Reborn As A Tyrannical Demon Lord

Reborn As A Tyrannical Demon Lord
Chapter 106 : Close call




Membuka beberapa kantong belanjaanku, sebuah kotak yang tersegel dengan rapih segera kubuka, kubuka secara perlahan agar tidak ada satupun bagian handphone yang rusak.


Wajah bodoh Marie kembali lagi, terus menatap dan tidak ada pertanyaan satupun, hingga aku mengeluarkan sebuah benda berukuran persegi yang tipis dan mengkilap. Aku mendekatkan hidungku ke benda ini, mengendus baunya dengan tenaga yang kuat dan sangat menjiwai baunya. Setelah aku melakukan hal seperti itu, barulah dia bertanya.


"Apa yang kamu lakukan? Ada yang salah?"


"Oh, tentu tidak, ini adalah bau yang cukup istimewa untuk sebuah handphone, artinya, ini adalah bau sebuah handphone baru yang baru saja keluar dari segel nya."


"Kamu membeli dua, aku akan melihat apa yang ku miliki." Ucap nya sambil mengeluarkan kotak yang sama.


Marie juga membuka segel kotak ponsel tersebut, merobek dengan wajah yang tidak pernah melakukan hal seperti ini, dia bilang, jika dia memiliki kekuatan, tentu dia sudah akan membuka kotak ini hingga seluruh bagian luarnya hancur.


Namun, dia memegangnya dengan posisi yang tidak benar, jadi, aku membenarkan bagaimana cara memegang ponsel yang benar. Ku perlihatkan tanganku yang menggenggam ponsel ini dengan benar, kemudian dia melakukannya dengan cara yang sama. Aku menekan tombol bagian kanan nya yang tidak terlalu menonjol.


Layarnya nyala beberapa saat kemudian, Marie tercenggang dan semakin memfokuskan pandangannya pada benda ini.


"Benda ini bisa menyala? Apa gunanya?"


"Kamu akan melihatnya nanti, tunggu sebentar."


Hingga layarnya sampai ke beranda utamanya, aku juga tidak tahu harus memulai darimana untuk memperkenalkan padanya. Jadi, aku mulai memasukkan kartu untuk nomor baruku, dia terus melihat di sampingku.


Karena dia mungkin tidak tahu, jadi, aku memasangkan kartu untuknya juga, semuanya baik-baik saja sekarang, sekarang apa, sekarang aku menyimpan nomor nya sebagai kontak pertamaku.


Marie ku beri instruksi untuk melakukan hal yang sama, yaitu menambahkan nomorku dengan cara yang sama seperti yang kulakukan. Yaitu, saling menambah kontak.


"Ingin mencoba?"


Marie: "Ayo!"


"Baiklah, siapa yang akan pergi keluar?"


Marie: "Yang pastinya aku tidak mau keluar, aku sudah nyaman disini. Kamu saja!"


"Oh ya ampun, selalu aku!"


Baiklah, walau di luar sudah tengah malam, dan cuaca nya cukup dingin. Namun, suasana pusat kota dari sini masih terdengar ramai, penduduk negeri ini sepertinya benar-benar banyak. Tidak heran jika virus mematikan pun hanya berpindah dalam hitungan detik.


Aku mengatakan pada Marie untuk tetap berada di ruang tengah, jika bisa masuklah ke dalam kamar dan cobalah menjauh dariku. Aku akan pergi ke halaman rumah, bahkan sampai ke jalanan kompleks.


"Ketika ada sebuah suara, entah apakah itu, musik, atau suara yang tiba-tiba berbunyi pada ponsel milikmu, tekanlah tombol hijau ini untuk mengangkat panggilanku, oke?"


Marie kemudian menurutiku, pergi ke dalam kamar untuk terus menungguku melangkah ke luar, tepatnya di jalanan. Aku berdiri menyalakan kembali ponselku, kontak ku hanya satu, dan tentu saja ada namanya.


Aku membiarkannya menunggu beberapa waktu, sampai tiba saatnya, aku memulai untuk memanggil lebih dulu. Panggilanku terpanggil beberapa saat, hingga beberapa detik kemudian, dia akhirnya mengerti untuk mengangkat panggilanku, namun tidak ada satupun suara yang terdengar dari sana.


