
Film nya begitu membosankan hingga membuatku tertidur pulas di kursi bioskop, bahkan Marie membangunkanku kembali ketika lampu ruangan bioskop telah di nyalakan kembali, dan para penonton telah berdiri satu-persatu dari kursinya menuju pintu keluar.
Pengunjung mall dan pusat perbelanjaan semuanya sudah tutup. Walau membosankan, tapi tidak apa-apa, aku penasaran apa yang di lakukan orang-orang di dunia iblis sekarang.
Apa yang di lakukan Wanda dan Eugene?
Apa yang di lakukan Valerie?
Apakah Eiji dan Leon berlatih sihir tanpaku?
Entahlah, kurasa setidaknya aku akan menikmati beberapa waktu untuk menyentuh kembali benda-benda dunia manusia yang ku rindukan. Lampu tempat ini sepertinya agak bermasalah, ini baru saja mati dan nyala dengan acak.
Tiba-tiba saja firasatku semakin terasa tidak enak, perasaan tidak menyenangkan ini sudah terasa sejak aku tertidur di dalam bioskop itu. Tempat ini besar, di kejauhan aku bisa mendengar sesuatu yang rusak dari lantai terdasar, terus menjalar dan menghancurkan sesuatu yang lain.
Bagian kami perlahan bergetar dan semakin cepat bunyinya naik ke arah sini, seseorang mencoba meruntuhkan seluruh gedung ini. Aku langsung berpindah dalam sekejap bersama Marie ke luar gedung itu. Menjaga jarak dua ratus meter lebih dari area ini.
Marie: "Apa yang terjadi?"
"Seseorang dengan hal buruk yang di rencanakannya mencoba meruntuhkan gedung ini."
Kami baru saja berbicara ketika sampai, namun gedung itu langsung runtuh seketika dalam hitungan detik. Pusat perbelanjaan besar entah apapun yang ada di sana, ini mall seluas 842.000 m². Cafetaria, toko buku, dan semuanya di bangunan lima lantai ini runtuh dan hancur dengan cepat.
Seluruh tiang-tiang dan kolom bangunan sekokoh itu terlihat patah ke bawah hanya seperti sebuah astor yang di patahkan karena beban berlebihan. Area ini langsung rata dengan tanah, tumpukan hancur di atas nya yang menghasilkan asap yang begitu tebal.
Beberapa orang kupikir selamat dan berhasil keluar dari runtuhan bangunan besar ini, seharusnya seorang manusia biasa mustahil selamat tertimpa runtuhan masif seperti ini. Terlihat beberapa sosok keluar berjalan perlahan dari balik abu yang tebal.
Kupikir mereka adalah orang-orang yang selamat, namun nyatanya bukan. Dari rasanya saja, mereka semua memiliki aura yang cukup kuat tertanam di dalam diri mereka.
Marie: "Mereka adalah iblis."
"Begitu kah?"
Marie: "Ya, aku jelas mengetahui sifat dan keberadaan iblis entah dimanapun itu. Iblis tidak akan pernah bisa bersembunyi dari ku."
Ada sebelas orang berdiri di sana menatapku, sementara yang satunya datang dari belakang membela abu dan udara. Seluruh abu tebal yang beterbangan menutupi reruntuhan segera di hisap dan di hilangkan ke dalam tangannya.
"Aiden Leonore ya?"
"Ya, benar sekali. Apa yang di butuhkan seorang iblis dengan mencoba mengacaukan malamku yang tenang?"
"Aku sudah mendengar banyak hal tentangmu, Aiden. Kami sudah lama mempelajari tentang dirimu dan orang yang ada disana itu, kebetulan ini lah momen terbaik untuk membunuh ratu iblis dan mengambil alih tahta untuk pemimpin kami." Ucapnya dengan menyilangkan tangannya dengan senyum lebar yang bangga,
"Kenapa iblis rendahan sepertimu begitu percaya diri untuk membunuhku? Sadarilah posisi kalian semua untuk berdiri di hadapanku."
"Oo–hahaha! Setelah Anda tidak memiliki kekuatan seperti itu, Anda masih saja bersifat sombong seolah-olah Anda adalah penguasa seluruh dunia."
"Kupikir kamu tidak pantas untuk berbicara seperti itu, aku lah yang menyegelnya. Jika tidak, mungkin kalian sudah lenyap daritadi tanpa satupun abu kalian yang tersisa."
