Reborn As A Tyrannical Demon Lord

Reborn As A Tyrannical Demon Lord
Chapter 76 : Infinite Chain




Melaju dengan cepat menjadi debu, berjatuhan di tanah seperti sesuatu yang menyerah.


WOSH!!


"Apa? Blue Flare ku! Bagaimana bisa kami menghancurkannya?" Ucapnya dengan rasa tidak percaya akan hal di depannya.


"Bagaimana? Ingin menyerangku sekali lagi?"


"Bagus ... bagus!!!! Aku memang ingin bertarung dengan siapapun, sudah lama sekali, berapa lama? Ribuan tahun? Jutaan tahun? Aku tidak pernah lagi bertarung dengan siapapun."


Aku memberikan efek pelindung perisai pada Eiji dan Leon, menjauhkan mereka dari medan atau apapun di sekitarku, walau tidak akan bisa sekuat Inferno Wall ku, tapi itu seharusnya cukup untuk menahan penyembuhan mereka dalam perisai hijau transparan.


Perlahan rasanya dunia ini menjadi terus meningkat tanpa batas, batu-batu besar naik ke permukaan, merobek tanah dan pasir terbuka ke atas. Muncul begitu banyak bebatuan besar di sekitar kami dalam jumlah yang tak terhitung, seperti batu berukuran dua kali lipat dari sebuah truk, bahkan ada batu yang berukuran sepuluh kali lipat dari ukuran rumahku. Hebat, apa yang dia rencanakan?


"Tidak perlu memikirkan tentang tempat ini, mereka ku kendalikan sebagai arena antara kau dan aku," Ucapnya sambil mengubah posisi berdirinya dengan kaki yang siaga.


"Haha, jika kamu memang meremehkanku, aku tidak akan melangkah kembali ke tempat asalku dengan rasa rendah diri karena menolak suatu tantangan." Kuucapkan balik sambil mengangkat pedangku searah padanya.


Angin benar-benar tidak beraturan sekarang, aku hanya perlu melihat ke arah gerakan kakinya, kapan dia akan bergegas dari sana, aku juga akan bergerak dari sini. Tiba-tiba, tanpa garis cahaya yang tersisa, dia benar-benar hilang dari jarak sejauh itu dan muncul tepat dibelakangku bersama posisi menyerang.


BRUAK!!


Aku benar-benar terlambat untuk menyadari hal seperti ini, jadi aku menabrak bebatuan besar itu dengan keras, untung saja bajuku tidak akan robek. Seragam sekolah sangat keren, itu adalah salah satu seragam yang membuatku terlihat percaya diri.


"Kamu lambat!"


Ucapnya sambil mengejekku."


Tapi aku tidak akan berbaring di hancurnya pukulan batu ini, aku segera bangkit dengan cepat untuk melesat ke arahnya. Dia terus menghindari seranganku dengan baik, gerakannya memang cepat, hampir sulit untuk membuat ujung pedangku mengenainya.


Ketika dia menghindari dariku, dia malah membuat gerakan serangan balik yang mengejutkan, orang ini mengambil posisi ku yang buruk untuk menyerang ku, jadi aku harus secepat mungkin bergerak menghindari semua pukulan nya, dia hanya memukul dinding bebatuan ini berkali-kali, sekitar enam kali. Enam kali pun dia tidak menyentuhku di saat itu.


"Menarik."


Ucapnya sambil tersenyum.


Dia kemudian mengeluarkan sebuah stik bagaikan gagang pedang tanpa bilah, namun ujungnya adalah sebuah rantai, rantai berwarna biru gelap seperti langit angkasa netral. Bercahaya-cahaya yang tidak di setiap ikatannya, cahaya jarang-jarang yang terlihat seperti susunan yang indah.


Gerakan terakhir ku di serang oleh rantai panjang ini, menabrak batu besar itu hingga melingkar sekitar lima kali. Tidak kusangka, rantai senjata nya begitu panjang, bahkan batu seukuran mobil ini di putari sampai lima kali.


Batu besar ini kemudian di tarik seperti tanaman yang di cabut sampai ke akar-akarnya, mungkin Anda pernah menarik sebahu tumbuhan dengan tangan Anda dan merasakan betapa kerasnya akar yang mengikat di bawah sana. tapi ini adalah batu, dan ini sebuah batu berukuran besar yang di tarik hanya menggunakan senjata rantai.


