
Sepertinya ini adalah saat yang mungkin cukup pas untuk mengatakan kepada teman-temanku, yeah walau Leon masih menjadi teman baru, tapi itu tidak masalah, setidaknya dia berguna.
"Kalian berdua."
Aku memanggil dengan suara pelan.
Keduanya bertanya sambil menoleh padaku.
Jadi, kuberitahu rencana ku dalam mengikuti kontes kejuaraan akademi antar dunia iblis itu. Tapi sebelum itu, aku harus membawa mereka semua untuk bertanya pada kepala sekolah, mungkin saja tebakanku menjadi kenyataan.
"Aiden? Kita mau kemana?" Tanya Eiji.
Jadi kujawab, bahwa kita akan pergi ke dalam ruangan kepala sekolah, mereka hanya perlu mengikuti dan menemaniku.
"Aiden, kenapa semua orang menatap kita?"
Ucap Leon.
"Kurasa orang-orang tidak melihat kita, Leon. Mereka hanya melirik Aiden."
"Tapi aku juga murid keren lho ... aku mencapai kelas elit tingkat pertama."
Aku ingin sekali mencari topik untuk berbicara dengan teman-temanku, seolah-olah aku berjalan sambil berbicara dengan asik bersama Eiji dan Leon. Namun, itu akan menjadi pembahasan mati topik jika di bicarakan secara tiba-tiba hanya untuk terlihat asik.
Lagipula, berjalan sendiri di hadapan banyak pandangan orang itu membuatku tidak suka di tatap, itu menyebalkan, aku harus berjalan kaki dengan cukup lama, menatap jalan kedepan seolah-olah tidak memperhatikan mereka.
Sampai tibalah kami di ruang kepala sekolah, aku mengetuk perlahan dan diizinkan masuk. Ketika kepala sekolah melihat wajahku, dia langsung begitu gembira, menwarkan permen dan cemilan-cemilan enak yang ada di ruangannya. Tapi sayangnya, hal ini sepertinya malah tergiur pada Eiji dan Leon, aku tahu perasaan mereka.
"Ah! Aiden, akhirnya kamu datang, butuh bantuan? Ingin bertanya tentang sesuatu? Silahkan." Dengan suara yang tidak terlalu keras, namun kalimatnya di lontarkan dengan cepat.
"Bolehkah aku bertanya jika bisa? Ini tentang kontes kejuaraan antar akademi dunia iblis itu."
"Bertanyalah sesukamu, aku akan menjawab, dan jika tidak ada yang banyak kuketahui lebih lanjut, aku akan memanggil guru Alin untukmu."
Kepala sekolah mengatakan setelahnya, bahwa guru Alin adalah pembimbing dan pelatihku, sekaligus guru yang akan mendampingiku pergi ke kontes itu nanti, bisa di bilang guru Alin ini adalah waliku dari akademi.
Tok-tok-tok.
"Selamat siang, kepala sekolah. Aku masuk~"
Baru saja aku akan mengatakan soal pertanyaan ku, namun suara ketukan tiga kali langsung masuk ke dalam ruangan ini juga. Seorang guru perempuan berambut putih dengan kacamata tampaknya sambil membawa beberapa lembaran berkas.
Guru ini ... rasanya aku juga belum pernah melihatnya, kenapa begitu banyak guru yang cantik di sekolah ini? Bahkan lelakinya juga masih muda walau semua guru rata-rata sudah berkeluarga, mereka masih terlihat seperti umur 20 tahun.
Tapi dia tidak memperdulikan siapapun, selain menuju langsung kepada kepala sekolah yang sedang berbicara bersamaku, jadi merasa tidak boleh memotong pembicaraan, aku terus menundukkan wajahku untuk menunggu mereka selesai berbincang, semoga saja kepala sekolah tidak di beri kesibukan lain agar dia tidak meninggalkanku hari ini.
"Kepala sekolah, aku sudah menyiapkan semua berkas pendaftarannya, namun formulir ini, aku harus mencari murid Aiden ke kelasnya. Kuharap aku bisa bertemu dengannya nanti, sebelum dia bisa pulang ke sekolah."
"Alin, kamu terlihat buru-buru dan khawatir begitu, tenang saja, dia tidak akan kemana-mana dan bukan berarti akan pulang secepat mungkin, lagipula, dia berada disini sekarang."
"Hah? Dimana?" Ucap guru perempuan muda ini sambil menoleh ke arah manapun di dalam ruangan. Disini hanya ada kepala sekolah, aku, dan guru cantik ini ternyata adalah waliku, kemudian dua temanku di kursi sana yang benar-benar melahap banyak toples cemilan kepala sekolah.
Sial! Aku juga ingin bergabung bersama mereka dan memakan beberapa astor dan donat-donat itu, tampaknya semuanya enak. Donat nya berbagai varian, di duniaku sebelumnya donat seperti ini biasanya adalah donat bermerek yang di jual di tempat-tempat tertentu, donat-donat premium seperti J.CO, Dunkin' donuts, Krispy Kreme Doughnuts, Mister donuts, dan lain-lain.
