
Malam itu adalah pengakuan yang mengerikan darinya, aku tidak pernah menyangka ketika seseorang akan mengatakan hal seperti itu untukku. Beberapa hari mungkin telah berlalu, tapi aku hampir melupakan soal pertandingan akademi itu.
Aku datang kembali pada siang hari, karena datang sejak pagi itu mungkin membosankan. Aku ingin bertanya pada bu Alin itu, tapi sayangnya, tidak ada alat komunikasi.
Sebuah keberuntungan datang lagi, ketika aku berjalan di dasar stadion besar ini dan bertemu dengannya yang sedang berjalan sendirian di bawah, dia bahkan terlihat seperti sedang buru-buru, lalu, dia melihatku tepat di tempat yang sama. Ketika dia bergegas dengan cepat ke arahku, wajahnya berubah menjadi senang ketika menghampiriku.
"Aiden! Akhirnya kamu disini, padahal aku baru saja ingin mencari alamat mu."
Mungkin aku tidak mengirim kabar kepada siapapun termasuk teman-teman ku, sehingga guru ini harus datang mencari alamat rumahku dan menghampiriku. Bahkan kepala sekolah akan khawatir jika murid terbaik dari akademinya sebagai peserta utama tidak mengikuti pertandingannya. Kupikir datang ke rumahku itu tidak perlu.
"Jadi, ada apa bu?"
"Umm, kamu selalu memanggilku dengan kata 'Bu?' tidak bisakah kamu memanggilku semacam kakak? Atau hal lain? Apakah aku terlihat seperti umur empat puluh tahun?"
"Humm, bagaimana yah? Terlihat umur dua puluh tahun, tapi ... aku tidak bisa memanggilmu kakak atau semacamnya, tapi, aku punya panggilan lain yang mungkin bagus."
"Apa itu?" Tanya nya dengan rasa ingin tahu.
"Kyoushi! Di dunia lama ku, itu adalah bahasa dari Jepang, yang artinya guru."
Ucapku seolah-olah aku paham soal Jepang.
Alin Kyoushi: "Tunggu ... dunia lama ... apa??"
"Tidak, tidak, aku hanya mengucapkan sesuatu yang terburu-buru, hingga mengatakan kalimat lain yang aneh."
Alin Kyoushi: "Baiklah~ Kyoushi adalah guru, bukan? Saran yang cukup bagus."
Setelah itu, dia langsung menyuruhku untuk segera bersiap-siap bersama Eiji dan Leon. Karena pertandingan pertama sudah di mulai dari akademi ini, aku yang seharusnya menjadi peserta pembuka malah tidak hadir saat itu, dan di gantikan oleh Leon sebagai pertandingan pertama dan seterusnya.
Tidak ada lagi naik ke atas sana, aku bukan menjadi penonton hari ini. Karena nomor 666 telah tiba sebelumnya, di sebuah ruangan tersendiri, aku dan Alin kyoushi melihat lagi di sebuah layar proyeksi pertarungan antara Leon dan murid lainnya.
"Selama kamu tidak datang kemarin, waktu sudah menjadi cepat, para pemain berkurang dengan cukup cepat." Ucap Alin.
"Hah? Apa maksudmu?"
"Maksudnya, ada kehadiran beberapa peserta dengan kemampuan luar biasa yang menumbangkan banyak peserta di setiap ronde hanya dalam sepuluh detik."
Sepuluh detik?
Kemudian mengeluarkan beberapa tumpukan kertas yang cukup banyak. Ada enam lembaran berisi hasil pertandingan dengan nama yang cukup banyak. Satu pertandingan adalah satu tabel yang terpisah, satu tabel yang berisi tiga kolom. Ronde pertama, kedua, dan ketiga, jika ronde kedua sudah langsung dimenangkan sekaligus, maka kolom ketiga tidak akan terisi, dan pemain yang memenangkannya akan langsung melangkah melawan sekolah berikutnya.
Benar-benar luar biasa! Orang-orang ini menyelesaikan setiap ronde hampir menuju sembilan detik.
10,34 detik, 10,63 detik, 10,51 detik, 10,22 detik.
Dan bahkan ada yang mencapai 10,01 detik.
Benar-benar hampir mencapai angka sembilan, angka-angka ini tidak hanya begitu banyak, namun ada banyak lagi pertandingan yang di selesaikan dalam 10,35 detik, 10,36 kemudian ke 10,37 dan ke 10,38 sampai seterusnya ketika waktu yang di selesaikan sedikit demi sedikit di percepat.
Aku jelas melihat Eiji akan memasuki pertandingan berikutnya, dia sudah bersiap sejak tadi untuk menggantikan Leon setelah pertandingannya, jadi aku bertanya pada Alin kyoushi. "Alin? Alin kyoushi? Kenapa Leon sudah berganti? Bukankah kita baru saja mulai?" tapi dia menjawab bahwa itu sudah di mulai sejak kemarin. Rupanya pertarungan tanpa konsep waktu bersama Valerie adalah waktu yang tidak terduga dan kacau balau, agak sulit di mengerti, namun membawa ku ke garis waktu mana saja, dan kapan saja ketika kembali dari dunia itu.
