Reborn As A Tyrannical Demon Lord

Reborn As A Tyrannical Demon Lord
Chapter 196: Fake Exchange



Aiden yang masih mengemudi, tidak menuju gereja tua di balik gunung Everon, melainkan menuju pabrik kertas yang ditutup sejak empat tahun lalu. Dia membawa Rosa dan putrinya kedalam sana, sesampainya di pabrik itu, Aiden memanfaatkan tali-tali yang dia dapatkan setelah berputar di separuh area pabrik untuk mengikat mereka semua. Gadis kecil itu digantung terbalik di langit-langit dengan mulut tertutup.


Dan Kemudian Rosa ditelanjangi total sambil diikat tangan dan kakinya begitu erat. Sementara itu Dareen masih terus merasa gelisah karena pengajaran, dia merasa bahwa hidupnya akan berakhir di balik sel jeruji bersama orang-orang kriminal beraroma toilet. Sedangkan Aiden masih tetap menjaga ketenangannya setiap harinya tanpa memikirkan berapa banyak korban yang dia bunuh dengan tragis.


Aiden mendorong meja-meja dari kejauhan untuk dibawa ke posisi di mana Rosa diikat di sebuah kursi. Kemudian dia mengeluarkan gelandang yang merupakan mantan suami Rosa dari mobilnya. Di dalam bagasi mobil itu, sebenarnya ada kotak persegi panjang berwarna hitam yang berisi sebuah senjata api dengan beberapa peluru dan sisanya adalah pisau-pisau bedah yang halus hingga pisau yang bergerigi.


Gelandang itu mulai sadar saat dia dibanting keluar dari dalam bagasi hingga wajahnya terbentur ke tanah, dia dengan sedikit kesadarannya melihat Aiden menyeretnya dengan paksa menuju gedung tengah kemudian mengikatnya di tiang baja penyangga gedung. Dia mengatakan pada gelandang itu jika dia mencoba melarikan diri, maka kematiannya akan lebih menyakitkan.


Dia kembali ke bagasi sambil membawa kotak hitamnya dan meletakkan setiap pisaunya berjejer di atas meja aluminum. Melihat semua benda-benda ini, Dareen makin gelisah, dia memang salah mengenal orang. Aiden ini bukanlah manusia normal, melainkan monster yang menempati tubuh manusia, dia pasti akan kembali membunuh semua orang yang dia culik seperti ini.


"Aiden! Apa yang akan kamu lakukan?! Jangan bilang..."


"Hubungi kembali suami wanita ini, dan siarkan rekaman diriku padanya. Buat kontak antara layarmu dengan matanya. Selebihnya akan kutangani." ucap Aiden sambil mengenakan sarung tangan hitam.


"Tapi ... para polisi kini telah mengejar kita!!" bantah Dareen.


"Kalau begitu akan ku ledakkan kota ini sekaligus!!!" ucap Aiden dengan nada tinggi.


"Sialan! Berhenti melakukan hal-hal bodoh seperti ini, ini hanya akan membunuh banyak orang, sadarlah akan perbuatanmu." Dareen berniat menolak permintaan Aiden.


Aiden dengan cepat menggenggam shotgun dari atas meja dan menarik pelatuknya ke arah Dareen dan melesetkannya di dekat kepala hingga tembok itu meninggalkan beberapa bekas lubang kecil dari peluru.


DAR!!


Suara tembakannya lumayan keras, namun jauh dari tempat tinggal penduduk. Seseorang mungkin mendengar, namun mencari tahu atau tidak adalah urusan pribadi masing-masing. Nyali Dareen segera ciut, kakinya gemetaran hingga pendengaran telinga kanannya seperti tidak dapat mendengar karena peluru yang melesat begitu dekat dengannya.


"Lakukan atau mati." tegas Aiden dengan nada pelan.