Batu ini di tarik ke atas dan di putar dengan cepat ke belakang kemudian mengarah lagi padaku, ini benar-benar bahaya, di tabrak oleh batu besar bersama kecepatan tinggi seperti itu tentu saja akan membunuh seseorang.


Tapi bukankah ini bagus? Aku mendapatkan lawan yang cukup menarik untuk meningkatkan teknik ku, The Raven tidak lepas dari tanganku, aku terus menggenggamnya apapun yang terjadi. Batu ini akhirnya datang, tanpa ada Dinding Inferno, aku akan menggunakan teknik ku tanpa bertahan.


...LILAC SLASH...


SING.......... KRAKKK!!!


Dengan satu tebasan dariku, seluruh batu berkecepatan tinggi ini kubelah mengarah pada diriku, membaginya menjadi dia bagian dan bergerak belok ke arah kanan dan kiri, batu ini terbelah dengan sempurna, aku sudah tau cara nya. Ini benar-benar menyenangkan, sensasi memotong sebuah batu raksasa keras bagaikan memotong sebuah kue ulang tahun yang sangat lembek. Selama sihirku bereaksi untuk menempuh titik terbaiknya, maka serangannya akan menjadi baik dengan kerusakan yang besar.


Tapi di detik berikutnya, dia langsung melaju ke arahku seperti kecepatan sebelumnya, bahkan akan menyerangku dengan rantai biru ini, jika aku kena, mungkin aku tidak bisa bergerak bagaikan batu itu, di tarik dan di lempar ke arah lain. Bagaimana? Berdiri untuk menyalakan Dinding Inferno? Atau tetap menyerang dengan beberapa tebasan untuk merusak senjatanya, sebenernya ini sama saja.


Menciptakan Inferno Wall adalah hal termudah dalam setiap pertarungan, sayang sekali, pertarungan akan begitu membosankan ketika aku hanya perlu berdiri di dalam dinding ku sendiri sambil menghancurkan apapun tanpa bergerak sedikit saja dari titik berdiri ku.


Empat tebasan dalam sedetik, rantai panjang yang mengarah padaku hampir melilit ku, terpotong menjadi beberapa bagian yang tidak berguna, pada akhirnya, ini lah cara kerja sihirku bersama The Raven, apapun yang terkena serangan ini, akan terbelah dan sesuatu yang terbagi menjadi dua akan segera lenyap seketika menjadi debu yang di tiup angin.


"Teknik berpedang yang bagus!"


Ucapnya sambil bergerak ke sisi lain lagi dengan cepat.


"Maaf saja, aku tidak tertarik dengan pujian klasik mu."


"Sombong juga!"


SREEENHGG!!


Rantai-rantai itu keluar lagi dari yang tersisa menjadi lebih panjang, aku tidak tahu seberapa panjang rantai ini, jika ini adalah senjata sihir, maka bisa jadi rantai nya tidak akan pernah habis, bagaikan sesuatu yang unlimited.


Kini giliran ku, bagaimana jika dia harus tunjukkan cara mengangkat batu dengan benar. Batu besar arah barat daya, batu yang lebih besar lagi dari yang dia berikan tadi, inilah kemampuan andalan seorang penyihir, tentu saja penyihir bisa melakukan ini, ini adalah sihir yang kebanyakan di sukai orang-orang. Menerbangkan atau menggerakkan suatu benda melalui kontrol tubuh jarak jauh.


Aku menggerakkan telapak tanganku, menarik nya dengan cepat ke atas ku, melaju ke arah lain di dekatku dan Kutendang batu raksasa itu ke arah Varnera.


BRUAG!!


Dengan begitu, batu besar tendanganku melesat dengan cepat ke arahnya seperti yang dia lakukan sebelumnya. Dia bahkan bereaksi dengan lebih cepat lagi sepertiku, namun membelah batu dengan rantai. Entah senjatanya yang kuat, atau mungkin kekuatannya yang lebih besar berada di dalam sana, tetapi aku yakin dia akan sulit untuk bertarung pada jarak yang terlalu dekat, maka dari itu aku harus membuatnya terus bergerak dan mencari celah untuk menyerang nya langsung dari arah dekat.