Reborn As A Tyrannical Demon Lord

Reborn As A Tyrannical Demon Lord
Chapter 92 : Sound of death : VARKTUS




Dia keluar dari lubang yang sama, di tempat kelabang besar jadi-jadian ini menghancurkan permukaan dari bawah.


"Kamu, berani-beraninya menghalangi ku."


Ucap lelaki itu.


Ohya! Gadis itu, aku lupa dan terlalu sibuk atas monster ini, hingga meninggalkannya di koridor bawah tanah itu, jangan berpikir kamu bisa lolos dan berlindung di balik kelompok mu untuk menyerang balik melawanku.


PTAK!


Aku menjentikkan jariku lagi, menariknya kembali ke dalam ruang imajiner, pertukaran antara satu gadis dengan dua orang lelaki yang sebelumnya terkena kutukan tidur. Dua orang akan keluar, dan satu yang lain akan masuk kembali ke ruang imajiner.


Duduk dan lihatlah dengan tenang...


...Bagaimana aku menghabisi rekan Diavoloz mu ini.


Ucapku padanya ke ruang imajinasi. Dia pasti mendengarnya dengan nada kesal sekarang, karena tanda di tangannya itu, aku bisa menariknya kapan saja untuk kembali ke ruang imajinasiku.


"Sudah terlambat, kawan. Buka pelindung sihir ini, dan kembali lah ke rumahmu, sebelum aku menghabisi mu di dalam pelindungmu sendiri."


Ucap lelaki bernama Antvaro.


Jadi, mereka semua memiliki nama di seragam mereka, seperti sebuah bordir yang bertuliskan nama mereka dengan kecil. Walau itu benar-benar jauh dan mustahil di baca oleh orang biasa, namun indera penglihatan ku juga bisa memanjang sampai di luar dugaan.


Aku bahkan bisa memanjangkan indera penglihatanku terus ke depan, dan kedepan, menembus segala yang ada untuk melihat sesuatu di baliknya, hingga indera penglihatanku mengelilingi Izar dan memperlihatkan padaku, bagaimana penampilanku dari belakang.


Dua orang lainnya lagi? Kalau begitu, seperti yang kuharapkan.


Di sisi luar pelindung ini, aku melihat dua orang lainnya yang mendekat dan mencoba menembus penghalang inferno ini. Sepertinya mereka sudah tau, kalau penghalang ini benar-benar sulit di tembus dengan apapun.


Mereka semua orang yang berasal dari akademi yang sama. Terlebih lagi, dua orang ini adalah orang yang kucari. Valtair dan Levian,


mereka pikir aku tidak menyadari keberadaan mereka di sisi lain perisai ini, walau jarak ujung dan ujung perisai ini sangatlah jauh.


Aku mengarahkan tanganku ke arah mereka, dari jauh menarik mereka untuk melempar mereka masuk ke dalam arena ini, dan menabrak lelaki bernama Antvaro itu. Saling bertabrakan, dan membuat Antvaro terpental begitu jauh.


"Bagus! Sekarang kalian semua sudah berada disini, aku bisa membiarkan kalian semua di lahap oleh mahluk-mahluk ini."


Setelah itu, aku keluar dari dalam penghalang, membiarkan penghalang ini terus membuat kubah tersendiri untuk memisahkan arena dengan bagian luar arena. Dinding ini akan menembus sampai ke bagian bawah tanah yang begitu jauh. Siapapun yang berada pada jangkauan area inferno wall ini, tidak akan bisa keluar, entah di bawah tanah, atau pun di langit sekalipun.


Kemudian yang satunya berdiri lagi, dari jatuhnya.


"Berengsek!!! Datang dan hadapi lah aku jika kamu seorang lelaki!!"


"Apakah kamu takut? Dasar pecundang!!"


Dia mengucapkan hal yang lantang dan terdengar ke telingaku, rasanya ini benar-benar menghinaku menggeser jalan ku untuk kembali masuk ke dalam kubah inferno.


Aku kembali karena rasa trigger, benar-benar memicu emosiku. Dalam sekejap aku memasuki arena, tepat langsung berada didepannya, menarik kerah bajunya dan melemparnya dengan sangat jauh. Terlempar sepanjang enam ratus meter. Kurasa cukup jauh.


Bajingan! Berani-berani nya dia mengatakan ku seorang pecundang?


Sekarang, tersisa kalian berdua. Apakah kalian juga beranggapan sama seperti teman kalian? Bahwa aku adalah pecundang yang meninggalkan pertandingan? Sekarang aku ada disini.


"Tutup mulutmu berengsek!!!"


Yang pertama kali muncul disini menyerangku dengan cepat, dia adalah orang yang sebelumnya mengendalikan kelabang raksasa menjijikan ini.


Bahkan, sepertinya mahluk-mahluk ini terus bergerak untuk mengejarku, memang benar, dia mengendalikan seluruh mahluk ini untuk menyerangku, terkecuali teman-temannya. Apakah hanya aku sendiri? Kupikir mereka adalah pecundang yang sebenarnya.


