
Wanita itu tidak terlihat lebih tua dari Aiden, namun gayanya benar-benar seperti wanita dewasa dengan pemikiran yang kompleks. Dari dalam tas nya, dia juga mengeluarkan sekotak bungkusan rokok. Kemudian bertanya pada Aiden yang sedang berdiam diri di hadapannya.
"Kamu ... darimana asal mu?"
Aiden kemudian sudah selesai dengan renungan nya, berdiri kembali dari kursi untuk turun dari atas gedung besar ini dan mencari setidaknya restoran jalanan yang memuaskan.
"Eh?? Meninggalkan seseorang dan mengabaikan nya saat berbicara bukanlah perilaku yang baik lho, kamu!"
Aiden terdiam sebentar dan membalikan wajahnya kebelakang.
"Kamu keberatan?"
"Ah, benar-benar pria yang aneh. Aku sama sekali tidak keberatan kok, hanya memberi tahu mu akan sesuatu....."
Aiden: "....."
Wanita berambut hitam sepanjang belakang leher itu kemudian mengangkat sesuatu untuk di perlihatkan pada Aiden, itu adalah ponselnya yang lupa dia ambil. Mau tidak mau, Aiden berbalik ke arahnya untuk melangkah dan menjulurkan tangan kanannya. Wanita itu mengira bahwa Aiden menginginkan ponselnya, jadi saat wanita itu ingin meletakkan ponselnya di tangan kanan yang Aiden berikan, tangan kanannya tidak bergerak sedikitpun dan tidak ingin menangkap ponselnya yang jatuh.
Reflek tangan kirinya begitu cepat untuk menangkap ponselnya yang jatuh dengan santai tanpa membungkuk sedikit pun, memasukan ponselnya ke saku kiri nya dan tetap mempertahankan posisi tangan kanannya seperti orang yang ingin berjabat tangan.
"Tanga–"
"Mari berkenalan denganku, Aiden Leonore mahasiswa asal Alexandria High School. Bagaimana denganmu?"
Wanita itu kemudian menjabat tangannya dan menyarankan nya untuk duduk kembali sebagai kenalan baru. Jadi, Aiden duduk di tempatnya semula.
"Senang bertemu denganmu, aku, Jillian Hilary, kamu bisa memanggilku Lian, hanya seorang wanita pemilik kedai kopi."
"Apa? Kamu seorang pemilik kedai kopi?"
Tanya Aiden dengan wajah cemberut.
"Bisa di katakan seperti itu." Jawab Lian.
"Akhir-akhir ini aku juga sibuk menyerahkan dokumen dan data diriku untuk melamar pekerjaan seperti restoran atau cafe, namun belum ada respon satu pun yang datang untukku."
Kemudian Lian mengeluarkan satu kartu dari dalam tas nya. Dia memberikan kartu tersebut pada Aiden, dan berkata "Datanglah ke tempatku suatu saat jika kamu berminat, kurasa mendapatkan satu pekerja lagi adalah hal yang lebih baik."
"Aku akan datang besok, dan aku bahkan akan datang malam ini jika kamu membutuhkan ku."
"Kamu terlalu bersemangat, Aiden. Aku suka itu, baiklah di kartu itu tertera nomor telepon ku, hubungi aku sesampainya di rumah. Atau..."
Aiden: "Atau apa?"
"Atau aku akan menerima mu sekarang juga, kamu hanya perlu memberikan tanda pengenal mu padaku."
Aiden: "Oh."
Kemudian Aiden mengeluarkan kartu tanda pengenal nya dari dalam dompetnya, memperlihatkannya pada Jillian dan Jillian benar-benar simpel, dia langsung menerima Aiden sebagai pekerja di kedai kopi nya saat ini juga. Saling bertukar kontak, Jillian kemudian membagikan jadwal-jadwal masuk kerja.
"Tunggu dulu, apa pekerjaanku?"
Tanya Aiden.
"Oh, tentu saja kamu akan jadi pelayan sementara, dan jika kamu sudah cukup profesional untuk melakukan pekerjaan sebagai barista, aku akan menaikkan posisimu ke tingkat itu termasuk peningkatan gaji."
"Lalu ... berapa gaji ku?"
"Aiden~ jika ada peluru menembus otak mu entah darimana asal penembaknya, ku harap itu bayaran untuk pertanyaan mu."
Aiden: "???"
"Jangan memasang wajah konyol dan dungu seperti itu!! Kamu baru saja di terima dan langsung bertanya soal gaji mu? Dasar!!"