Nada dering panggilan berbunyi di ponsel Marie.


"Marie, apa kau mendengar ku?"


....


"Hah? Aiden ... Aiden, apa kamu mendengar ku, aku bisa mendengar suaramu." Ucap nya dengan rasa senang.


"Begitu ya. Yeah. aku mendengar mu? Katakanlah lagi sesuatu."


"Bagaimana keadaan di luar sana?" Tanya nya yang terdengar pada ponselku.


"Yeah, aku baik-baik saja, cuaca di luar cukup dingin."


Marie: "Tunggu sebentar."


Aku menuruti perkataannya sambil menunggu di ujung jalan ini, berdiri tidak jauh pada perempatan, kebetulan posisi rumah ini berada tepat di sudut perempatan. Dari jarak yang tidak terlalu jauh, ruangan di lantai dua mulai bercahaya, dan pintu kaca nya terbuka.


Sosok wanita keluar dari sana dengan rambut merah crimson bagaikan scarlet yang disinari cahaya rembulan, rambutnya sedikit berhamburan ke arah lain ketika deru angin yang tak terlalu kencang menyapu setiap helai nya. Mata merah ikan mati yang memandangku dengan wajah cantik jelita nya, wajahnya tidak tersenyum. Namun, aku menyukai ekspresi apapun itu, dan kapan pun itu.


Untuk kesekian kalinya lagi, kami melakukan kontak mata, dari sini menatap merah mati cukup lama yang ku kagumi. Jika setiap warna mata iblis itu sama saja, namun, merah pada matanya adalah yang paling indah untukku. Perasaanku memang ada, walau kami mungkin akan menempuh takdir yang tidak di ketahui, kini, seseorang yang kusukai benar-benar hadir untukku.


Untuk apa aku berimajinasi lagi, untuk apa aku berkhayal lagi, aku disini sekarang, memiliki banyak hal yang ku impikan, ini adalah dunia, bukan surga, namun mengabulkan semua angan-angan ku adalah hal yang sudah cukup menyenangkan.


Menikah? Astaga, kupikir itu adalah kutukan yang menjadi sebuah lelucon. Aku tidak akan melakukannya jika itu hanya sebuah syarat memenuhi kutukan belaka, tapi, jika perasaan ini saling menerima, maka aku pun begitu.


Setelah waktu berjalan begitu saja, terdengar suaranya dari ponselku.


Marie: "Aiden, bagaimana sekarang? Apa kamu melihatku?"


"Ya, aku melihatmu, terus?"


Marie: "Bagaimana sosok ku dari atas sini? Apakah aku terlihat cantik?"


Aku tidak tahu harus menjawab apa, tapi ... biarkan aku memberi beberapa kata lagi untuknya, walau tidak pandai mengucapkan sesuatu, setidaknya aku mencoba untuk mengucapkan kata yang menyenangkan.


Sejak aku masih menjadi manusia, aku memang tidak pandai dalam publik speaking, apapun itu yang berhubungan dengan interaksi ke banyak orang. Aku memang seorang introvert, sang penghalu yang menciptakan kesenangan dan kebahagiaannya di dalam dunia imajinasi ku sendiri, seseorang tidak akan mengerti diriku, aku terus menyimpan rahasia hanya di dalam lubuk hatiku yang terdalam.


Aku sering kali bertanya-tanya, apakah aku bisa mengubah takdir? Satu harapan yang pasti, aku akan mencoba mengubah takdir ku sendiri, aku tidak hanya menginginkan segala imajinasi terdalamku tercapai, tapi aku juga menginginkan kebebasan, bebas dalam berpendapat, bebas berjalan ke arah manapun tanpa tersesat.


Tidak masalah jika tersesat, jika itu membuat ku senang, aku akan baik-baik saja. Lagipula, aku perlu menjawab satu hal disini dan jangan berpikir terlalu lama.


Baiklah~


"Kurasa tidak, masih belum."


Marie: "AaaaAHHHH.... katakan! Apa lagi yang kurang? Perlukah aku mencoba pakaian baruku?"


