Reborn As A Tyrannical Demon Lord

Reborn As A Tyrannical Demon Lord
Chapter 124 : Infinite Stairs




Tepat di hari ini, adalah hari baru. Aku tidak memilih untuk mengubah aliran waktu dan berpindah ke saat dimana kami berada pada jam istirahat.


Tapi kami pergi ke dunia manusia dan kembali lagi ke dunia iblis dalam waktu satu minggu. Aku dan Marie kembali ke sekolah layaknya orang normal, namun mencoba tetap menjaga sifatnya.


Tidak hadir selama satu minggu tanpa kabar dan ketinggalan pelajaran apapun yang ada. Tapi ketinggalan yang ku maksud adalah tertinggal oleh kehadiran, bukan tertinggal oleh sihir. Sudah jelas kekuatan ku sekarang jauh lebih kuat untuk menundukkan alam iblis.


Dan disinilah aku sekarang, calon raja iblis yang menjalani kembali hari nya sebagai siswa akademi sihir iblis. Teman-temanku menemui ku dengan banyak tanya. Tentang kemana saja aku selama ini, apa yang terjadi dan banyak lagi.


Dan di suatu tempat, terlihat Eiji yang menyambutku dengan ekspresi biasa saja, seolah-olah dia tidak merindukanku. Tidak masalah, mungkin itu adalah sikap barunya setelah bergabung pada organisasi akademi ini dan menjadi siswa yang populer sehingga mulai melupakan teman lamanya.


Di pembelokan jalan selanjutnya, aku bertabrakan dengan guru yang aku kenal sebelumnya. Namanya adalah Alin, aku terkadang memanggilnya dengan sebutan Alin sensei. Hanya dia lah yang memiliki sebutan itu, hingga akhirnya dia menyebarkan sebutan itu kepada guru yang lainnya.


Aku tahu Marie adalah pembohong. Bicara soal dirinya yang primitif, aku yakin dia tidak begitu primitif jika banyak avatar dirinya yang lain ada di dunia lain juga untuk menemuiku.


Dunia lain mungkin saja sudah memiliki beberapa teknologi, mungkin sudah memiliki peradaban yang cukup canggih, atau mungkin zaman pertengahan. Avatar diri terhubung dengan diri sejatinya dari mana semua avatar berasal. Tentu saja dia mengendalikan semua pikiran avatarnya pada waktu yang bersamaan.


Dan dia pasti sudah lama mengerti tentang ponsel, internet, mobil, atau peradaban dunia manusia. Hanya saja dia berbohong dan tidak pernah mengatakan padaku bahwa avatar dirinya yang lain di ciptakan untuk hidup bersama diriku yang lain juga.


Kembali dengan momen di depanku, seluruh kertas nya jatuh lagi sama seperti sebelumnya. Ya, aku melihat sebuah map yang betul-betul di segel dengan kuat agar isinya tidak terbongkar. Aku hanya melihatnya terjatuh dan mengarahkan satu jariku untuk membuat semua kertasnya menjadi rapi kembali pada tempatnya.


"Ah, Aiden. Lama tidak bertemu yah, hehehe."


Ucapnya dengan gemetar.


"Em, begitu, ngomong-ngomong, kenapa kaki sensei bergetar seperti itu? Apakah kamu sedang sakit?"


"Ee–ahahaha, tidak, tidak. Sensei baik-baik saja." Ucapnya seolah-olah memperkuat dirinya.


"Baguslah kalau begitu. Ngomong-ngomong map nya bagus juga, biar ku tebak sesuatu di dalamnya."


"Eh? Apa maksudmu?" Tanya nya dengan wajah yang merasa gugup.


"Marie, aku akan memperkenalkan padamu ... penggemar beratku."


Marie: "..."


Aku langsung menarik map itu tanpa menyentuh nya, membuat nya terbuka dan melayangkan semua isinya. Semua adalah foto ku dan jumlahnya ada lebih dari delapan ratus foto.


"Lihat? Alin sensei adalah penggemar beratku, aku tidak tahu bagaimana bisa ada orang yang mengangumi diriku yang biasa saja."


Marie: "Ehh?"


"Tidak! Tidak! Tidak!! Marie, dia penipu, ini adalah foto yang di ambil untuk formulir pendaftaran pertandingan alam iblis waktu itu." ucapnya dengan wajah yang memerah dan gemetaran.


"Yang betul?? Lalu, kenapa kamu masih menyimpannya?" tanya ku dengan mengolok-olok nya di keramaian.


"Aiden tolong hentikan, aku merasa malu." Ucapnya sambil menundukkan wajahnya.


Semua murid yang lewat melihat ke arah kami, aku benar-benar tidak menyukai semua mata ini. Akan ku buat mereka semua lupa dengan apa yang mereka saksikan barusan. Sebenarnya aku tidak suka ketika di tatap, jika saja ada yang berani menatapku, aku akan meledakkan matanya dalam sekejap.


