Reborn As A Tyrannical Demon Lord

Reborn As A Tyrannical Demon Lord
Chapter 171: Offer From The Manipulator



Di tengah malam, Endelyn bahkan tak berniat meninggalkan sedikitpun barang yang bersangkutan dengan identitas nya atau Aiden. Mereka pergi, meninggalkan rumah lama untuk selamanya. Walau Aiden hanya bisa menggunakan kekuatan magis terlarang dari sebuah cincin, namun hatinya sedikit tergerak ketika dia memenuhi keinginannya untuk balas dendam.


Dan hal yang semakin memburuk adalah kehidupannya yang mulai terasa tak tenang. Satu persatu masalah datang dengan masalah yang selanjutnya lebih buruk lagi. Malam ini, Aiden tidak bekerja. Namun dia datang ketika tempat kerjanya telah tutup. Satu-satunya orang yang di lihatnya adalah Dareen.


Saat Dareen sedang dalam pikiran yang kosong, dia terlihat sedang menyapu lantai dan membersihkan beberapa kotoran di meja makan. Aiden yang datang kemudian mengejutkannya dengan langkah kaki yang pelan sehingga mengakibatkan kewaspadaan Dareen kembali seperti sebelumnya.


"Siapa?!?!! ... siapa di sana?!" Ucap Dareen sambil mengarahkan sapu nya ke pintu dengan posisi kuda-kuda yang benar-benar waspada.


Aiden kemudian melanjutkan langkahnya dari luar kedai kopi yang lampunya padam. Setelah masuk, wajahnya akhirnya terlihat dan sesaat membuat Dareen kembali lega.


"Kamu terlihat begitu lelah, Dareen."


"Aku hanya mencoba melakukan pekerjaanku sebaik mungkin, lagipula ... mengapa hari ini kami tidak bekerja?"


"Aku memiliki sedikit urusan keluarga, jadi aku tidak datang hari ini."


"Lalu, apa yang akan kamu lakukan sekarang?"


"Tidak ada apa, hanya mencoba bersantai sambil melihat rekan kerjaku."


"Hmmm, begitu ya."


Dareen mendekati Aiden untuk beristirahat sejenak dan duduk di sampingnya. Tapi Dareen segera menjauh dengan ekspresi wajah yang terkejut saat melihat Aiden yang dengan santainya membuka jaket bulu hitamnya.


"T-tunggu! Jangan bergerak!"


Aiden: "?"


"Aiden, apa itu? Lehermu!!"


Aiden kemudian menyadari bahwa ia tanpa sadar membuka jaket dan kerah berbulu yang menutupi lehernya seperti biasa, karena dia merasa gerah menggunakan jaket itu terus-menerus. Namun, dia lupa dengan situasi saat ini, dan tetap mempertahankan sikap tenangnya.


"Tidak mungkin ... ini ... ini bohong kan? Aiden? Tanda di leher itu."


"Maaf jika aku membuka jaket ku tanpa sengaja Dareen."


"Jadi itu lah alasan kamu terus-terusan bekerja disini memakai syal?! Apa yang kamu lakukan?!"


"Aku memang tidak ingin siapapun tahu tentang sosok sepertiku, kamu mungkin tahu berita-berita buruk seorang pembunuh berantai, bukan?"


"Tidak, bagaimana bisa?? Aiden!! Apa yang selama ini kamu lakukan? Kamu ... tidak pernah ku sangka!"


"Tenang saja Dareen, aku akan baik-baik saja, begitu juga dengan dirimu."


"Lalu?"


Aiden kemudian melirik kembali wajah Dareen yang ketakutan dengan kakinya yang sebenarnya gemetaran namun mencoba tetap berdiri tegak. Sementara itu, dia masih bersikap santai dengan memangku kaki sambil menyalakan rokoknya.


"Dareen, aku tidak akan menjawab lebih banyak jika kamu terus bertanya dalam kondisi seperti itu, duduklah dengan tenang dan cobalah untuk diam." Ajak Aiden agar Dareen duduk dengan tenang untuk mendengarkan.


Dareen kemudian menuju dapur untuk mengambil sebuah pisau tajam dari dalam lemari, dia menggenggamnya di tangan kanan sambil duduk di hadapan Aiden.


"Pisau?"


"Ya! Ini untuk berjaga-jaga jika seorang pembunuh sepertimu menyerang ku."


"Sayang sekali, pikirmu kamu mampu menyerang ku dengan mudah menggunakan itu?" Tanya Aiden dengan ekspresi santai yang penuh rasa meremehkan.


Dareen tetap diam dengan pisau yang di genggam dalam keadaan gemetar.


"Aku memiliki ide, sebenarnya belum terlalu lama aku menemukan ide ini, namun aku berpikir bahwa kamu mungkin orang yang tepat untuk bekerja sama denganku."


"Jika itu ide dan kerja sama untuk pembunuhan, maka aku akan menolak."


"Kamu bahkan belum mendengarkan seperti apa ide dan tawaranku, namun langsung mencoba untuk menolak."


"Kalau begitu, ide macam apa yang akan kamu lakukan?" Dareen bertanya dengan lebih serius.


