
"Terlalu banyak kesalahpahaman yang terjadi di antara kami. Walau merasa tidak pantas namun saya harus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada saya hingga membuat Queen berpikiran buruk tentang saya."
Papa Adam diam memilih menunggu Kevin melanjutkan ucapannya. Kevin pun kembali melanjutkan ucapannya dan menjelaskan kesalahpahaman terbesar yang terjadi di antara dirinya dan Queen hingga membuat Queen pergi darinya. Penjelasan Kevin pun berhasil membuat wajah Papa Adam memerah karena ia kembali mendengar Kevin berniat menikahi wanita lain di saat anaknya masih mengandung cucunya. Dan lebih parahnya Kevin dan Queen sedari awal pernikahan sudah bersepakat untuk berpisah jika cucunya sudah lahir ke dunia.
Walau sudah mengetahui jika itu semua Kevin lakukan karena kesalahan putrinya sendiri yang mendesak Kevin untuk bertanggung jawab padanya atas kesalahan yang ia perbuat, namun tetap saja Papa Adam merasa tidak terima dengan perlakuan Kevin pada putrinya.
"Kau memang pria bereng-sek!" Ucap Papa Adam dengan kedua tangan yang sudah terkepal.
Kevin memilih diam tanpa berniat menyangkal ucapan Papa Adam.
"Papa tenanglah..." Mama Lita hanya bisa menenangkan suaminya dengan terus mengelus lengan suaminya.
Papa Adam menghela nafas panjang lalu menghembuskannya secara kasar di udara. Ia menatap pada Kevin yang kini tengah menatapnya tanpa gentar walau ekspresi dan ucapannya sudah menunjukkan jika ia sedang marah besar.
"Kau pikir putriku adalah barang yang bisa kau buang di saat kau sudah merasa bosan padanya?!" Sentak Papa Adam.
"Saya tidak pernah menganggap jika Queen adalah sebuah barang, Pa. Saya justru menganggap Queen adalah permaisuri dalam hidup saya yang dapat membuat hidup saya menjadi lebih indah." Balas Kevin.
"Permaisuri? Permaisuri seperti apa yang kau maksud? Jika dia kau anggap sebagai permaisuri dalam hidupmu, kau tidak akan menyia-nyiakannya saat menjadi istrimu bahkan berniat meninggalkannya setelah melahirkan anakmu." Ketus Papa Adam.
"Saya sudah mengatakan jika saya memiliki alasan untuk itu semua, Pa." Kevin pun kembali menjelaskan jika saat itu tidak mungkin baginya bisa bersama selamanya dengan Queen di saat ia sudah berjanji akan menikahi Melody. Kevin pun turut menjelaskan pernikahannya dan Melody yang akhirnya batal karena ia lebih memilih Queen dan Boy dari pada Melody. Namun Kevin tidak menjelaskan efek dari batalnya pernikahan mereka yang membuat perusahaannya berada di ambang kehancuran.
Di tengah penjelasannya atas apa yang terjadi selama ini, di lantai atas, Boy terlihat keluar dari dalam kamarnya dengan digendong oleh Nany yang menjaganya.
"Ada Daddy di bawah tuh!" Boy terus merengek meyakinkan Nany jika Kevin berada di rumah mereka.
"Tapi Daddy Tuan Boy tidak ada di rumah ini." Nany yang tidak mengetahui kedatangan Kevin pun hanya bisa memberi pengertian pada Boy yang sejak tadi merengek sejak baru bangun dengan terus memanggil nama Daddynya. Ia pun melangkah ke arah tangga sambil menggendong Boy yang masih merengek.
"Daddy...!!" Pekik Boy melihat Kevin yang sedang berbicara di lantai bawah.
Nany pun sontak menatap ke arah lantai bawah. Dan benar saja. Ia dapat melihat Kevin kini berada di rumah majikannya dan sedang terlibat perbincangn serius dengan Papa Adam dan Mama Lita.
"Boy?" Ucapnya lalu seketika bangkit dari duduknya.
"Daddy... Daddy Boy!" Ucap Boy semakin keras menunjuk pada Kevin. "Tulun... tulun..." Boy memberontak dalam gendongan Nany meminta untuk diturunkan.
"Tunggu sebentar, Tuan kecil. Saya akan membawa Tuan kecil bertemu dengan Daddy." Ucap Nany menahan pergerakan Boy. Nany pun dengan hati-hati berjalan menuruni tangga sambil mendekap erat tubuh Boy.
"Hua... Daddy!" Boy pun akhirnya menangis karena merasa tidak sabar bertemu dengan Kevin.
Tak kuasa melihat tangisan putranya yang terus memanggil namanya, Kevin segera berjalan ke arah tangga lalu menaiki anak tangga satu persatu. Di tengah anak tangga, Kevin langsung mengambil alih tubuh Boy dari gendongan Nany.
"Daddy... hua..." Boy menangis sejadi-jadinya sambil mengusap wajah tampan Kevin.
Melihat putranya yang menangis membuat mata Kevin berkaca-kaca. "Jangan menangis, Boy..." ucap Kevin sambil mengusap rambut Boy.
Bukannya berhenti, tangisan Boy justru semakin terdengar lebih keras. "Hua... Daddy pelgi..." jerit Boy.
"Kita turun dulu, ya." Kevin pun memilih menuruni anak tangga sambil mengusap rambut Boy dengan tangannya.
"Papa lihat sendiri bukan, sekarang apa Papa tega menjauhkan Boy dengan ayah kandungnya?" Tanya Mama Lita pada Papa Adam dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Queenara update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.