Dareen akhirnya melakukan apa yang diinginkan Aiden, dia menghubungkan laptopnya pada ponsel suami Rosa. Keduanya akhirnya merespon sosok Aiden yang terhubung pada mereka. Didalam rekaman jarak jauh itu, Aiden mengatakan bahwa Rosa dengan putrinya telah ditahan, dia ingin pria ini datang sendirian tanpa membawa polisi juga tanpa adanya pertukaran yang setara.


Suami Rosa terkejut ketika tahu bahwa ponselnya disadap, istri dan anaknya diculik dengan ancaman siksaan hingga kematian. Dia bergegas menelpon polisi dan segera mencari bantuan untuk melacak keberadaan pasti dari anak dan istrinya. Selain itu, pria ini juga datang menuju lokasi Aiden sambil membawa beberapa polisi dengan laporan penculikan dan ancaman pembunuhan.


Rosa meneteskan air mata dan mencoba untuk berteriak sekuat tenaga, namun mulutnya disumbat dengan delapan lapisan lakban hitam. Dalam waktu hampir satu jam, terdengar seperti beberapa mobil polisi dari kejauhan yang menuju ke arah mereka. Aiden segera mengambil senjata dan bergegas pergi ke arah gerbang pabrik.


Di antara kegelapan, suami Rosa turun dari mobil bersama polisi yang lainnya, dia mengatakan bahwa tempat ini sama dengan informasi yang diberikan dari penyandera. Dengan nafas yang tak teratur, pria itu tidak bersikap tenang. Beberapa polisi cukup terganggu dengan kebisingan pria ini, maka mereka mencoba untuk bergegas di sekitar area pabrik ini.


Tiga orang petugas bergegas untuk memeriksa area pabrik di bagian belakang, dua petugas lainnya bergegas untuk memeriksa bagian dalam setiap gedung, dan satu petugas yang tersisa tetap berada di area parkiran mobil bersama suami Rosa sambil melihat keadaan sekitar. Area pabrik ini begitu besar, sulit untuk menemukan keberadaan Aiden secara pasti tanpa adanya suara.


Setelah melewati delapan bangunan pabrik yang berjejer, tiga petugas melihat sebuah mobil hitam, informasi siaga kemudian dilaporkan kepada petugas di area pabrik yang lain. Dalam dua ratus meter mendekati mobil hitam tersebut, Aiden yang bersembunyi sesaat keluar ke arah belakang mereka sambil menembak lebih dari tiga kali."


"DAR! DAR! DAR! DAR!!"


Peluru pertama meleset dan menciptakan reaksi pada ketiganya, peluru kedua dan ketiga mengenai petugas bernama Andrew tepat di lengan kanan dan jantungnya sementara peluru keempat mengenai petugas bernama Mike tepat di kepala dengan separuh kepalanya yang meledak dan berceceran. Tembakan ini membuat kedua petugas tewas seketika, terkecuali petugas yang hampir terkena tembakan.


Petugas pertama, Justin, yang terkejut sambil menekan radio HT nya membuat suara teriakan ke arah dua petugas lainnya. Namun suara tembakan Aiden sebelumnya sempat terdengar di kejauhan, mereka merespon dan bergegas secepatnya ke arah suara tembakan. Justin, polisi yang sebelumnya bersama Mike dan Andrew bahkan ikut tewas saat hendak mengarahkan pistolnya pada Aiden. Wajahnya di hantam lebih dulu dengan stock senjata yang mengakibatkan goresan di tulang pipi dan menciptakan rasa pusing untuk sesaat.


Satu tendangan di tulang kering kaki kemudian merobohkan kuda-kudanya, saat polisi ini terjatuh pistol tersebut berhasil lepas dari genggamannya, Aiden yang menarik baju Justin kemudian memberi pukulan lebih di wajah, polisi malang ini terjatuh dengan posisi lengan kanannya yang terulur dan berakhir dengan patah tulang. Aiden yang merebut pistolnya segera menembak tepat di wajah dan otak sebanyak tujuh kali tanpa ampun.


