Reborn As A Tyrannical Demon Lord

Reborn As A Tyrannical Demon Lord
Chapter 158 : Maternity Hospital



Berdiam diri di ambang antara realita dan mimpi, sesosok hitam tak di kenali memukul Aiden dengan sangat cepat seperti pukulan itu menyimpan rasa marah. Matanya terbuka kembali dengan rasa sakit luar biasa di pinggang bagian kanan. Pukulan itu terasa hingga ke kenyataan.


Aiden mengira bahwa seseorang memukulnya saat tidur, ternyata itu adalah sebuah tanda seolah-olah dia di larang untuk tidur. Dia beranggapan lagi bahwa sosok tersebut adalah Haumea yang marah karena tindakannya yang mungkin salah.


Mendengar bel notifikasi , Aiden segera meraih ponselnya agar rasa mengantuk nya hilang. Itu benar-benar pesan yang tak terduga setelah sekian lama. Razel mengirim kembali pesan dengan kata "Aiden" dan status bahwa dia sedang mengetik pesan selanjutnya.


Aiden benar-benar ingin tahu, sekarang apa lagi yang di butuhkan Razel darinya. Pesan terakhir di kirim untuknya sembilan bulan yang lalu. Itu terasa seperti sepuluh tahun. Dan kini, Razel kembali mengirim pesannya, jadi Aiden menetap di halaman chatting itu sambil menanti kata selanjutnya yang memungkinkan dirinya bisa berhenti dari kontrak keji untuk membunuh dan mengambil jiwa orang-orang tak bersalah.


Isi pesan selanjutnya...


Maaf jika aku baru saja menghubungi mu, dan aku benar-benar minta maaf atas kesalahan yang ku perbuat. Ku mohon untuk tetap menerima keadaanku.


Razel mengakhiri pesan nya dengan emoji menangis. Itu membuat Aiden tidak mengerti tentang apa yang di lakukan Razel padanya. Jadi Aiden bertanya tentang maksud pesannya.


Aku tidak bisa mengatakannya untuk saat ini, ini semua karena kebodohan ku, sekali lagi ... aku punya satu permintaan padamu.


Pesan selanjutnya adalah pesan yang mengirimkan langsung sebuah lokasi.


Dua hari lagi, tolong datanglah ke rumah sakit ini, aku berharap bahwa kamu tidak membenciku.


Pesan Aiden selanjutnya tidak pernah di balas lagi, Aiden berusaha secepatnya mengunjungi rumah Razel untuk melihat siapapun yang ada di sana. Namun, pintu gerbangnya di kunci dengan erat untuk tidak mengizinkan siapapun masuk dari luar.


Aiden kemudian menelepon Razel, ponsel nya aktif, juga berdering. Namun, Razel sengaja tidak mengangkat panggilannya. Aiden bukannya khawatir, namun dia juga seorang manusia yang memiliki rasa peduli, jika saja Razel sakit parah saat ini, dia pasti akan membantu sebisanya.


"Apa-apaan?"


"Apa maksudnya itu?!?! Aku benar-benar tidak paham kemauan wanita ini."


"Benar-benar merepotkan."


Hingga tepat pada hari yang di katakan, Aiden benar-benar datang menuju lokasi yang di bagikan oleh Razel dalam pesan chat tersebut. Razel akhirnya membalas lagi dengan isi pesannya...


Aiden.


Kamu benar-benar datang kan? Kita adalah teman, walau status itu berawal dari kontrak kita. Namun, aku salah karena menuruti perasaanku. Jadi, ini sudah kedua kalinya aku memohon dirimu datang dan melihat keadaanku.


Aku tidak bisa lagi berucap.


Maaf.


Pada pukul enam sore, Aiden datang karena rasa penasaran besar pada Razel. Dia bertanya di lobby rumah sakit tentang lokasi dari pesan chat itu, beberapa penjaga lobby yang melayaninya kemudian menjawab bahwa tempat itu berada tepat di sini, sebagai rumah sakit khusus persalinan.


Karena Razel memintanya untuk datang ke sini, jadi dia bertanya lagi tentang wanita bernama Razel. Salah satu dari staf lobby tersebut kemudian memeriksa riwayat pasien yang datang sejak tadi malam. Nama yang di sebutkan Aiden memang benar-benar ada.


...Kamar VVIP nomor 38....


Namun dengan penjelasan lebih lanjut, para staf memberikan info bahwa pasien dari kamar nomor 38 tersebut tengah menjalani operasi persalinan sejak pukul lima lewat tiga puluh tiga menit.