"Terima kasih untuk itu, aku akan menerimanya." Jawab Jillian.
Aiden memiliki kenalan baru yang langsung saja menjadi bos nya, walau begitu, pertemuan mereka adalah sebagai teman. Jadi kemungkinan Aiden akan menjadi pekerja yang paling akrab dengannya. Keterbalikan yang tidak biasa adalah orang tanpa pekerjaan yang hanya anak sekolah, namun membayar makanan mereka yang bisa terbilang adalah makanan pinggiran kelas atas.
"Aku benar-benar berterima kasih atas traktirannya, tapi...."
Aiden: "?"
"Kamu hanya mahasiswa biasa yang tidak memiliki pekerjaan, kalau begitu, orang tua mu pasti memiliki pekerjaan yang luar biasa hingga kamu memiliki uang yang cukup banyak."
"Kurasa tidak juga, aku hidup normal yang setidaknya, tidak teramat sulit dalam hal ekonomi." Jawab Aiden.
"Boleh aku tahu pekerjaan orang tuamu? Yang manakah itu? Ayahmu? Ibumu? Dan satu lagi, jam tangan seperti ini, tidak mungkin seorang mahasiswa biasa bisa memilikinya terkecuali dengan uang yang sangat banyak."
"Jam tangan? Apakah ini mahal?"
"Kamu tidak tahu harganya? Bahkan merk nya?" Tanya Jillian dengan wajah yang miring.
"Tentu saja tidak."
"Bisa lepaskan itu dari tanganmu sebentar? Dan biarkan aku melihatnya."
"Oh, tentu saja."
Aiden tak menolak untuk melepas jam tangannya dan memberikannya pada Jillian, namun benda kecil itu membuat ekspresi Jillian berubah, sebuah jam tangan biasa pemberian ulang tahun dari ibunya yang ternyata adalah jam merk Walker tipe limited edition yang hanya di produksi setidaknya lima puluh buah, jadi tentu saja hanya ada lima puluh buah jam tangan seperti ini di dunia.
Dalam mata uang Amerika, jam tangan ini terbilang dengan harga seratus delapan puluh Dolar. Itu benar-benar harga yang sangat tinggi. Kemudian Jillian mencoba mengenakan jam itu di tangannya, melihat dari segala titik dengan wajah yang senang, dia berkata "Wah! Jam ini benar-benar keren! Kamu! Dasar lelaki biadab yang berpura-pura miskin, berani-beraninya kamu menjadi karyawan ku!"
"Eh? Jadi aku di tolak?"
"Tidak, tetaplah bekerja. Tanpa gaji mungkin lebih baik."
"Ahh, ayolah aku bukan seseorang yang memiliki banyak uang, sudah ku katakan itu pemberian ulang tahun dari ibu ku."
"Oh, begitu? Kalau begitu? Apa yang di lakukan ibu mu?" Tanya Jillian.
"Oh, tentu saja memainkan gadgetnya dan biasanya di waktu seperti ini dia akan menciptakan teh panas dan sereal."
"Aku tidak bertanya tentang apa yang ibu mu lakukan!!"
"Tapi kamu bertanya tentang apa yang ibu ku lakukan, aku tidak lupa dengan pertanyaan itu, dan jika kamu bertanya tentang profesi nya, maka aku tidak akan menjawab mu."
"Ahh, ya sudahlah."
Jillian kembali mengambil kotak rokoknya dan meletakkan sebatang pada mulutnya sambil mencari-cari korek api nya.
"Kamu melupakan korek mu, nona~" Ucap Aiden sambil memegang korek api milik Jillian yang tertinggal di atas gedung perbelanjaan.
"Oh, terima kasih."
Aiden segera maju dan menyalakan korek api di hadapan Jillian untuk membakar kan rokoknya. Ini adalah pertama kalinya Aiden membakar kan sebatang rokok pada seorang wanita, rasanya Jillian adalah wanita yang cukup unik.
"Ngomong-ngomong, ini sudah hampir larut malam, aku harus pulang sekarang." Ucap Aiden sambil mengkhawatirkan ibu nya.
"Baiklah kalau begitu, samping bertemu besok."
Aiden sekilas teringat tentang sosok berkepala kambing di dalam rumahnya, karena berpikir tentang itu, dia harus pulang secepatnya untuk memastikan ibu nya baik-baik saja dalam keadaan sendirian.