
"Kau hanya perlu membawa bukti atas ucapanmu pada Om Adam. Bagaimana kehidupan Kevin selama ini dan alasan apa yang membuatnya tidak tegas atas pernikahan kalian dulu. Kau juga bisa membawa bukti bagaimana kehidupan Kevin setelah kau pergi meninggalkannya. Aku yakin Om Adam dapat mengerti setelah kau menjelaskan dengan barang bukti pada Om Adam. Selama ini Om Adam memang tidak terlalu mengetahui apa yang terjadi di luar perusahaannya karena sibuk merawat Tante Lita yang sakit-sakitan. Om Adam bahkan tidak mengetahui informasi tentang perusahaan Kevin yang berada diambang kehancuran dua tahun lalu." Jelas Mirza panjang lebar.
Queen terdiam sambil mencerna ucapan Mirza. Ia dapat menyimpulkan jika sebuah penjelasan tanpa bukti yang akuratlah yang dibutuhkan Papa Adam saat ini untuk bisa kembali percaya pada Kevin.
"Aku rasa kau sudah paham maksud ucapanku." Ucap Mirza menatap wajah Queen yang kini menatap ke arah lain.
Queen kembali menoleh pada Mirza dan mengangguk sebagai jawaban. "Aku paham maksud ucapan Kakak. Setelah ini aku akan mengumpulkan bukti untuk di bawa kehadapan Papa agar Papa percaya dengan ucapanku." Ucap Queen.
Mirza menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan Queen. "Ingatlah, Queen, jika sikap Om Adam saat ini bukan karena dia tidak ingin kau dan Boy bahagia. Namun itu semua ia lakukan agar kau tidak kembali jatuh pada kesalahan yang sama yang membuatmu kembali terluka." Ucap Mirza memberi pengertian pada Queen.
***
Siang itu Queen kembali ke perusahaannya dengan membawa semangat dalam dirinya untuk mengumpulkan bukti jika selama ini Kevin tidak bersalah dan hanya ada kesalahpahaman di antara mereka. Sesempainya di perusahaan, Queen segera mencari Riri untuk meminta bantuan padanya mengumpulkan bukti tentang keadaan perusahaan Kevin yang berada diambang kehancuran dua tahun lalu.
"Saya siap membantu, Nona. Saya harap setelah ini Nona dan Tuan Kevin dapat kembali bersama dan hidup dengan bahagia." Jawab Riri setelah Queen menyebutkan tugasnya. Untung saja pekerjaanya dan Queen untuk dua hari ke di perusahaan sudah hampir selesai hingga ia bisa fokus pada informasih yang Queen butuhkan.
"Terima kasih, Riri. Kau memang selalu bisa aku andalkan." Queen tersenyum lega setelah mendengarkan jawaban dari Riri yang tulus ingin membantunya.
"Itu memang sudah menjadi tugas saya, Nona." Jawab Riri.
Queen tersenyum lalu berpamitan kembali ke ruangan kerjanya. Ia ingin segera mengumpulkan bukti yang akan dibawa ke hadapan Papa Adam agar kesalahpahaman di antara mereka cepat terselesaikan.
Sesampainya di dalam ruangannya, pemikiran Queen tertuju pada sosok Mirza yang terlihat baik-baik saja bahkan berniat tulus untuk membantunya bersatu kembali kepada Kevin.
"Kak Mirza... Kakak mengajarkanku jika mencintai paling tulus itu adalah mengikhlaskan orang yang kita cintai bahagia dengan pilihannya bukan memaksa dia tetap bersama dengan kita." Gumam Queen. Wajah Queen pun berubah sendu mengingat kesalahannya selama ini yang terlalu berharap pada sosok yang tidak pernah mengharapkan cintanya.
Dan kini ia mendapatkan balasan atas apa yang tidak pernah ia dapatkan saat bersama Daniel. Ia mendapatkan Kevin yang tulus membalas cintanya bahkan berkorban begitu jauh untuk cintanya. "Terima kasih, Kevin. Terima kasih karena kau telah mematahkan pemikiranku jika tidak ada satu pun pria yang tulus mencintaiku. Terima kasih karena telah begitu tulus mencintaiku bahkan saat aku bersama dengan pria lain yang tak lain adalah sahabatmu sendiri." Gumam Queen merasa sangat bersyukur.
*
Dan entah mengapa permintaan Daniel selalu ditanggapi antusias oleh Marvel dan Dio karena mereka merasa senang bisa menjaga si centil Zeline dan Ziko yang sedang dalam fase lucu-lucunya.
"Tak Zel janan lali..." Ziko mengejar langkah Zeline yang semakin jauh darinya sambil berlari. Marvel dan Dio pun sontak berlari mengejar Zeline dan Ziko yang semakin jauh dari mereka. Sedangkan Kevin memilih berjalan membiarkan Marvel dan Dio mengejar langkah Zeline dan Ziko yang tengah berlari di sekitar area bermain di dalam mall.
"Kenapa Om mengejar Zel dan adik? Zel kan ingin berlari bersama adik!" Protes Zeline sambil berkacak pinggang saat Marvel berhasil menghentikan langkahnya dan Ziko.
"Om napa kejal-kejal Adik dan Tak Jel?" Ziko pun turut mengikuti ucapan Zeline yang membuat Marvel gemas melihatnya.
"Itu karena Om tidak ingin kau hilang dan Om akan dimarahi habis-habisan oleh Papamu." Ucap Marvel lalu tanpa aba-aba mengangkat tubuh Zeline. Dio pun turut mengangkat tubuh Ziko yang membuat Ziko dan Zeline berteriak bersamaan.
Kevin yang berada di belakang Marvel dan Dio pun hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap kedua sahabatnya pada Zeline dan Ziko. Di dalam hatinya yang terdalam ia juga ingin merasakan mengajak putranya bermain bersama seperti ia yang sering mengajak Zel dan Ziko bermain bersama.
Marvel dan Dio pun kembali melepaskan tubuh Zeline dan Ziko dan membiarkan mereka bermain permainan yang ada di dalam area bermain. Di tengah keramain anak-anak yang sedang bermain, pandangan Marvel pun tertuju pada balita mungil yang baru saja masuk ke dalam area bermain sambil berlari.
"Kev lihatlah! Bukankah itu Boy?" Tunjuk Marvel pada Boy yang sedang berlari diikuti Papa Adam di belakangnya.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Queenara update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.