"Operasi persalinan? Apa yang dia lakukan di rumah sakit persalinan?" Tanya Aiden berkali-kali dalam hati. Karena tidak ingin bertanya pertanyaan yang sama berulang kali pada dirinya, Aiden memutuskan menunggu sambil membuka beranda internet nya, melihat berita-berita bodoh, atau mungkin mendengar beberapa musik kesukaannya.


Namun, dia tidak menyangka bahwa dia kembali bertemu dengan salah seorang lelaki yang merupakan kenalan dari kelas sebelahnya. Karel dari kelas A. Di sebelahnya ada seorang lelaki seperti berusia dua puluh sembilan tahun. Karel kemudian menghampiri Aiden saat melihatnya duduk seperti memejamkan mata menunggu sesuatu. Bertanya tentang apa yang di lakukan Aiden di tempat seperti ini.


Aiden terpaksa melayaninya untuk berbincang walau dia cukup malas untuk berbicara. Aiden bertanya balik pada Karel untuk mencairkan suasana yang terlalu dingin dan canggung. Karel mengatakan dengan gembira bahwa bibi nya hari ini melahirkan seorang bayi laki-laki, karena Karel adalah anak tunggal, maka dia akan segera memiliki adik sepupu baru sekaligus temannya.


Aiden mengucapkan selamat pada Karel dan keluarganya, terutama setelah Karel memperkenalkan Aiden pada pamannya, Aiden juga mengucapkan selamat pada paman Karel dengan wajah tersenyum. Tapi, paman Karel harus keluar sementara waktu untuk membeli beberapa makanan setelah persalinan, jadi Karel akan menemani Aiden untuk sementara waktu.


"Jadi, Aiden, apa yang kamu tunggu? Atau siapakah yang sedang menjalani persalinan di rumah sakit ini?" Tanya Karel dengan rasa ingin tahu.


"Emm, kurasa temanku."


"Temanmu?? Serius??"


"Tidak juga~ mungkin ini adalah urusan keluarganya, namun dia memintaku untuk datang tanpa alasan yang jelas."


Beberapa menit berlalu, staff lobby akhirnya memberikan sebuah dokumen kepada Aiden dengan laporan bahwa pasien dari kamar nomor 38 telah selesai menjalani operasi nya. Aiden ingin tahu kenapa dokumen sepertu ini di berikan kepadanya yang hanya sebuah pengunjung. Dia membuka isi dokumennya, kebetulan Karel masih berada di sebelahnya.


Di sana terdapat pernyataan dari pihak rumah sakit tentang laporan persalinan yang berhasil. Nama bayi perempuan yang lahir belum tercantum, karena ini hanyalah dokumen sementara. Tapi yang membuat isi kepalanya berputar-putar adalah sesuatu yang telah dia baca di pertengahan. Razel Vialova sebagai ibu dari bayi tersebut, dan nama Aiden Leonore sebagai ayah dari bayi tersebut.


"Ini bercanda kan?" Bibir Aiden tersenyum miring dengan pertanyaan-pertanyaan aneh. Alisnya mengkerut dengan emosi aneh.


"Hahh!! Aiden! Keparat!! Kamu membohongiku. Ini serius? Kamu tidak bercanda kan?! Aku benar-benar tidak bisa menyangka bahwa kamu sudah memiliki istri. Aiden ... Selamat ya." Ucap Karel dengan nada yang agak kencang.


"Tidak-tidak, ini pasti salah paham. Mungkin penulis nya salah dalam mengetik dokumen tersebut, harusnya tulisan di atas namaku adalah tamu."


Salah satu staf yang memberikan dokumen masih berada di hadapan mereka, dan mengatakan bahwa pihak rumah sakit mereka tidak pernah salah dalam menulis laporan dan sebagainya.


"Tidak! Ini salah, aku yakin. Sekarang, dimana pasien ini??" Tanya Aiden dengan raut wajah yang mulai berubah.


"Maaf, pasien akan kembali ke kamarnya setelah satu jam perawatan, bayi Anda juga masih dalam perawatan sebelum di perbolehkan untuk di bawa bersama ibunya." Jawab staf tersebut.


Aiden diam dengan pernyataan yang sepertinya tidak bercanda. Jadi, setelah Karel pulang, dia masih harus menunggu selama satu atau dua jam lagi untuk menemui Razel di kamar nomor 38.