
Seluruh tubuhku terasa panas, panasnya agak berlebihan, dan membuat tangan Marie menjadi merah, namun dengan sihirnya yang telah ku kembalikan, dia dapat mengendalikan dan mengubah suhu apapun dengan mudah.
Kepalaku terasa pusing dan sangat sakit, penglihatan ku sedikit kabur. Rasa tusukan di jantung itu terasa nyata dan aku mencoba bangun dari tempat tidurku.
"Aiden, Aiden, katakan padaku apa yang terjadi padamu?" Tanya Marie sekali lagi.
"Aku mengalami mimpi buruk, bukan mimpi biasa." Jawabku sambil bangun dari kasurku.
Saat kaki ku menyentuh karpet mewah kamar ini, langkah kaki ku segera membakar karpetnya perlahan. Setiap langkah kaki ku kemudian membekas menjadi telapak kaki api yang membakar karpet pada setiap langkah.
Pusing! Kepala ku semakin pusing dan suara jiwa-jiwa neraka itu terus terlintas di pikiranku. Aku mulai berjalan oleng hingga akhirnya terjatuh saat hendak menggapai pintu.
"Huh!? Aiden?"
Setelah Marie terkejut melihatku terjatuh, Wanda dan Eugene dalam sekejap datang untuk melihat kondisi ku.
"Aiden? Aiden? Apa yang terjadi padamu?"
Tanya Marie berkali-kali.
"Ratu, apa yang harus kami lakukan?"
Tanya Wanda.
"Berikan dia sihir penyembuhan."
Sepertinya tidak bekerja, Marie sudah memberikanku sihir nya sejak aku terjatuh, bahkan Wanda dan Eugene tidak mempengaruhi rasa sakit ku.
Bayangan hitam sekejap mata kemudian melintas di depan pintu, begitu cepat dalam membentuk wujudnya.
Marie: "A-A-Aiden?!"
"Siapa kamu?!?" Aku bertanya pada sosok bayangan yang menciptakan wujudnya dengan wajah yang mirip denganku.
"Aku adalah kamu, dan kamu adalah aku."
Begitulah ucap lelaki yang mirip denganku.
Bayangan hitam satunya lagi muncul tanpa membentuk wujud nya. Dia melayang-layang di kehampaan sekitar kami.
Dia adalah Fyrena.
"Fyrena!"
Marie: "Huh?! Fyrena?"
"Marie, dia adalah ... Fyrena."
Fyrena: "Aiden, sudah waktunya."
Fyrena mengucapkan namaku, namun dia berbicara pada lelaki itu. Kenapa ada diriku yang lain? Dan lelaki itu kemudian melangkah ke depanku untuk menggerakkan tangannya.
Ketika tangannya bergerak padaku, jiwa ku serasa akan lepas dari tubuhku, Marie terkejut dan segera menyerang lelaki itu secepat mungkin.
Marie: "Apa yang kamu lakukan padanya?!!!"
Aiden: "Aku hanya memperkuat diriku di masa lalu."
Marie: "Apa?"
Aiden: "Aiden, aku adalah dirimu ... dari masa depan, dan aku akan kembali, untuk menyelamatkan diriku sendiri."
Marie: "Aiden dari masa depan?!"
Aiden: "Kami bukanlah orang yang berbeda, kami adalah satu, kami adalah Aiden. Seluruh jia dan pikiran kami terhubung, Aiden di seluruh alam semesta itu ada, masa depan, masa lalu, masa kini."
Seperti yang di katakan lelaki ini, dia menyebutkan bahwa dirinya adalah diriku, Aiden di hadapanku adalah diriku sendiri dari masa depan.
"Bagaimana kamu bisa membuktikan bahwa kamu tidak berbohong?" Tanyaku sambil memancarkan aura untuk membuatnya berlutut.
Namun, aura ku benar-benar tidak berpengaruh sedikitpun padanya.
Fyrena: "Kamu merencanakan sesuatu, kamu memulai sesuatu, dan berjalan pada jalan yang salah. Kita semua adalah iblis, kita semua sama, semua iblis adalah kesalahan itu sendiri, kita semua adalah keburukan itu sendiri, kita semua adalah kegelapan itu sendiri, begitulah semua iblis ada. Dan dirimu datang kali ini untuk menyelamatkan mu di masa depan."
Marie: "Sekarang apa? Katakan apa yang terjadi dengannya?"
Aiden: "Sama seperti sebelumnya, aku pernah mengalami ini, dan ini di sebut sebagai Kvuzere. Keadaan di mana diriku akan memulai langkah pertama nya menjadi raja iblis."
"Diriku dari masa depan, apa yang terjadi?"
