
Tertidur bersama perasaan yang kurang menyenangkan, Aiden terbangun kembali di atas kasurnya bersama hawa yang amat panas. Mengambil setidaknya satu buku untuk di jadikan kipas manual ke bagian tubuhnya yang terasa panas, namun hasilnya sama saja. Berpikir bahwa dia mungkin belum makan beberapa waktu ini, jadi dia memutuskan untuk turun ke lantai dua dan memeriksa kulkas.
Kulkas yang sangat amat dingin bahkan tidak ada rasanya ketika dia mendekatkan wajahnya ke dalam sana. Semua ruangan juga begitu gelap. Aiden memutuskan untuk mengambil setidaknya beberapa roti coklat keju dingin yang lembut, walau saat dia mencoba memakannya, rasa roti itu juga hilang bersama aroma nya. Membuat perasaannya semakin tidak enak dan berpikir bahwa ada penyakit yang mendatanginya.
Aiden meluangkan waktu di dapur untuk memasak setidaknya sebungkus mie di campur dengan 2 takaran sendok nasi. Setelah itu dia membuat kopi dingin untuk di bawa bersama makanannya di kamar. Saat dia mulai menuju tangga, sesuatu tiba-tiba membuat kepalanya berputar-putar. Bukan sakit kepala, dan bukan pusing, itu seperti konsentrasi nya hilang dalam sekejap.
Entah perasaan nya atau penglihatannya, namun pemandangan sedikit gelap dan tiba-tiba lampu di seluruh ruangan mati, terkecuali ada cahaya dari ruangan lainnya. Aiden memutuskan untuk meletakkan makanan dan minumannya di kamar terlebih dahulu dan melihat kembali ke lantai dua. Ibu nya mungkin saja belum tidur. Namun, ketika dia hampir sampai ke arah ruangan yang menyala, tepatnya ruang tengah, seluruh lampunya mati seketika dan gelap gulita.
"Ehh?!?!"
"Jangan bercanda, ibu, aku tahu kamu ingin mempermainkan ku lagi. Tcuih! Aku akan menemui mu ke sana dan mencabut bulu mata putih mu itu!!"
Saat Aiden berniat melangkah ke arah kegelapan untuk menyalakan lampu di ruangan hadapannya, tiba-tiba sebuah sosok dapat di rasakan dari balik kegelapan yang pekat. Merasa kurang jelas dengan perasaannya, Aiden mendekat lagi dan terkejut saat melihat dua kaki yang sedang berdiri di hadapannya, sosok itu juga memperlihatkan sedikit tubuhnya dari kegelapan. Terlihat seperti zirah besi, namun bagaikan sebuah patung.
Aiden mundur sedikit dari tempatnya berdiri untuk mewaspadai apa yang ada di balik kegelapan tersebut. Mengeluarkan ponselnya dari kantongnya dan menyalakan senter ponsel. Sosok tersebut terlihat dengan jelas saat cahaya mengenai seluruh bagian depannya. Sosok tersebut terlihat mengenakan pakaian formal dengan mantel hitam panjang, wajahnya hadir sebagai kepala kambing bermata merah yang sangat gelap.
Aiden yang terkejut segera lari naik ke lantai dua, berlari dengan kencang hingga membuka paksa pintu yang ada di hadapannya. Namun sebenarnya itu bukanlah kamarnya, ibu nya yang membukakan pintu untuknya tiba-tiba jatuh karena Aiden yang masuk dan mendorongnya tanpa sengaja. Kemudian dia berdiri lagi menyentuh pintu dan mengunci pintunya dengan erat sambil memasang posisi santai, namun sangat waspada.
"A-Aiden?? Apa yang kamu lakukan?"
Tanya ibu nya.
"Sesuatu, ada sesuatu di bawah. Manusia berkepala kambing yang matanya merah mencoba membunuhku". Jawabnya.
"Hah? Kamu pasti bercanda, itu hanya halusinasi mu saja, kamu kekurangan tidur, Aiden." Ucap ibu nya sambil memegang kedua tangannya.
"Tidak, aku tidak berhalusinasi, ada seorang psikopat yang mencoba membunuhku dan aku tidak akan keluar dari sini hingga matahari terbit".Ucap Aiden sambil menahan pintu dengan kursi dan menuju ke kasur.
"Ibu ... untukmu, kamu juga tidak boleh keluar dari kamar ini, bahkan selangkah pun dari sini dekatku". Ucap Aiden sambil bersandar di atas kasur yang empuk.
Aiden benar-benar merasa lelah dan tidak tahu harus berbuat apa, hal yang diinginkannya adalah beristirahat dengan normal seperti orang lain pada umunya. Dia benar-benar mengalami insomnia tanpa henti. Memasang earphone dan mendengar musik setiap malam, duduk di depan komputer sambil menghabiskan rokoknya batang demi batang.