Aiden kemudian mengatakan lebih dulu tentang sesuatu yang tak terduga, dia mengatakan pada Dareen bahwa Dareen bisa jujur kepadanya bahwa dia memiliki perasaan pada bosnya sendiri. Dareen terkejut, entah bagaimana Aiden bisa menebak hal semacam itu, tapi ini bukanlah hal yang penting untuknya. Namun, Aiden mampu mengetahui perasaan atau pikiran seseorang dari gerak gerik mereka.


"Dareen ... kuharap kamu tidak keberatan dengan ide ku, maka aku segera menjelaskannya lagi."


"B-baiklah ... tidak apa-apa. Lanjutkan." Ucap Dareen.


"Aku akan melanjutkan dengan beberapa pertanyaan."


Aiden kemudian mengatakan dua pertanyaan sekaligus dengan sedikit jeda.


Yang pertama.


Sejak kapan kamu memiliki perasaan pada Jillian?


Yang kedua.


Hal seperti apa yang membuatmu menarik dengan wanita seperti itu?


"Segeralah menjawab agar aku bisa mengucapkan rencana selanjutnya." Ucap Aiden seperti sedang menginterogasi Dareen.


Dareen kemudian menjawab keduanya walaupun membutuhkan sedikit waktu untuk berucap. Jawaban untuk yang pertama, Dareen sebagai pegawai di bar kopi ini telah menyukai Jillian atau bos nya sendiri sejak lama. Dan jawaban yang kedua, Dareen mengatakan bahwa dirinya tertarik pada wanita berambut pendek sepanjang leher dengan pola pikir yang cerdas.


Aiden kemudian menerima jawaban dari Dareen, namun ada pertanyaan tambahan yang harus di jawab oleh Dareen. Pertanyaan itu tentang hal apa, atau apa saja yang membuat Dareen kesal terhadap Jillian. Walaupun Dareen engan untuk menjawab, namun dia berusaha untuk berucap jujur soal rasa tidak menyenangkan yang terus tersimpan di hatinya selama ini. Aiden terus membujuk dan membujuknya untuk berbicara.


"Aku mungkin tidak ingin memberi tahu ini pada siapapun, tapi asal kamu tahu. Aku terkadang begitu muak saat memikirkan tentang kenapa wanita itu begitu sulit untuk menjadi terlalu dekat denganku." Ucap Dareen dengan eskpresi yang kesal.


Maksud Dareen sebenarnya adalah dirinya ibaratkan kutub negatif pada magnet, dan Jillian adalah kutub positif, keduanya bisa melekat, namun di akhir perjalanan, Jillian akan selalu berubah seolah-olah menjadi kutub negatif juga sehingga mereka akan menjadi sesuatu yang bertolak belakang.


Walau Dareen telah menjadi orang yang begitu akrab dengan Jillian sejak lama, Jillian akan tetap menganggap bahwa hubungan mereka semua bahkan hanya sekedar bos dan karyawan. Dia tidak benar-benar menganggap bahwa Dareen bisa di jadikan seorang teman.


Oleh karena itulah Dareen kesal ketika dirinya begitu sulit menjadi lebih dekat dengan Jillian, apalagi untuk menyatakan perasaannya. Setelah mengatakan itu pada Aiden, dengan santainya sambil menghisap rokok, Aiden mengatakan pada Dareen dengan kalimat "Sadarilah posisimu" dan di kalimat kedua, dia mengatakan lagi "posisimu hanya sebagai pegawai, sedangkan dirinya adalah seorang bos."


Itu lebih menjelaskan bahwa dari segi ekonomi, Dareen telah kalah jauh dari Jillian, statusnya sebagai pria seperti terlihat tak mampu untuk membiayai wanita dengan penghasilan yang lebih tinggi darinya. Kemungkinan Jillian lebih tertarik pada pria yang jauh lebih kaya raya, tampan, dan sebagainya. Sedangkan Dareen hanyalah seorang pegawai biasa di bar kopi milik Jillian, gajinya di gaji oleh Jillian, dan soal fisik, Dareen hanya memenuhi standar wajah pria pada umumnya yang tidak terlalu tampan.


"Tapi ... aku bisa membantumu Dareen, membuat semua keinginanmu menjadi kenyataan." Ucap Aiden dengan lirikan yang begitu redup penuh manipulatif.


Dareen mengerutkan bibirnya sedikit, "Kamu? Mambantu? ... dengan cara apa?"


Aiden yang merasa di remehkan kemudian membalas dengan mengeryitkan dahinya dengan senyuman miring.


"Kamu terlalu meremehkan ku, kamu sendiri tahu bukan? Pembunuhan berantai yang ku lakukan selama ini terus menjadi berita panas dan desas desus yang tak henti-hentinya. Bahkan pihak-pihak polisi di seluruh penjuru kota ini tidak mampu menemukan keberadaan ku."


"Apalagi cuma membantu seseorang dalam hubungannya, tch ... Dareen, itu terlalu mudah untukku."


Tujuan Aiden sebenarnya bukan untuk membantu hubungan percintaan Dareen pada Jillian, melainkan tujuan lain untuk mencapai hasil besar dari ritual sihir gelap untuk Razel.