"Petugas Andrew!! Petugas Andreww!! Apa yang terjadi?! BEEP"


Ucap satu dari kedua petugas yang memberi suara dari handy talky sambil bergegas dengan cepat, namun ketiga rekan mereka telah tewas begitu saja. Kedua petugas yang bergegas menuju lokasi para petugas yang tewas segera memberi sinyal pada polisi di area parkiran pabrik untuk bersiaga atas perlawanan.


Saat kedua petugas polisi menemukan tiga mayat yang merupakan rekan mereka, keduanya binggung dalam seketika, yakin segera bahwa pelaku kejahatan lebih dari dua orang, namun kenyataanya tidak seperti itu, Aiden membereskan segalanya sendiri ketika dia mampu. Dia yakin bahwa dirinya selalu mampu dan berusaha untuk melampaui kemampuan itu lebih jauh lagi.


Tiga puluh detik yang terbuang dari polisi yang tersisa pada akhirnya akan merenggut nyawa mereka. Empat butir peluru melesat ke kaki dan leher mereka, salah satu petugas bernama Ryan terkena tiga tembakan, peluru pertama mengenai tepat di leher, peluru kedua dan ketiga mengenai bagian rahang bawahnya dan membuatnya terjatuh dalam keadaan mulut yang robek. Petugas yang hanya terkena satu peluru tewas begitu saja karena peluru yang tepat menembua ke otaknya.


Petugas polisi bernama Ryan yang sedang sekarat kemudian di akhiri dengan satu peluru shotgun yang membuat tiga per empat bagian kepalanya meledak berceceran. Tersisa satu petugas yang berada di area parkiran depan pabrik bersamaan dengan suami Rosa, dari kejauhan, keduanya melihat sosok Aiden berjalan ke arah mereka. Polisi yang tersisa memasang kuda-kuda sambil memegang pistolnya dengan kondisi bersiap menarik pelatuknya kapan saja.


"Itu dia!! Polisi!!! Tembak dia segera! Dia pelakunya!" Teriak suami Rosa pada polisi yang tersisa.


Polisi itu hanya diam saja, tangannya gemetaran, Aiden yang terus melangkah benar-benar seperti menciptakan rasa takut pada polisi tersebut. Namun dia tertekan, ada sosok lain yang tampak berdiri di belakang Aiden. Sesosok berbadan hitam yang tinggi dan besar, entah seperti apa wajahnya, namun terasa sangat buruk hingga membuat polisi yang tersisa menjatuhkan pistolnya, tubuhnya seperti mati rasa dan tidak bisa berbicara sama sekali.


"Bodoh! Apa yang Anda lakukan!?" Ucap suami Rosa pada polisi yang terjatuh.


Pria ini kemudian memungut pistol polisi yang terjatuh dan segera menembak ke arah Aiden dengan empat peluru yang meleset. Tidak tahu bagaimana cara menggunakan pistol, selain meleset, suami Rosa juga tidak tahu bagaimana cara mengisi pelurunya. Tidak ada yang bisa dia lakukan sama sekali terkecuali lari atau melawan. Karena pria ini mencoba melawan dengan memulai serangan, maka Aiden berlari ke arahnya dan menembak kakinya.


Menembus sepatu kulit dengan bahan tebal, tembakan pistol dari Aiden menghilangkan satu jari kaki pria tersebut. Dia berteriak kesakitan dan mencoba untuk berdiri kembali, sementara polisi terakhir dengan tubuh gemetaran hanya bisa terdiam segera dihabisi. Tubuhnya tidak bisa bergerak sama sekali setelah melihat sosok berkepala kambing yang sekilas berada dibelakang Aiden.


Moncong senjata Aiden menempel tepat di dahinya, saat pelatuk ditarik, dengan sangat cepat kepala pria malang itu meledak dan membiarkan potongan-potongan otaknya berserakan. Satu pria terakhir yang tersisa hanyalah suami Rosa, dia masih mencoba bangkit dengan seluruh tubuh yang gemetaran. Lelaki muda dihadapannya, benar-benar tidak waras.