Reborn As A Tyrannical Demon Lord

Reborn As A Tyrannical Demon Lord
Chapter 189: I'm Your Savior



Aiden keluar dari gerbong dan melarikan diri ke terowongan untuk mengikuti arah rel kereta yang terputus. Terowongan kereta bawah tanah lumayan panjang, pasti ada jalan keluar darurat untuk tembus ke permukaan kota. Dia berpikir untuk berlari sebisa mungkin. Andai saja dia memiliki kemampuan sihir seperti Razel, segalanya pasti akan mudah.


Sialan!! Para penyihir itu sama saja! Mereka bahkan membahayakan nyawa banyak orang hanya untuk menangkapku. Benar-benar waktu yang tidak tepat. Ucap Aiden dalam hatinya.


Kakinya pincang setelah terbentur begitu keras, sementara beberapa lengannya berdarah karena tergores oleh benda-benda yang dia tabrak. Sekitar enam ratus meter setelah melarikan diri dalam kondisi pincang, Aiden menemukan lorong di sebelah kanan yang memang seharusnya ada, jalur itu biasanya hanya di gunakan oleh para petugas pembersih rel kereta.


Aiden kemudian mengambil ponsel dari saku jasnya, dia menghubungi Razel sebisa mungkin untuk membantunya melarikan diri dari tempat ini. Dia mencoba berkali-kali tapi ponsel Razel sedang tidak aktif, jadi dia hanya mengirimi pesan untuk memberitahunya, sisanya, dia akan berpikir untuk melarikan diri dengan caranya sendiri.


Di pembelokan ada sebuah tangga, sekitar tiga puluh meter untuk berjalan ke depan menuju jalanan kota. Dari kejauhan, seorang wanita berambut pirang terlihat berjalan dengan santai menuruni tangga, wanita itu memakai sebuah masker hitam dan mantel panjang berwarna biru gelap. Aiden terus berjalan agak lambat karena kondisi kakinya, dia tidak peduli walau wanita itu melirik dan bertanya, dia sedang dalam bahaya, jadi dia harus pergi.


"Apa sihir itu benar-benar ada?" ucap wanita itu.


Aiden berhenti dalam sekejap sambil berbalik dengan mata melotot ke arah wanita itu. Kemudian dia membalas, "Apa kamu salah satu dari penyihir-penyihir berengsek itu?"


Gadis itu berbalik arah, "Aku adalah salah-satu penyelamat mu jika kamu tidak mengabaikanku. Tapi jika kamu mengabaikanku, berarti aku bukanlah penyelamatmu."


"Siapa ... kamu??" tanya Aiden sambil menahan perih pada luka gores yang begitu dalam.


"Darahmu menetes kemana-mana, ikut aku ... atau, ya, mungkin kamu akan segera mati karena penyihir-penyihir itu mengejarmu sekarang, dan mereka akan menemukanmu." jawab wanita tersebut.


"Bawa! Bawa aku. Aku akan membayarmu!" ucap Aiden dengan tegas.


Wanita itu berbalik ke arah sebelumnya, dia berjalan kembali menuju tangga keluar. Dia meminta Aiden untuk ikut bersamanya dan masuk ke dalam mobilnya. Hampir sekitar satu jam lebih perjalanan, wanita itu membawanya ke sebuah rumah mewah yang sangat besar, ukurannya terlihat seperti sepuluh kali lipat ukuran rumah lama milik kakek Razel. Wanita ini juga memberinya tumpangan di atas mobil sport mewah.


"Turunlah, dan tenangkan dirimu di sini untuk sementara waktu." ucap wanita itu.


"Warna merah yang indah. Ferrari gtb ... kamu wanita yang kaya raya ya." ucap Aiden sambil melihat betapa besarnya rumah wanita ini.


"Tidak juga."-wanita itu memberi sapu tangan agar Aiden membersihkan luka di tangannya-"Bersihkan semua lukamu, dan jika saja ibuku bertanya macam-macam, tolong berbicaralah dengan sopan dan katakan saja bahwa kamu adalah kekasihku."


