini, kamu sudah merusak setiap kamera yang akan kamu lewati. Bisakah kamu jelaskan padaku? Darimana kamu mendapatkan itu?" tanya wanita itu dengan senyuman yang mulai memudar.
"Sebelum aku menjawab, aku akan bertanya apa urusannya denganmu?" tanya Aiden.
"Jika kamu bersikeras, aku akan menganggap bahwa kamu adalah salah-satu penyihir yang bersekutu dengan iblis, sebagai salah-satu penyihir surgawi, membunuhmu adalah kewajiban ku."
Wanita itu terlihat normal, pakaiannya seperti pakaian wanita kantoran, tapi tidak seperti yang terlihat, dia mampu meretakkan cermin wastafel dan mengambil enam belas kepingan tajam dari pecahan cermin. Aiden sudah tahu bahwa wanita ini pasti akan menyerang, dia terpaksa menggunakan jiwa-jiwa di cincinnya setelah tidak menggunakannya dalam waktu yang lama.
Dia memerintah dari jiwanya sendiri secepat mungkin untuk membuka kunci pintu toilet ini, dan ketika semua pecahan kaca melaju ke arahnya, Aiden mendorong pintu toilet dan melarikan diri sebisa mungkin. Semua serangan pecahan kaca itu bahkan menembus pintu toilet hingga ke tembok.
Aiden berlari secepat mungkin dan menabrak setiap orang yang dia lalui, di dekat rel kereta, kedua tangannya tiba-tiba tersangkut di sebuah tali emas bercahaya yang di tarik oleh tiga orang, dia lupa bahwa selain polisi dan detektif, penyihir-penyihir itu juga mencoba menemukannya.
Saat melawan untuk melepaskan ikatan-ikatan sihir yang menarik tangannya, Aiden sempat berlari lagi dan tidak sengaja mendorong seorang gadis ke rel kereta saat kereta hendak melintas dengan cepat ke stasiun berikutnya.
Gadis itu berteriak sekuat tenaga, namun tidak ada waktu lagi untuk keluar dari sana, kereta yang melaju akhirnya menabrak gadis itu dan menyebabkannya tewas seketika. Beberapa darah memancar dan menciptakan kehebohan yang baru. Orang-orang berlarian kesana kemari untuk memanggil petugas, sementara sisanya tak bisa berkata-kata dengan kecelakaan yang baru saja terjadi.
"Berengsek!" Aiden kemudian mengeluarkan lebih banyak jiwa untuk melepaskan ikatannya.
Dia menabrak apapun yang ada untuk melarikan diri ke penghentian selanjutnya, dan masuk secara paksa ke kereta yang hendak berangkat, petugas di gerbong tersebut melarangnya untuk masuk, tapi tidak ada waktu untuk berbicara, jadi Aiden segera mendorongnya keluar dari kereta.
Saat kereta mulai meninggalkan stasiun, para penyihir tetap menarik keretanya hingga gerbong sepuluh, sebelas, dan dua belas terpisah dari gerbong lainnya yang memulai perjalanan. Suasana semakin kacau karena garis yang terjatuh ke arah kereta. Tubuhnya terpotong-potong ketika terseret tepat di bawah kereta.
Sebuah kekuatan sihir kemudian datang untuk membelah sisi tengah setiap gerbong dalam sekali serang. Para penumpang panik dan menjerit karena guncangan besar yang merobek gerbong menjadi dua bagian seperti memotong kue ulang tahun. Tidak hanya itu, ini akan menjadi kekacauan besar dengan adanya masyarakat yang menyaksikan hal-hal yang tidak logis di depan mata mereka.
Para penyihir bersembunyi di antara masyarakat, beraktivitas layaknya masyarakat modern, dan berbaur dengan normal, begitu juga cara berpakaian mereka. Para penyihir seperti ini seharusnya tidak menciptakan suasana kacau balau hanya untuk menangkap satu orang, ini bahkan menyebabkan kecelakaan mengerikan di mata masyarakat.