Reborn As A Tyrannical Demon Lord

Reborn As A Tyrannical Demon Lord
Chapter 173: Out Of Spite



Suasana begitu canggung dan benar-benar tidak menyenangkan, Aiden dan wanita itu bahkan baru saja bertemu malam ini, sampai akhirnya Dave dengan sebuah amplop hitam kecil datang kembali bergabung di meja bersama mereka berdua.


"Nona, saya kembali. Maaf membuat Anda menunggu lama."


Wanita itu dengan ekspresi pahit kemudian menarik nafasnya cukup dalam dan meminta agar Aiden membuka isinya.


"Aku akan membacanya sekarang." Ucap Aiden sambil menarik amplop yang di serahkan Dave di atas meja.


Surat itu tidak begitu panjang, namun itu bukan hal yang layak untuk di ketahui siapapun. Dan di sana tertulis sebuah surat yang membutuhkan kekuatan seperti Aiden, daripada kekuatan, mungkin mereka lebih membutuhkan hal-hal licik yang di miliki Aiden. Sebagaimana dirinya menjadi pembunuh berantai saat ini.


"Menarik ... lumayan menarik, tapi ...."


"Tapi apa?" Tanya Erine dengan wajah penuh keraguan.


"Pilihannya mudah, bukan? Aku hanya perlu setuju, atau menolak."


"Ya, sudahkah kamu memikirkan jawabannya? Pertimbangkan lah lebih lanjut, kamu pasti sudah membaca semuanya, bukan?" Ucap Erine berharap bahwa Aiden tergiur dengan bayaran yang dia tawarkan.


"Aku memang mengatakan bahwa ini cukup menarik, tapi jawabanku hanya akan ada ketika semua minuman ini habis."


"Apa?!?!"


"Erine, ya? ... aku sudah mengatakan sejak awal, bukan? Dua gelas lowball telah ku siapkan sejak awal, akan begitu menyakitkan jika aku tidak memiliki teman untuk menghabisi minuman ini, jadi, pilihlah. Antara kamu? Atau bawahanmu ini, siapa yang akan meminumnya?"


"K-kami?? Meminum semua ini?"


"Ah, nona dungu, sepertinya kamu begitu tuli, aku mengatakan pilihlah, antara kamu atau bawahanmu yang akan menjadi teman minum ku. Kalian akan mendapatkan jawaban ku jika salah satu dari kalian mampu minum lebih banyak dariku."


"A-apa?!"


"Kamu berhak memilih, sebagai atasan, kamu bisa memerintah bidak mu ini untuk minum hanya demi mendapat jawaban, kalau begitu lakukan ... sekarang."


Aiden yang telah minum sejak awal, mulai menuangkan minuman alkohol ke sebuah gelas kosong. Kali ini, botol baru telah di buka. Minuman keras rasa leci dengan kadar alkohol empat puluh persen telah di tawarkan pada mereka. Erine hanya perlu memerintah, atau salah satu dari mereka perlu berkorban demi sebuah jawaban.


"Saya akan menerimanya."


Aiden: "..."


Erine: "..."


Suasana hening sekitar beberapa detik, Erine dengan wajah ragu kemudian mulai memandang wajah Dave yang terus menatap ke arah Aiden.


"Wah! Wah! Wahhh!!! Sesuatu yang di tunggu-tunggu, hewan peliharaan akhirnya melindungi majikannya, tapi ... jika kamu masih tetap menatap ku seperti itu, jangan berpikir bisa pulang untuk menemui kembali keluarga mu. Karena aku benci ketika siapapun menatap ku." Ucap Aiden yang awalnya tersenyum kemudian berucap dengan eskpresi suram di wajahnya.


Dave yang terpaksa, kemudian segera meminum satu gelas dengan sangat cepat. Dan untuk wanita itu, entah dia akan pulang meninggalkan bawahannya, atau tetap menunggu, itu adalah pilihannya. Yang pastinya Aiden hanya akan membebani minuman-minuman ini pada salah satu di antara mereka berdua saja.


"A-aku masih kuat nona! Tenang saja, aku juga pernah menjadi pemabuk saat aku masih remaja." Ucap Dave dengan nada yang sedikit melantun.


"D-Dave?"


Wanita itu sudah cukup khawatirkan dengan kondisi Dave, mulai dari nada suaranya yang agak aneh, dan tatapannya yang melirik seperti tatapan kosong.


"Hanya empat puluh persen katamu?!"


"Itu seharusnya berada di pertengahan, pilihlah, meminum sebotol Vodka sendirian? Atau haruskan aku memesankan satu botol lagi dengan kadar alkohol tujuh puluh persen? Aku akan membantu mu menghabiskannya."


Ucap Aiden dengan kondisi yang masih waras seratus persen.


"Tenang saja nona, aku masih bisa bertahan."


Dave terus di tuangkan minuman oleh Aiden tanpa henti, hingga tengah malam tiba, dia berhasil bertahan meminum setengah Vibe dan sebotol Vodka sendirian, tapi efek setelah itu, Dave benar-benar mabuk seperti kehilangan kendali, memukul orang sembarangan yang ada di tempat itu, hingga para petugas keamanan datang untuk mengamankannya. Selain bertingkah bodoh, Dave sudah muntah lebih dari empat kali.