"Huh?!?! Apa maksudmu?" tanya Aiden.


"Cukup lakukan saja ya, aku hanya ingin kita berbicara empat mata. Tidak boleh ada siapapun yang tahu tentang pembicaraan kita."


Aiden mengikuti wanita itu dari pintu ruang tamu yang sangat besar, mereka berjalan cukup jauh untuk sampai ke ruang tengah. Di sebuah sofa mewah, ada dua orang wanita yang terlihat mirip dengan wanita ini, mereka semua juga memiliki rambut pirang yang sama. Bedanya, wanita yang satu kemungkinan adalah neneknya, karena dia terlihat cukup tua dengan kacamata baca sambil merajut sebuah baju.


"Ahhhh~ Aya cantikku telah pulang." sambut wanita tua itu pada wanita ini.


Aiden mendengarnya dari belakang, kemudian dia tetap mengikuti jejak wanita itu, yang terlintas hanya nama yang baru saja di sebut. Hingga dia masuk ke ruang tengah juga, keduanya segera memandang ke arah Aiden. Yang lebih tua menyentuh kacamatanya dan memfokuskan pandangannya pada Aiden. Yang satunya lagi berdiri dari sofa dan berbicara pada wanita yang diikuti Aiden.


"Kamu tidak bilang akan membawa seorang teman."


"Memangnya kenapa?" tanya wanita itu.


"Tentu saja tamu harus di sambut dengan baik, terlebih lagi jika dia adalah temanmu, ah permisi, siapa namamu?"


Kemudian Aiden menjawab, "Hugo, maafkan aku nyonya, jika kedatanganku mendadak."


"Kamu ingin minum apa? Kopi? Atau Teh dan beberapa biskuit?" tanya ibu dari wanita itu.


"Tidak perlu repot-repot nyonya." jawab Aiden.


"Budaya kita adalah menghormati tamu, nenek akan membuatkanmu teh hangat dan biskuit kesukaan keluarga kami. Kamu perlu mencobanya." ucap wanita yang sangat tua.


"Ahh ... hahaha, terima kasih atas tawarannya nyonya."


"Ayo, cepat ikuti aku." ucap wanita itu di tangga.


"Nyonya, saya mohon izin untuk naik ke atas bersama putri Anda."


Di lantai dua, Aiden yang mengikuti wanita itu bertanya, "Keluargamu benar-benar ramah ya." wanita itu kemudian menjawab, "Tidak seperti yang kamu lihat, ayahku jarang tersenyum pada orang lain dan yang paling ku benci adalah adik laki-lakiku, hari menyenangkan adalah hari ketika aku tidak melihat wajahnya."


"Berapa saudara yang kamu miliki?" tanya Aiden.


"Aku memiliki dua saudara, dan aku adalah putri pertama di keluarga ini. Sekarang, masuklah." jawab wanita itu sambil meminta Aiden untuk masuk ke ruangannya.


Rumah wanita ini begitu besar, di ujung lorong rumah yang begitu panjang, sebuah pintu terlihat. Ketika Aiden masuk, itu bukan sekedar ruangan biasa, melainkan kamar tidur yang luasnya sepuluh kali lipat dari kamar gadis biasa. Kasurnya tertata begitu rapih, begitu juga barang-barangnya. Tirai-tirai mewah dengan bahan blackout menutupi beberapa cahaya silau yang masuk ke ruangannya.


"Baiklah, sekarang apa yang kamu inginkan dengan menyelamatkanku? Darimana kamu tahu soal penyihir di antara orang-orang itu?"


"Karena aku ... mengikuti firasat dan mimpi buruk ku."


"Mimpi tentang apa?"


"... tentang seorang wanita cantik berambut ungu kehitaman yang mampu merubah wujudnya menjadi kupu-kupu, mimpi-mimpi itu tidak dapat ku ingat dengan jelas. Semenjak mimpi-mimpi aneh seperti itu, aku merasakan hal-hal yang tidak menyenangkan di sekitarku, dan rasanya itu bisa terjadi secara tiba-tiba." jawab wanita itu.