Aiden: "Aku akan membiarkan pikiran kita terhubung sekali lagi."
Kemudian diriku menatap mata ku dengan mata merahnya yang bersinar merah dengan sebuah simbol iblis di tengah matanya.
Aiden: Biarkan diriku sendiri melihat kekalahannya di masa depan."
Kemudian, aku melihat hal yang sama dan gila seperti di dalam mimpiku, namun lebih banyak dan panjang. Kematian ku berkali-kali dengan tragis.
Aku di bunuh oleh seorang anak kecil.
Aku di bunuh oleh harimau yang kelaparan.
Aku mati karena terjatuh dari tangga.
Aku terbang di kehampaan lautan yang aneh. Seperti alam semesta kosong berisi pecahan tidak terbatas mengambang di dalamnya. Setiap pecahan datang padaku untuk memperlihatkan isinya yang menggila.
Setiap pecahan adalah kematian ku di setiap alam semesta yang berbeda. Entah ini ilusi atau bagaimana, tapi aku merasakan setiap rasa sakit dari kematian ku.
Semuanya membekas, rasa sakit ketika jatuh dari tangga, lalu kepalaku terbentur keras dan membuatku meninggal dunia. Kemudian ada diriku yang di terkam oleh kawanan harimau dan di seluruh tubuhku di robek-robek untuk makanan mereka.
Ada banyak kematian ku, tak terhitung jumlahnya.
Berjalan ke pecahan lain di mana aku mati juga tertabrak oleh kereta api yang sedang melaju.
Tidak, apa yang ku lakukan?
Bagaimana bisa aku mati sekonyol itu? Apakah diriku di alam semesta lain tidak memiliki sihir?!
Suara kemudian terdengar, suara diriku sendiri yang menjawab pertanyaan ku.
"Ada."
Seluruh pecahan kecil kemudian beterbangan dengan cepat melaju melebihi kecepatan cahaya yang melewati diriku. Mereka terus bergerak dan bergerak hingga seluruh warna tercipta dengan kacau dari kecepatan nya.
Pecahan-pecahan kematian yang semakin banyak. Seperti tidak ada habisnya, di mana pecahan-pecahan kecil yang melaju mulai di ikuti oleh pecahan besar yang tidak terlalu cepat.
Pecahan besar secara acak membawa ku masuk untuk melihat jalan kematian ku sendiri.
Di sana, aku berjalan di atas jembatan. Jembatan yang terlihat mirip seperti jembatan Manhattan. Tapi, gaya rambutku di dunia lain tidak seperti sekarang. Kapan ini terjadi?
"Triliunan tahun yang lalu." Ucap diriku di luar alam semesta pikirannya.
A-Ak-Aku ... sudah hidup triliunan tahun yang lalu, bagaimana bisa?
Aku kemudian melanjutkan untuk menyaksikan apa yang di lakukan diriku sendiri pada waktu itu. Di sana, aku memiliki rambut yang tidak terlalu panjang, menggunakan setelan putih, celana putih, dan sepatu hitam. Diriku terlihat rapi di cerita lain.
Diriku berada tepat di ujung jembatan, dan beberapa orang lawannya adalah penyihir dengan jubah-jubah mereka yang beterbangan oleh angin, mereka berdiri jauh di ujung lain jembatan ini sejauh lima ribu meter lebih.
Sementara itu, di belakang seluruh para penyihir adalah para penyihir lainnya yang mengelilingi seluruh negeri itu. Menciptakan lingkaran raksasa sebagai formasi pertahanan sihir yang mungkin sulit untuk di tembus.
Seluruh penyihir tersebar di setiap titik kota. Benar-benar memperkuat perlindungan seluruh kota hingga membentuk kubah putih yang melampaui awan.
Aku tidak tahu, apa yang aku lakukan di alam semesta lain, tapi yang pastinya, aku bisa merasakan bahwa diriku di landa kemarahan.
Diriku yang terlihat sedikit lebih tua dariku. Itu lah dia yang menggenakan setelan putih. Dia menempelkan tangan kanan dan kirinya ke tengah hingga bersentuhan, mengarah ke depan kemudian melepaskan kembali sentuhan kedua tangannya.
Ketika sentuhan itu terlepas dari posisinya, gelombang kejut berwarna merah terlepas sangat cepat hingga menghempaskan seluruh mobil yang ada di jembatan sepanjang lima ribu meter ini. Tidak peduli kendaraan besar apa yang ada, mereka semua akan menyingkirkan ke kanan dan kiri. Bahkan ada begitu banyak kendaraan yang jatuh ke lautan.
