
Aku pernah tertidur.
Tidur yang sangat singkat, namun dengan mimpi yang terasa sangat panjang. Mimpi di mana aku merasa menjadi seperti seorang raja, atau mimpi tentang diriku yang di tampar. Juga mimpi melihat sebuah semesta yang menangis meledak sambil berlari bersama seseorang hingga cahaya bahkan tak dapat mengejar.
Rasanya sangat panjang. Benar-benar sulit di jelaskan, akhir dari mimpi yang kurasakan adalah perasaan tentang kematian diriku sendiri. Mati di bunuh seseorang, atau mungkin diriku yang mati tanpa sebab apapun itu, aku tidak tahu.
Tapi, hari ini, aku bahkan tidak tahu harus berbuat apa, dan apa kesalahan yang telah ku perbuat. Aku tidak bisa menebak seperti apa ekspresi ibu ku jika dia tahu semua ini. Aku butuh waktu, aku butuh ruang, aku butuh sesuatu untuk menenangkan pikiran kacau ku.
Setelah itu, Aiden tertidur setengah sadar saat terus memikirkan apa yang harus dia lakukan, di dalam mimpinya, dia memimpikan dirinya bersama ibunya, tapi suara itu nyata, dari luar sana. Di luar mimpinya, ketika dia telah membuka kembali matanya yang di awali dengan penglihatan kabur, dia mulai sadar bahwa wanita berambut putih itu ... ibunya, telah ada di sampingnya sekarang.
"Aiden."
"Aiden, bangunlah."
"Aiden??"
Suara itu sebenarnya telah mencoba membangunkannya beberapa kali, Aiden terkejut saat melihat ibunya dengan raut wajah yang bahkan tidak marah sama sekali padanya, namun dia tetap harus bersikap tenang.
"Ibu ... maaf ... aku bahkan tidak tahu apa yang telah ku perbuat, ini pasti sebuah mimpi."
"Bagiamana dengan gadis itu?? Ibu mendapat pesan darinya sejak dua jam yang lalu, kurasa ibu belum terlambat untuk berkunjung. Kita akan membicarakan semua ini nanti."
"Pesan? Dari siapa?"
"Dia mengatakan bahwa namanya adalah Razel, aku sendiri bahkan tidak tahu harus berbuat apa padamu, tapi ... jangan di pikirkan dulu untuk saat ini dan ikutlah bersama ku untuk mencari kamar gadis itu."
Aiden sudah tertidur selama tiga jam lebih di kursi ruang tunggu, itu benar-benar ruangan yang nyaman dengan sofa-sofa empuk, pendingin ruangan, dan parfum dengan aroma khas rumah sakit persalinan.
Kamar VVIP nomor 38.
Itu berada di lantai tiga dan ibunya mengetuk pintu lebih dulu. Seorang wanita berambut hitam sebahu membukakan pintu dari dalam. Wanita itu adalah ibu Razel yang menjaganya seorang diri. Tidak ada ekspresi khawatir, bahagia, atau semacamnya. Yang ada hanyalah ekspresi wajah biasa seolah-olah menerima kenyataan.
"Permisi~"
"Nona, kamar nomor 38? Aku mencari seorang wanita bernama Razel yang baru saja melahirkan tadi sore." Tanya ibu Aiden pada wanita itu.
"Oh, benar, tapi maaf ... sebelumnya apakah nona memiliki keperluan dengan anak saya?"
Tanya wanita itu.
"Kurasa ini mungkin akan menjadi perbincangan panjang, jadi kita akan membahasnya di dalam."
"Ya, Ya, Silahkan masuk dulu." Ucap ibu Razel.
"Kamu ... Aiden, ya?" Tanya ibu Razel sambil memasang wajah baik.
Aiden kemudian menjawabnya, itu adalah masalah yang mungkin perlu di bicarakan antara ibu Aiden dengan ibu Razel. Setelah penolakan untuk kedua kalinya masuk ke dalam sana, Aiden akhirnya harus menerima apa yang di katakan oleh ibunya.
Semuanya masuk ke dalam kamar sejuk ini dengan keadaan yang benar-benar steril. Setelah masuk, Aiden benar-benar melihat keadaan Razel pertama kalinya begitu acak-acakan. Sebelumnya dia telah siuman selama empat puluh menit, namun dia tertidur kembali. Ketukan pintu datang lagi, sebuah suster membawa meja trolley besar berisi makanan dan beberapa perlengkapan perawatan.
Dia memberikan beberapa instruksi penggunaan peralatan kesehatan, kemudian meletakkan sepiring besar berisi bubur dan sayur, kemudian secangkir susu dan beberapa buah-buahan, semuanya kemudian tersegel dengan plastik bening yang tebal. Suster itu bahkan keluar sambil membungkuk dengan nada halus yang benar-benar ramah.
Di sebelah Razel, Aiden benar-benar tertegun saat melihat bayi yang dibungkus oleh kain bedong merah muda. Aiden kemudian memegang lengan kiri nya dengan langkah yang sedikit mundur kebelakang. Mengalami panick attack, dia masih belum yakin apa yang telah dia perbuat. Dia benar-benar merasa malu pada ibunya.