"Aiden, Leon, aku akan segera bertarung, untuk ku ... untuk kita semua, untuk akademi!"
Ucapnya sambil mengepalkan tangannya di kehampaan untuk kamu.
Sebelum dia pergi, aku membalasnya dengan kepalan tangan yang sama, dan kuucapkan "Berjuanglah!" di balas lagi olehnya dengan senyuman penuh api yang berkobar bersama semangat dengan "Sudah pasti!!" dan disinilah kami berada, sebuah gedung khusus berisi banyak ruangan khusus dimana setiap ruangan adalah satu bagian akademi.
Di ruangan ini, hanya ada aku, guruku, dan Leon. Kami semua mulai menyaksikan dar layar proyeksi, ketika Eiji Blake mulai di sebutkan. Berjalan menuju tengah lapangan yang begitu jauh, ketika sorakan dari bagian lain terdengar sangat keras. Ketika aku baru mulai bertanya, mereka berdua yang ada bersamaku langsung menjawab, "Itulah yel-yel akademi kita" oh, setelah ku pikirkan lagi, itu lucu, tapi memberi mereka semangat. Dan rasa kepercayaan dirinya akan meningkat. Empat ribu murid akademi yang datang menyaksikan di bagian tertentu stadion ini, tapi itu adalah bagian kecil yang mengisi stadion, dari jumlah empat ribu di antara puluhan juta penonton.
Meski begitu, ketika Eiji mulai melangkahkan kakinya keluar dari gerbang barat menghadap ke gerbang timur yang begitu jauh sekitar ribuan atau mungkin sampai pada ukuran kilometer, sorakan akademi kami mulai bersorak dengan sangat keras dan teratur.
Disisi lain, bagian dari pendukung lawan adalah bagian dari akademinya yang mendukungnya dengan suara keras yang tidak akan kalah. Di tambah lagi suara puluhan juta penonton lainnya yang akan meributkan suasana arena.
"Pedang yang bagus."
Aku melihat pedang yang di gunakan Eiji cukup bagus, setidaknya itu cocok untuknya. Wasit ini berada tepat di titik tengah dari pusat seluruh arena dan stadion. Para peserta yang saling berhadapan, Eiji yang berhadapan dengan lawannya sejauh sepuluh meter. Oh, memang cukup jauh, ini adalah pertarungan bebas atas sihir dan pedang, sejauh mana kemampuan bertarung mu sebagai iblis.
Setiap iblis yang di rekrut menjadi pasukan khusus alam iblis untuk menjaga perbatasan di tiap ujung semesta, itu adalah sebuah kehormatan, pasukan iblis yang tak terhitung jumlahnya, ketika masa muda mereka benar-benar belajar untuk bertarung dengan baik, sehingga prestasi-prestasi itu lah yang akan membuat mereka berpotensi memiliki sebuah gelar.
Walau bagi Marie, gelar iblis apapun di matanya tidak pernah ada yang berarti, ketika tidak ada satupun orang di dunia iblis ini yang bisa mengalahkannya, yeah, jangankan mengalahkan atau bertarung. Marie hanya muak ketika siapapun yang menuju ke hadapannya bahkan tidak mampu berdiri selama setengah detik.
Setidaknya, berdiri di atas sana, pertahanan kuda-kuda mu, teruslah berdiri untuk mengayunkan senjata mu di atas rasa kepercayaan diri itu. Sayang sekali, sayang sekali, Marie bahkan selalu ingin memperlihatkan padaku, cara membuat seseorang mati hanya dengan terkena aura keberadaanya.
"Siapapun mungkin bisa melihat wujud asliku, siapapun mungkin bisa mendengar suara asliku, dan siapapun mungkin bisa naik ke tempat ku. Tapi, tidak ada siapapun dari mereka yang bisa datang dengan mata mereka untuk melihat, aku bahkan hanya membuat mereka masuk ke dalam tempatku sendiri, ketika mereka datang, dan hanya tersisa sebuah debu yang beterbangan di kekosongan."
Seperti itulah ucapnya, membawa siapapun ke tempatnya itu bisa, dan sudah pasti bisa, namun tidak ada siapapun bisa menahan diri di tempat setinggi itu. Tubuh mereka akan hancur, jiwa mereka akan robek.
Sebenarnya ... itu tidak lucu, ketika dia menunjukkan sesuatu yang gila padaku, seperti mengucapkan kata kasar kepada benda yang sudah mati untuk mati lagi, membunuh partikel atau zat hanya menggunakan kata-kata. Apapun itu, dia hanya melakukan apa yang dia inginkan untuk membuat seseorang mati, entah suara, imajinasi atau mungkin pikirannya, jika tujuannya adalah membunuh, maka sesuatu akan terbunuh dan mati. Tidak peduli itu adalah mahluk hidup, atau mahluk yang tidak hidup.