Reborn As A Tyrannical Demon Lord

Reborn As A Tyrannical Demon Lord
Chapter 157 : Fall In Love With The Devil



Pemandangan di hadapannya kemudian menampilkan gambaran samar dimana Razel dengan gaun merah tersebut terbaring di atas batu besar berbentuk hexagon. Di sekeliling nya di penuhi oleh lilin yang melingkar.


Aiden yang tidak melakukan apa-apa kemudian terseret pada kemauannya untuk mengambil sebuah pisau di dekat seseorang yang di gantung. Pisau itu sama seperti yang di pegang Razel sebelumnya. Aiden menusuk pisau itu berkali-kali ke dalam perut seorang wanita tua yang di ikat, membunuhnya hingga darah berceceran di lantai.


Gambaran-gambaran di hadapannya berubah dengan dirinya yang berbicara pada sesosok lelaki berpakaian hitam yang wajahnya tak terlihat, entah apa yang mereka perbincangkan, tapi langkah selanjutnya adalah pemandangan di mana Razel dengan gaun merah sebelumnya mati dengan keadaan tragis.


Mayatnya tergeletak di atas padang rumput stepa dengan beberapa pedang panjang swiss yang menusuk dari perutnya hingga menembus ke belakang. Darah-darah merah yang terlihat aneh kemudian mengotori beberapa rumput sekitarnya.


Tidak hanya itu, sesosok wanita hadir di sana dengan gaun yang sama seperti yang di kenakan oleh Razel. Bedanya, gadis itu memiliki rambut panjang dan tampak warna merah gelap mulai dari poni, mata, hingga gaunnya, di kepalanya ada sebuah tanduk tajam yang tidak terlalu melengkung.


Wanita itu menampilkan ekspresi yang tak pernah ada. Aiden mencoba bertanya, namun saat itu, situasi kembali pada gambaran di mana dia membunuh wanita tua dengan tusukan pisau di perut berkali-kali.


Sampai akhirnya Aiden terbangun dari mimpi buruknya di dalam kamar dengan sinar jingga dari matahari yang terbenam. Jantungnya berdetak kencang, dan pikirannya kacau balau. Serasa dunia sedang memburunya dan menghasilkan rasa panik dimana dia harus menyembunyikan mayat-mayat selanjutnya yang akan dia bunuh.


Perasaan takut hadir seketika, seorang pembunuh bayaran yang terancam tertangkap dan pada akhirnya akan berakhir dengan sisa hidup di penjara. Dia tidak ingin itu terjadi. Tapi wanita itu, Aiden benar-benar masih ingin bertemu dengannya. Jadi dia berusaha keras untuk menutup matanya dan kembali ke dalam mimpi buruknya.


Ekspresi wanita itu ... bahkan wajahnya dan bentuk-bentuk dirinya terlupakan. Wanita pasti adalah sumber semua perbuatan kotornya, maka dari itu, Aiden ingin menemuinya sekali lagi, bertanya tentang maksud dari mimpi tersebut.


Sayang sekali, jika itu adalah seseorang, dia mungkin sudah tidak pernah ada lagi, lebih tepatnya, dalam pandangan orang normal, sosok seperti itu di yakini sebagai iblis yang menggangu dan menghantui seseorang lewat mimpi. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa itu adalah sosok dari dimensi lain yang berusaha berinteraksi dengan Anda.


Setelah berbulan-bulan dari mimpi itu, Aiden hampir tak pernah memikirkannya lagi, namun Dareen menyinggungnya saat Aiden sedang menuangkan kopi ke dalam gelas. Dengan bertanya "Apakah Aiden pernah memilik pacar?" tentu saja Aiden menjawab "tidak" dan hal itu membuatnya terpikirkan lagi oleh mimpinya.


Mungkin saat itu Dareen bukanlah seseorang dengan mulut yang bocor, jadi dia bisa mempercayainya. Aiden berani untuk menceritakan mimpinya kepada Dareen tentang bagaimana mimpi buruk itu terjadi dengan sangat aneh, terasa cukup lama, namun hanya terjadi dalam beberapa menit waktu tidurnya.


Alasan dia ingin menceritakan mimpi itu adalah sosok wanita berambut merah di dalam mimpinya. Dia melupakan wajah nya, bahkan tidak pernah tahu seperti apa suara dari sosok tersebut. Membuatnya jatuh cinta begitu dalam pada sosok yang dia percayai akan menemui dirinya sekali lagi.


Dareen mengatakan bahwa Aiden mungkin jarang melakukan ibadah bahkan berdoa, namun kenyataannya, dia sudah berbelok terlalu jauh. Tersesat tanpa kepercayaan. Menganggap bahwa Tuhan menulis cerita yang benar-benar tak pantas untuk dirinya. Andai saja dia paham, Tuhan itu adil, bahkan ada kehidupan dengan cerita-cerita yang lebih buruk darinya.


Namun, Aiden tidak pernah puas dan menolak kenyataan dengan pengharapan bahwa dia bisa menulis satu kisah abadi di mana dirinya akan selalu hidup di luar cerita yang di tulis oleh seseorang. Aiden terlalu kesal karena tidak bisa lagi kembali ke dalam mimpi itu, kemudian berharap bahwa sosok wanita itu akan menemuinya suatu saat nanti entah dimana pun itu.


Setelah menceritakan hal-hal seperti itu pada Dareen, keesokan harinya Dareen tidak masuk karena demam tinggi tanpa sebab. Dia demam begitu saja dan tidak masuk kerja pada hari selanjutnya, jadi, Jillian menyerahkan posisi Dareen pada Aiden untuk hari ini. Walau begitu, Aiden tidak terlalu buruk dalam menciptakan kopi.