"Ehh, ibu ... ngomong-ngomong kenapa kamu belum tidur?" Tanya Aiden.
"Bukan apa-apa, hanya merasa kesepian".
Jawab ibu nya sambil duduk di sampingnya.
"Kesepian? Ku pikir kamu memiliki banyak penggemar yang ingin berinteraksi dengan mu di sosial media".
"Tidak, aku tidak pernah berniat untuk berinteraksi ke dunia maya, aku hanya perlu menjalankan semua pekerjaan ku sebagai wanita yang di kontrak menjadi model dan mempromosikan fashion-fashion ternama itu". Jawab ibu nya.
"Maaf jika aku menjadi anak yang menyusahkan, ku harap aku bisa merubah kebiasaan ku menjadi seseorang yang lebih baik."
Kemudian ibu nya mendekati nya sambil memegang pipinya dan berkata "Hanya ada kamu dan aku, tidak perlu menutupi semuanya, ceritakan saja apa yang menjadi masalah mu pada ibu."
Aiden masih merenung dan tidak ingin menceritakan apapun hal buruk yang terjadi padanya.
Sihir itu.....
"Ada".
"Ehh? Apanya yang ada? Aku sudah menduga, kamu memiliki masalah yang tidak kamu ceritakan pada ibu."
Kata-kata itu terus terngiang-ngiang di kepalanya, dan berbicara sendiri tanpa sadar dengan kenyataan.
"Tidak, aku hanya menghayal sebentar."
Hmmm?
Ibu nya melihat wajahnya lebih dekat, namun tidak dengan Aiden. Saat dia mencoba melihat ke wajahnya ibu nya juga, itu adalah pandangan yang salah. Bulat dan besar, bukan bentuk bulat yang sempurna, maka itu menjadi sempurna dengan tipe kesukaannya.
Apa-apaan ini!
Di saat-saat seperti ini aku malah berpikiran yang tidak-tidak!
Ucap Aiden dalam hati melawan otak nya sendiri.
"Yah, kalau begitu, aku akan tidur lebih dulu, dan kamu bisa berjaga malam ini untuk menjaga ibu mu ini kan?"
Aiden: "........"
Di tengah malam yang hanya ada suara dedaunan dan angin, dia merenung kembali soal ucapan ibu nya. Pertanyaannya adalah, bagaimana jika kontrak ibu nya telah berhenti? Jawabannya adalah ... dia tidal tahu. Mungkin saja ibu nya akan kembali menjadi ibu nya yang tanpa pekerjaan dan tidak ada lagi yang membiayainya.
Memikirkan hal itu berulang-ulang, Aiden berniat untuk mencari pekerjaan yang setidaknya bisa menghasilkan uang untuk dirinya sendiri. Ketika hari esok tiba, dia akan melakukannya.
Sepulang dari sekolah, dia memiliki waktu istirahat dua jam sebelum kembali lagi ke sekolah untuk mata kuliah yang lainnya. Yang dilakukannya adalah mengeluarkan uang untuk menyewa taksi online dan mengantarnya ke cafe-cafe ternama atau mungkin restoran yang lumayan berkualitas.
Basa-basi di mulai olehnya dengan memberanikan diri bertanya pada setidaknya pekerja yang lainnya. Mencoba mendapatkan kontak admin selain admin promosi penjualan, seperti admin untuk pendaftaran pelamar pekerjaan.
Dari banyaknya tempat yang dia kunjungi, dia juga memberikan setiap data diri nya dengan lengkap. Berharap salah satu dari semua data dirinya ada yang di terima. Akhir-akhir ini dia bahkan pulang malam dari sekolah hanya untuk melamar pekerjaan. Sudah dua minggu berlalu, bahkan belum ada satupun respon yang masuk ke ponselnya. Dia benar-benar hampir menyerah atas takdirnya.
Berjalan di antara keramaian taman hiburan dan pusat perbelanjaan, Aiden naik ke lantai paling tinggi. Melihat seluruh pemandangan kota dengan gedung-gedung pencakar langit yang berkilauan. Mengeluarkan sebatang rokoknya dan menghisap penuh nikmat bersama sapuan angin lembut di wajahnya.
Setelah melihat-lihat pemandangan sebentar, dia duduk di sebuah kursi sambil menyalakan ponselnya, mengeluarkan earphone seperti biasanya dan menyendiri sebagai seseorang introvert yang menikmati hidup tanpa tahu arah hidupnya. Namun, sebuah wanita berambut pendek tiba-tiba datang dengan pakaian formal seperti seorang pekerja kantoran sambil memegang tote bag nya.
Dia bertanya "Bolehkah aku duduk di sini?"
Aiden kemudian menganggukkan kepala tanpa menjawab yang artinya dia mempersilahkan wanita itu duduk di meja yang sama dengannya. Namun dia merasa canggung dan berniat pergi untuk menyendiri lagi.