Reborn As A Tyrannical Demon Lord

Reborn As A Tyrannical Demon Lord
Chapter 161 : Let Me Love You



Dari beberapa obrolan yang tak penting, Aiden yang menarik layar kembali ke atas kemudian melihat tulisan kecil yang bertuliskan private chat atau dapat di artikan sebagai pesan privasi dan obrolan privasi. Karena hanya ada satu lencana notifikasi, Aiden iseng membukanya dan melihat halaman yang hanya berisi satu ruang obrolan bersama seseorang di dalam kontaknya yang dia save menggunakan nama Mineee dan emoji hati berwarna merah muda di akhiran namanya.


"Aiden, berikan ponselku."


"Untuk apa? Wanita yang baru saja selesai menjalani operasi harusnya tetap beristirahat untuk memulihkan dirinya."


Kemudian Razel mencoba untuk bergerak perlahan dan merampas ponselnya dari tangan Aiden. Namun, dia tidak mampu bergerak banyak.


"Kenapa kamu harus bersikeras merebut ponselmu?" Tanya Aiden.


"Isi ponselku adalah privasi ku, jangan seenaknya melihat isi privasi orang lain."


"Privasi yah?" Ucap Aiden dengan nada rendah yang berat. Kemudian dia menyentuh kepala Razel dan menjambak beberapa helaian rambut ungunya dengan pelan.


"Dengar, Razel ... aku tahu kamu menggunakan sihir untuk memanipulasi pikiranku, hipnotis, dan semacamnya hanya demi memuaskan semua nafsumu, hal ini pasti ulah mu, karena mu, aku harus menjadi ayah untuk anak ini, maka aku akan memutuskan untuk menjadi suami mu, dan aku berhak melihat semua privasi mu sekarang.


Razel terdiam karena semua hal yang dia lakukan bisa di tebak oleh Aiden.


"Dan satu lagi, aku ingin bertanya kenapa nama kontak di sini di tulis dengan kata mine? Dan apa-apaan dengan emoji hati ini??"


"Aiden, tolong berhenti melihat isi ponselku." Ucap Razel dengan nada lemah yang mengemis bagaiman butuh ampunan.


"Aku benar-benar senang ketika mendengar wanita jahat mengemis dan memohon padaku, apalagi sekarang aku tahu bahwa wanita jahat penyembah setan ini hanyalah wanita bodoh berkedok penyihir jahat." Ucap Aiden sambil menampilkan ekspresi jahat yang sesungguhnya.


Razel terus termenung, dan tidak memandang ke wajah Aiden lagi karena dia benar-benar malu atas perbuatannya. Lagipula Aiden telah menyadari bahwa kontak dengan nama Mineee itu adalah dirinya. Aiden menarik nafas kecil setelah menunduk sekejap, dan dia berkata "Aku tidak tahu apa keinginan mu, tapi karena hanya ada kita berdua, katakanlah dengan jujur hanya padaku, tidak apa-apa" ucap Aiden pada Razel.


Mata Razel bagaikan kaca yang akan meledak, dia terlihat seperti ingin menangis. Setelah berdiam sejenak untuk mencoba berbicara, air mata nya mulai berlinang.


"Maaf Aiden ... maaf ... sebenarnya, kamu memang benar, aku adalah wanita yang pemalu untuk berbicara pada siapapun kecuali berbicara dan memberi arahan kepada pemuja Haumea, namun aku juga adalah wanita yang menginginkan cinta, wanita yang juga mengejar kecantikan dan keabadian selamanya hanya untuk di cintai oleh seorang pria."


Aiden masih tetap diam untuk mendengarkan pernyataan selanjutnya.


"Aku ... perasaan ini, aku tidak tahu bagaimana dia bisa muncul dan memilihmu, namun aku merasa nyaman saat kamu memperlakukan ku seperti seorang istri, semakin lama, perasaan itu semakin berkobar, dan membuatku lepas kendali untuk melakukan sesuatu yang tidak-tidak."


