
"Ternyata dia bekerja pagi ini." Ucap Marvel dalam hati.
"Om Marvel." Ucap Zeline manatap pada Marvel yang hanya diam saja tanpa menjawab ucapan Windi.
"Emh, ya." Jawab Marvel setelah tersadar saat Zeline memegang sebelah tangannya.
"Tante ini berbicara pada Om. Kenapa Om hanya diam saja?" Tanya Zeline dengan bibir mengkerut.
Marvel menatap pada Windi setelah mendengar ucapan Zeline. Boy yang melihat Marvel menatap padanya pun merengek meminta digendong oleh Marvel. Marvel pun segera meraih tubuh Boy dan menggendongnya.
"Maafkan keponakan saya, Nona." Ucap Marvel pada Windi. Sebelah tangannya yang bebas pun mengusap kepala Boy untuk menenangkan Boy.
Boy menatap takut pada wajah Windi. "Boy nda sengaja, Om." Ucap Boy pada Marvel. Balita itu pun terlihat takut jika Marvel juga akan memarahinya.
"Ya, Om tahu itu." Jawab Marvel. "Sekali lagi maafkan ponakan saya, Nona." Ucap Marvel pada Windi lagi.
"Tidak masalah, Tuan." Ucap Windi yang belum menjawab permintaan maaf Marvel.
"Oh, Boy..." Dio terlihat berlari ke arah Marvel berada saat melihat keberadaan Boy.
"Dari mana saja kau?" Tanya Marvel tanpa memperdulikan hembusan nafas Dio yang terdengar naik turun.
"Aku baru saja berlari mencari keberadaan Boy." Jawab Dio seadanya.
Marvel mendengus mendenagarnya. "Bagaimana bisa kau begitu ceroboh hingga tak menyadari Boy berlari sendiri ke rak ini." Marvel terdengar memarahi Dio karena kecerobohannya.
"Itu karena Boy tiba-tiba saja hilang dari pandanganku saat dia berlarian bersama Ziko." Ucap Dio.
"Kau terlalu ceroboh. Untung saja Boy tidak hilang." Berang Marvel.
"Maafkan aku." Ucap Dio tak ingin membantah ucapan Marvel karena ia menyadari ada Windi di antara mereka.
Windi menatap Marvel dan Dio secara bergantian. Entah mengapa ia merasa tidak asing dengan wajah dan postur tubuh kedua pria yang ada di hadapannya saat ini.
"Emh, kalau begitu saya pamit dulu, Tuan." Ucap Windi setelah melihat Marvel dan Dio tak lagi bersuara.
Marvel mengangguk saja sedangkan Dio menatap Windi dengan menampilkan senyuman manisnya.
"Ya, ada apa, Sayang?" Tanya Windi.
"Tante tidak marah bukan pada adik Boy?" Tanya Zeline dengan polosnya.
Windi tersenyum mendengarnya. Sebelah tangannya pun terulur mengelus rambut Zeline. "Tentu saja tidak, cantik. Lagi pula kenapa Tante harus marah?" Tanyanya lembut.
"Cantik?" Zel tersenyum malu mendengar panggilan Windi padanya. "Zel cantik gini?" Tanya Zeline malu.
Windi pun mengangguk mengiyakan. "Baiklah, kalau begitu Tante pamit untuk kembali bekerja dulu." Ucap Windi yang dibalas Zeline dengan anggukan kepalannya.
Setelah kepergian Windi, Dio menyenggol lengan Marvel saat melihat Marvel menatap punggung Windi dengan intens.
"Kau pasti senang karena bertemu dengannya pagi ini." Goda Dio.
"Diamlah. Kau sadar kesalahanmu yang hampir membuat Boy celaka!" Ketus Marvel.
Dio mendengus mendengarnya. "Kau terlalu berlebihan. Lagi pula Boy hanya menabrak Windi bukan menabrak rak yang ada di sini." Ketusnya.
"Kenapa Om jadi bertengkar?" Tanya Zeline menatap Dio dan Marvel secara bergantian.
"Tidak, Om tidak bertengkar, Princess..." ucap Marvel merasa tidak enak pada para bocil yang ada di dekatnya saat ini.
"Sudahlah, lebih baik sekarang kita melanjutkan mencari cemilan dan segera pergi dari sini." Ucap Dio.
Marvel mengangguk mengiyakan. "Ingat, Boy. Jangan berlari lagi." Pesan Marvel.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Queenara update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.