
Ketika sampai di rumah sore ini, aku menemukan bahwa Wanda dan Eugene baru saja selesai membersihkan seluruh dapur, kini semuanya benar-benar bersih dan mengkilat. Seluruh lantai di pel dengan benar, begitu licin dan tidak ada debu yang tersisa.
"Wanda, Eugene"
"Eh ... Aiden? Ada apa? Butuh bantuan?"
Tanya Eugene.
"Apakah kamu lapar? Kami bisa memasak sesuatu yang lain hari ini." Ucap Wanda.
"Ehehe, kurasa tidak perlu, tapi, apakah kalian punya selembar uang seratus ribu scarlet? Aku ingin membuat salinannya."
"Tunggu sebentar,"
Wanda kemudian pergi menuju kamarnya, dan kembali membawa beberapa lembar uang mereka, namun, aku hanya meminta satu saja untuk menggandakannya menjadi beberapa.
"Baiklah,"
BIUSHHH!
Dengan cepat, aku membuat banyak salinan uang kertas ini. Mereka semua berwarna merah pucat, ini berhasil ... ini berhasil, akhirnya!!
Dengan rasa kagum, mereka berdua bertepuk tangan atas kemampuanku dalam menduplikat uang-uang ini.
"Bagaimana? Apakah aku hebat?"
Keduanya mengganguk tanpa jawaban.
"Lalu, kamu ingin menggunakan uang itu untuk apa?" Tanya Wanda.
"Ouh, uang-uang ini akan kugunakan untuk membeli pedang."
"Benarkah? Aku tidak sabar ingin melihat pedang nya."
"Tentu saja~ kalian akan melihatnya malam ini."
Setelah malam tiba, aku hanya terus duduk di depan cermin kamarku, dan entah kemana perginya Marie, tapi kurasa dia sedang bersama Valerie dan yang lainnya untuk di perintah. Aku ingat bahwa dia akan memberi hukuman untuk mereka bertiga karena bicara blak-blakan kepadaku, semoga saja mereka tidak mendapatkan hukuman yang jahat darinya.
Dasar...
TOK... TOK... TOK...
Beberapa waktu kemudian, suara ketukan pintu kamarku berbunyi di sertai nada mengayun untuk memanggilku keluar.
"Aiden, Aiden, keluarlah sebentar, makan malam nya sudah siap."
"Aku datang."
Seperti biasa, kehidupan ku teratur, Wanda dan Eugene bagaikan kakak atau orang tuaku sendiri, mereka benar-benar memperdulikan makananku, kesehatanku, atau ekspresiku yang sedih, mungkin mereka akan mendekat dan bertanya padaku, terkadang mencari topik untuk menghiburku. Menganggap mereka kakakku atau mungkin orang tuaku, sepertinya lebih baik daripada pelayan.
Begitu aku membuka pintu kamarku dan beranjak turun kebawah, aroma harum tak tertahankan tercium ke seluruh rumah. Mungkin masakan yang berbeda lagi untuk malam ini.
"Woah! Begitu harum, apakah ini?"
Aku sendiri kali ini akan membukanya, ketika uap nya naik ke atas bersamaan dengan penutupnya yang di angkat. Aroma nya bahkan semakin kuat.
Wanda dengan kedua tangan yang gugup :
"Ikan goreng, ikan bakar, udang, cumi-cumi, sepertinya kami hanya membuat menu makan malam ini penuh dengan makanan laut. Maaf."
"Tidak, kalian tidak perlu secemas itu, aku menyukai semua masakan kalian. Itu benar-benar nikmat dan menyenangkan, terkecuali makanan pedas, aku akan marah jika kalian meletakkan bahkan satu biji saja cabai di atas makananku."
"Yaya, kami sudah hapal, kamu tidak suka makan makanan pedas."
"Selain tidak suka, kurasa aku tidak tahan, membuat seluruh wajahku berkeringat bahkan sampai rambutku basah, rasanya seluruh gusiku akan terbakar. Itu menyebalkan."
"Dan ... apa yang kalian berdua lakukan dengan terus berdiri disini? Duduklah, ayo kita makan bersama, kalian tidak perlu melakukan hal seperti itu selamanya."
"Apakah boleh?" Tanya Eugene.
Kami bertiga makan di meja yang sama, meja yang selalu berada di ruang makan dekat dapur, tentu saja ini adalah satu-satunya meja makan dengan delapan kursi. Tiga kursi menghadap timur, tiga kursi di depannya menghadap ke barat. Sementara dua kursi lainnya berhadapan antara timur dan selatan. Kursi yang ini terkadang menjadi kursiku dan Marie, dia selalu makan untuk berhadapan denganku, makan sambil di tatap itu benar-benar aneh.
Aku mengambil banyak makanan dan menghabiskan dua piring dengan porsi yang cukup banyak, kurasa sejak dulu sampai sekarang, aku selalu makan banyak dengan porsi paling tinggi bisa sampai tiga piring, namun tubuhku masih saja kurus. Tapi, semua tidak masalah, bahkan orang bertubuh kekar sebesar apapun bisa saja langsung mati dengan serangan ku.
