
"Ya. Kali ini saya pergi berdua saja, Bibi. Saya bisa menjaga Boy sendiri." Jawab Queen tersenyum.
Nany mengangguk paham. "Kalau begitu hati-hati di jalan, Nona." Ucap Nany.
"Baik, Bibi, terimakasih." Ucap Queen lalu beranjak dari hadapan Bibi.
"Nenek nda itut, Mom?" Tanya Boy setelah masuk ke dalam mobil.
"Tidak... Nenek dan Kakek di rumah saja." Jawab Queen.
"Kacian itu Nenek tinggal." Ucap Boy sambil menunjuk ke arah rumah.
Queen tersenyum lalu mengusap kepala Boy. "Lain kali kita ajak Nenek pergi, ya. Sekarang kita pergi berdua dulu." Ucap Queen lembut.
"Ya, Mom." Jawab Boy lalu melambaikan tangannya ke arah rumah seolah ada Nenek dan Kakeknya yang sedang melepas kepergian mereka.
Queen pun mulai menjalankan mobilnya keluar dari perkarangan rumah. Tanpa rasa curiga Queen terus melajukan mobilnya ke arah taman sambil mengajak Boy berbicara tanpa menyadari jika kini sebuah mobil bewarna merah tengah mengikuti mereka dari belakang.
"Ayo turun." Queen meraih tubuh Boy dari dalam mobil lalu menggendongnya berjalan masuk ke dalam taman.
"Banak teman, Mom!" Boy menunjuk anak-anak yang sedang bermain di taman.
Queen menganggukkan kepalanya. "Iya... Boy ingin bermain bersama mereka?" Tanya Queen.
"Main ndili ja, Mom." Jawabnya.
Queen mengusap kepala Boy sambil terus berjalan ke arah kursi taman. "Duduk di sini dulu, ya." Ucap Queen lalu mendudukkan Boy di atas kursi. Setelahnya ia pun turut duduk di kursi yang bersebelahan dengan Boy.
"Mommy... Boy mau itu!" Tunjuknya pada permainan anak berada cukup jauh dari mereka.
Queen mengusap kepala Boy. "Duduk dulu, ya, nanti Mom akan membawa Boy bermain di sana." Ucap Queen.
Boy menurut saja dan menatap ke sekelilingnya yang mulai ramai dengan kehadiran anak-anak.
"Mom, tulun..." Boy mulai merengek meminta diturunkan dari kursi melihat anak-anak di sekitarnya tengah berlari di depannya.
"Baiklah." Queen menurutinya dan membiarkan Boy berjalan sendiri. "Jangan berlari, Boy!" Ucap Queen sedikit berteriak saat Boy mulai berlari.
Boy tak mendengarkannya dan terus berjalan dengan cepat ke arah mainan perosotan yang berada cukup jauh darinya.
"Kenapa langkahnya semakin cepat saja." Queen sedikit kesulitan mengejar langkah Boy.
Karena tak melihat anak-anak di sekitarnya tengah berlari ke arahnya, tubuh Boy pun ditabrak dari samping hingga membuat Boy terjatuh dan beberapa saat kemudian ia pun menangis.
"Astaga, Boy!" Queen berlari ke arah Boy yang tengah menangis. Saat sudah berada dekat dengan Boy, tubuh Queen dibuat menegang melihat sosok yang kini sudah menggendong tubuh Boy.
"Kevin..." lirih Queen dengan mata membulat sempurna.
"Daddy..." tangisan Boy terdengar semakin kencang melihat wajah Kevin yang sudah sejak lama dirindukannya.
"Jangan menangis, Boy." Kevin mengusap kepala Boy sambil tersenyum.
Bukannya berhenti, Boy justru menangis semakin keras. "Daddy puyang." Ucapnya sambil menangis.
"Ya, Daddy sudah kembali, Boy." Ucap Kevin.
Seorang wanita berusia sekitar tiga puluh tahunan nampak menghampiri Kevin. "Maafkan anak saya, Tuan." Ucapnya merasa tidak enak.
"Tidak masalah, Nona." Jawab Kevin dengan tersenyum tipis.
"Sekali lagi maafkan anak saya. Dia sungguh tidak sengaja." Ucapnya lagi.
Kevin menganggukkan kepalanya. Setelah wanita itu pergi membawa anaknya yang menabrak tadi tubuh Boy, pandangan Kevin pun beralih pada Queen yang masih nampak terdiam di posisinya. "Queen." Ucapnya pada Queen.
Queen tak menggubris ucapan Kevin. Ia pun melangkah ke arah Kevin dan menatap Kevin datar. "Kemarikan Boy." Ucapnya dengan nada memaksa. Entah mengapa saat ini ia merasa takut jika Kevin membawa Boy pergi darinya.
"Nda mahu. Boy mau Daddy!" Ucap Boy sambil mengeratkan pelukan tangannya di leher Kevin.
Queen mengatur nafasnya yang terdengar naik turun. Ia menatap sekitar dimana kini mereka menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitarnya. Mengerti arah tatapan Queen, Kevin pun angkat suara. "Kita bisa menenangkan Boy di sana saja." Ucapnya sambil mengarahkan pandangan pada salah satu kursi taman yang berada tidak jauh dari mereka.
Queen menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah Kevin dari belakang. Bagaimana dia ada di sini? Apa ini hanya sebuah kebetulan? Ucap Queen dalam hati.
"Apa kau hanya ingin tetap berdiri?" Tanya Kevin melihat Queen yang hanya berdiri di samping kursi sedangkan ia sudah duduk sambil memangku Boy.
"Aku berdiri saja." Ucapnya yang merasa canggung jika duduk bersebelahan dengan Kevin. Terlebih ia tidak ingin Kevin mendengar denyut jantungnya yang saat ini berdetak sangat cepat.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Queenara update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.