
Sebelum pulang ke kediaman kedua orang tuanya sore itu, entah mengapa Marvel sangat ingin pergi ke supermarket tempat Windi bekerja sebelum berangkat menuju rumah kedua orang tuanya. Marvel pun menuruti keinginan hatinya itu dengan pergi ke supermarket tempat Windi bekerja.
Setelah memarkirkan mobilnya di depan supermarket, Marvel melangkah dengan gagah masuk ke dalam supermarket. Dan seperti biasa yang sudah ia rasakan, wanita-wanita yang sedang berada di supermarket nampak menunjukkan tatapan terpesona akan kehadiran dirinya di sana.
"Tidak ada yang bisa menolak pesonaku di sini." Ucapnya dalam hati merasa bangga. Ia pun terus berjalan masuk ke dalam supermarket hingga tatapannya terhenti saat melihat sosok wanita yang dicarinya sudah terlihat tepat di depan matanya.
Windi, wanita itu kini terlihat tengah merapikan barang-barang yang tidak tersusun rapi di dalam rak.
"Ehem." Marvel berdehem saat melewati tubuh Windi.
Namun bukannya menoleh padanya, Windi justru tetap fokus pada pekerjaannya seolah keberadaan Marvel di sana tidak ada arti apa-apa untuknya.
"Sial, dia benar-benar tidak memperdulikan keberadaanku di sini." Gumam Marvel. Marvel pun teringat dengan ucapan Dio tempo hari yang mengatakan jika wanita itu juga tidak terlihat tertarik dengan keberadaannya di sana.
"Nona?" Sapa Marvel yang sudah berada di belakang tubuh Windi. Saat ini ia ingin memperhatikan wajah wanita itu saat berada di dekatnya. Apakah wanita itu tadi tidak tertarik dengan keberadaannya atau tidak melihat keberadaannya di sana.
"Eh." Windi terlihat mengelus dadanya. Ia menatap pada Marvel sekilas lalu menundukkan pandangannya seraya tetap mengelus dada. "Ada apa, Tuan?" Tanya Windi yang sudah kembali mengangkat wajahnya.
Marvel terhenyak. Karena apa yang diharapkan tidak terjadi karena Windi hanya menatapnya biasa saja tanpa ada tatapan terpesona sedikit pun.
"Dimana rak khusus cemilan berbahan dasar ubi?" Tanya Marvel berusaha menghilangkan kekesalannya.
Windi langsung menunjuk pada deretan cemilan yang berada di sebelah Marvel. "Kebetulan cemilan ubi itu ada di sebelah Tuan." jawab Windi ramah.
"Oh ya?" Marvel terkejut mendengarnya. Ia menatap pada rak cemilan yang ada di depannya lalu berusaha menahan rasa malu yang kini menyeruak dalam dadanya.
"Baiklah." Jawab Marvel singkat lalu mengambil asal cemilan yang ada di sebelahnya. "Ini sungguh memalukan." Gerutunya sambil berjalan menjauhi Windi.
Sedangkan Windi kini menatap Marvel dengan wajah bingungnya. "Aneh sekali. Kenapa Tuan itu tidak mencarinya lebih dulu sebelum bertanya padaku. Apa lagi cemilan itu berada dekat dengannya." Windi menggeleng lalu tersenyum tipis mengingat sikap Marvel.
*
Karena merasa telah dipermalukan oleh dirinya sendiri di hadapan Windi, Marvel pun dengan tanpa pikir panjang membeli banyak cemilan yang berbahan dasar ubi atau pun yang lainnya. Saat mau membayar di depan kasir, Windi dibuat terkejut melihat barang belanjaan Marvel yang sangat banyak.
"Apa anda ingin menjual banyak macam makanan ringan, Tuan?" Tanya Windi namun hanya dalam hatinya. Ia pun mengatupkan tangannya di dada lalu mengambil barang belanjaan Marvel dari keranjang belanjaannya.
Marvel menatap wajah Windi dengan wajah bingung karena Windi tidak menunjukkan ekspresi apa-apa melihatnya yang memborong banyak belanjaan dari supermarket.
"Ini benar-benar tidak waras." Gerutu Marvel dalam hati sambil menatap wajah cantik Windi.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Queenara update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.