Queenara

Queenara
Hal yang harus kita bicarakan



"Itu hanya menurutmu namun tidak menurutku." Tepis Kevin.


"Jangan pernah berpikir jika kau ingin mengambil Boy dari sisiku karena aku tidak akan membiarkannya!" Queen mengutarakan isi pemikirannya.


"Kau terlalu berpikir buruk kepadaku, Queen. Aku tidak sejahat itu memisahkanmu dengan Boy."


"Memang seharusnya begitu karena sejak dulu Boy hanyalah milikku." Ucap Queen dengan tegas.


"Boy juga anakku dan aku harap kau tidak melupakan itu." Tekan Kevin.


"Aku tidak melupakannya. Tapi kau juga tidak lupa bukan tentang perjanjian di antara kita?" Queen melemparkan kembali pernyataan yang membuat Kevin terdiam.


"Bisakah kau melupakan perjanjian itu?" Nada suara Kevin terdengar melemah.


Queen diam dengan hembusan nafas yang terdengar tidak beraturan. "Maaf, aku tidak bisa berlama-lama di sini." Ucap Queen berusaha untuk pergi. Ia sungguh tidak kuat menahan sesak di dadanya saat ini.


Kevin tak menanggapi ucapan Queen. "Kenapa kau pergi begitu saja tanpa mau bertanya tentang apa yang kau lihat dan kau dengar kepadaku lebih dulu, Queenara?" Tanya Kevin sambil menatap wajah Queen intens.


"Apa kau tahu setelah kepergianmu aku sangat panik mencari keberadaaanmu? Setiap hari tidak aku lewatkan untuk mencari keberadaanmu. Namun usahku selalu sia-sia karena aku baru sadar jika ada sosok yang sangat berpengaruh menutup akses keberadaanmu dariku." Lanjut Kevin kemudian karena Queen hanya diam saja.


Queen tertegun mendengarnya. Ia sungguh tidak menyangka jika Kevin terus mencari keberadaannya. Ia pikir Kevin bahkan tak memperdulikan keberadaannya lagi mengingat apa yang ia dengar di rumah kedua orang tua Kevin waktu itu.


"Aku tahu sebelum kau memutuskan untuk pergi kau mendengarkan percakapan keluargaku dan keluarga Melody yang membuatmu terluka. Namun apa kau tahu jika apa yang kau dengar itu belum sepenuhnya dan masih banyak pembicaraan yang tidak sempat kau dengar tapi kau sudah memutuskan untuk pergi?" Tanya Kevin.


Queen menatap ke depan dengan tatapan berkaca-kaca. Sekuat mungkin ia menahan genangan air matanya agar tidak jatuh setelah mendengarkan ucapan Kevin yang kembali membuatnya mengingat kejadia beberapa tahun lalu yang membuatnya merasa sakit untuk kesekian kalinya.


"Mommy..." Boy mengelus wajah Queen dengan tangan mungilnya. Sepertinya balita tampan itu dapat merasakan apa yang Queen rasakan saat ini. "Nanis, Mom?" Tanya Boy dengan tatapan polosnya.


Queen menggeleng namun tanpa sadar air mata sudah jatuh membasahi kedua pipinya.


"Nanis ini." Ucap Boy lagi sambil mengusap pipi Queen yang basah.


"Jangan menangis..." jemari Kevin pun turut berada di pipi Queen mengusap pipi Queen yang basah. "Begitu banyak hal yang perlu kita bicarakan yang membuat kesalahpahaman di antara kita terjadi." Ucap Kevin dengan tatapan yang tak lepas dari wajah Queen.


Queen menghela nafasnya setelah jemari Kevin lepas dari wajahnya. "Hal seperti apa yang kau maksud? Bukannya semuanya sudah jelas? Jika kepergianku adalah sebuah kesalahan, lantas bagaimana denganmu? Kau dan keluargamu merencanakan sebuah pernikahan di saat aku masih mengandung Boy. Bukankah lebih baik aku pergi untuk menenangkan hatiku, karena pada akhirnya kita juga akan berpisah tanpa aku harus menunggu Boy lahir ke dunia." Ucap Queen.


"Harus kau tahu jika niatku datang ke rumah kedua orang tuaku waktu itu bukan untuk membicarakan rencana pernikahanku dan Melody. Aku hanya datang untuk melihat keadaan Mami yang baru saja sembuh dari sakitnya. Sama seperti niatmu yang datang untuk menjenguk Mami waktu itu. Aku juga tidak menyangka jika di sana ada keluarga Melody yang ingin membahas rencana pernikahan kami hingga membuat kesalahpahaman di antara kita terjadi." Jelas Kevin.


"Untuk apa kau baru menjelaskan ini semua di saat semuanya sudah berubah. Kau bukan suamiku lagi begitu pun sebaliknya. Lagi pula kau masih ingat dengan jelas dasar pernikahan kita terjadi dan bagaimana kesepakatan akhir dari pernikahan kita." Ucap Queen dengan bibir bergetar.


"Itu karena..." ucapan Kevin terhenti saat mendengar suara nada dering dari ponsel Queen.


"Maaf, tolong pegang Boy sebentar." Queen segera menyerahkan Boy pada Kevin lalu beranjak dari duduknya. Ia berjalan sedikit menjauh dari Kevin agar Kevin tak dapat mendengar pembicaraanya di telefon. "Papah..." lirih Queen lalu menarik ikon hijau di layar ponselnya. Cukup lama Queen dan Papa Adam berbincang lewat telefon hingga akhirnya Queen pun kembali ke tempat duduknya.


"Maaf, tapi aku harus segera kembali ke rumah saat ini." Ucap Queen pada Kevin.


"Kenapa buru-buru sekali?" Tanya Kevin.


"Itu karena..." Queen tak melanjutkan ucapannya karena tidak ingin memberitahu Kevin alasannya harus pulang saat ini.


Mengerti jika Queen tak bisa memberitahukannya, Kevin pun kembali angkat bicara. "Pembicaraan kita belum selesai. Bisakah setelah ini kita mengatur waktu untuk bertemu kembali?" Pinta Kevin penuh harap.


Queen menganggukkan kepalanya lalu mengambil Boy dari tangan Kevin. "Maaf, aku harus pergi." Ucapnya lalu segera membawa Boy yang tengah merengek menjauh dari Kevin sambil menatap ke arah sosok yang sejak tadi memperhatikannya.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.


Sambil menunggu Queenara update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!🖤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.