"Tunggu, siapa namamu?"


"Bukankah aku harusnya bertanya seperti itu?"


"Benar, aku merasa ini sangat penting sehingga aku harus membicarakan ini denganmu, seseorang yang terlibat dengan penyihir di dunia nyata." ucap wanita itu.


"Nama ku Alaya, kamu bisa memanggilku Aya, sama seperti nenek dan ibuku memanggilku."


"Aya?? Aya??? Ini nenek!"


Alaya itu kemudian membuka kembali pintu kamarnya, pantas saja orang tua itu tidak mampu membuka pintunya sendirian, kedua tangannya sedang memegang piring dengan banyak biskuit berwarna cream dan coklat, juga segelas teh.


"Nyonya, Anda tidak perlu repot-repot seperti ini." ucap Aiden.


"Tidak, aku memaksa untuk menunjukkan pada tamu betapa enaknya biskuit buatanku, hahahaha." ucap nenek Alaya sambil tersenyum lebar.


"Sungguh ... terima kasih banyak atas biskuit dan tehnya nyonya." Aiden membalas dengan senyuman yang murni.


"Aya? Apa kamu mau nenek membuatkan teh untukmu juga?"


"Em, aku mau susu, seperti biasanya."


Neneknya keluar meninggalkan kamar dan menutup kembali pintunya. Aiden kemudian mengatakan ucapan maaf karena telah membuat keluarganya repot. Tapi Aya tidak peduli dengan itu, yang penting di sini adalah pembahasan tentang Aiden yang terlibat dengan penyihir.


"Jujur, aku sedang memiliki janji di luar sana." ucap Aiden.


"Tolong tetaplah di sini, dengarkan aku dan katakan apa yang terjadi. Aku butuh jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di hatiku." ucap Aya.


"Kalau begitu, mulailah bercerita tentang mimpi dan perasaanmu itu, aku akan mendengarnya sekali tanpa di ulangi."


"Oke," ucap Aya sambil mengambil sebuah biskuit berwarna cream di atas piring.


Mimpi itu pertama kali terjadi sejak 2024, awalnya mimpi Alaya hanya memperlihatkan tiga buah kupu-kupu yang beterbangan di taman malam. Mereka semua seperti spesies yang sama, memiliki sayap indah berwarna ungu gelap dan bersinar seperti kunang-kunang ketika mereka bergerak untuk terbang kesana kemari.


Setelah itu, dia menceritakan mimpi ini pada neneknya. Namun neneknya hanya mengucapkan bahwa itu adalah mitos yang katanya dengan mengalami mimpi dua kupu-kupu yang beterbangan merupakan pertanda baik dalam hubungan seseorang, mereka akan tetap bersama untuk terbang bebas menghadapi gelapnya dunia.


Aya terkadang percaya dan juga tidak percaya pada mitos, namun dia mulai merasakan sensasi yang aneh semenjak mimpi itu terjadi. Sampai kini, hal seperti itu telah terjadi kurang lebih tiga kali. Dunia tiba-tiba terasa menjadi gelap, matahari menjadi hitam, dan perasaan bahaya terlalu kuat untuk di rasakan, bahkan semua orang mungkin dalam bahaya besar.


Wanita ini telah membaca kisah-kisah sihir dan penyihir sejak beberapa hal gaib muncul di sekitarnya, dia hanya tahu bahwa sihir telah lama pudar, dan mungkin hampir tidak ada generasi zaman sekarang yang menjadi pengguna sihir. Tapi yang kali ini berbeda, kekuatannya terlalu kuat jika di bandingkan dengan sihir biasa.


Aiden sedikit paham apa yang di katakan Alaya pada saat itu, ceritanya mungkin akan lebih panjang, namun dia memotong dan berkata, "Mungkinkah hal seperti ini yang dapat di rasakan oleh orang sepertimu?" saat itu juga, Aiden menjalankan pikirannya hanya untuk melepas sebagian segel jiwa dari cincin di jari manis tangan kirinya dan membuat Alaya tercengang hebat.