"Hummm, begitu kah? Apakah kamu yakin akan mendapatkan pujian lebih dariku?"


Marie: "Yakin atau tidak, jika kamu memberikan penilaian buruk padaku lagi, aku akan memotong lidahmu dengan pisau walau aku tidak memiliki banyak kekuatan sekarang."


....


Aku tidak membalas perkataanya lagi, karena dari wajahnya, dia pasti akan mengucapkan sesuatu tanpa menahan apapun itu. Dia bukan seorang gadis yang terus memendam perasaan atau kata-katanya. Jadi, beberapa detik kemudian, dia bersuara lagi dari atas sana melalui telepon.


Marie: "Aku akan mengubah diriku, ini tidak butuh waktu lama, maukah kamu menunggu untukku?"


"Apapun itu, aku akan menunggu, dan berusaha agar lidahku tidak terpotong."


....


Handphone nya sepertinya di letakkan di suatu tempat, tapi dari sini melalui panggilan yang masih terhubung, aku mendengar suara langkah kaki yang bergerak cepat untuk melalukan tindakannya, kupikir dia tidak ingin membuatku menunggu lama juga.


Tidak ada kursi satupun disini, walau mampu menciptakan kursi dalam sekejap, aku tidak ingin terlihat santai dalam menunggunya, dengan terus berdiri disini, aku mencoba membuatnya paham, bahwa aku benar-benar serius untuk menunggu nya.


Beberapa menit berlalu, sekitar hampir sepuluh menit berlalu, jika waktu terus di tunggu, maka mereka akan terasa lama. Hingga beberapa saat kemudian suaranya terdengar lagi di dalam panggilan dengan kata "Aku datang" apapun itu, kuharap kamu hampir seperti yang ku inginkan.


Sama seperti sebelumnya, namun, dia mengubah dirinya dengan pakaian hitam yang kubeli untuknya, kupikir itu terlihat cantik dan jauh memenuhi harapanku. Wanita kesukaanku benar-benar menjadi nyata yeah. Awalnya dia adalah gadis akademi tidak jelas dengan rambut twintail yang aneh, tapi kini aku benar-benar mengetahui banyak sosok nya.


"Bagaimana sekarang?" Ucapnya di telepon sambil memandang ke arahku di bawah.


"Emm, bagaimana yeah? Kurasa bagus, dan hanya cukup bagus, namun belum sempurna."


Marie: "Hah? Apalagi maumu!"


"Tenanglah, aku akan membuat semuanya sempurna untuk mu."


Aku kemudian mengarahkan tanganku ke langit, tepat pada bulan memutar seluruh tanganku dan memerintah bulan dalam sekejap untuk bergeser lebih dekat lagi menuju pemandanganku.


Hingga bulan menjadi lebih dekat dan menyinari pemandangan malam ku dengan cerah, aku mengubah cahaya bulan putih menjadi bulan berwarna merah, ini bukanlah warna seperti gerhana bulan, ini adalah cahaya merah terang yang cukup mengerikan dan indah untuk menyinarinya, tapi aku suka, ini adalah sesuatu yang kulakukan dari keinginan ku.


Kini, seluruh dunia pasti akan melihat betapa dekatnya bulan dan bumi, para angkasawan dengan banyak teori itu tidak akan menemukan apapun tentang tanda bagaimana bulan akan bergeser dari orbit nya dengan kekuatanku. Cahaya merah yang belum pernah ada sebelumnya, fenomena yang kulakukan untuk kami berdua.


Cahaya merahnya menerangi langit dengan merah gelap yang cukup luar biasa, masuk ke tiap ruang manapun melalui celah. Menyinari gadis iblis ku beserta rambut merah gelapnya yang indah.


Marie: "Aiden, apa ini?"


"Pemandangan nya kurang sempurna dan mengagumkan untukku, jadi aku akan menyempurnakannya, untuk mu, untuk ku, untuk kita berdua."


Seluruh langit di penuhi awan tebal berwarna hitam akan bergeser dan membuka jalan untuk setiap cahaya bulan merah ku. Pemandangan sederhana yang indah untuk melihat senyuman jahat mu untukku.