
"Kakek..." suara cadel Boy mengalihkan tatapan Papa Adam dari Queen.
"Boy..." tangan Papa Adam terulur mengusap kepala Boy. "Boy dari mana saja?" Tanya Papa Adam berusaha tersenyum pada cucunya.
"Temu Daddy." Jawab Boy dengan polosnya.
"Apa Boy senang bertemu Daddy?" Tanya Papa Adam lagi.
"Senang. Mommy nanis tadi." Jawab Boy sambil menceritakan apa yang terjadi di apartemen Kevin tadi.
Mendengar ucapan Boy membuat pandangan Papa Adam seketika beralih pada Queen. "Apa maksud ucapan Boy?" Tanya Papa Adam dengan nada menuntut.
"Tidak seperti yang Papa pikirkan. Queen menangis karena bahagia akhirnya kesalahpahaman di antara Queen dan Kevin sudah menemui titik terangnya. Apa yang terjadi selama ini tidak sesuai dengan apa yang Queen pikirkan." Ucap Queen mencoba menjelaskan pada Papa Adam.
Lidah Papa Adam berdecak. "Papa tidak menyangka jika kau semudah itu percaya dengan ucapannya." Ucap Papa Adam dengan datar.
"Queen tidak akan percaya begitu saja jika tidak ada bukti nyata atas ucapannya yang Queen dapatkan, Pah." Jawab Queen dengan tenang. Ia tidak sungguh tidak ingin berdebat dengan Papanya itu saat ini.
"Bukti seperti apa yang kau dapatkan? Apa kau yakin jika bukti itu benar adanya? Mungkin saja itu hanya akal-akalannya saja." Cetus Papa Adam.
Queen menggelengkan kepalanya. "Queen percaya jika bukti itu benar adanya. Maaf, Pa, Queen sedang tidak ingin berdebat dengan Papa. Queen pamit masuk ke kamar dulu karena Boy sudah lelah dan mengantuk." Pamit Queen.
Papa Adam diam tak menanggapi ucapan Queen dan menatap Queen datar. Ia membiarkan Queen pergi begitu saja dari hadapannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi.
Setelah menapaki lantai atas, Queen menghentikan langkahnya untuk mendengar apakah Papa Adam kembali bersuara. Namun apa yang ia tunggu tidak terjadi hingga membuat Queen kembali melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.
"Kakek napa tu, Mommy?" Tanya Boy yang seolah mengerti amarah Papa Adam saat ini.
"Kakek tidak kenapa-napa, Sayang. Kakek hanya lelah dan mengantuk sama seperti Boy." Tutur Queen sambil mengusap sayang rambut Boy.
"Nantuk?" Tanya Boy sambil mengucek kedua matanya.
Queen mengangguk mengiyakan. "Ayo kita tidur." Ajak Queen.
"Kau selalu saja bisa membuat hati Mommy merasa tenang." Gumam Queen mengusap kepala Boy sambil masuk ke dalam kamarnya.
*
Keesokan harinya, Queen nampak kembali datang ke perusahaan Mirza dan menceritakan apa saja yang Kevin katakan padanya saat di apartemennya kemarin malam. Mirza duduk diam di kursi kerjanya sambil terus mendengar apa yang Queen ucapkan hingga akhirnya ucapan Queen pun terhenti.
"Jadi bagaimana keputusanmu?" Tanya Mirza.
Queen mengangkat kedua bahunya. "Saat ini aku masih ragu dengan keputusan yang aku ambil. Bukan ragu karena Kevin namun ragu dengan sikap Papaku yang masih menaruh rasa tidak suka padanya." Ucap Queen.
Mirza mengangguk paham. "Hanya ada satu cara agar Om Adam tak lagi menaruh rasa tidak sukanya pada Kevin." Ucap Mirza.
Queen menatap Mirza dengan tatapan penuh tanya.
"Kau hanya perlu membawa bukti atas ucapanmu pada Om Adam. Bagaimana kehidupan Kevin selama ini dan alasan apa yang membuatnya tidak tegas atas pernikahan kalian dulu. Kau juga bisa membawa bukti bagaimana kehidupan Kevin setelah kau pergi meninggalkannya. Aku yakin Om Adam dapat mengerti setelah kau menjelaskan dengan barang bukti pada Om Adam. Selama ini Om Adam memang tidak terlalu mengetahui apa yang terjadi di luar perusahaannya karena sibuk merawat Tante Lita yang sakit-sakitan. Om Adam bahkan tidak mengetahui informasi tentang perusahaan Kevin yang berada diambang kehancuran dua tahun lalu." Jelas Mirza panjang lebar.
Queen terdiam sambil mencerna ucapan Mirza. Ia dapat menyimpulkan jika sebuah penjelasan tanpa bukti yang akuratlah yang dibutuhkan Papa Adam saat ini untuk bisa kembali percaya pada Kevin.
"Aku rasa kau sudah paham maksud ucapanku." Ucap Mirza menatap wajah Queen yang kini menatap ke arah lain.
Queen kembali menoleh pada Mirza dan mengangguk sebagai jawaban. "Aku paham maksud ucapan Kakak. Setelah ini aku akan mengumpulkan bukti untuk di bawa kehadapan Papa agar Papa percaya dengan ucapanku." Ucap Queen.
Mirza menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan Queen. "Ingatlah, Queen, jika sikap Om Adam saat ini bukan karena dia tidak ingin kau dan Boy bahagia. Namun itu semua ia lakukan agar kau tidak kembali jatuh pada kesalahan yang sama yang membuatmu kembali terluka." Ucap Mirza memberi pengertian pada Queen.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Queenara update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.