Aiden menarik nafasnya dengan sangat pelan dan mengusap Air mata Razel yang mengalir, dia bilang bahwa dia benci seseorang yang menangis, apalagi seorang wanita. Dia juga mengatakan bahwa jika dia melihat seorang pria menangis, dia mungkin akan membunuhnya karena itu menjijikkan, dan kemudian jika dia melihat wanita menangis, dia akan berusaha menenangkan mereka, karena ini membuatnya kesal.


"Jangan menangis, berbicaralah perlahan, aku akan mendengarkan." Ucap Aiden.


Dan kemudian Aiden berkata lagi bahwa sebelumnya dia benar-benar kesal terhadap Razel karena berita seperti ini, dan mulai sekarang, alur hidupnya akan berbelok. Tapi setelahnya, dia mengatakan bahwa dia akan belajar menerima semuanya sambil melihat kembali wajah bayi itu. Jika Aiden membenci Razel sejak awal, maka bayi ini akan menjadi tembok di antara mereka berdua.


Setelah itu tidak ada lagi topik di antara mereka berdua, Razel hanya memejamkan matanya dan menenangkan perasaannya sekali lagi.


"Jadi, bagaimana kelanjutan kontrak antara ibu dan ayah bayi ini?" Tanya Aiden juga sambil memejamkan matanya, dan pertanyaan membuat Razel membuka lebar matanya dalam sekejap.


"Bagaimana dengan namanya? Apa kamu sudah memberinya sebuah nama?" Tanya Aiden sambil membuka kembali matanya dan melihat ke arah bayi itu.


Mata Razel kemudian berkobar seperti di penuhi oleh semangat yang besar. Tanpa menjawab, dia bertanya balik apakah Aiden sudah memikirkan nama anak ini. Namun Aiden memiliki perkataan yang lebih sulit, dia mengatakan bahwa dia mungkin belum memiliki ide untuk nama anak ini, dan masih belum yakin bahwa ini adalah anaknya.


Razel bahkan belum bisa membuktikan, karena golongan darah anak ini hanya sama dengan ibunya dan tidak ada satupun hal yang terlihat identik seperti Aiden. Maka Aiden belum bisa mengatakan bahwa itu adalah anaknya. Razel bahkan tidak tahu nama apa yang harus dia berikan untuk anak ini.


Semua mulai menjadi jelas saat memasuki minggu kedua setelah anak ini lahir, Razel yang sudah berada di rumahnya kini bisa menyaksikan langsung dengan matanya sendiri saat menyusui. Anak ini membuka matanya dengan jelas walau tidak terlalu lama, Mata merah gelap aneh yang mirip dengan warna mata Aiden membuat Razel segera menghubungi Aiden.


Saat Aiden benar-benar datang untuk menemuinya lagi, juga melihat mata anak ini yang benar-benar mirip dengannya, Aiden segera menghembus nafas dan berkata "Kamu bisa memilih ingin tetap tinggal disini atau tinggal di rumah baru bersamaku" dengan wajah datar seolah-olah tidak peduli, namun sebenarnya dia berempati untuk Razel dan anak ini.


Sebenarnya dia cukup kesal dengan keadaannya yang sekarang. Memutuskan pendidikannya, memiliki seorang anak secara tiba-tiba, dan pemikiran kehidupan manusia normal yang di lakukan pada umumnya. Aiden juga menyewa kontraktor bangunan secara diam-diam tanpa sepengetahuan siapapun.


Dia mulai menggunakan semua kartu-kartu identitas nya, menyewa kontraktor, termasuk arsitektur, designer bangunan, dan semua yang berhubungan dengan rumah yang dia inginkan. Dia tahu mungkin ini adalah pilihan yang terbaik ketika orang-orang memiliki biaya yang cukup besar untuk melakukan pembangunan. Dan dia merasa beruntung memiliki uang-uang sebanyak ini sebelum semuanya habis dia gunakan.