Silih berganti, malam dan pagi. Aiden yang tak bergaul dengan siapa-siapa pulang sendiri lagi sambil melihat ponselnya dan pesan terakhir Razel. Wanita itu benar-benar tak pernah menghubungi nya lagi. Aiden berpikir dalam sekejap bahwa mungkinkah kontrak telah selesai, jika kontrak itu telah selesai, mungkin dia bisa melepas cincin hitam ini dan membakarnya.


Di saat selanjutnya, depresi itu selalu timbul saat dia mulai membayangkan bahwa sosok iblis yang dia sukai mengulurkan tangan padanya. Namun khayalan itu membuat kepalanya sakit jika memaksakan diri untuk membayangkan sosok iblis di dalam mimpinya.


Aiden membuang nafas dan mengucapkan sebuah kalimat saat menurunkan kembali tangannya dari imajinasi. "Andai kamu itu nyata, aku benar-benar ingin mengenalmu, dan andai kamu benar-benar mencoba berinteraksi denganku, maka ku harap kamu menemui ku sekali lagi walau itu hanyalah sebuah mimpi." Aiden memejamkan matanya dengan tenang perlahan dan berusaha bersabar atas kenyataan.


Melihat tingkah anehnya, tiba-tiba ada seorang gadis yang menyapanya tentang perilaku aneh tersebut. Jeanne ... seorang gadis kenalannya, seorang penyihir surgawi yang menyamar sebagai seorang mahasiswi.


"Aiden, apa yang kamu lakukan? Berbicara sendirian?" Sapa nya sambil mendekati Aiden.


Karena situasi gawat, dia harus berbalik sementara dan merapatkan semua kancing bajunya hingga menutupi tanda hitam di lehernya.


"Begitu? Kamu benar-benar jarang bergaul dengan siapa-siapa ya~" Ucap Jeanne.


"Ku pikir begitu, aku terkadang duduk dan bergaul dengan beberapa anak lelaki dari kelas lain, mereka adalah kenalan ku saat pertama kali masuk ke kampus ini."


"Lalu? Kenapa kamu tidak berjalan dengan mereka lagi?"


"Aku beralasan bahwa akhir-akhir ini, aku benar-benar memiliki banyak kesibukan dan kelelahan karena harus mengerjakan semua SKS yang di berikan, jadi mereka memaklumi ku."


"Begitu ya ... ngomong-ngomong, jika kamu kesulitan untuk mengerjakan SKS mu, datanglah padaku, aku mungkin bisa membantu mu menyelesaikannya."


"Aku berterimakasih atas niat baikmu, tapi kurasa aku masih mampu melakukannya sendirian."


Saat Aiden mengucapkan itu, raut wajah Jeanne mulai terlihat aneh, dia sekarang tahu bahwa Aiden benar-benar sulit untuk memiliki teman karena sifatnya yang introvert. Karena tidak ada lagi hal tang penting, jadi Aiden mempercepat langkahnya untuk mendahului Jeanne dan bergegas pulang lebih dulu.


Ibu nya mungkin masih sibuk melakukan syuting untuk iklan produk pakaian terbaru, jadi, dia hanya sendirian di rumah. Namun, ibunya selalu menyiapkan masakan agar Aiden bisa menikmatinya di saat dia tidak ada di rumah. Berbaring di atas sofa dan berpikir tentang perbuatannya, Aiden tertawa sendirian di ruang tamu. Menganggap bahwa dirinya benar-benar sosok penyamar yang hebat.


"Sial!! Para detektif bahkan belum bisa mengungkap sosok pembunuh sepertiku. Zaman terus berjalan ke depan, tapi apakah di sisi lain manusia-manusia di masa depan akan lebih bodoh daripada manusia di zaman ini? Ahhhh~ aku sendiri pun hanyalah seorang manusia yang tidak tahu banyak hal."


Heheheheaha!!


HAHAHAHAHAHAHAHAHA!!!!!!


"Menjadi penjahat ternyata menyenangkan, aku menyukainya, aku suka ini! Andai saja aku memiliki sihir, aku pasti akan membunuh semua anak di kelasku, membangkitkan mereka, kemudian membunuh mereka lagi tanpa henti."


Aiden kemudian melepaskan kalung dari lehernya, kalung yang dia pesan dari toko online beberapa minggu yang lalu dengan model seperti liontin bermata jingga tunggal dan tanduk melengkung di atasnya. Dia membeli kalung itu sebagai tanda bahwa dirinya benar-benar ingin melihat wajah gadis di dalam mimpinya dengan jelas.


"Jika saja kamu hadir lagi di sini, saat ini juga, mungkin ini adalah hadiah kecil yang paling berarti untukmu."


"Aku ... suka padamu."


"Jika saja demi cinta ini, aku bahkan rela menjadi budak yang memujamu selamanya. Kira-kira ... siapakah namamu?"


"Sosok mu yang serba merah, mungkin aku akan menamai mu Haumea seperti di dalam kitab Razel. Kamu mungkin bukan sosok yang di puja oleh Razel, tapi aku rela memujamu seorang diri dengan harapan tak henti untuk menemui mu."


"Maaf jika nama ini terdengar buruk untukmu, tapi aku benar-benar berharap bahwa kamu bisa mengatakan nama mu."


Berpikir hingga kelelahan, Aiden sudah menutup matanya dan hampir sampai ke dalam mimpi selanjutnya yang tak terkira. Perjalanan antara realita ke dalam mimpi tak bisa di bayangkan, biasanya orang-orang sangat sulit melupakan isi dari mimpi-mimpi mereka, gambaran-gambaran itu hanya akan menjadi gambaran kabur yang sulit di bayangkan pada kenyataan.