
"TADAAAAA!!!"
"Hipnotis yang mengagumkan bukan?" ucap Aiden sambil tersenyum tidak jelas sambil menunjukkan roh-roh jahat yang melayang di sekitar cincinnya, dia juga menunjukkan cincin itu pada semua perundung yang pernah bersekolah dengannya.
Namun, hal-hal seperti ini tak terduga, mereka semua diam membisu tanpa respon sambil bertanya di kepala mereka, bagaimana bisa anak ini kembali menemui mereka dengan keadaannya yang mengendalikan sesuatu tak terduga.
"Lho? Tidak ada yang merasa senang bertemu kembali denganku? Ayo ... tersenyum dan tertawa lah seperti dulu, ketika kalian menghajar ku tanpa alasan!"
Anak ini penyihir, mereka mengucapkan seperti itu di dalam hati mereka dengan keadaan yang gemetar. Roh-roh jahat di sekitar Aiden menciptakan suasana menakutkan yang mampu mempengaruhi mental seseorang, rasa takut terus menyelimuti mereka.
Gio, seorang pemuda yang paling sering melakukan perundungan fisik padanya kemudian merasa keberatan dengan hipnotis seperti itu. Dia masih mampu melawan rasa takutnya, sambil berteriak dan marah, dia melangkah cepat pada Aiden untuk segera melayangkan pukulan, tubuh yang lumayan kekar membuat dirinya selalu percaya diri bahwa dia akan selalu menang dalam bertarung.
"Bajingan! Bocah sepertimu mau apalagi?!" ucap Gio.
Gio segera menyentuh kerah Aiden, kemudian mendorong dan memukul wajahnya hingga terhempas dan hampir terjatuh di antara genangan air. Gudang kosong di bagian selatan kota ini benar-benar tak terpakai, sebenarnya, ini adalah area pabrik yang telah lama tak di gunakan.
Bagi Gio, menghajar Aiden hingga pingsan dan sekarat di tempat seperti ini adalah hal yang tepat. Pukulan itu masuk ke wajah Aiden, meninggalkan rasa yang lumayan sakit. Sambil membalas pukulan itu, Aiden kemudian berhasil membuat Gio merasa kesakitan, bahkan tubuh kekar pemuda seperti ini mampu terkena dampak dari seseorang yang bahkan tidak pernah berolahraga.
Aiden tidak memiliki tubuh besar, kekar, berotot, dan sebagainya, namun kekuatan fisiknya lumayan berbeda jauh dari yang terlihat. Pukulan itu juga memberikan luka lecet kecil di wajah Gio. Melihat Gio yang di pukul mundur seperti itu, Karen dan yang lain juga tidak bisa tinggal diam begitu saja.
Mereka segera berlari menuju Aiden secara bersamaan, melayangkan tinju dan tendangan keras yang membuat Aiden terjatuh dan babak belur. Beberapa di antara mereka kemudian mengambil alat perkakas gudang yang berkarat, ada juga yang mengambil sebuah kursi besi kecil kemudian menghantamnya di kepala Aiden hingga berdarah.
"Ayo berengsek! Ke mana wajah pecundang mu itu?!?!" ucap Karel sambil terus menendang perut Aiden. Aiden bahkan tidak bisa berdiri dalam posisi terpojok seperti itu, menerima pukulan dari delapan orang secara bersamaan. Rambutnya juga di tarik kemudian di hajar terus-menerus.
Saat memiliki kesempatan kecil, dia mencoba untuk berdiri dan melayangkan tendangan balasan untuk menjauhkan salah satu dari mereka. Tangannya juga di tarik, mereka mencoba mematahkan lengannya, namun saat Aiden berhasil keluar dari posisi terpojok seperti itu, Gio melempar tabung gas kosong yang ada di dekatnya.
