Reborn As A Tyrannical Demon Lord

Reborn As A Tyrannical Demon Lord
Chapter 110 : Theater




Rasanya seperti kami benar-benar bebas, sebenarnya tidak perlu ada siapapun yang mengusik. Aku benar-benar menyukai kehidupan dengan kebebasan.


Aku duduk lagi di sebuah kursi panjang, membuka ponselku, semua terasa berbeda sejak terakhir kali aku meninggalkan kehidupan manusia.


Sepertinya aku mengajarinya banyak hal kecil yang sepele, tidak pernah ku bayangkan bahwa seseorang seperti ini bisa berubah dengan kehadiran ku. Kami melakukan banyak hal sepanjang hari, dari pagi hingga menjelang sore, bahkan tidak ada banyak piring yang kotor, hanya kami berdua yang ada.


Pertama kalinya aku melihat Marie mencuci piring dengan tangannya sendiri tanpa sihir, itu benar-benar berbeda, kupikir dia tidak tahu cara melakukan pekerjaan rumah seperti ini, namun nyatanya aku salah. Dia cukup terampil.


"Aiden, pakaian apa ini?" Tanya Marie ketika melihat sesuatu yang sedang ku pegang.


"Oh, ini hoodie, ada apa?"


"Hoodie?"


"Yeah, di pakai seperti ini." Ucapku sambil menunjukkan cara memakainya.


Lalu dia bertanya kemana aku akan pergi dengan penampilan seperti ini, dan kujawab "Mencari angin" dia berniat untuk ikut lagi, sebenarnya aku sengaja membuatnya ingin ikut denganku dan mencari sesuatu yang menyenangkan.


Tanpa kekuatan apapun, dia sama seperti manusia biasa, gadis yang mandi cukup lama, bahkan setelah keluar, dia masih menyuruhku untuk mengeringkan rambutnya.


"Apa yang akan kita lakukan malam ini? Apakah ada suatu tempat yang menyenangkan?"


Tanya Marie.


Lalu kujawab, mungkin banyak sesuatu yang mungkin saja tidak membosankan. Setelah semua selesai, dia menggunakan baju yang terlihat lebih baik dari sebelumnya. Aku mengajaknya pergi ke sebuah bioskop.


Sebenarnya dia benar-benar memiliki banyak pertanyaan di jalanan sambil menggengam tangan kami. Aku tidak bisa melepas tangannya, jika kami terpisah, dia mungkin saja tersesat dan kesulitan menemukanku di besarnya mall ini, penduduk begitu banyak, dia tidak tahu banyak juga.


Kami masuk ke sebuah tempat di dalam mall, lantai atas memiliki pusat hiburan dan banyak lagi bersamaan dengan restoran, sedangkan bagian paling bawah adalah bagian perbelanjaan campuran. Tempat ini begitu luas.


Di atas pusat hiburan, ada lagi perbelanjaan pakaian, bersamaan dengan bioskop di sana. Di pintu masuknya bertuliskan cinema, ada begitu banyak orang yang mengantri. Bahkan aku harus membuatnya mengantri bersamaku demi tiket menonton.


Pilihan film yang tayang setiap bulan begitu banyak, aku tidak tahu harus memilih yang mana, bahkan terakhir kali aku berada di dunia manusia, aku hanya terus ke bioskop untuk menonton seri-seri movie Marvel Cinematic Universe. Secara umum, film-film mereka adalah film aksi terlaris yang seringkali memenuhi bioskop.


"Apa yang ingin kamu lihat?" Aku bertanya padanya.


Dia berhenti menengok kesana-kemari.


Marie: "Yang ingin kulihat? Tempat apa ini?"


"Ini tempat untuk menonton film, film mana yang kamu inginkan?"


Marie: "Gadis dengan wajah jelek disana itu, kamu melihatnya kan, ada apa dengan dirinya?"


"Oh, film horor yah, kamu ingin mencoba nya?"


Marie: "Ya, ya, tunjukkan padaku."


Antrian yang berlalu beberapa menit, aku akhirnya mendapatkan posisi untuk memesan, jadi ku pesan saja enam tiket untuk menonton film horor ini. Empat tiket lainnya untuk mengosongkan tempat di sebelah kami. Kami akan berjarak dua kursi di kanan dan kiri dari penonton lain.


Total dua puluh studio yang sedang bermain, mereka yang duduk di sepanjang koridor bagian studio adalah orang-orang yang menunggu studio selanjutnya selesai.


Karena masih lima menit lagi, aku mengajaknya menuju tempat pembelian makanan khusus di tempat ini. Karena setelah memasuki gerbang kaca bertuliskan cinema, semua orang tidak bisa lagi membawa makanan dan minuman apapun itu yang berasal dari luar tempat ini.


Awalnya kami tidak di perbolehkan masuk, bahkan setelah memakai masker dan mematuhi protokol kesehatan nya sekalipun. Seluruh pusat perbelanjaan ini di jaga oleh petugas yang akan memeriksa setiap pintu utama di manapun itu.


