Reborn As A Tyrannical Demon Lord

Reborn As A Tyrannical Demon Lord
Chapter 178: Suicide News



"Ingatlah Leonore, ingatlah bahwa kita tidak pernah bertemu sebelumnya."


Aiden kemudian terbangun dari tidurnya dan melihat kesana-sini seperti orang gelisah. Tidak ada siapa-siapa di sekitarnya, jadi dia memutuskan untuk mandi dan menyegarkan pikirannya. Setelah semuanya selesai, Razel kebetulan masuk ke kamar sambil menggendong anaknya yang telah tertidur. Dia meletakkan kembali anak itu di ranjang kecilnya dan melirik Aiden.


"Kamu sudah bangun? Bermimpi buruk lagi?" Tanya Razel.


"Kenapa wajahmu seperti itu?"


"Sebenarnya aku butuh sedikit penjelasanmu, Aiden."


"Penjelasan untuk apa?"


"Penjelasan tentang mobil yang ada di halaman depan. Darimana kamu mendapatkannya? Jangan bertingkah macam-macam, Aiden."


"Aku tidak peduli soal itu. Lupakan saja"


"Aiden! Tung—"


Aiden mengabaikan Razel dan keluar dari kamar begitu saja, Razel hanya ingin tahu, jadi dia mengejarnya hingga ke ujung tangga.


"Aiden! Akhh!!!!"


Saat hendak menabrak Aiden, kaki nya tergelincir dan hampir terjatuh dari tangga lagi. Tapi Aiden masih sempat menangkap tangannya dan melontarkan kalimat dengan nada yang sedikit tinggi.


"Apa yang kamu lakukan?!? Berhati-hati lah."


Razel tidak menjawab, tapi jantung nya berdebar kencang ketika dia hampir terjatuh dari tangga yang sama.


"Razel ... dimana ibu ku??"


"Ibu? Ku rasa ibu keluar sejak jam 7 pagi tadi, katanya dia ingin mengunjungi ibuku di rumah." Jawab Razel.


"Sejak kapan ibu ku menjadi ibu mu?"


"Bukankah itu yang seharusnya? Kita ini sepasang suami istri."


"Haruskah begitu?? Sejak kapan kamu mulai mendekatinya?"


"Kurasa aku selalu mencoba mendekatinya, aku ingin tahu tentang nya lebih banyak."


"Jadi begitu, kalau begitu menyingkirlah, aku ingin makan sekarang."


Aiden yang menuju ruangan tengah kemudian tidak melihat satu pun piring makanan di atasnya. Jadi dia hanya tetap duduk di sofa dan menyalakan acara televisi. Sementara itu, Razel bertingkah aneh dengan berjalan kesana kemari tanpa alasan jelas sambil meliriknya.


"Bisakah kamu berhenti melirikku? Kamu bahkan hanya keluar masuk dapur tanpa mengambil apapun. Ku pikir seorang istri yang baik akan memasak untuk suami nya setiap hari."


"B-bukan begitu, aku ... aku akan memasak untuk mu."


"Ya, ya, begitulah harusnya."


Aiden kemudian melontarkan kata-kata kasar dalam hatinya, wanita ini benar-benar tidak dapat di andalkan, bodoh, dan tidak menyenangkan. Dia kesal karena harus lepas kendali dan menikahi wanita ini.


Di saluran berita yang terus dia ganti, tiba-tiba Aiden melihat sesuatu yang menarik perhatiannya sehingga dia harus berhenti untuk menekan tombol dan mengganti acara TV. Saluran berita Rebecca lagi-lagi menyiarkan berita kematian, tapi kali ini bukanlah kasus pembunuhan, melainkan kasus yang di yakini sebagai kasus bunuh diri dari seorang pegawai dealer mobil.


Dua petugas kebersihan pada pagi dini hari menemukan bahwa salah satu pegawai yang merupakan asisten manajer delaer tewas di dalam kamar mandi dengan mulur berbusa dan beberapa obat-obatan di tangannya. Mereka tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi, maka kejadian kali ini di nyatakan sebagai kasus bunuh diri, sementara ada banyak isu dari beberapa pegawai yang mencurigai bahwa itu bukanlah kasus bunuh diri.


Karena inisial H atau pegawai yang mereka kenal merupakan pegawai yang ceria dengan kinerja kerja yang baik. Dia terlalu bersemangat mengurus tugasnya, jual-beli dan sebagainya, berkas-berkas di mejanya selalu menumpuk, gaji nya juga cukup untuk posisi sebagai asisten direktur, jadi beberapa pegawai bersikeras bahwa seseorang dari tempat kerja mereka pasti membunuhnya karena alasan iri pada kedekatan inisal H dengan direktur, terutama dengan kinerja kerja nya yang terlalu memuaskan.


