
Ucapan Marvel yang terdengar sangat tulus keluar dari mulutnya membuat Windi kembali tertegun karenanya. Ia menatap Marvel dengan tersenyum kaku dan dibalas Marvel dengan senyuman lebar di wajah tampannya.
"Sudahlah jangan banyak berpikir. Lebih baik sekarang kita pergi ke rumahmu dan membereskan barang-barangmu di sana." Ajak Marvel.
Windi mengangguk mengiyakannya. Marvel pun segera menarik kopernya keluar dari dalam kamar dan diikuti Windi di belakangnya.
"Apa kau ingin minum?" Tanya Marvel setelah keluar dari dalam kamar dan menyadari jika ia belum memberikan minum pada istrinya itu.
"Tidak. Aku tidak haus."
"Kau serius?"
Windi mengangguk mengiyakannya. Marvel turut mengangguk lalu kembali menarik kopernya ke arah pintu apartemennya berada.
*
"Pinggirkan saja mobilnya masuk ke teras rumahku." Ucap Windi saat mobil milik Marvel telah sampai di depan rumahnya.
Marvel menurutinya dengan memarkirkan mobilnya sedikit masuk ke teras rumah Windi.
"Maaf karena halaman rumahku tidak terlalu luas hingga kau sulit memarkirkan mobilmu." Ucap Windi merasa sungkan.
"Tidak masalah. Ayo kita keluar." Ajak Marvel dan Windi pun mengangguk mengiyakannya.
Windi berjalan ke arah pintu rumahnya dan membuka gembok rumahnya dengan kunci yang baru saja ia keluarkan dari dalam tas selempangnya.
"Ayo masuk." Ajak Windi.
Marvel mengangguk lalu melangkah masuk ke dalam rumah mengikuti Windi.
"Maaf jika kau merasa tidak nyaman di sini." Ucap Windi kembali merasa tidak enak.
"Bukankah sudah aku katakan tidak perlu berpikir yang macam-macam? Siapa bilang aku tidak nyaman? Aku nyaman berada dimana saja asal bersama orang yang aku sayangi." Ucap Marvel dengan wajah serius.
Deg
Marvel mengusap lengan Windi. "Ayo segera bereskan barang-barangmu." Ajak Marvel.
"Emh baiklah. Apa kau ingin menunggu di sini saja?" Tanya Windi.
"Tentu saja tidak. Aku akan ikut ke dalam kamar untuk membantumu." Jawab Marvel.
"Baiklah." Jawab Windi tak ingin membantah dan membiarkan Marvel ikut dengannya masuk ke dalam kamar.
Setelah masuk ke dalam kamar, Marvel dibuat tertegun melihat kamar Windi yang terlihat sangat sempit bahkan jauh lebih besar kamar mandi miliknya dibandingkan kamar Windi. Walau terkesan sempit, namun kamar Windi terlihat tertata rapi dan juga bersih.
"Kau duduk di sana saja. Aku bisa menyiapkannya sendiri dulu." Ucap Windi sambil menunjuk ranjangnya yang hanya berukuran 160 X 200.
"Baiklah." Kali ini Marvel menurut. Bukan karena tidak ingin membantu istrinya itu. Namun setelah melihat tempat kosong di dekat lemari Windi membuatnya sadar jika mereka tidak bisa menyiapkanny berdua di sana.
Marvel pun duduk di atas ranjang dan melihat aktivitas Windi yang mulai menyiapkan baju dan perlengkapannya yang lain untuk dibawa ke negara S.
"Emh, Marvel. Bisakah kau melihat ke arah lain? Aku ingin memasukkan pakaian da-lamku ke dalam koper." Ucap Windi.
"Apa kau malu jika aku melihat pakaian da-lammu?" Tanya Marvel sambil menaikkan sebelah alis matanya.
Windi mengangguk mengiyakannya. Melihat ekspresi polos di wajah istrinya membuat Marvel tidak dapat menahan senyuman yang sejak tadi ia tahan.
"Baiklah. Aku akan melihat ke arah sana." Jawab Marvel lalu mengalihkan pandangan pada arah jendela kamar Windi.
Windi mengelus dadanya melihat Marvel yang sudah melihat ke arah lain lalu segera memasukkan pakaian da-lamnya ke dalam koper.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Queenara update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.