
Terkadang, merenung di kamarnya sendirian sambil memikirkan apa yang telah dia perbuat, atau berapa banyak nyawa yang telah dia habisi, Aiden merasa memiliki dosa sebanyak air di lautan tak berujung, tersesat pada jalan kehidupan yang berliku. Berpikir tentang mana yang salah, dan mana yang benar. Binggung tentang siapa yang harus dia percayai.
Namun, dia terus berusaha bersikap layaknya orang normal. Melakukan aktivitas sekolah, dan aktifitas pekerjaan tambahan lainnya. Setidaknya, dia mampu membiayai kebutuhan dirinya sekarang, apapun yang dia inginkan, dia mampu membelinya tanpa pikir panjang. Saldo di dalam kartu kredit nya mungkin tidak sebanyak yang di pikirkan, tapi kemungkinan Aiden mampu untuk membeli sejenis mobil sport merek terbaru dari Claretta Industry yang harganya setara dengan lima buah mobil Buggati.
Selalu di pikirkan olehnya, apa yang akan dia lakukan dengan uang tersebut, dia mungkin berpikir bahwa dia ingin memiliki hidup yang tenang, menua bersama ibunya dan membawa seorang istri cantik baik hati yang mampu memberikan ibunya seorang cucu perempuan. Sebagai seorang anak yang berbakti hingga akhir hayatnya.
Namun itu hanyalah pikirannya, yang membuatnya terbebani setiap hari adalah pikiran tentang berapa banyak orang yang telah dia bunuh. Bahkan dia tidak memiliki jalan hidup lagi, tanpa doa, tanpa kepercayaan pada Tuhan. Yang dilakukannya adalah menjadi seseorang yang tak percaya pada siapapun selain percaya pada dirinya sendiri termasuk semua ideologinya.
Siapapun yang tidak menerima pemikirannya, maka orang tersebut tidak akan menjadi temannya. Lagipula, dia memiliki sifat yang tidak pernah ingin kalah, bahkan jika itu harus menentang, dia akan membantah dan berdebat enam mata secara tertutup. Di dalam dirinya mengatakan, "Jika orang lain bisa, maka aku pasti mampu lebih dari orang tersebut."
Namun, itu sudah cukup lama saat dia tidak pernah melakukan hal-hal kejam dan pembunuhan seperti bagaimana yang terakhir kali di lakukan nya pada seorang pria malang di tengah malam tersebut. Mungkin saat itu dia menikmatinya, tapi setelah beberapa saat, dia hanya bisa bersandar di dalam tembok kamarnya sambil mencengkram kepalanya karena hampir merasa gila memikirkan semua dosa-dosanya.
Itu sudah lama sejak Razel tidak pernah menghubungi ponselnya lagi, terakhir kali Razel mengirim pesan padanya adalah kabar dimana dia harus menyarankan Aiden untuk berhenti melakukan tugasnya sementara, hal itu juga berhubungan dengan ekonomi Razel yang sudah terlalu kritis. Aiden selalu berpikir bahwa Razel tak pernah kehabisan uang, namun nyatanya, itu hanyalah kebohongan.
Razel akhirnya hampir tak mampu untuk membayar Aiden sesuai kontraknya, pesan terakhir saat itu cukup membuat Aiden kesal, dia benar-benar frustasi karena kontrak nya dengan Razel yang benar-benar sangat berdosa jika harus melakukan pembunuhan untuk menarik mayat dan jiwa-jiwa itu lagi.
"Bodoh, aku tidak peduli soal kontrak atau bayaran darimu lagi." Balas Aiden di obrolan ponselnya sejak dua minggu yang lalu, dan selebihnya, Razel tidak pernah lagi memberanikan dirinya untuk mengetik satu pesan pun ke Aiden.
Aiden masih memiliki waktu, waktu yang mungkin tidak ada habisnya, dan waktu di mana dia harus melakukan semua pembunuhan keji itu sebanyak empat ratus ribu korban lagi.
Berlanjut di kehidupan normal sekolah nya sebagai mahasiswa, dia masih bersikap normal dan selalu berjalan sendirian, terutama menghindari gadis bernama Jeanne yang selalu berada di bus yang sama dengannya. Aiden berpikir bahwa waktu mungkin saja bisa terulang kembali, seperti jika saja dia menyelesaikan semua perjanjiannya hingga kontrak itu mampu membawa Razel ke Haseichta bersama semua angan-angan gilanya.
Entah Haseichta itu nyata atau hanya kebohongan besar dari keberadaan iblis yang lebih tinggi, maka Aiden akan mencoba untuk mewujudkan permintaan-permintaan itu untuk dirinya juga. Konyol bagi orang lain, tapi bermakna untuk dirinya sendiri. Orang-orang tidak akan mengerti diri nya.