Proses pembangunan ini jelas di butuhkan banyak tenaga, para kuli bangunan profesional juga tidak di bayar dengan harga yang murah setiap harinya. Di tambah lagi, biaya untuk keramik-keramik dan semua corak di sudut-sudut tiang di butuhkan pekerja ahli yang berbeda juga. Ini adalah keinginannya sendiri untuk menciptakan nuansa dan suasana yang sesuai dengan seleranya.


Setelah satu bulan kemudian, ibu Razel dan ibu Aiden kemudian membawa Razel keluar dari rumah untuk menyiapkan gaun pernikahannya. Aiden juga di minta untuk ikut dengan mereka. Setelah sebulan sebelum pernikahan di adakan, Aiden tiba-tiba rutin mengunjungi Razel karena anak itu.


Sambil menggendong bayinya, Razel perlahan mendekati Aiden yang melihat taman rumah besar ini dari lantai dua. Dia membalikkan wajahnya sebentar ke arah Razel, dengan bayi cantik yang sedikit menggerakkan tangan dan kakinya, awalnya dia ingin tersenyum sedikit, tapi Raze terlihat memiliki ekspresi aneh seolah-olah ingin mengucapkan sesuatu.


Jadi dia kembali memandang taman di bawah dan mengatakan "Katakanlah apa yang kau inginkan, aku akan mendengarnya."


Razel mendekatkan dirinya lagi dan mengatakan "Aku ... aku harus jujur, bahwa aku ... menyukaimu" ucap Razel dengan wajah seolah-olah ingin menghapus dirinya sendiri dari dunia.


"Aku sudah tahu itu." Jawab Aiden singkat.


Detak jantung Razel kemudian berdetak lagi, dia belum pernah merasa malu seperti ini. Dia kemudian mulai membuka kembali mulutnya.


"Kamu tahu kan? Pernikahan yang baik di lakukan untuk menciptakan perjanjian kekal abadi antara dua orang yang saling mencintai. Jadi, aku ingin bertanya a—"


"Apakah kamu mencintaiku? ... kamu ingin bertanya itu kan?" Ucap Aiden dengan cepat memotong kalimat Razel.


Aiden memandang cakrawala sambil mengatakan bahwa sebenarnya ada satu sosok yang sudah dia cintai selama ini, seseorang yang berada di antara kenyataan, dan ketiadaan. Berada di antara keduanya yang menampilkan sedikit pecahan wujudnya ke dalam mimpi aneh Aiden.


Wanita itu cantik, memiliki tanduk hitam yang tajam dan indah beserta rambut merah yang mampu membuatnya jatuh cinta dengan warna dan ekspresi nya. Dia juga mengatakan bahwa hingga kini, dia berharap wanita itu nyata. Ucapan-ucapan Aiden membuat hati Razel mulai kacau-balau seperti jembatan di atas langit seratus ribu kaki yang akan putus.


Tidak berhenti di situ, Aiden melanjutkan kalimatnya dengan pernyataan "Aku bahkan bisa saja mencintai wanita nyata, meninggalkan semua halusinasi dan mimpi ku. Mencintai wanita sepertimu, atau mungkin mencintaimu, maka dari itu buktikanlah bahwa kamu bisa membuatku jatuh cinta padamu" Aiden berbalik lagi memandang Razel sambil memberi kedua tangannya.


Razel paham bahwa Aiden akan mencintai anak ini, tapi tidak dengan dirinya. Dia takut bahwa dia tidak akan di anggap sebagai seorang istri. Aiden kemudian mengambil bayi itu perlahan dari tangan Razel, menggendongnya dengan halus bersama mata merah yang saling bertatapan sebentar.


Kemudian Aiden mulai menguji Razel dalam waktu cepat, apakah dia mampu. Sebelumnya Razel tidak memiliki paspor, visa, dan sebagainya yang merupakan dokumen perizinan keluar-masuk suatu negara. Tapi Aiden meminta semua data dirinya untuk membuat paspor Razel bersamaan dengan paspor miliknya. Aiden memutuskan untuk membawa Razel ke luar negeri dengan alasan menghibur dan memperkuat hubungan mereka di tempat-tempat menyenangkan yang akan mereka kunjungi.