Queenara

Queenara
Aku adalah takdirmu



"Zi mau bola!" Ziko pun turut bersuara meminta untuk dilemparkan bola.


Zeline tertawa melihat adik-adiknya yang terlihat lucu karena saling menginginkan bola darinya.


"Baiklah, kalau begitu ayo tangkap!" Seru Zeline lalu melemparkan bola di udara.


Boy dan Ziko pun dengan segera saling mengejar arah bola akan terjatuh hingga tubuh mereka bertabrakan.


"Hua..." suara tangisan Boy dan Ziko terdengar bersahutan.


Naina dan Queen segera bangkit dari duduk masing-masing dan mengambil anak mereka masing-masing.


"Hua... Zi jahat..." ucap Boy dengan menangis sambil menunjuk Ziko.


"Sudah, sudah, jangan menangis Boy." Queen mengusap-usap kepala putranya untuk menenangkannya. Pun dengan Naina yang turut melakukan hal yang sama untuk menenangkan Ziko.


"Kenapa adik-adik jadi menangis? Sungguh tidak asik." Ucap Zeline sambil melipat kedua tangannya di dada. Walau merasa kesal karena kedua adiknya menangis dan permainan jadi terhenti, Zeline tetap menunjukkan sisi dirinya menjadi seorang Kakak dengan menghampiri Ziko dan Boy secara bergantian untuk menenangkan mereka.


"Tak Zel..." tangisan Ziko berubah jadi senyuman saat Zeline mengusap kepalanya untuk menenangkannya:


"Kau tidak boleh menangis, Boy. Tunjukkanlah sisi dirimu menjadi seorang pria yang kuat dan pemberani." Ucap Zeline memberi semangat.


"Pala Boy tatit." Ucapnya sambil mengusap kepalanya. Boy nampak tidak mengerti dengan apa yang Zeline katakan.


Zeline menghela nafasnya melihat Boy yang belum begitu paham maksud ucapannya sama seperti adiknya Ziko. Zeline kemudian menatap pada mainan mobil-mobilan milik Ziko.


"Bagaimana kalau kita bermain mobil-mobilan saja?" Ajak Zeline pada Ziko dan Boy.


Tangisan Boy dan Ziko pun seketika berhenti mendengar penawaran dari Zeline.


"Main mobil, main mobil." Ucap Ziko dan Boy berbarengan. Mereka pun serentak memberontak dalam pelukan Queen dan Naina dan meminta bermain bersama Zeline.


Naina dan Queen saling pandang dan tersenyum bersamaan melihat sikap anak-anak mereka. Mereka pun kembali duduk di atas sofa sambil memperhatikan anak mereka yang kembali bermain bersama.


"Mereka sungguh lucu dan menggemaskan." Ucap Naina menatap anak-anak mereka.


Queen mengangguk membenarkan. "Semoga saja kelak mereka bisa menjadi teman yang baik." Ucap Queen.


"Semoga saja." Balas Naina tersenyum.


Walau pun Boy masih merengek meminta tetap berada di rumah Daniel karena merasa terlalu senang bermain, namun Queen tetap membawanya untuk pulang sambil memberikan pengertian untuk Boy.


Saat sudah berada di perjalanan, Kevin menatap ke samping dimana Queen terlihat tengah menenangkan Boy yang masih merengek.


"Lain kali kita bermain di rumah Kak Zeline dan Ziko lagi, ya." Ucap Queen sambil mengusap kepala Boy.


"Boy mau main, Mommy." Rengek Boy tanpa memperdulikan ucapan Queen.


Queen kembali memberikan pengertian pada putranya sambil mengusap kepala Boy hingga membuat kedua mata Boy mulai berat setelah mendapatkan usapan lembut di kepalanya oleh Queen.


"Boy sudah tidur?" Tanya Kevin sambil menatap sekilas pada Boy.


"Ya. Boy sudah tidur. Karena terlalu senang bermain Boy jadi susah dibawa pulang." Queen tersenyum sambil terus mengusap kepala putranya. "Mungkin karena ini untuk pertama kalinya dia mendapatkan teman yang asik dibawa bermain hingga membuat Boy merasa nyaman." Lanjut Queen.


"Apa sebelumnya kau jarang membawanya bermain bersama teman-teman yang seusia dengannya, hem?" Tanya Kevin lembut.


"Seperti yang kau fikirkan. Aku membatasi Boy untuk bermain di luar rumah jika tidak ada Kak Mirza di sisi kami." Jawab Queen.


"Apa itu semua karena kau takut keberadaan kalian akan terlihat oleh anak buahku, hem?" Tanya Kevin.


Queen tersenyum kikuk mendengar pertanyaan Kevin. Karena apa yang Kevin katakan ada benarnya. Ia memang takut jika keberadaannya dan Boy diketahui oleh anak buah Kevin walau saat itu ia merasa Kevin tak lagi mencari keberadaannya.


"Mirza dan dirimu memang terlalu pandai menyembunyikan Boy dariku. Namun kalian tidak lebih pandai dari pada takdir yang akhirnya menuntunmu kembali padaku." Ucap Kevin tulus dengan tatapan penuh cinta pada Queen.


Deg


Jantung Queen berdebar-debar mendengarkan ucapan dari Kevin.


"Sejauh apa pun kau melangkah menjauh dariku, kau akan tetap kembali kepada diriku karena takdir hidupmu adalah untuk terus bersamaku." Lanjut Kevin lalu menarik sebelah tangan Queen untuk digenggamnya.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.


Sambil menunggu Queenara update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!🖤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.