Queenara

Queenara
Di balik topeng



"Ikuti kemana?" Tanya Marvel.


"Kemana saja. Tapi yang pasti ke suatu tempat yang sering dikunjunginya." Ucap Dio.


"Apa kau lupa jika besok pagi kita bekerja?" Ketus Marvel.


"Kau bisa bolos seperti biasanya bukan?" Tanya Dio enteng.


Puk


Marvel meninju pelan lengan Dio. "Sembarangan. Untuk saat ini aku sedang tidak bisa bermain-main." Ucap Marvel.


"Maksudmu?" Tanya Dio bingung.


"Besok kedua orang tuaku akan datang ke perusahaan entah untuk apa." Ucap Dio.


"Apa kedua orang tuamu datang untuk membahas tender dari perusahaan M?" Tanya Dio.


Marvel mengangkat kedua bahunya. "Entahlah, yang pasti mereka ingin melihat kinerjaku selama memimpin perusahaan." Jawab Marvel.


"Aku yakin jika kau berhasil mendapatkan tender itu Om dan Tante akan bangga kepadamu." Ucap Dio.


"Itu sudah pasti. Tapi yang lebih membanggakan mereka adalah jika aku berhasil memberikan cucu untuk mereka." Ucap Marvel dengan malas.


"Hahaha." Dio tertawa-tawa mengingat permintaan kedua orang tua Marvel pada Marvel. "Tentu saja mereka sudah menginginkan cucu darimu. Kau lihat saja, teman seperjuangan kedua orang tuamu sudah memiliki cucu bahkan mau memiliki cicit sedangkan kau tidak bisa memberikan itu semua pada mereka." Kelakar Dio.


"Aku bisa memberikannya." Ketus Marvel.


"Bagaimana caranya? Dengan cara melajang seumur hidup?" Kelakar Dio lagi.


Marvel mendengus mendengarnya. "Sebelum kau mengujatku lebih baik kau mengoreksi dirimu sendiri. Apa kau sadar jika kau juga belum bisa memberikan itu semua pada kedua orang tuamu." Sindir Marvel.


Dio tertegun mendengarnya. "Walau pun begitu aku sudah memiliki calon untuk membuat cucu untuk kedua orang tuaku." Jawab Dio kemudian.


"Cih." Marvel berdecih. "Bisa saja keinginanmu itu tidak terwujud jika kekasihmu mendua di luar sana." cibir Marvel.


"Ada." Pungkas Marvel.


"Siapa?" Tanyanya remeh.


"Diriku." Ucap Marvel lalu bangkit dari duduknya.


"Dirimu? Tentu saja tidak. Ketampananku lebih di atas segalanya dibandingkan dirimu." Ketus Dio.


Marvel hanya diam saja lalu berjalan meninggalkan Dio. "Hei, kau ingin kemana?" Teriak Dio namun Marvel tak menjawabnya.


Dio menghela nafas lalu menatap makanan mereka yang masih berserakan di atas meja. "Dia menyuruhku membereskan ini semua?" Gerutunya lalu memasukkan satu persatu makanan ke dalam plastik. Setelahnya ia menyusul Marvel yang sudah masuk ke dalam mobil miliknya.


"Kau lihat mereka, Windi? Mereka sungguh menggemaskan bukan?" Rekan kerja Windi bernama Alisa nampak tertawa melihat sikap Marvel dan Dio dari dalam supermarket.


Wanita bernama Windi itu mengangkat kedua bahunya. "Sudahlah, lebih baik kau fokus pada pekerjaanmu karena pengunjung sudah semakin ramai mengantri." Ucap Windi.


"Kau sungguh tidak asik." Jawab Alisa lalu kembali fokus pada pekerjaannya.


*


Di apartemennya, Marvel nampak termenung memikirkan wanita yang tadi dilihatnya di supermarket. "Dia cantik, namun sayang aku belum menyukainya." Ucap Marvel lalu menarik salah satu sudut bibirnya ke samping.


Marvel menjatuhkan punggungnya di atas ranjang lalu menjadikan kedua tangannya sebagai penyangga kepalanya.


"Terlalu banyak wanita yang pandai bersandiwara lewat wajah polos mereka. Mungkin saja dia salah satunya. Wajah polosnya itu bisa saja menutupi kebusukannya. Aku tidak ingin lagi terjebak dalam hal yang sama." Ucap Marvel saat pemikirannya tertuju pada masa lalunya beberapa tahun lalu yang membuatnya memutuskan tidak lagi mengenal arti kata cinta.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.


Sambil menunggu Queenara update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!🖤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.