
Tempat ini memang begitu luas, bagaikan dunia tanpa penghuni, sepi seperti gurun. Hanya angin yang perlahan bertiupan arah.
"Woah, Aiden, dimana kita?"
Tanya Eiji.
"Entahlah, tapi aku hanya mencari tempat yang memang tidak berpenghuni."
"Apa yang akan kita lakukan disini?"
Tanya Leon.
"Yeah, berlatih, sekarang cobalah belah batu besar disana dengan pedang kalian, kalian semua sudah memiliki pedang, bukan?"
Mereka menjawab sambil mengeluarkan pedang mereka dari telapak tangan yang tercipta begitu saja. Seperti penyimpanan dimensi saku, sihir yang di pelajari di kelas beberapa waktu lalu, walau tidak menghadiri kelas, mereka menerima materi ini langsung dari Valerie.
Ada begitu banyak batu berukuran raksasa disini, kami harus berpisah untuk memilih batu masing-masing. Jadi, disinilah aku mencoba, bagaimana jika sihirku di gabung bersama The Raven, mencoba mengahasilkan semacam serangan ultimate yang tidak terlalu besar.
Ku gesekan telapak tanganku tanpa menyentuh bilah pedang sedikitpun, mencampurkan energi sihirku bersamanya. Penggunaan mana yang cukup banyak juga akan menyebabkan daya serangan yang kuat. Namun efek sampingnya bisa membuat seseorang menjadi kelelahan dengan spam penggunaan mana terus menerus.
Hal seperti ini bisa di lihat dari dalam permainan-permainan video game, yeah seperti karakter atau sesuatu yang menyerang dengan kemampuan sihir mereka, dimana bar di bawah darah biasanya menjadi bar mana mereka, penggunaan sihir yang membutuhkan pengeluaran mana, kebanyakan mana yang boros akan terpakai dalam kekuatan ultimate, serangan yang bisa terjadi dalam jangka panjang dengan kerusakan fatal, ada juga yang terjadi sekejap begitu saja.
Aku dulu pemain video game seperti itu, contohnya seperti game moba, Dota, Mobile legends dan semacamnya, yeah, walau aku suka dan sering stress hanya karena permainan video game sialan seperti itu. Puncak emosi ku benar-benar hampir menuju ke titik batasannya. Aku sering di pertemukan bersama teman satu tim random yang begitu bodoh dan konyol, aku heran, kenapa ada manusia-manusia sebodoh ini.
Kuputuskan untuk tidak terlalu banyak lagi memainkan game online seperti itu, masalah sekolah ku sudah cukup banyak saat itu, di tambah lagi rasa emosi yang terpendam karena permainan itu. Walau beberapa skill di dalam game mungkin menjadi sesuatu yang menarik.
Aku berlanjut pada pedang ku, The Raven hitam mengkilat yang berharga, bergabung bersama sihirku, terkonsentrasi hampir sempurna, ku kumpulkan konsentrasi penuh untuk membelah batu raksasa seukuran sepuluh kali lipat diriku ini. Ketika sudah saatnya, aku hanya perlu melepaskan tebasan ini, membelah angin di kehampaan dan menembakan energi sihir yang tertahan daritadi.
BLOOMMMM!!!
BRUAK!!
Semua di luar dugaanku, kupikir batu ini akan terbelah, namun aku terlalu fokus dan mengumpulkan begitu banyak aliran energi sihir pada pedangku, sehingga pedang hanya perantara untuk mengeluarkan sihirku dengan keren. Bunyi itu memang bunyi batu yang hancur dan meledak, namun ini bukan meledak dengan pecah menjadi banyak kepingan. Batu raksasa di depanku benar-benar hancur menjadi debu, meledak begitu jauh hingga empat puluh meter ke belakang nya dan membakar beberapa batu yang lain.
"Wow!! Kekuatan apa itu?"
"Apa-apaan itu?!"
Eiji dan Leon benar-benar tercengang melihat serangan ku pada batu ini, bahkan mereka tidak sama sekali berada pada batu mereka, hanya memandangiku disana daritadi. Menungguku melakukan langkah selanjutnya.
Eiji: "Sihir apa itu?"