Diriku adalah diriku, diriku bukanlah dirimu dan juga bukan diri kalian, orang-orang yang bersikap tahu segalanya hanya akan terlihat bagaikan anjing bodoh di mataku.
Kembali memikirkan soal sekelompok anak-anak lelaki yang sering melakukan pembullyan padanya, terlebih lagi sekelompok anak pintar yang bahkan terlalu pelit soal ilmu, dia membenci ingatan itu hingga memukul cermin di kamarnya.
BAJINGAN!!
BAJINGAN!!
KALIAN SEMUA...
AKU AKAN MEMBUAT KALIAN SEMUA MENYESAL!!!!
Dia terus berteriak dan berteriak melampiaskan emosinya dengan memukul cermin itu berkali-kali hingga tangannya penuh darah dan beling.
Pada akhirnya, dia benar-benar kelelahan dengan memikirkan semua yang telah dia perbuat dan perbuatan orang lain padanya.
Dia dunia ini.....
Kebaikan ku tak pernah terlihat dan ternilai di mata orang-orang, tapi satu keburukan benar-benar mencolok dan ternilai bagi mereka.
Dan di dunia ini.....
Aku memang selalu cocok untuk menjadi penjahat.
Kelelahan sedikit bersama tangan cederanya yang di balut perban berlapis, Aiden pada akhirnya tertidur dengan emosi yang di bawa ke mimpinya.
"Kamu."
"Apakah kamu butuh bantuan?"
Seorang gadis yang di sapa nya kemudian mengangguk dan maju perlahan selangkah melihat wajahnya. Pemandangan kota metropolis malam dihiasi rembulan dan sejumlah rasa kehampaan yang begitu tidak menyenangkan. Seorang gadis berpakaian seperti biarawati tetap tersenyum melihat Aiden sambil memegang sebuah pisau tajam berwarna hitam yang sedikit melengkung.
"A-Apa kamu mendengar ku?"
Dari seberang jalan panjang yang terlalu ramai, nampaknya gadis itu butuh bantuan untuk menyebrang. Namun, kondisi pusat kota terlalu ramai dan bising. Aiden menyeberang di antara penduduk berkendara yang berhenti di lampu lalu lintas untuk menuju gadis bisu itu.
Cahaya dan cahaya ilusi melaju dari satu arah dan diikuti arah yang berlawanan, menghasilkan penglihatan kacau yang sampai di pemandangan Aiden ketika dia tiba di sisi lain jalan itu. Mata nya yang kabur sekejap tiba-tiba bisa melihat gadis berpakaian bagaikan biarawati tersebut merobek seluruh pakaian hitam nya hingga menampilkan rambut ungu dan sepasang mata kuning yang bersinar.
"R-Razel? Apa yang?!" Aiden terkejut dengan pemandangannya, kemudian melihat ke sekitarnya, dimana perbuatan Razel bahkan tidak di lirik oleh satu orang pun. Bahkan, mereka bagaikan hantu, yang sebenarnya mereka berdua tak terlihat di mata siapapun.
Aku tidak mati, kan?
Aku tidak mati, kan?
Razel.....
Pakaian apa itu?
Setelah Razel merobek semua pakaian hitam nya, di baliknya ada gaun merah dengan bulu hitam bagaikan bulu yang lebih kecil dari bulu gagak. Di bawah gaun itu tampak sedikit beberapa sobekan dan noda darah membekas yang terlihat seolah-olah pakaiannya berasal dari pakaian mayat yang sudah di kubur selama delapan bulan.
Razel?
Razel!!
Jawab Aku!!
Saat gadis itu sedang memperhatikan seluruh tubuh nya sendiri secara perlahan sambil memegang pergelangan tangan kiri nya, dia mengangkat kepalanya dan mulai memberi reaksi wajah datar pada Aiden.
Razel?
Aku bertanya ... jadi jangan tunjukkan senyum seperti itu padaku, aku tahu kamu tidak pernah bersifat seperti ini tap—
KREAKKK!
Sebuah pemandangan di depannya kemudian menghasilkan sebuah retakan dari ujung kiri atas hingga ke ujung kana bawah dengan beberapa cabang retakan kecil
"...Razel?" Aiden mencoba melangkahkan kakinya ke depan. Melihat senyuman aneh itu di antara pecahan kaca.
"Ilusi ... ya?"
CRANGG!!!
Semua retakan itu akhirnya pecah menuju ke wajah Aiden, dengan cepat terbang dan menjadi ribuan bunga spider lily yang berantakan dengan aroma darah.