Aiden kembali terjatuh di bibir pintu gudang tersebut, kakinya sudah mati rasa, bagian kiri kepalanya terus mengalir darah. Baju nya begitu acak-acakan, begitu juga dengan rambutnya. Keringat mengalir menyatu dengan darah di pipinya. Dia masih ingin membalas, dan tetap bersikeras untuk tidak lari dari semua ini.
Aiden masih tetap menahan tenaganya untuk mengeluarkan setan-setan dari cincinnya, karena untuk saat ini, dia sengaja menguji dirinya sendiri, seperti apa rasanya di hajar oleh delapan orang sekaligus, bahkan menggunakan benda-benda tajam. Tapi dia masih mampu berdiri untuk mempertahankan posisinya dan melawan balik.
Karel kembali mengejar Aiden sambil menarik tangannya dan mendorongnya ke pintu gudang, Aiden yang terhempas menuju posisi terpojok lagi, seseorang juga menghantam botol kaca dua kali di kepalanya. Darah bercucuran semakin banyak.
"Aghhh!!!" Aiden dengan emosi yang mulai memuncak kembali mengabaikan Gio dan lainnya, besi-besi di sekitarnya kemudian di lempar ke arah Karel hingga terbentur ke pelipis wajahnya, bagian bawah mata Karel juga berdarah akibat tongkat besi yang di lemparkan padanya. Walau tangan dan kakinya yang lain juga di tarik, Aiden tetap menggerakkan kakinya yang bebas menuju bagian tulang kering Karel.
"Bodoh!! Pukulan mu itu bahkan tidak ada apa-apanya untukku!!" ucap Aiden pada Karel.
"Tutup mulutmu bocah!!" ucap Gio sambil menendang punggung Aiden hingga tersungkur di dekat Karel.
Tidak hanya itu, Aiden juga membalas untuk meninggalkan tapak sepatunya di wajah bajingan ini. Dia menendang balik ke wajah hingga Gio terjatuh dan menabrak dua orang temannya. Karel yang baru saja berdiri kembali kemudian menerima tendangan keras Aiden di wajahnya. Tendangan kuat itu membuatnya segera pingsan.
Kini tersisa Gio dan enam orang lainnya. Bagi Aiden, pukulan tak tentu arah seperti mereka masih memungkinkan untuk di hindari dan memberi serangan balas. Walau pukulan Gio cukup keras, Aiden berhasil menumbangkan nya, sisanya tidak menjadi masalah karena mereka cukup mudah di tangani.
Sedikit kekuatan setan dari dalam cincin itu di keluarkan, menghasilkan tiga tangan hitam yang mencakar beberapa orang lainnya untuk menjauhkan Aiden dari mereka, ketika posisinya terbalik, Aiden akan memberi serangan balasan pada mereka semua. Bahkan dia tidak ragu untuk mengambil linggis yang di gantung di tembok gudang ini. dan memukul kepala mereka berkali-kali hingga bocor.
Aiden mampu bertarung melawan enam orang sekaligus dengan gerakannya yang cukup cepat, tangan-tangan setan itu juga membawakan setiap benda tajam untuknya. Tiga orang tewas lebih dulu setelah Aiden menghantam kepala mereka dengan linggis, serangan keras itu rata-rata memberikan tujuh belas kali hantaman pada setiap orang di kepala dan wajah.
Salah satunya di pukul hingga kepalanya hancur setengah dan menumpahkan begitu banyak darah, tidak hanya menggunakan linggis, beberapa orang lainnya mengalami luka yang begitu besar ketika Aiden menebas bagian perut dan leher mereka menggunakan sabit berkarat, bilah sabit itu benar-benar menembus kulit mereka dengan setiap sayatan menghasilkan luka sedalam ukuran panjang jempol.
Yang lainnya kemudian di habisi dengan cara yang lebih kejam, Aiden menarik salah satu dari mereka kemudian membenturkan kepalanya di kontainer hingga wajahnya membekas begitu dalam di baja kusam itu. Seseorang yang masih berdiri untuk menyerang akan di hajar habis-habisan. Bersamaan dengan sifat gilanya, Aiden akan menghabiskan semua botol bir yang berjejer di ujung gudang dengan melempar semuanya ke arah mereka.
Ada yang terjatuh karena mencoba untuk menghindar, namun sayang sekali wajahnya mendarat lebih dulu bersama mata terbuka. Pecahan besar dari beling-beling botol kaca itu menusuk matanya. Aiden tidak berhenti dengan yang satu ini, setelah terjatuh dengan beling yang menusuk mata hingga buta, Aiden melanjutkan penderitaan remaja ini dengan menendang kepalanya hingga tulang lehernya berbunyi dan patah.
Ada satu lagi yang tersisa, Aiden mengingat namanya ... Finn, teman dari Gio dan Karel yang pernah meludahi jaket kesayangan Aiden. Dia bersusah payah untuk menabung jaket dengan harga yang lumayan tinggi, namun remaja-remaja kurang ajar seperti ini malah menodainya dengan penuh penghinaan.
"Aku masih ingat ludah yang pernah kamu lontarkan pada jaket favoritku"-ucap Aiden saat mengunci leher Finn hingga tak bisa bernafas, kemudian dia melepaskan Finn dan menarik kerah bajunya-"ini adalah balasan untuk waktu itu." ucap Aiden sambil meludahi wajah Finn dan memberi satu hantaman keras di wajah kanannya.
"Agh!!!" Finn berteriak saat terjatuh dengan sensasi yang benar-benar menyakitkan.
Aiden masih belum berhenti, dia kembali meraih linggisnya begitu cepat dan memukul kepala Finn sebanyak tiga puluh kali hingga dia tewas bersama darah segar yang mengalir di lantai beton. Melihat Finn yang di perlakukan kejam seperti itu, Gio masih mampu untuk berdiri, namun tubuh kokohnya sudah lumayan pincang.
Gio: "Kamu!! Sialan!! Kamu pikir aku akan kalah?!?!"
Gio mencoba berlari ke arah Aiden dengan sabit berkarat penuh darah yang di pakai Aiden sebelumnya. Tapi Aiden bergegas cepat untuk mundur dan menarik semua meja-meja besi yang menumpuk di belakangnya. Satu meja besar di dorong untuk menghambat pergerakan Gio, sementara meja kecil lainnya di angkat dan di lempar ke arah Gio.
Tubuh Gio mulai kelelahan untuk menahan benda-benda besar yang di lempar Aiden, lengan nya meninggalkan begitu banyak goresan, kemudian pergelangan tangan dan jari-jarinya terkelupas cukup besar dengan darah yang tak henti-hentinya. Saat Gio mencoba manahan rasa perih di seluruh bagian tubuhnya, Aiden kembali menerjangnya dengan tendangan di perut dan satu pukulan di dagu.
"Ini yang terakhir, dan yang paling spesial untukmu." Ucap Aiden sambil mengeluarkan pistol dari dalam kantong celananya, dia juga menarik pelatuk pistol itu ke dahi Gio hingga peluru melesat cepat untuk meledakkan inti otaknya. Peluru ini adalah peluru terakhir untuk orang yang sebenarnya ingin dia bunuh dalam pembunuhan pertamanya.
Dari dahi dan kepala bagian belakang Gio mengeluarkan begitu banyak darah, semuanya telah mati mengenaskan. Pada akhirnya dia tidak memanfaatkan setan-setan dari cincinnya untuk bertahan terlalu lama. Melainkan menggunakannya kembali di saat semuanya telah berakhir.
Namun sebenarnya tidak, Masih ada satu orang yang berdiri kembali bersama nafas yang tergesa-gesa, rambut acak-acakan dan kakinya gemetaran hebat saat berjalan terhuyung-huyung menuju Aiden sambil membawa sebuah besi patah yang memiliki ujung runcing mematikan.