Aku hanya berbalik sebentar dari pandangan petugas-petugas itu, lalu cukup berjalan saja melewati mereka semua tanpa terlihat. Semua orang tidak akan bisa melihat kami, dan itu adalah cara mudah untuk mengabaikan hal seperti ini.


Virus?


Penyakit?


Mereka pikir aku bisa terkena penyakit, haha, aku sudah bisa bertahan melawan apapun itu, penyakit, racun, virus, dan lainnya, bahkan kutukan sekalipun.


Di tempat ini, kami membeli beberapa popcorn ekstra besar, bahkan dia tidak tahu apa itu popcorn, makanan yang memang tidak pernah ada di dunia iblis. Sisanya adalah minuman, disini juga menyediakan cukup banyak minuman seperti soda, alkohol, atau seperti milkshake yang di buat ke dalam gelas plastik tertutup.


Bahkan setelah aku mengubah konsep uang dunia ini, semua orang menggunakan uang scarlet sekarang. Langkah selanjutnya, aku mungkin akan mengubah konsep uang di seluruh dunia parallel menjadi uang scarlet.


Kami menuggu sambil memakan sedikit makanan yang kami beli, aku menggunakan ponselku untuk mengambil foto Marie, walau setelan nya ku ubah tanpa blitz dan bunyi pengambilan gambar, namun dia melirik ke arahku ketika aku mengarahkan ponsel ini ke wajahnya.


Aku ketahuan mengambil gambarnya secara diam-diam, karena merasa aneh dengan perilaku ku, dia merampas lagi ponselku dari tanganku sambil melihat hasil foto nya ketika makan. Aku jadi merasa lucu ketika dia melihat foto nya dengan ekspresi makan yang sedikit rakus.


Marie: "Apa ini? Wajah ini konyol sekali!"


"Kurasa tidak juga~"


Marie: "Mengambil gambarku secara diam-diam itu adalah perilaku tidak sopan, tapi jika itu kamu, seharusnya kamu mengajariku balik tentang bagaimana mengambil gambar seperti ini!"


Dia mengeluarkan aplikasi foto dari ponselku, respon keluar ke beranda menunjukkan histori aplikasi yang baru saja di gunakan. Dia melihat hal semacam itu, membuka ponsel dan menemukan cara untuk mengambil gambar seperti yang kulakukan.


Tapi dia tidak tahu cara mengambil gambar nya adalah dengan menyentuh tombol bulat di bawah dengan ikon kamera di tengah nya. Walau dia berhasil melakukannya sekali, itu hanyalah asal tekan. Dia hanya menekan sembarangan hingga berhasil mengambil gambarku yang acak. Wajahku terlihat kabur karena guncangan yang tidak sedia untuk pengambilan posisi, di tambah lagi posisi gambar yang terlalu menghadap ke langit. Jadi aku benar-benar mengejeknya lagi.


"Aiden! Asal kamu tahu, jika saja segel ini tidak ada, aku sudah memakaikanmu kalung anjing dengan rantai yang terhubung bersamaku, aku mungkin sudah menyiksamu, kamu harus bersyukur bisa mengalahkanku sekarang!"


Karena ucapannya, ekspresi orang-orang di sekitar menjadi aneh dengan pembicaraan kami yang tidak akan masuk akal.


DING—DONG...


Perhatian, pintu teater delapan telah di buka, penonton yang telah memiliki karcis dipersilahkan memasuki ruangan teater. Mohon menjaga aturan dan ketetapan teater demi kenyamanan bersama, terima kasih.


Suara pemberitahuan nya terdengar ke setiap tempat ini terkecuali di dalam ruangan teater.


Setelah sebuah nada berbunyi beberapa detik, pemberitahuan bahwa bioskop 8 telah di buka, jadi kami tepat waktu untuk memasukinya setelah semua orang masuk lebih dulu, terlambat satu menit pun tidak masalah.


Film horor ini sebenarnya hanya memiliki adegan yang membuat orang lain takut, di dukung oleh suasana dan efek suaranya, bahkan penonton akan berteriak ketika mereka di kejutkan oleh kedatangan hantu secara tiba-tiba.


Tapi kenapa, aku begitu penakut dulunya, kini rasanya biasa saja. Tidak ada yang menyeramkan, tidak ada juga yang mengangetkan ku.


Marie sempat terkejut beberapa kali, hingga dia emosi dan mencoba berdiri dari kursinya. Dia bilang padaku bahwa jika dia menemukan setan atau iblis ini, dia akan membunuhnya karena membuatnya terkejut.


Tapi aku tersenyum, kukatakan padanya bahwa itu bukanlah iblis atau setan sungguhan, mereka hanyalah aktor yang memainkan perannya sebagai setan. Aslinya mereka adalah manusia, jadi Marie segera duduk kembali ke kursinya.