Queenara

Queenara
Kenapa kau takut kepadaku?



Papa Adam yang menyadari jika kini dirinya tengah menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitarnya pun terpaksa menyambut uluran tangan Kevin untuk berjabat tangan. "Sekali lagi saya ucapkan turunkan cucu saya." Titah Papa Adam dengan nada tertahan.


Kevin tak mengindahkan ucapan Papa Adam yang terdengar tidak enak di telinganya. "Maaf, Pah, tapi Kevin masih ingin menggodong Boy." Balas Kevin dengan tersenyum tipis.


"Kau..." Papa Adam menggeram. Rasa kesal dan amarahnya yang sudah naik ke ubun-ubun terpaksa ia padamkan saat melihat tatapan polos Boy padanya.


"Kakek... Daddy Boy!" Ucap Boy seolah memperkenalkan Daddynya pada Papa Adam dan Mama Lita.


"Benar... Daddy Kevin adalah Daddy Boy..." jawab Mama Lita dengan tersenyum senang. Mama Lita sungguh tidak percaya jika cucunya bisa sedekat ini pada Kevin mengingat pertemuan mereka yang masih terbilang singkat.


"Mama..." Kevin mengulurkan tangannya pada Mama Lita yang dengan cepat disambut oleh Mama Lita.


"Kevin... sudah lama Mama tidak bertemu denganmu." Ucap Mama Lita dengan tersenyum. Tiada sedikit pun amarah yang terpendam dari dalam diri Mama Lita melihat mantan menantunya itu.


Kevin tersenyum mendengarnya. "Maaf karena tidak pernah lagi mengunjungi Mama." Sesal Kevin.


Mama Lita mengangguk. "Mama paham dengan kesibukanmu." