
Walau begitu, Aiden adalah manusia yang tak biasa, mana dalam tubuhnya yang bisa habis mampu beregenerasi dengan cepat, ketika mana itu terus menerus meningkat, maka peningkatan selanjutnya akan menjadi lebih drastis.
Maka dari itu dia menjadi seseorang yang tak mudah kelelahan, memiliki hal semacam itu, dia bahkan baru bisa menyadari kekuatan fisiknya sekarang. Terlewat dari hal-hal yang di lakukan Razel bersamanya, Aiden kembali menjalani harinya dengan normal sebagai mahasiswa dan melanjutkan dirinya yang lain sebagai pembunuh di malam hari.
Setelah hal yang mereka lakukan, Aiden merasa bahwa dia lupa dengan apa yang telah dia perbuat, yang di ingat nya hanyalah berada di kamar Razel dan terbangun kembali beberapa kali tanpa sadar.
Hal itu terus terlintas di dalam pikirannya, tentang apa yang sebenarnya dia lakukan saat itu hingga menjadi kelelahan dan jatuh pingsan. Berpikir seperti itu sambil menciptakan secangkir kopi yang hampir sempurna berkat ajaran Dareen. Dia melanjutkan dirinya sebagai pekerja bar kopi di malam hari sekaligus pembunuh berantai yang misterius.
Dia belum menerima kabar dari Razel selama lima hari, jadi dia tidak akan peduli dengan itu. Selagi dia bisa, sebuah pistol di balik bajunya akan membunuh setiap kepala yang ada di depannya. Razel mengajarkannya sebuah mantra untuk mengubah baju secara instan, malam hari menjelang jam 2 malam, perkotaan sudah sangat sepi.
Di tengah perkotaan, beberapa orang biasanya masih melintas namun dengan kecepatan tinggi. Membunuh secara langsung mungkin membosankan kali ini.
Bagaimana dengan trik sulap?
Ya ... aku tidak bisa melakukan satupun trik sulap.
Dia berpikir sambil terus berjalan di atas trotoar dan di bawah lampu jalanan yang menyala dengan sinar kekuningan.
Dari arah yang berlawanan, seorang pria kantoran dengan tas kotak kecil di tangannya berjalan dengan langkah yang sedikit cepat sambil mengarahkan pandangan ketakutan padanya.
Aiden melewatinya dalam sekejap, kemudian berhenti dan mengucapkan kata "Bisa berhenti sebentar, tuan?"
Kalimat nya membuat pria itu berhenti berjalan dan membalikkan pandangan nya pada Aiden.
"Siapa ...? Aku?" Ucapnya.
"Ya, kamu."
Aiden mengatakan bahwa pria itu terlalu terburu-buru, dan jawaban dari pria itu adalah bahwa dia sengaja mempercepat gerakannya untuk segera pulang ke rumah sebelum polisi malam datang menegur dan memberi denda untuknya karena melanggar aturan baru yang dimana warga sipil tidak boleh berkeliaran di tengah malam.
Aiden menawarkan padanya untuk menyaksikan trik sulap sebentar saja, pria itu sebenarnya ingin menolak, tapi nampaknya, pria ini adalah seseorang dengan sifat tidak enakan dan enggan untuk mengabaikan seseorang yang memberi penawaran. Maka, pria itu diam sejenak sambil menyaksikan.
"Tuan, ada berapa kartu di tanganku?" Tanya Aiden sambil mengenakan topeng putih dengan senyum aneh yang agak memberi kesan menakutkan.
"Emmmmm, tiga?"
"Tepat sekali, dan ada berapa lembar uang cash yang Anda miliki sekarang?" Ucapnya masih dengan posisi kartu yang di perlihatkan pada pria itu dengan jelas.
"Pria itu kemudian melihat isi dompetnya yang ternyata benar-benar berisi tiga lembar uang kertas dan mulai meyakini pesulap aneh yang tiba-tiba hadir di depannya."
Aiden bilang bahwa dia mampu menukar tiga uang kertas itu dengan tiga kartu yang sekarang berada di tangannya. Posisi tangannya yang menunjukkan tiga lembar kartu bahkan belum bergerak. Mengatakan agar pria itu tetap memfokuskan matanya pada jarinya.
"Aku ingin kamu menutup dompet mu tanpa melihatnya, dan tetaplah saksikan kartu di tanganku saat aku melipatnya, dan ingat, aku hanya akan melipat jari ku satu kali dalam satu detik, jadi tolong perhatikan."
Beberapa saat kemudian, Aiden mulai melipat semua kartu ke dalam genggamannya dan membukanya kembali dalam sekejap mata hingga tiga buah kartu tersebut benar-benar bertukar menjadi tiga lembar uang kertas seperti yang di miliki oleh pria itu.
"Kamu melihatnya? Sekarang aku ingin kamu membuka kembali dompet mu untuk melihat isinya." Ucap Aiden.
Saat Pria itu membuka kembali dompetnya, dia benar-benar terkejut karena isinya yang berubah menjadi tiga buah kartu dengan gambaran yang sama seperti kartu yang di pegang Aiden pada awalnya.
"Benar, kamu benar sobat, bagaimana kamu melakukannya?" Tanya pria itu dengan senyum karena terhibur.
Aiden berbalik lagi dengan santai setelah menukar kartu dengan uang yang nyata, namun pria itu jelas tidak bisa menerima soal uangnya yang di tukar begitu saja dengan alasan menunjukkan trik sulap, lalu pergi meninggalkannya tanpa mengembalikan satu lembar pun uang tersebut.
"Sobat, kamu mau kemana? Bukankah uang itu milikku? Seharusnya kamu mengembalikannya padaku sebelum kamu pergi begitu saja." Ucapnya masih dengan ekspresi yang agak normal.
"Maaf, karena uang ini telah di tanganku, maka semuanya sekarang menjadi milikku, simpan saja semua kartu itu dan ceritakan pada kelurga mu saat kamu pulang menemui seorang pesulap handal di jalanan malam."
Jawab Aiden dengan santai tanpa menghentikan satu langkah pun.
"Tunggu! Apa?!?! Jadi ini adalah ... ini adalah pencurian berkedok teknik sulap? Kembalikan uang ku sekarang, atau aku akan menghajar mu hingga kepala mu mengalami geger otak."
"Tuan, apakah kamu sedang bercanda? Aku ingin mengembalikannya padamu, jika–"
Pria itu kemudian bertanya lagi "Jika apa?"
"Jika kamu mau menerima ajakan ku untuk berjudi, tenang saja, ini hanya judi yang sangat simpel."
Aiden kemudian mengeluarkan sebuah pistol dengan merk Colt Python, desain pistol ini sebenarnya sangat menarik minatnya, dan aturannya adalah, pria itu harus menebak berapa jumlah peluru yang ada di dalam nya. Jika dia berhasil menebak dengan benar dan memenangkan judi ini, maka dia bisa pulang dan membawa kembali semua uangnya sekaligus kartu milik Aiden.
Namun jika dia salah menebak dan kalah, Aiden akan tetap melangkah untuk pergi dengan status bahwa tiga lembar uang ini kini menjadi miliknya. Pria itu dengan bodohnya menerima tantangan Aiden walau dia benar-benar memiliki keraguan tentang berapa banyak jumlah peluru di dalam pistol tersebut.
"Kesempatan Anda menjawab hanya satu kali, jadi jangan menyia-nyiakannya." Ucap Aiden sambil memegang pistol dari barrel nya.
Awalnya pria itu ragu untuk menjawab bahwa total peluru di dalam pistol itu ada empat peluru, namun pada akhirnya dia dengan cukup yakin menjawab bahwa isi peluru dari pistol itu hanya ada satu peluru. Namun Aiden tersenyum di balik topeng dan mengatakan bahwa dialah pemenangnya, dan uang ini sudah menjadi miliknya.
Aiden kemudian membuka revolver pistolnya dan memperlihatkan bahwa sebenarnya tidak ada satupun peluru di dalam pistol tersebut. Pria itu segera emosi dan bergerak dengan cepat untuk melayangkan tinjunya pada Aiden. Namun Aiden menghindar dengan menunduk dan berputar dua ratus tiga puluh derajat ke belakang pria itu dan menjaga jarak sejauh satu meter lebih.
"Bajingan!! Pikir mu aku hanyalah pegawai kantoran biasa yang tidak memiliki senjata? Aku adalah bos perusahaan, tentu saja aku punya senjata yang lebih baik daripada milikmu!!" Ucap pria itu sambil membuka tasnya yang rupanya berisi sebuah pistol mitraliur atau biasa di kenal anak-anak pemain game FPS biasa mengenalnya sebagai submachine gun.
Senjata UMP45 dengan total dua puluh lima peluru di dalamnya yang di tembakan begitu saja ke arah Aiden dengan sangat cepat. Sebelum pelatuk nya di tarik, Aiden yang melihat senjata pada pria itu sudah melarikan diri untuk menemukan lorong sempit, namun saat pria itu menghabiskan semua peluru nya tanpa ada satupun peluru yang kena, pria itu saja melangkahkan kakinya untuk bergegas mengejar pesulap sialan di pikirannya.
Dan moncong pistol sudah benar-benar rapat ke kepalanya.
DORR!! DORR!!
Kepala pria itu tiba-tiba saja berlubang dari belakang hingga ke depan, dua buah peluru menembus otaknya dengan cepat dan menciptakan sedikit asap hingga tubuhnya terjatuh di atas trotoar dengan darah yang mulai mengalir kemana-mana.
Aiden melangkah sedikit ke samping, menyimpan kembali pistolnya sambil memasukan kedua tangannya di dalam saku mantel. Sambil membuka topi dan topengnya, Aiden kemudian memasangkan topeng itu ke wajah pria yang telah di bunuh olehnya.
"Sangat di sayangkan pak, senjata ini sebenarnya memiliki peluru yang terbuat dari energi sihir gelap yang bisa ku ubah menjadi materi."
"Semua uang ini untukku, dan...."
Aiden kemudian mengambil dompet dari mayat pria itu sambil melihat identitas nya, pria bos perusahaan mainan anak dengan usia yang masih dua puluh sembilan tahun. Memiliki satu istri dan dua orang anak. Dari semua isi dompet itu, Aiden hanya mengambil kartu kredit dan senjata milik pria tersebut kemudian kembali berdiri dari sana.
"Dan untuk jiwa mu, aku akan menyitanya, sangat di sayangkan perjalanan kehidupan mu selanjutnya bukanlah akhirat. Satu lagi ... wajahmu benar-benar cocok mati dengan topeng tersenyum seperti itu, setidaknya kamu membuatku terhibur." Ucap Aiden dengan rambut hitamnya yang berkibar di bawah sinar bulan dan bintang-bintang.