Benar, dia bertanya seperti itu, aku bahkan tidak tau sihir jenis apa ini, karena aku hanya mencoba nya begitu saja, biar kupikirkan namanya...
....
...Melesat cukup panjang, memancarkan cahaya kehancuran, yang menghancurkan batu menjadi debu, membakar yang keras bagaikan kertas. Baiklah, Mystic Blaster
Nama teknik ini adalah Mystic Blaster, namun tampaknya aku terlalu serius hingga memusnahkan batu itu tanpa sisa.
"Hebat! Bagaimana caramu melakukannya? Tolong ajari kami cara seperti itu, Aiden."
Ucap Leon dengan sungguh-sungguh.
"Aku hanya melakukannya, bukan hal yang sulit. Kalian hanya perlu menggunakan kekuatan kalian dengan pedang sebagai perantara untuk mengeluarkan energi tersebut, tapi sepertinya aku sudah menggunakan cukup banyak kekuatan tadi."
Jadi, mereka mencoba melakukan seperti yang kulakukan, baiklah ... ini menjadi teknik ciptaanku sendiri, Mystic Blaster. Serangan dengan kumpulan energi dalam satu arah dan menjangkau serangan sepanjang empat puluh meter bahkan bisa menjangkau kemungkinan lima puluh meter.
Leon dan Eiji mencoba secara bersamaan, menghancurkan batu sebesar ini seorang diri mungkin belum mampu untuk mereka, jadi mereka menggabungkan dua kekuatan dari dua orang, mengeluarkan teknik yang sama dari dua arah yang menuju ke satu titik. Kekuatan yang mereka lakukan tidak terlalu kecil, namun cukup efektif sebagai serangan yang layak,membuat batu itu berlubang dengan besar tanpa menghancurkan sekelilingnya.
Ucap Eiji dengan sorakan gembira.
"Yeah, memang sangat bagus, kurasa mungkin ada sesuatu yang perlu kita coba? Aku sedikit kebingungan."
CLAP... CLAP... CLAP...
Suara beberapa tepukan tangan yang pelan datang dari suatu arah bersamaan dengan langkah kaki yang datang, jadi kami semua melihat ke arah suara itu, seseorang yang datang dengan rambut biru yang tidak terlalu panjang, yah, bisa kukatakan bahwa rambutnya normal-normal saja, namun rasa keberadaan nya mungkin adalah hal yang menggangguku dari tadi, ini sebenarnya keberadaan seseorang dengan aura yang menindas, apakah Eiji dan Leon tidak merasakannya?
"Kemampuan yang menarik ... kemampuan yang menarik." Ucapnya sambil berjalan dan bertepuk dengan perlahan ke arah kami.
Leon: "Emm ... siapa, kamu??"
"Varnera Madoc, aku adalah penguasa tempat ini, sebelumnya, aku tidak tahu kalian ini siapa, namun..."
Varnera: "...Aku cukup kagum dengan kehadiranmu disini!"
SHUUTT!!
Ketika dia mengucapkan itu, aura nya semakin meningkat dan menindas, Seperti sebuah gelombang kejut yang terjadi hanya dengan menunjuk ke arahku, tapi itu membuat Leon dan Eiji terjatuh dengan keras di tanah, seperti di tarik oleh gravitasi yang kuat. Namun, aku masih tetap berdiri disini, mempertahan kan posisiku dan melawan rasa penindasan itu.
Varnera: "AHH, HAHAHAHAHA..."
"Sudah kuduga, kamu bukanlah orang biasa, teman lelaki, katakan darimana asalmu?"
Tanya nya sambil memperkecil aura penindasan nya perlahan bersama senyuman lebar.
Namun, Eiji dan Leon benar-benar kesakitan setelah efek gelombang kejut itu, membuat tubuh mereka mengeluarkan darah begitu banyak dari mulut mereka.
"Eiji! Leon! Kalian!"
Aku menghampiri mereka berdua dengan cepat, memastikan apa yang terjadi pada mereka, namun Eiji seperti orang yang sekarat, dia mengatakan rasanya seperti seluruh organ tubuhnya di cekik dan akan meledak. Sementara Leon sudah berbicara tanpa suara, merayap-rayap di tanah kesakitan seperti tidak sadar.
"Apa yang kamu lakukan pada teman-temanku?"