Tidak hanya itu, petugas keamanan yang melakukan sif malam juga di nyatakan hilang. Tidak di temukan adanya kabar hingga saat ini. Dan masalah terakhirnya, ada total seratus dua belas unit mobil yang ada di gedung C, gedung itu merupakan tempat persinggahan mobil-mobil yang baru saja di kirim dari pabrik pusat, namun di kabarkan tersisa seratus sebelas unit dengan menghilangnya satu unit mobil.


Di dalam siaran tersebut, salah satu pegawai yang di tanya oleh beberapa wartawan terlihat kesal mengenai masalah ini, dia dengan lantang menyatakan bahwa kasus ini pasti merupakan pembunuhan berencana. Di sana, dia mengatakan bahwa dia berharap pihak kepolisian dapat membongkar kasus ini dan memenjarakan pelaku ke dalam sel.


Aiden yang melihat berita ini kemudian tersenyum aneh secara tiba-tiba.


Ahhahahahahaa....


Ahh, pria itu lucu se. Ahahahahaha!!!


Oh! Lucu, begitu lucu hahahahaha, kurasa aku akan menghajar wajah nya ... AHAHAHAHAHAHA.....


"Aiden?! Jangan bilang bahwa itu ulah mu lagi??" Tanya Razel dari depan kompor nya.


"Jika ya, memangnya kenapa?"


"Kamu itu benar-benar gila!! Ku harap ini semua segera selesai ketika jiwa yang kita butuhkan terkumpul dalam cincin itu."


"Masa bodoh dengan ucapanmu, aku juga melakukan ini untukmu, dan asal kamu tahu, aku telah memiliki pekerjaan baru yang lebih menarik."


"Kamu tahu sesuatu?? Aku telah kehilangan banyak uang hanya untuk membayar mu mengumpulkan jiwa-jiwa itu ke dalam cincin. Dan aku cukup muak dengan semua berita pembunuhannya. Orang-orang itu benar-benar menyedihkan, tidak bisakah kamu membunuh mereka dengan cara yang lebih tenang?"


"Itu hanya tergantung suasana hatiku saja, jadi aku bebas memutuskan seperti apa hidup mereka berakhir."


"Ingat satu hal Aiden, kita mungkin bisa terus memalsukan identitas di depan publik dan melarikan diri dari polisi, tapi penyihir-penyihir itu tidak, jadi jangan bertindak ceroboh suatu saat nanti."


"Ya, ya, nona, akan ku lakukan."


Aiden pergi ke mobil untuk mengambil sebuah koper hitam dan kembali masuk lalu menunjukannya pada Razel, aroma steak yang begitu harum benar-benar membuat lidah dan perut mengamuk untuk mencicipinya, jadi, Aiden cukup senang ketika Razel menuruti perintahnya untuk memasak.


"Apa ini??" Tanya Razel sambil memandang koper hitam kecil di hadapannya.


Aiden kemudian membuka kopernya dan memperlihatkan semua tumpukan uang scarlet yang begitu rapih dan aroma yang begitu khas.


"Lima juta scarlet."


Razel tercengang memandang koper hitam itu, mencoba bertanya darimana Aiden mendapatkannya, apakah itu  tindak kriminal nya lagi?


"Bagaimana? Lima juta scarlet apakah cukup untuk membeli perhiasan keinginan mu? Atau beberapa make up, perawatan kulit, parfum kesukaanmu?"


"Umm, serius? Ini untukku?" Ucap Razel dengan perasaan gembira yang membuat jantung nya seolah-olah akan meledak.


Aiden menutup kembali koper itu dan melirik matanya.


"Hanya jika kamu menuruti tugas sebagai istri yang baik."


Razel kemudian dengan cepat mendekati Aiden di sofa, dan menyentuh dengan tangan halus nya seperti hal biasanya yang dia lakukan ketika menggoda Aiden.


"Ya, suami ku, aku akan menurut, aku akan menjadi istri yang baik dan memasak makanan lezat setiap hari untuk mu."


"Begitu? Baiklah, aku terima, mungkin aku juga akan memberimu hadiah lain."


"Benarkah? Hadiah seperti apa??" Razel menjadi terlalu bersemangat.


Aiden kemudian mendekat ke telinga Razel untuk berbisik, kemudian dia mengatakan "Hadiah untuk mu agar Mira memiliki seorang adik."


"Eh ... eeh, aku akan memikirkan hadiah itu nanti saja."


Mendengar bisikan itu, Razel segera menjauh dari Aiden dan wajahnya memerah.


"Kalau begitu, ambil saja koper ini, dan periksa apakah anakmu tidak menangis di atas sana."


"Eh, haha, ya benar, terima kasih sayang ku, aku sangat mencintai mu." Ucap Razel sambil meninggalkan Aiden pergi.


"Ahhh, ucapan-ucapan seperti itulah yang ingin ku dengarkan setiap hari." Ucap Aiden dalam hatinya sambil tertawa kecil. Dia akan segera bersenang-senang dengan rencana selanjutnya dan menerima bayaran terakhir yang lebih besar dari nona Erine ketika misi mereka telah selesai. Itulah perjanjiannya.