Kulihat jam besar di dinding itu, jarum bergerak detik ke detik. Sepertinya sudah saatnya pergi, lagipula makanannya sudah selesai, aku benar-benar berterima kasih dan memuji mereka berdua dengan baik. Membuat hati mereka benar-benar senang.
Sesuatu mengejutkanku di luar pintu rumah, tepatnya di halaman dan taman yang lampu pada tiang-tiang nya belum di nyalakan. Benar-benar gelap, sesosok hitam bertanduk terlihat di taman menatapku, membuat tubuhku merinding seketika. Setelah dia menghilang seperti kedipan mata, sosok itu benar-benar muncul langsung di hadapanku seperti di film-film setan dengan adegan jumpscare yang ingin membuat jantung terlepas.
"Ahhh!!! Setan!!!"
Anehnya, aku tidak berlari, namun hanya menutup mataku sekejap dan melihat lagi keadaannya. Sosok hitam tak terlihat ini adalah Marie dengan tanduk dan pakaian merahnya.
"A-Apa yang kamu lakukan?"
"Apa yang aku lakukan? Seharusnya aku yang bertanya, kemana kamu akan pergi malam-malam begini? Bahkan tidak mengajakku?"
"Aku, ingin membeli pedang yang sudah di siapkan. Pedang yang cukup bagus dari toko yang ku kunjungi tadi sore."
Marie berjalan masuk ke dalam rumah, menarik tanganku dengan cepat untuk kembali ke kamar, kemudian menyuruhku duduk di kursi untuk menunggu.
"Duduklah, dan tunggu ... aku akan mengganti pakaianku dan aku akan ikut bersamamu!"
"Tapi kenapa aku harus berada di kamar bersamamu? Aku lelaki lho!"
"Tidak ada yang boleh bersamaku, satu ruangan denganku, melihat tubuhku, terkecuali kamu." Ucapnya sambil menyentuh bibirku dengan telunjuknya.
Sial! Dia terlihat berbeda dengan gaun merah ini, dan apa-apaan tanduk itu? Seperti tanduk setan, tapi rasanya ... sial! perasaan ini, membuat sesuatu berdiri dengan tegak di bawah sana, terus terpikir di kepala ku sekarang.
"Sudah selesai? Aku tidak tahan terus menutup mataku seperti ini."
"Untuk apa menutup matamu? Padahal kamu adalah orang terpilih untuk melihat hal spesial dari ratu iblis sepertiku."
Setelah kulihat, semuanya baik-baik saja, dia terlihat memakai pakaian yang bagus dan normal-normal saja. Tidak norak seperti kebanyakan orang pergi ke luar rumah mereka dengan lipstik yang terlalu tebal. Marie tidak memakai lipstik atau perhiasan apapun, namun itu sudah wajah normalnya dan parasnya cantik terus seperti itu. Tapi jujur, dengan gaun merah selalu terlihat menyenangkan, membuat imajinasi ku melayang-layang.
"Bagaimana? Terlihat bagus?"
"Ya, bagus, apapun itu."
"Akhh? Benarkah? Betapa senangnya hatiku dengan pujian itu, ngomong-ngomong, simpanlah ini jika kamu rindu kepadaku suatu saat."
Ucapnya sambil menempelkan tangannya dengan sebuah kain hitam yang menutup wajahku, seperti kain dengan sedikit motif jahitan.
"Tunggu sebentar ... apa ini?"
Aku membuka kembali wajahku dan melepaskan benda dan tangannya dari wajahku. Walau harum seperti itu, namun ini adalah pakaian dalam tipis berwarna hitam, lebih tepatnya celana, tidak salah lagi. Ini adalah pasangan bagian bawah bra itu.
"Marie! Apa-apaan ini?"
"Untukmu, sayang sekali jika kamu tidak mau, aku tetap tidak akan membuang nya."
"Kamu bisa menyimpannya di lemari, untuk apa menempelkannya ke wajahku?"
"Agar kamu bisa mengenalnya, huhuhu."
"Stress."
Setelah menunda waktu sekitar tujuh menit, kami keluar lagi bersama malam ini, menuju kota tepat di toko pedang itu.
Malam ini sangat banyak pengunjung, tadi siang hanya aku sendiri yang berada di toko itu, tapi malam ini cukup ramai di dalam toko.
"Tetaplah berada di dekatku."
Marie mengangguk dan terus menempelkan diri padaku, lagipula ini aneh, rasanya aku iri dan mungkin akan merasa tidak senang jika siapapun menyentuh Marie, ini perasaan aneh yang muncul sejak dua minggu yang lalu. Walau dia ratu iblis yang sangat berkuasa, namun rasanya aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuhnya, selain diriku, perasaan ini memang aneh.
Dan gadis pelayan itu, sepertinya terlihat sangat sibuk, kini ada dua pelayan dan yang satunya lagi adalah lelaki. Gadis itu sibuk dengan para pelanggan, namun setelah melihatku disini, dia memutuskan untuk menyuruh lelaki itu melayani pengunjung lainnya. Dan dia akan fokus kepada kami.