Aiden hanya tersenyum jahat melihat kondisinya, sampai akhirnya dia bosan dan pulang meninggalkan mereka berdua. Aiden merasa sedikit mabuk sekarang, tapi dia tidak mampu bertingkah layaknya orang bodoh. Maka dari itu, Aiden membeli sebotol lagi minuman dengan kadar yang cukup rendah. Itu hanya anggur merah. Namun, hanya dengan membeli semua minuman itu, uang nya benar-benar terkuras begitu banyak dalam satu malam.


Di perjalanan pulang, masih ada taksi yang di perbolehkan mengangkut penumpang, tapi ada beberapa syarat untuk pengemudi, dan mereka juga hanya boleh melewati jalur-jalur khusus yang di jaga oleh pos polisi setiap enam ratus meter. Rumahnya lumayan jauh, jadi memesan taksi online adalah hal yang paling efektif. Jalur-jalur itu biasanya di lewati oleh bus, taksi mobil, dan beberapa kendaraan umum yang perlu di awasi. Sementara jalur lain di nyatakan sebagai jalur merah, atau jalur berbahaya yang merupakan area rawan pembunuhan.


"Sial!! Orang itu, dia benar-benar tidak waras."


Setelah marah di dalam rumahnya sendirian, Erine melempar gelas kaca di ruang tamunya, kemudian menyentuh wastafel dengan kedua tangannya sambil menatap wajahnya sendiri di cermin. Dia berkata "Tenang saja Erine, tenang saja, kamu pasti bisa walau harus menggunakan orang gila."


"Hahahahahahaha!!!!!"


Beep! Beep!


"Aiden?"


"Ya, ini aku, masih membutuhkan jawaban?"


"Aiden, tolong ... jawabanmu. Bantu aku."


"Jujur, ini adalah sesuatu yang membutuhkan sedikit rencana, walau sulit, nyawa ku juga terancam. Tapi, aku akan menerimanya, begitu juga bayaran yang kamu tawarkan di surat itu."


"Bagus! Bagus! Aiden!!!"


"Hm, kamu benar-benar bersemangat, sepertinya dendam mu cukup berkobar di dalam hati kecil itu."


"Benar Aiden, benar sekali! Aku akan menikmati tangisan atas pembubuhan mu itu."


Pada saat itu, Aiden telah membaca seluruh isi suratnya, Erine sebagai manajer produksi di perusahaan Aisquin benar-benar berniat melakukan pembunuhan terhadap CEO-nya sendiri. Untuk alasannya, karena Erine benar-benar tidak menerima ketika wajahnya terasa seperti di lempari oleh kotoran.


Perasaan benci itu telah tersimpan begitu lama. Erine awalnya di terima dan hanya bekerja di bagian pemasaran produk, karirnya terus meningkat, begitu juga dengan penghasilannya. Namun, suatu hari di hadapan begitu banyak karyawan lainnya. Putri CEO perusahaan kembali dari luar negeri dan mengunjungi ayahnya di kantor.


Tak sengaja Erine bertemu dengannya, yang sebenarnya adalah teman sekelasnya. Suasana damai benar-benar berubah ketika mereka berdua kembali bertemu, dan ini soal masalah lama. Saat masih duduk di bangku sekolah menengah atas, Erine dan mantan sahabatnya ini, atau di kenal sebagai Alaya adalah seorang sahabat, keduanya begitu akur dan memiliki persahabatan yang begitu kokoh.


Hingga akhirnya, ada suatu hal yang mampu memutuskan hubungan itu. Hal itu karena cinta. Kedatangan Lavine sebagai murid baru di tahun selanjutnya mampu membuat Alaya jatuh cinta, selain hubungan persahabatan, Alaya mulai menjalin hubungan cintanya bersama Lavine, tapi seiring waktu berjalan, Erine akan menghancurkan persahabatan di antara dirinya dan Alaya. Juga soal perasaan yang tumbuh untuk Lavine.


Erine terus mencari cara, menciptakan rencana bagaimana cara agar Lavine mau berteman dengannya, atau bagaimana bagian-bagian akhir yang merupakan teknik wanita untuk memanipulasi seorang lelaki agar jatuh cinta padanya. Hubungan persahabatan Erine dan Alaya mulai memburuk, mulai dari pertengkaran mulut, hingga penghapusan kontak satu sama lain.


Sampai saat itu, Erine benar-benar menjadi pemenang yang berhasil membuat Lavine jatuh cinta padanya dan membuang Alaya sebagai sahabatnya. Erine hanya pihak ketiga yang ingin menghancurkan hubungan segitiga itu. Namun setelah lulus SMA, Hubungan Erine dan Lavine tetap saja hancur, bahkan Alaya berhasil menemukan jawaban masalah lamanya, tentang bagaimana Erine membuat Lavine berpindah padanya.


Sampai mereka bertemu kembali, dengan Alaya sebagai putri dari CEO Aisquin dan Erine sebagai manajer produksi di perusahaan ayah Alaya. Perdebatan mereka kembali memicu keributan, itu karena Alaya yang kembali memulainya untuk menjatuhkan nama Erine di perusahaan. Alaya tidak bekerja di perusahaan ayahnya, namun dia memiliki profesi seperti ibu Aiden yang merupakan model atau brand ambassador karena kecantikan mereka.