Toples bahkan box-box kecil cemilan premium kepala sekolah ini kini terlihat seperti tinggal setengah setelah mereka memakannya.
Setelah dua orang yang makan itu, tidak ada lagi yang perlu di cari, karena kepala sekolah mengucapkan bahwa murid yang kamu cari sudah tepat berada di depanku.
"Aiden, tunjukanlah wajahmu."
Ucap kepala sekolah.
Jadi aku menunjukan wajahku dengan benar kepada guru Alin, menyapa nya dengan wajah senyuman kaku. Wajah ini terlihat binggung, bodoh, dan antara senyum atau tidak. Namun, dia membalas ku dengan sapaan yang gembira dan senyuman yang manis.
"Jadi kamu? Murid Aiden?"
"I-Iya."
"Hmphhh, sepertinya tidak apa-apa, lagipula mungkin ada banyak pertanyaannya yang bisa kamu jawab."
"Baiklah, Aiden~ bisa ikut denganku?"
Aku hanya mengangguk tanpa jawaban. Kami keluar dari ruang kepala sekolah untuk mengikuti guru Alin ini, siapapun mungkin tidak mendengarnya, tapi aku mendengarnya.
Suara histeris kepala sekolah yang ingin menangis sendirian di dalam ruangannya ketika melihat cemilan-cemilan premium mahal di ruangannya tinggal setengah, bahkan ada yang habis.
Ahhhh! Cemilan premiumkuuu! Ini hanya untuk tamu. Dasar anak-anak itu ... ini untuk tamu! Mereka malah memakannya dengan rakus. Seperti itulah yang kudengar.
Sebenarnya aku tertawa, tertawa di dalam hatiku, namun aku menahannya agar tidak tertawa di depan siapapun, mereka akan berpikri aku tidak waras jika tertawa sendiri tanpa sebab. Soalnya itu lucu.
Dengan sangat cepat, sebuah cahaya membawa kami berpindah ke suatu tempat. Tepat di sebuah ruang tamu.
"Guru? Dimana kita?" Tanya kedua temanku.
"Oh, ini adalah rumahku, selamat datang. Silahkan kalian berdua duduk disini, duduk dengan manis, dan sopan!"
Ucapnya dengan nada pelan namun memberi kesan ngeri untuk Leon dan Eiji.
Dan aku disuruh ikut lagi ke tempat lain, terus mengikutinya di dalam rumah ini. Sebenarnya aku ingin bertanya, tampaknya orang-orang bisa kesal dengan sifatku yang terlalu sering bertanya.
Jadi kami masuk ke dalam sebuah ruangan dengan pintu kayu mewah berwarna coklat bagaikan hitam. Aku bertanya-tanya, rumah ini tidak terlalu besar dan tidak ada siapapun di dalamnya, apakah guru ini belum menikah? Lagipula dia terlihat masih sangat muda.
"Nah, silahkan duduk disini, dan isi semua berkas ini tentang data dirimu."
Ucapnya sambil memberi tumpukan berkas yang tidak terlalu tebal. Namun, ini untuk pengumpulan data diriku, jadi aku mulai menulisnya sebaik mungkin dan mencoba teliti agar tidak menulis dengan salah.
"Bu Alin?"
"Yah? Silahkan bertanya."
"Berapa usiamu?"
"Eh? 20 ... kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?"
"Tidak, tidak apa-apa."
Astaga, rasanya tadi aku ingin bertanya bolehkah aku mengisi asal kelahiran ku? Aku akan menulisnya dengan 19 Agustus 4666, Bumi, Dunia manusia. Tapi kupikir tampaknya benar-benar aneh, jadi aku hanya akan menuliskan saja alamat rumahku sekarang sebagai tempat kelahiran ku.
"Emm... bagiamana jika aku tidak memiliki hobi? Aku bahkan tidak tahu apa yang menarik untukku. Dan apakah cita-cita ini bebas ku tuliskan?"
"Jika kamu tidak memiliki ketertarikan atau hal-hal lain, kamu boleh untuk membiarkannya kosong, tapi, kamu harus mengutamakan biodata utama ini diisi dengan penuh."
Gawat, tidak mungkin aku akan mengisi nama orang tua lama ku, aku tidak memiliki orang tua sekarang. Jadi, kuputuskan untuk menciptakan nama palsu untuk ayah dan ibuku, jika terjadi sesuatu yang mengharuskan urusan sekolah dengan orang tua, maka Wanda dan Eugene akan ku ubah menjadi sosok ayah dan ibuku.
Nama : Aiden Leonore
Usia : 16 Tahun
Kelamin : Laki-laki
Tempat/Asal kelahiran : Vantley, 19 Agustus 4666
Hobi : Makan, tidur, mendengar musik
Cita-cita: Raja iblis
[Nama Orang Tua ]
Ayah : Vaxel Leonore
Ibu : Eugene Leonore
Jadi, inilah biodata utama ku, aku terpaksa mengisi beberapa hal yang sebenarnya aku sukai, makan? Tidur? Jika di dunia lama, bermain game online atau membaca novel akan ku tulis di sana.