Dia maju sedikit demi sedikit, mendekatkan jarak antara kami.
"Oh, Aiden. Aku tahu kamu luar biasa, mendapatkan kesempatan mendekati ratu iblis hingga mampu menyegel kekuatannya. Kamu bahkan membunuh Dyland, aku mengakui mu, itu luar biasa dan kamu cukup licik, namun ... kita bisa bersekutu dan mencapai keabadian tertinggi selain kekuatan dari alam iblis. Tujuan kami disini hanyalah satu, membunuh dan mengambil semua kekuatan ratu iblis yang kau segel."
"Aku menolak."
Yang satunya segera mengeluarkan pedang hitam dari dalam kehampaan dan maju secepat kilat ke arahku untuk memberi tebasan. Satu tebasan secepat kilat hancur bersama tangannya menjadi abu ketika dia memaksa melaju mendekatiku dan terbakar karena menabrak paksa dinding inferno.
"Apa!?!?" Ucap orang ini dengan terkejut.
Dia langsung mundur kembali dengan cepat pada kumpulannya, mencoba memulihkan tangannya perlahan. Jika saja dia meneruskan untuk menyerang ku, mungkin setengah tubuhnya akan menjadi debu.
"Kamu ... kenapa mundur secepat itu?"
Apa kamu takut?
Apa kamu terlalu lemah untuk menebas ku?
Kamu bahkan terlalu pelan untuk mengayunkan pedang ke arahku.
Dan satu lagi...
"...Jangan berpikir bahwa tangan mu akan tumbuh kembali, kamu sudah kehilangan tanganmu selamanya, tidak akan ada regenerasi atau penyembuhan yang bisa menumbuhkan tanganmu kembali, hahahaha!"
"Tidak mungkin!! Kenapa bisa?!" Ucapnya dengan gelagapan.
Seseorang yang masih menyilangkan tangannya di sana masih terus memandang ku seperti meremehkan. Dia mengatakan lagi, bahwa aku tidak perlu percaya diri seperti ini. Temannya saja sudah cukup untuk menghabisi ku, begitulah ucapnya.
Aku bisa mengetahui nama dan identitas mereka semua hanya dengan memandang nya saja. Yang menawarkan ku untuk menjadi sekutunya, sekaligus tersenyum lebar sejak tadi. Namanya adalah Aamon.
Yang menyerang tiba-tiba namun gagal dan berakhir dengan kehilangan tangannya adalah Migare, dia bahkan masih tetap mengarahkan pedang ke arahku dengan tangan kiri nya yang tersisa.
Yang lain, aku tidak terlalu peduli dengan mereka selama mereka belum bergerak untuk menyerangku.
Dia bahkan berhasil memulihkan rasa sakitnya walau telah kehilangan tangan kanan nya. Dia menggores tanah dan berguncang hingga ke langit, menciptakan garis yang terlihat pada cakrawala. Aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan, mungkin semacam metode untuk meningkatkan sihirnya atau apalah itu, tapi aku terus berdiri disini dengan kedua tanganku dalam saku celana ku. Berharap sesuatu yang menarik akan di tunjukkan.
"Bagaimana jika kita berduel? Bawahan ratu iblis?"
Setelah semua selesai dengan sekali goresan ke arah langit, dia kembali mengarahkan mata pedang nya ke arahku, dan mengajak ku untuk berduel.
"Setelah kehilangan tanganmu sekonyol itu kamu bahkan masih cukup berani untuk mengangkat mata pedang mu ke arahku."
Aku mulai bertanya soal ketentuan dan konsekuensi untuk seseorang yang kalah di antara kami. Hasilnya di tentukan olehnya begitu saja, jika aku kalah, aku akan membiarkan mereka membunuh Marie. Dan jika aku menang dalam duel ini ... tidak ada keuntungan jika aku menang sekalipun, jika dia kalah, mereka semua akan segera maju untuk tetap menghabisi ku dan membunuh Marie yang tidak bisa melakukan apa-apa.
Namun aku sudah berjanji untuk melindunginya dalam keadaan tersegel seperti itu.
Migare: "Maju lah, aku akan membiarkanmu menggunakan apapun itu, pedang ku saja sudah cukup."
"Justru itu kebalikannya."
Dalam sekejap aku memunculkan pedang raven di tanganku. Melaju ke arah penantang, tebasan pedang demi pedang yang berkilau menghiasi pertarungan.