Reborn As A Tyrannical Demon Lord

Reborn As A Tyrannical Demon Lord
Chapter 165 : Trying To Persuade The Wife



Pertengkaran baru saja berhenti, namun melihat Razel yang berlari mengejarnya seperti itu, Aiden tahu bahwa Razel hampir mencapai batas fisiknya untuk sementara, dan ketika kaki itu sangat lelah untuk berlari, dia tergelincir oleh genangan air. Tapi untung saja dia tergelincir dan jatuh tepat di hadapan Aiden yang menangkapnya.


"Hati-hati! Apa yang kamu lakukan?" tanya Aiden.


"Hahhh!!! Pakai payung ini dan ikutlah bersamaku."


"Bodoh! Kalau begitu pakailah dulu pakaianku, kamu bisa sakit karena kedinginan." ucap Aiden sambil membuka semua jas hitamnya dan memakaikannya pada Razel untuk menutupi seluruh tubuhnya yang telanjang bulat.


"Hah?! Bodoh! Bodohnya!!! Kenapa aku lupa bahwa aku tidak mengenakan gaun ku!?!?"


"Kamu baru menyadarinya sekarang? Benar-benar konyol."


Razel kemudian berjalan di bawah payung yang sama dengan Aiden, ibu Razel sudah khawatir bahwa mereka pulang dengan keadaan tanpa busana. Razel beralasan bahwa mereka berjalan dan melewati sesuatu yang membuat seluruh gaunnya sobek total. Tapi kenyataannya, mereka meninggalkan anak mereka selama empat jam untuk melaksanakan pernikahan rahasianya.


"Maafkan aku nyonya." ucap Aiden pada ibu Razel.


"Itu tidak penting sekarang, cepat bawa Razel ke kamarnya dan kamu akan tetap tinggal disini hingga hujan deras ini berhenti besok."


ucap ibu Razel sambil menggendong anak mereka yang akhirnya bisa tertidur setelah menangis begitu lama.


Setelah berdua di dalam kamar, Razel kembali membasuh semua tubuhnya dengan air hangat dan mengganti pakaian baru sambil menyalakan penghangat ruangan. Sementara Aiden masih tersenyum-senyum sendirian saat menyentuh bayi kecil itu.


Sambil mengenakan gaun tipis transparan yang sedikit memperlihatkan ********** dan memperbaiki rambutnya yang basah, Razel yang berada di hadapan cermin kemudian melihat sedikit demi sedikit ke arah Aiden yang memasang senyum murni saat menyentuh anaknya. Aiden tahu bahwa Razel meliriknya sedikit demi sedikit. Karena itu, dia meminta maaf sekali lagi padanya.


"Razel, aku minta maaf soal perilakuku yang tadi, apa kamu masih marah padaku?"


Razel bahkan tidak menjawab dan tetap menyisir rambutnya sambil menjual mahal.


Aiden bertanya dalam hatinya, tentang bagaimana cara membujuk wanita seperti Razel, karena sikap wanita seperti Razel agak berbeda dengan sikap wanita idamannya. Dia sebenarnya sangat tergila-gila pada wanita masokis, seperti wanita nakal yang suka menggoda, di dalam beberapa cerita fiksi, wanita seperti itu kebanyakan dari fiksi yang berisi succubus didalamnya.


Tapi, dia tiba-tiba memutar musik dansa dari ponselnya dengan nada yang halus sambil mendekati Razel yang duduk di depan cermin dan mengatakan hal konyol.


"Sayang? Apa kamu masih marah?" nada suara itu juga berbeda dari Aiden yang biasanya. Ini adalah Nafa suaranya dalam keadaan tertentu.


Kalimat itu tiba-tiba membuat Razel terpicu.


"Apa yang kamu lakukan?"


Wanita yang sedikit pemalu, atau malu-malu kucing, dia terkadang suka membuat wanita pemalu menjadi marah.


"Eh? Kamu masih benar-benar marah?"


"Ahh!! Bisakah kamu menghentikan musik seperti itu? Apa-apaan musik menyebalkan itu!?!"


