
"Lihatlah pria itu. Selain tampan dia juga sangat penyayang. Sungguh suami idaman." Beberapa pujian yang keluar dari mulut wanita itu pun berhasil terdengar di telinga Queen. Queen menghentikan langkahnya lalu menatap ke arah wanita yang sedang memuji mantan suaminya itu. Entah mengapa ia merasa tidak suka mendengar kalimat pujian dari mulut wanita lain untuk Kevin walau apa yang mereka katakan itu adalah benar.
"Kau benar. Benar-benar suami idaman." Timpal wanita yang lainnya tanpa memperdulikan tatapan Queen kepada mereka.
Queen menggelengkan kepalanya mengusir rasa aneh yang kini mengusik hatinya lalu kembali berjalan ke arah Boy berlari.
"Hap. Akhirnya Daddy mendapatkanmu." Kevin mengangkat tubuh Boy ke udara lalu mencium gemas pipi bulat Boy yang membuat Boy tertawa-tawa.
"Mereka benar. Kau memang suami idaman, Kevin. Namun sayang hatimu tercipta bukan untukku." Gumam Queen.
***
"Tulun... tulun..." Boy menggoyang-goyangkan kakinya meminta diturunkan. Ia pun akhirnya tertawa-tawa karena Kevin bukannya menurunkannya justru menggelitik perutnya yang membuatnya kegelian. "Ehe... Daddy!" Boy menepuk pipi Kevin.
Di belakang Kevin, Queen nampak menatap interaksi Boy dan Kevin dengan berkaca-kaca. Ia merasa sangat senang karena kini Boy sudah dapat merasakan kasih sayang dari ayah kandungnya dan bisa bermain bersama seperti saat ini.
"Baiklah, Daddy akan menurunkanmu." Kevin menurunkan Boy dari gendongannya.
Melihat itu Queen pun dengan cepat berdiri di depan Boy sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak lagi berlari, Boy." Ucap Queen dengan tegas.
"Boy mau lali." Ucap Boy lalu berusaha melewati tubuh Queen. Namun Queen tak membiarkannya begitu saja. "Ayo duduk dulu nanti kita bermain lagi." Ucap Queen menahan tangan Boy.
"Mommy..." Boy merengek karena Queen melarangnya. "Biarkan saja dia bermain lebih dulu. Sepertinya dia belum terlalu lelah. Jika kau lelah, kau bisa duduk dulu di sana." Ucap Kevin menunjuk salah satu kursi yang berada tidak jauh dari mereka.
"Aku tidak lelah. Aku ingin membelikan minuman dulu untuk Boy." Jawab Queen.
"Baiklah. Kalau begitu pergilah. Biar aku yang menjaga Boy." Ucap Kevin.
Queen pun melepaskan tangannya dari tangan Boy dan membiarkan Boy kembali berlari. Kevin dengan sigap mengikuti putranya meninggalkan Queen yang masih terdiam di tempatnya. "Apa dia tidak bekerja hari ini?" Tanya Queen menyadari penampilan saat ini yang hanya menggunakan baju kaos dan celana jeans. Melihat Boy dan Kevin yang semakin jauh dari pandangannya membuat Queen memutuskan segera pergi mencari minuman untuk Boy.
*
"Ini minuman untukmu." Queen memberikan satu botol minuman ke tangan Kevin yang tengah duduk memangku Boy.
Kevin mengangkat kepalanya hingga kini membuat pandangan mereka bertemu. "Terimakasih." Ucapnya lembut.
Queen menganggukkan kepalanya. "Kemarikan Boy. Biar aku yang memangkunya." Ucap Queen.
Kevin menurutinya dengan menyerahkan Boy pada Queen.
Boy mengiyakannya dan menerima minuman yang disodorkan Queen ke mulutnya.
"Queen..." Suara Kevin yang terdengar mengalun memanggil namanya membuat Queen menatap wajah Kevin. Tak lama Queen pun menolehkan wajahnya ke samping saat matanya tidak kuat terlalu lama menatap kedua bola mata Kevin yang selalu melemahkan hatinya.
"Ada apa?" Queen berusaha menghilangkan kegugupannya dengan mengusap kepala Boy.
"Masih banyak hal yang ingin aku bicarakan kepadamu."Ucap Kevin.
"Tidak ada lagi yang mesti kita bahas karena semuanya sudah selesai bukan?" Tanya Queen.
"Itu hanya menurutmu namun tidak menurutku." Tepis Kevin.
"Jangan pernah berpikir jika kau ingin mengambil Boy dari sisiku karena aku tidak akan membiarkannya!" Queen mengutarakan isi pemikirannya.
"Kau terlalu berpikir buruk kepadaku, Queen. Aku tidak sejahat itu memisahkanmu dengan Boy."
"Memang seharusnya begitu karena sejak dulu Boy hanyalah milikku." Ucap Queen dengan tegas.
"Boy juga anakku dan aku harap kau tidak melupakan itu." Tekan Kevin.
"Aku tidak melupakannya. Tapi kau juga tidak lupa bukan tentang perjanjian di antara kita?" Queen melemparkan kembali pernyataan yang membuat Kevin terdiam.
"Bisakah kau melupakan perjanjian itu?" Nada suara Kevin terdengar melemah.
Queen diam dengan hembusan nafas yang terdengar tidak beraturan. "Maaf, aku tidak bisa berlama-lama di sini." Ucap Queen berusaha untuk pergi. Ia sungguh tidak kuat menahan sesak di dadanya saat ini.
Kevin tak menanggapi ucapan Queen. "Kenapa kau pergi begitu saja tanpa mau bertanya tentang apa yang kau lihat dan kau dengar kepadaku lebih dulu, Queenara?" Tanya Kevin sambil menatap wajah Queen intens.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Queenara update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!đź–¤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.