"Aiden~ ayo pergi." Ucap Marie dengan nada suaranya seperti bagaimana dia memanggilku sehari-hari dengan nada seperti itu.


Kami berjalan ke lorong-lorong lain sekolah. Dia mengekang tangan ku padanya, tidak ingin melepaskan ku.


"Kamu tahu? Aku tidak senang ketika orang lain memiliki foto mu. Aku hampir saja membunuh orang itu!" ucapnya sambil marah.


"Lalu, kenapa kamu tidak membunuhnya?"


Tanya ku padanya, karena ini pertama kalinya dia mampu menahan kesabarannya.


"Karena aku menggunakan sihirku untuk menghapus semua foto itu, ketika dia kembali membuka semuanya. Dia hanya akan melihat polaroid polos tanpa gambar, hahahaha."


Oh, dia jahat juga. Aku bisa melihat bahwa Alin sensei akan menangis terisak-isak ketika tahu bahwa semua foto ku menghilang dari tas nya. Dan dia akan merasa galau hingga batuk-batuk dan berpura-pura sakit agar tidak masuk ke sekolah. Aku sudah melihat bagian ini, di dalam lautan pecahan.


Tiba-tiba Marie berhenti berjalan dan membuatku berhenti berjalan juga.


"Aiden, ada sesuatu yang harus ku ucapkan."


Ucap Marie dengan raut wajah yang serius.


"Apa itu?"


Aku tidak bisa melihat apa-apa, kecuali mendengar suara nafas sebuah mahluk. Nafas siapa ini? Di dalam lautan pecahan, aku tidak melihat bagian diriku yang di bawa ke suatu tempat seperti ini, ini melenceng dari alur.


Kemudian semuanya mulai berubah dengan jelas walau gelap, aku berdiri di atas dataran yang kokoh. Kemudian berjalan sampai menabrak sesuatu yang keras juga. Saat itu pun, tempatnya menjadi lebih jelas lagi.


Naga bermata merah seperti kolam neraka terlihat di depanku dengan tanduk iblis besarnya. Dan dia adalah Inferno.


Bebatuan yang begitu besar ada dimana-mana dengan sesuatu yang tidak ku pahami.


"Selamat datang di perbatasan Vebernhae, tuan Aiden." Ucap Inferno sambil menundukkan kepalanya padaku.


"Vebernhae? Tempat apa ini?"


Sebuah suara kemudian terdengar.....


"Vebernhae, ini adalah tempat di mana kami para iblis Scarlet tinggal. Dan disinilah tempat yang menjadi perbatasan antara seluruh alam iblis tidak terbatas dengan Vebernhae." Ucapnya dengan rambut dan bulu mata putih yang melentik.


"Valerie? Kalian semua berada disini?"


"Ya, kami semua berada disini. Sama seperti bagaimana ratu mengendalikan avatarnya, disinilah diri kami yang asli, dan di sinilah kami tinggal untuk mengendalikan semua keberadaan kami." ucap Isabel.


"Dimana Marie?" Tanya ku.


Valerie menjawab lagi m, "Ratu? Kamu bisa menemuinya di Vebernhae, dia sudah menunggu mu terlalu lama."


"Vebernhae, tempat apa itu?"


Saat aku bertanya, suara langkah kaki terdengar dari arah lain, bukan langkah Isabel, bukan langkah Valerie, dan bukan langkah mereka semuanya, tapi Virditas bahkan ada disini, dan semua sepuluh iblsi scarlet ada bersamaku.


Seorang yang berjubah hitam dan bertanduk datang menggunakan pakaian berlapis besi seperti kesatria, kepalanya di bungkus oleh helm besi yang menutup seluruh wajahnya, dan tanduk besi itu juga terhubung pada helm nya.


Setiap bagian tubuhnya di lapisi oleh besi, dan di luar nya di lapisi lagi oleh jubah hitam seperti kain yang robek-robek.


"Sebelumnya saya belum memperkenalkan diri saya pada Anda. Saya adalah Kureya Seigen. Saya adalah rumah bagi para Scarlet Demon yang terhormat, dan saya adalah yang abadi mengabdi untuk ratu iblis pujaan kami, Haumea Scarlet." Ucap seseorang berpakaian kokoh ini.


Dia menjawab dan menjelaskan tentang apa arti dari namanya, Kureya adalah arti dari ruang gelap, dan Seigen adalah arti dari batas. Kemudian seperti itulah bagaimana Haumea menciptakan dirinya. Kureya adalah perwujudan dari tempat ini sendiri, tempat yang di anggap sebagai rumah oleh semua Scarlet Demon, sementara semua iblis ini tetap diam dengan penjelasannya, termasuk Valerie.