"Sepertinya ini musik dansa, kamu tidak menyukai musik dansa dan suasana semacam ini?" tanya Aiden.


"Tidak! tidak! ... musik dansa terkadang menjadi sangat buruk ketika mood ku begitu menyebalkan seperti ini."


"Musik seperti apa yang kamu sukai?"


"Aku memiliki banyak musik kesukaan, terutama dengan suara nada yang cukup tinggi, salah satu musik yang kusukai adalah musik dengan judul Vogel im Käfig terutama pada bagian reff atau musik-musik dengan instrumental semacamnya, terkadang aku terlalu menghayati musik saat menyendiri hingga mengkhayal bahwa aku bagaikan penyihir jahat dalam cerita dongeng yang berhasil menemukan kecantikannya dan keabadian selamanya setelah mengorbankan banyak sesuatu yang berharga.


Razel kemudian menyalakan ponselnya dan memutar musik yang terdengar tidak asing di telinga Aiden, jadi dia melanjutkan kembali usaha kecil untuk membujuk istri konyol ini.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Razel dengan wajah yang sedikit cemberut.


"Apakah seorang suami tidak boleh membujuk istrinya yang sedang marah?" Ucap Aiden sambil menggenggam setiap lipstik milik Razel dan melihat-lihat merk nya.


"Terserah." jawab Razel sambil menyisir kembali rambutnya.


"Terserah? hmmm, benar-benar jawaban yang terlalu sering di katakan oleh perempuan ya~"


Aiden mengambil kursi kecil bagaikan sofa dan meletakkannya di samping Razel, dia duduk dan memangku wajahnya dengan tangan kanan sambil memandang Razel untuk mencari perhatian. Tidak hanya itu, Aiden juga tersenyum jahil pada Razel tanpa henti.


Razel melirik sekali dan kemudian membuang pandangannya lagi. Karena Aiden memandangnya sudah lebih dari sepuluh menit, itu membuatnya malu dan kesal.


"Aidennnn!! Apa-apaan? Ahhh!" dengan sangat cepat, Razel mengambil lipstik nya dan mencoret wajah Aiden dengan satu tarikan yang sangat panjang.


Aiden tidak menjawab dan masih tetap memangku tangannya dan melirik Razel. Karena terlalu muak, akhirnya Razel dengan bodohnya tertawa karena tingkah konyol itu.


"Aiden, ternyata kamu memiliki sisi konyol seperti ini ya, kalau begitu buat aku terhibur."


"Terhibur?"


"Sangat perhatian sekali, kenapa kamu berubah secepat ini?" tanya Aiden.


"Ini bukan perhatian, aku hanya tidak memiliki sesuatu untuk di lakukan sekarang. Ngomong-ngomong, aku ingin menyentuh rambutmu, jadi jangan bergerak."


"Ada yang salah?"


Razel kemudian menyisir semua poni yang menutupi dahi Aiden, menyisirnya ke atas, kanan, dan kiri. Kemudian dia memperbaiki sisanya dengan tangannya, Aiden hanya menuruti apa yang akan di lakukan Razel.


"Begini! Terlihat tampan, bukan? Seorang pria seharusnya memiliki gaya rambut seperti ini."


"Apa iya?"


"Iya."


"Apa iya?"


"Berisik! Jangan sampai aku memanggil katak dari luar dan menyumbat mulutmu." ucap Razel.


"Oh."


"Jangan hanya menanggapi dengan 'Oh' saja! Setidaknya hargai aku atau meminta maaf dan ucapkan semacamnya."


"Oh, maaf."


"Ah, apa-apaan ucapan singkat itu."


"Aku tidak tahu harus mengucapkan apa, lagipula, kamu seharusnya tidak berisik karena anak itu bisa terbangun dan kembali menangis."


"Benar juga."


Suasana hening sesaat, tapi Aiden mengembalikannya dengan satu pertanyaan.


"Apakah di antara pelayan di rumah ini salah satunya memang selalu mengenakan pakaian dengan bercak darah? Setiap aku datang kesini, dia pasti lewat entah sekali atau dua kali dari kejauhan sambil membawa gelas atau piring."


