
Keesokan harinya.
"Marvel?" Windi yang baru saja keluar dari dalam rumahnya merasa terkejut melihat keberadaan Marvel yang sudah berdiri di depan rumahnya.
"Hai, Windi." Sapa Marvel ramah.
"Ada apa kau datang ke sini pagi-pagi begini?" Tanya Windi tanpa menjawab sapaan Marvel.
"Aku datang untuk menemanimu pergi mengunjungi makam ibumu." Jawab Marvel.
"Apa? Bagaimana kau bisa tahu jika pagi ini aku akan pergi mengunjungi makam ibuku?" Tanya Windi bingung.
"Kau tidak perlu mengetahuinya.Yang jelas kemana pun angin akan membawamu aku akan ikut serta bersamamu." Jawab Marvel.
Deg
Windi tertegun mendengar ucapan Marvel yang terdengar sangat tulus di telinganya.
Marvel melambaikan tangan di depan wajah Windi. "Jangan termenung seperti itu. Aku tahu aku tampan, tapi untuk saat ini kau jangan terpesona dulu dengan ketampananku karena kita harus segera pergi ke makan ibu mertuaku." Kelakar Marvel.
Windi tersenyum mendengar ucapan Marvel. "Kau bisa saja." Ucapnya.
Marvel tertawa kecil mendengarnya. "Ayo kita pergi." Ajaknya pada Windi.
Windi mengarahkan pandangannya pada mobil Marvel yang terparkir di depan rumahnya. Ia segera mengangguk mengiyakan ajakan Marvel saat melihat mobil lain dari arah belakang mobil Marvel akan melewati jalan yang sama dengan mobil Marvel.
"Ayo kita segera naik atau mobil itu akan mengklakson kita." Ajak Marvel yang dengan cepat diangguki Windi.
"Maaf jadi terburu-buru seperti ini." Ucap Windi saat mobil Marvel melaju dengan cepat keluar dari dalam gang.
"Tak masalah. Lagi pula itulah kekurangan melewati gang sempit seperti ini. Mobil kita tidak bisa parkir terlalu lama di tepi jalan karena akan membuat kendaraan lain tidak bisa lewat." Jawab Marvel.
Windi tersenyum mendengarnya. "Kau pasti tidak nyaman pergi ke rumahku." Ucap Windi.
Marvel menoleh pada Windi. "Kenapa kau berpikir seperti itu? Aku tidak pernah merasa tidak nyaman pergi ke rumahmu. Jika masalah jalan sempit itu bukan menjadi alasan untuk aku merasa tidak nyaman datang ke rumah wanita yang akan menjadi istriku." Jawan Marvel.
Windi terdiam tak dapat berkata mendengar ucapan Marvel.
Windi mengangguk saja tanpa menjawab ucapan Marvel.
"Apa kau tahu dimana makam ibuku berada?" Tanya Windi saat mobil Marvel melaju ke arah jalan menuju tempat makam ibunya.
"Tentu saja. Bukan hanya mengetahuinya, aku bahkan telah berkunjung ke sana." Jawab Marvel.
"Apa? Maksudmu kau sudah pernah berkunjung ke makam ibuku?" Tanya Windi.
Marvel hanya tersenyum tak menjawab pertanyaan Windi.
"Marvel." Windi menuntut jawaban dari Marvel namun lagi-lagi Marvel hanya diam tak menjawab ucapannya.
*
"Ayo kita beli bunga dulu." Ajak Marvel setelah memberhentikan mobilnya tak jauh dari area pemakaman.
Windi menoleh ke arah luar jendela mobil yang memperlihatkan deretan penjual bunga. Ia kembali menoleh pada Marvel lalu mengangguk sebagai jawaban.
Marvel pun keluar lebih dulu dari dalam mobil dan diikuti Windi setelahnya.
Saat tengah memilih bunga, Windi dibuat terkejut saat tangannya dan Marvel saling bersentuhan saat keduanya ingin mengambil bunga mawar putih. "Marvel?" Ucap Windi.
"Emh, ya?" Tanya Marvel lalu mengambil bunga mawar putih. Windi tak langsung mengambil bunga seperti yang Marvel lalukan dan lebih memilih menantap Marvel intens. "Kau mengambil bunga mawar warna putih. Apa hanya sebuah kebetulan atau bagaimana?" Tanya Windi.
"Aku mengambil bunga yang menjadi bunga favorit ibu mertuaku." Jawab Marvel seraya tersenyum lembut.
Deg
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Queenara update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.