Dan ini adalah tempat yang di namakan sebagai Vegen, yaitu tempat yang berada sebagai batas antara semua lapisan dunia iblis dan tempat ratu iblis berada.


Ini adalah suatu tempat yang berada di luar semua lapisan dunia iblis tidak terbatas, seperti bagaimana sesuatu berada di atas ketidakterbatasan. Dan orang ini entah lelaki atau gadis, wanita atau pria, namun banyak suara tergabung padanya. Seperti aku sedang berbicara dengan seratus orang secara serentak.


Dia berjalan mengajak ku menuju sesuatu, sementara semua Scarlet Demon dan Inferno berjalan di belakangku. Di depan sana ada sebuah tempat bagaikan lautan berwarna merah, dan tempat ini seperti daratan neraka yang memiliki pantai dengan air berwarna merah. Terlihat begitu jauh disana, ombaknya adalah ombak liar yang menghanyutkan, lagipula warna nya merah seperti darah.


Di tengah, juga di depan adalah tangga mewah seperti tangga yang ada di rumah penyihir. Namun tidak berlika-liku sedikitpun. Tangga itu menuju lurus ke atas dan seperti tidak ada ujung nya. Di hiasi oleh motif-motif iblis di sekitar pegangannya.


Dia mengatakan bahwa ini lah tangga tidak terbatas menuju Vebernhae yang mengangkat singgasana ratu iblis. Jika Vegen adalah tempat di luar kubus violet, maka Vebernhae adalah ranah yang benar-benar jauh melampaui semua kemungkinan ketidakterbatasan dari isi kubus violet. Tempat di mana Haumea menganggap semua hal yang ada di dunia iblis termasuk vegen tidak lain hanyalah cerita di dalam kubus violet nya.


Marie tiba-tiba berada di tangga ini, tangga yang naik ke atas tanpa ujung. Aku berniat untuk bertanya tentang apa yang dia lakukan. Dari anak tangga yang lebih tinggi, dia mulai turun ke anak tangga yang lebih rendah dan mengulurkan tangannya ke arahku dari sana sambil mengucapkan....


"Ayo naik."


Dia menggenakan gaun merah nya lagi, tanduk nya juga terlihat sama seperti biasanya, saat aku berjalan untuk menginjak anak tangga pertama, aku membalikkan pandanganku ke belakang, kepada mereka semua.


"K-Kalian ... bagaimana dengan kalian? Kalian tidak ikut bersamaku?" Tanya ku pada mereka semua sebelum meraih tangan Marie.


"Maaf, kami semua tidak bisa. Hanya Vegen lah tempat kami, dan disini lah batas kami semua selain ratu iblis." Ucap Valerie sambil menundukkan kepalanya.


Mereka semua tunduk dengan penuh rasa hormat pada Marie yang kali ini. Valerie bahkan tidak bercanda sedikit pun. Mungkinkah ini Marie yang berbeda lagi? Tangan dan kaki mereka semua gemetaran.


"Tuan Aiden, mereka tidak bisa, semuanya, batas semua iblis biasa hanyalah di dalam kubus violet, bahkan kami yang bertekuk lutut disini, di Vegen yang ada di luar kubus violet, tidak ada satu pun dari kami yang mampu bermimpi dan berimajinasi tentang wujud nyata ratu kita semua, dan seperti apa bentuk singgasananya." Ucap lelaki berziarah hitam ini.


"Jadi begitu, ngomong-ngomong ... aku bisa berjalan sendiri ke atas tanpa memegang tanganmu." Ucapku pada Marie yang mengenakan gaun merah.


"Jangan bersikeras, aku sudah mencoba untuk menjemput mu dengan baik." Ucap nya dengan wajah yang jutek.


Terpaksa, aku naik sambil meraih tangannya, dan berjalan melangkah ke setiap anak tangga. Entah berapa lama jika harus terus melangkah ke atas, tangga ini masih terlihat tidak berujung, jadi aku bertanya padanya seberapa jauh lagi tangga ini. Namun dia menjawab "Tidak terbatas" karena tangga ini tidak pernah ada ujungnya. Seperti setiap anak tangga bagaikan satu lapisan dunia di dalam kubus violet juga.


Aku berlari, berlari dengan cepat untuk melampaui kecepatan apapun, bahkan 0 detik pun tidak akan menyamai kecepatan ku. Gerakan untuk menembus semua ruang dan waktu hanya dengan langkah kaki biasa ku. Dan saat aku berhenti di atas, tangga ini masih terlihat tidak ada ujung nya. Sejak awal, aku sudah berada di atas, tempat Valerie dan lainnya sudah tidak terbayangkan jauhnya. Namun, di depanku Marie sudah ada lebih dulu terlihat berjalan naik dengan santai.