Sampai akhirnya, dia duduk kembali di sebuah sofa empuk di dalam kamar ini, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Topik lain dari ibu Razel adalah, hal dimana dia tidak menyangka bahwa ibu dari Aiden adalah seorang model fashion yang pernah dia minati. Itu membuat ibu Razel terpukau saat ibu Aiden membuka maskernya tadi.
"Aiden, ibu mungkin harus mencoba menerima semua ini dengan lapang dada, namun, kamu sendiri juga harus mulai bercerita pada kami tentang hubungan mu dengan Razel." Ucap ibu Aiden sambil memegang tangan cemas Aiden.
"Aku ... aku tidak tahu harus mulai darimana."
Ucap Aiden dengan seluruh wajahnya yang terus menunduk ke lantai tanpa melihat siapapun.
Dia benar-benar merasa malu jika ini adalah perbuatannya, dan berpikir untuk menyangkal bahwa ini bukan perbuatannya. Dia merasa bahwa dirinya akan terlihat buruk di mata ibu Razel, padahal sebelumnya dia terlihat baik-baik saja. Tapi ibu Razel tidak memandangnya begitu. Sekarang, mereka sebagai seorang ibu, ingin tahu sejauh mana Aiden dan Razel menjalin hubungan seperti ini, yang bahkan tidak di ketahui darimana dan sejak kapan mereka bisa berkenalan.
Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya Aiden mulai memberanikan diri untuk menceritakan semuanya dengan sedikit kebohongan, mulai dari perubahan cerita Razel yang lebih dulu mencegatnya, namun dia mengubah cerita ini dengan Razel yang menemuinya dalam bentuk seorang wanita cantik di sebuah bar kopi.
Kebohongan itu menjadi lebih besar dan lebih besar. Aiden mengatakan bahwa pada saat itu dia adalah sebuah pegawai atau barista bar kopi milik temannya, kemudian dia berjumpa dengan Razel yang tak sengaja menjadi pelanggan terakhir bar kopi pada malam hari sekitar pukul sepuluh malam.
Dia berkata bahwa itu hanyalah sebuah perkenalan singkat di bat kopi saat tempat itu sudah menuju waktu closing. Namun, itu berlanjut menjadi sebuah hubungan pertemanan panjang yang tak di ketahui oleh siapapun, kecuali saat Razel memperkenalkan Aiden pertama kalinya pada ibunya.
Ibu Aiden juga sudah melihat rupa Razel untuk pertama kalinya di dalam kamar Aiden, namun dia tidak ingin membahas atau bahkan menyinggung soal kontrak-kontrak yang berhubungan dengan setan dan iblis. Menceritakan semuanya dengan jalan cerita yang berbeda, orang tua akan menganggap bahwa ini adalah cinta yang tak di ceritakan.
Namun, Aiden menolak keras bahwa dia mencintai Razel, dia tidak mencintai Razel sedikitpun. Hubungan mereka hanyalah sebatas teman baik, walau Aiden terkadang cuek padanya. Di dalam hatinya, dia telah memiliki seseorang yang dia cintai, seseorang yang tidak ada, mungkin ada, namun begitu jauh di luar mimpinya.
Gadis yang tidak dia ketahui wajahnya, suaranya, atau wujud wanita yang tidak jelas. Dia masih tetap berharap untuk bertemu wanita itu jika dia bermimpi lagi. Karena di dalam mimpi itu, rasanya dia tidak pernah terpesona oleh wanita manapun, selama ini hanyalah pandangan sebagai seorang pria yang candu akan wanita fiksi dua dimensi, namun akhirnya mimpi yang membuatnya jatuh cinta pada gadis realisme datang.
"Anak ini ... begitu cantik." Ucap Endelyn (Ibu Aiden) sambil menatap wajah bayi Razel dengan aroma parfum bayi yang sangat lembut.
"Lalu bagaimana denganmu Aiden, tidakkah kamu akan menerima anak ini? Pikirkanlah lagi sebelum menolaknya." Bujuk ibu Aiden, bahkan ibu Razel juga telah menerima semua ini sejak dia tahu bahwa Razel mengatakan bahwa dia mengandung seorang anak. Awalnya, dia mengira bahwa Razel memiliki kesalahan dengan perutnya dan akan segera membawanya ke dokter. Namun Razel harus jujur dan menolak untuk menggugurkan kandungannya.
Razel tidak berpikir bahwa dia akan memiliki gangguan kesehatan pada perutnya, namun dia tahu bahwa itu adalah kehamilan yang sudah pasti ada sebabnya, memasuki minggu kelima, Razel memeriksa kandungannya dengan hasil USG bahwa dia benar-benar mengandung seorang bayi. Namun di minggu keenam, dia bahkan tidak berpikir untuk melakukan aborsi dan akan terus mengandung bayi ini hingga kelahirannya tiba.