Aku kembali padanya.
"Oh, bukan apa-apa, tapi mereka tidak penting berada disini, kamu tahu kenapa? Mungkin mereka memang benar-benar tidak pantas dan tidak layak dengan diri mereka yang terlalu lemah, tapi kamu ... kamu cukup menarik, bagaimana jika kita bertarung?"
"Sialan! Apa maksudmu dengan bertarung? Itu hanya membuang waktu."
"Oh, ayolah, ini wajar saja bukan? Jika penguasa wilayah nya bertemu dengan beberapa penyusup? Bagaikan dewa yang menemui mahluk lain yang masuk ke dunianya untuk menghukum mereka." Ucapnya seolah-olah semua hal ini lucu.
HEAL!
Aku memutuskan untuk memberikan mantra penyembuh pada Leon dan Eiji, selama tanda hijau di atas kepala mereka masih terlihat untukku, maka regenerasi penyembuhannya bisa terus berjalan sesuai aturan nya, efek penyembuhan ku bisa menyembuhkan luka-luka yang kecil, jika itu adalah kerusakan organ bagian dalam, tentu saja aku masih bisa memulihkannya dan menunggu beberapa saat.
Tapi, aku baru saja mulai untuk merapalkan sihir tanpa mantra, penyembuhan ku baru saja memasuki tubuh mereka, tapi lelaki berambut biru ini langsung menyerangku dengan sebuah sihir ledakan. Aku tidak tahu apa maksudnya, tapi dia mencoba untuk membuatku tidak melakukan penyelamatan terhadap teman-teman ku.
Aku beruntung Inferno Wall pada diriku adalah hal yang mutlak ketika aktif, reaksi cepat serangan atau apapun yang mendekati ku harus ku tangkap dengan cepat, secara normalnya, ini di akibatkan melalui peningkatan indera ku yang merasakan banyak hal-hal di luar indera biasa, memprediksi sedikit lebih jauh beberapa hal yang akan terjadi kedepannya.
Seperti yang kulakukan biasanya, selama indera ku meningkat karena sebuah serangan tiba-tiba, aku harus segera sadar akan kecepatan serangan dan lebih dulu mengaktifkan Inferno Wall. Dengan begini, Inferno Wall akan hadir membungkus seluruh tubuh ku dengan pelindung yang tidak bisa di lihat oleh siapapun.
Lebih jelasnya, Inferno Wall memberi jarak tidak terbatas antara diriku dan objek yang mendekat. Katakanlah jarak tidak terbatas akan ada hanya untuk melindungiku dari lawan, dan itu juga berlaku hanya ketika dinding inferno hadir. Secepat apapun dirimu menabrak ku, kamu hanya akan terus bergerak ke jarak yang tidak terbatas di antara kita, sampai kapanpun itu, sesuatu semakin lama akan terlihat melambat, itu karena jarak ketidakterbatasan di antara kita.
Kalian akan melaju dengan kecepatan cahaya, seratus juta kali lipat kecepatan cahaya pun, jika aku sudah menyadari serangan seperti itu dan mengaktifkan dinding inferno, maka itu adalah hal yang sia-sia, mungkin Anda akan melihat cahaya yang bergerak seratus juta kali lipat dari kecepatan awalnya, mungkin sepuluh miliar kali lipat dari itu? Tapi percuma saja, mereka semua akan melambat perlahan dan akan terus terbakar.
Inilah Inferno Wall, inilah dinding inferno. Pelindung yang membakar segalanya, menjadikan segalanya menjadi abu yang runtuh. Apa yang bisa ku tahan dengan serangan ini? Aku tentu melindungi diriku sendiri, dan pelindung ini tentu saja adalah serangan balik tanpa gerakan, membakar apapun tidak peduli apapun itu. Membakar logam? Membakar baja? Membakar api atau mungkin membakar cahaya dan suara menjadi debu? Oh, semua itu bisa.
Itulah kenapa aku menyebutnya sebagai inferno Wall, dinding sekuat api neraka yang tak tertandingi, sekalipun jika ada seseorang yang bisa membuka gerbang Inferno kepadaku, percuma saja, aku adalah pemilik dinding inferno juga, batu neraka pun tidak akan menyentuhku.