"Tidak ada, aku tidak pernah memiliki pelayan seperti itu, jangan bercanda."


"Bercanda... hahahaha."


Percakapan konyol pun terus berlanjut hingga akhirnya mereka berdua kelelahan dan tertidur.


Di pagi harinya, tepat jam 5 pagi, Aiden pulang untuk menemui ibunya, Razel menemaninya hingga di ujung gerbang sambil menggendong anak mereka. Dia berkata pada Mira kecil bahwa ayahnya akan pergi untuk sementara dan ucapkan "Bye-bye" pada ayah. Namun bayi kecil itu menanggapi dengan gerakan lucu sambil menguap.


Aiden tidak langsung pulang, karena dia masih memesan taksi online untuk melihat keadaan rumahnya yang hampir selesai, di lokasi itu, pembangunannya benar-benar hampir seratus persen. Namun belum ada satupun pekerja yang datang untuk melanjutkan sisa pekerjaan instalasi listrik dan sebagainya. Selebihnya, rumah itu tinggal diisi dengan berbagai furniture dan siap di untuk huni.


Di ujung jalan itu, Aiden melihat seorang pria berotot yang sedang berlari laun. Di dalam hatinya, dia berkata bahwa pria itu pasti benar-benar berolahraga rutin atau mungkin melakukan aktivitas gym sehingga otot tubuhnya benar-benar kuat. Melihat sosok seperti itu, Aiden menjadi iri.


"Yo! Pagi yang sangat bersemangat ya~" Aiden menyapa pria itu.


"Ah, hahaha tentunya." balas pria itu sambil meneruskan lari kecilnya.


"Hati-hati di jalan sobat." ucap Aiden sambil berjalan ke arah yang berlawanan dengan kedua tangannya di saku celana.


"Terima kasih saudaraku, semoga harimu lancar."


Di kejauhan setelah berpisah dengan pria itu, Aiden tersenyum kecil sambil memerintahkan roh-roh dari dalam cincinnya.


"Bunuh dia, dan bawa jiwanya."


Jiwa-jiwa yang selama ini dia bunuh di segel ke dalam cincin hitam itu kemudian di ubah menjadi jiwa-jiwa jahat yang bisa di perintahkan untuk membunuh sesuai keinginan pemilik cincinnya. Aiden bahkan tidak tahu kalau kurungan di dalam cincin itu merupakan penjara jiwa yang setara dengan ukuran sebuah dunia.


Dunia kurungan jiwa yang mampu menyimpan roh dalam jumlah tak hingga. Semakin banyak jiwa yang dia segel, maka semakin banyak jiwa-jiwa yang bisa di perintahkan untuk membunuh tanpa harus menyentuh.


Pria itu berakhir buruk saat kepalanya yang tiba-tiba saja terasa pusing, kemudian tubuhnya yang berhenti sepenuhnya dan tersungkur di pinggir jalan membuatnya tewas dalam seketika karena jiwanya yang telah di serang. Jiwa pria itu sudah tidak akan bisa di selamatkan lagi, karena ketika jiwa-jiwa jahat dari dalam cincin menyerang, maka saat itu juga jiwa itu bukan lagi milik tubuh pria tersebut.


Aiden masih sadar bahwa tugasnya belum selesai. Dia kini bisa merasakan kematian pria itu dengan berkomunikasi pada jiwa-jiwa jahat melalui perasaan anehnya. Saat itu, Aiden tersenyum lagi sambil berjalan dan memejamkan matanya.


"Ahh, sangat menyedihkan. Tidak, aku seharusnya tidak mengasihani orang-orang yang membuatku iri, lagipula saat semua tugas ini selesai aku benar-benar berniat mati dan berharap sesuatu membawaku ke Haseichta, tempat untuk mewujudkan keinginan luar biasa seperti yang di katakan Razel."


"Aku punya ... punya harapan besar, keinginan besar, yang mungkin mustahil di wujudkan."