Menyingkirkan apapun yang menghalangi jalannya. Saat dia mulai berjalan ke arah para penyihir itu, tangan kanan dan kiri di lebarkan perlahan hingga seluruh hubungan jembatan dan daratan mulai terlepas. Kaki-kaki jembatan di lautan antar benua mulai rubuh seperti debu.
Semakin jauh dia berjalan, jembatan semakin bergetar dan terlepas dari daratan. Hingga dia berjalan dua meter lebih dari ujung jembatan, jembatannya mulai melayang naik ke udara.
Setiap retakan-retakan jembatannya berjatuhan ke bawah. Tapi itu hanyalah bagian-bagian kecil dari jembatan besar ini, para penyihir di depan sana mulai kehilangan nyali nya. Kaki mereka bahkan gemetaran dan mundur sedikit demi sedikit.
Yang terjebak adalah para penyihir dengan jubah yang mungkin adalah penyihir tingkat tinggi di dunia ini. Mereka tetap bertahan di jembatan tanpa mundur sedikit pun, walaupun aku juga bisa merasakan bahwa mereka ketakutan karena diriku yang menerbangkan jembatannya perlahan ke langit.
Salah satu di antara penyihir itu langsung mengetuk tongkatnya ke jembatan hingga seluruh jembatan juga bergetar dan retak menghasilkan gelombang kejut yang tiba memerintah laut untuk naik dan menyerang diriku.
Ketika lautan naik dalam sekejap dan menyerang nya, seluruh lautan langsung di hempaskan kembali ke langit hingga membeku. Lautan lepas juga ikut membeku. Lautan yang membeku kemudian di gerakkan olehnya, ketika tangannya menampilkan sinar merah yang memerintah sesuatu dari laut keluar.
Saat lautan yang beku bergetar dan bergemuruh hebat, ada begitu banyak ikan yang terbang ke langit, jumlahnya benar-benar tidak bisa di hitung. Seluruh mahluk lautan di angkat dari pembekuannya. Ikan-ikan kecil kemudian menjadi ikan iblis, mata mereka semuanya menjadi warna merah seperti mata ikan yang sudah mati. Setiap ikan kecil datang untuk menabrak pertahanan sihir.
Apa yang di lakukannya mungkin hampir sama seperti yang ku lakukan, aku membuka lubang neraka untuk membawa semua senjata dari sana dan menyerang sesuatu tanpa henti, bedanya, dia memanipulasi dan menggunakan seluruh mahluk lautan untuk menyerang dan menembak.
"Menjauh lah IBLIS!!!!" Ucap para penyihir terdepan itu serentak.
Sambil berjalan terus ke depan dengan tangan yang terangkat ke kanan dan kiri, dia membalas dengan "Kembalikan dia padaku."
Lautan es yang bergemuruh semakin pecah dan mengeluarkan mahluk yang lebih besar, paus-paus berbagai jenis di angkat ke langit untuk berkeliling di atas kota dan suara paus-paus biru yang terbang di angkasa mulai menggetarkan pertahan sihir nya.
Ribuan tentakel raksasa keluar dari lautan es, bahkan tentakel ini mampu melebihi seratus kali lipat ukuran kapal Titanic. Bahkan tentakel yang keluar mampu menggapai langit dan menabrak pesawat jika saja ada pesawat yang melintas di angkasa ini. Seluruh lautan bumi jelas membeku, dan mahluk apapun yang ada di dalam lautan di manipulasi sesuai keinginannya untuk menyerang.
Ribuan tentakel juga datang untuk menabrak dari segala arah. Hingga penyihir-penyihir itu melancarkan serangan pada diriku secara bersamaan, diriku di atas jembatan yang berjalan kemudian menerima semua serangan yang ada tanpa masalah. Kemudian membalikkan semua serangan itu pada penyihir di depannya.
Saat serangan di balik, ledakan terjadi dan para penyihir terdepan di atas jembatan mati tidak tersisa, jembatannya kini runtuh dan mulai patah untuk menabrak lautan di bawahnya yang menjadi es. Dia mulai memindahkan dirinya ke depan penghalang sihir.
Berjarak lima meter dari hadapan semua penyihir pertahanan, dia menatap mereka semua hingga mata merahnya menyala. Ketika itu juga, bagian terdepan di manipulasi untuk mengikuti perintahnya dan menghancurkan formasi pelindung sihirnya.
Aiden: "Buka."
Dan formasi sihir di bagian barat mulai runtuh, pintu terbuka untuk membiarkannya masuk menuju kota. Aku bahkan tidak tahu apa yang akan diriku lakukan dengan menembus semua penghalangnya dan menuju ke tengah daratan besar ini.