Dengan cepat, dia menyerangku, tapi aku menendang nya hingga terpental jauh, yang satunya lagi maju bergantian bersamanya untuk menyerangku dengan sebuah pedang.


Aku terpaksa menangkis serangan pedang itu lagi, disini pedang orang-orang tidak ada apa-apanya melawan The Raven ku, pedang mereka akan hancur ketika menyentuh pedangku, tidak sama seperti Valerie, walau pedang nya akan hancur, namun dia juga memberi dampak untuk pedangku, sehingga pedang ku dengan pedang nya rasanya hampir setara.


Pedang nya meleleh begitu saja dan hancur menjadi dua bagian, itu tidak ada gunanya. Lalu aku memukulnya dengan cukup keras di wajahnya, hingga dia harus terbang melayang ke lubang bawah tanah tempat koridor ruangan peserta.


...LILAC SLASH...


SING!!


.....


BRUAGKHHH!!


Tebasan secepat cahaya ungu ku lancarkan pada kelabang raksasa ini, tebasan yang membelah tubuhnya dari kepala hingga ke belakangnya, terbelah sepanjang empat puluh meter.


Tapi, aku tidak menyangka, di dalamnya keluar beberapa kelabang yang menjijikan juga, benar-benar iblis yang bermutasi dengan parasit mematikan. Mereka sudah benar-benar menjijikan. Kelabang berkepala tiga? Tiga wajah yang berbeda juga adalah tiga orang yang mati.


Kepala mereka semua menyatu dengan leher yang sama, kemudian tubuh mereka seperti tubuh yang berdetak-detak di dalamnya. Ada sesuatu yang bergerak-gerak lagi di dalamnya. Kaki mereka benar-benar banyak, seperti kaki monster laba-laba yang sebelumnya kulihat.


Mereka keluar dari tubuh itu dengan cukup banyak, kelabang-kelabang yang masing-masing dari mereka memiliki panjang sekitar lima meter. Di lihat dari cara berjalan mereka saja sudah membuatku jijik setengah mati.


Tanpa lama lagi, aku tidak ingin melihat mereka terus menerus, terutama aku terus menghindar dari mahluk-mahluk aneh lainnya. Benar-benar menyebalkan, jika ada sebanyak ini, maka aku tidak perlu bergerak untuk mengayunkan pedang ku dan membelah semua mahluk ini bagaikan cabai yang harus ku cincang berkali-kali.


Jadi, mereka semua tampaknya sudah datang dari segala arah, aku hanya perlu berdiam diri saja disini tanpa perlu bergerak.


...INFERNO WALL...


Perisai ini akan aktif membungkus seluruh tubuhku tanpa ada efek pengaktifan, bahkan tidak akan ada siapapun yang bisa melihat batas dari penghalang ini.


Dari segala arah, mereka hancur satu persatu pada jarak hampir satu meter. Tapi, ini terlalu menjijikan, ketika melihat kehancuran mahluk aneh ini dari segala arah hanya dalam hampir satu meter, mengotori seluruh pandanganku, hingga langit pun tidak lagi terlihat. Di penuhi dengan ledakan tubuh yang mengeluarkan larva dan belatung yang tak terhitung jumlahnya.


Aku mengubah skala jarak dinding menjadi diameter sepanjang sepuluh meter. Mereka segera meledak lebih jauh lagi. Tapi jumlahnya terlalu banyak. Yeah, mau tidak mau, aku harus menggunakan mana yang cukup banyak untuk membuat mereka mati sekaligus.


Kemampuan untuk membunuh segalanya...


......membunuh manusia....


...Iblis....


...Roh....


...Jiwa....


...Materi....


...Sel....


...Mahluk tanpa nyawa....


...Atom....


...Konsep sekalipun....


Menghancurkan dan menghapuskan segalanya yang kuinginkan, tidak peduli jika harus membunuh konsep, entah itu non–fundamental atau harus membunuh konsep yang fundamental sampai sepenuhnya hancur.


...SUARA KEMATIAN ... VARKTUS...


"MATI!!"


....


NGUUNG!!!


CERAKKSH!!!!


Begitu suara ku keluar dan menyebar ke segala area, mereka semua akan hancur sepenuhnya, terbakar hanya dengan suaraku, mati dan lenyap dari dunia dalam sekejap. Tidak akan ada yang selamat dari suara kematian ini. Karena efeknya tidak secepat kecepatan suara, atau pun cahaya, bagaimana dengan kedipan mata? Kurasa itu tidak cukup.


Karena ketika kata kematian yang menghancurkan sudah keluar dari mulutku, bahkan tidak akan ada angka satu setelah nol dan koma untuk berlari. Nol detik adalah waktumu, menghindar lah jika bisa, kurasa itu mustahil, kecuali kamu adalah seseorang yang bergerak di luar hukum atau konsep waktu untuk menghindarinya.


Bahkan regenerasi virus atau bakteri tingkat apapun tidak akan membuat mereka bangkit lagi untuk menciptakan bagian baru dari regenerasi mereka. Telur atau apapun yang tersisa sebagai pembangkit virus dan parasit mematikan yang baru sekalipun akan hancur semuanya, terbakar sampai tidak tersisa.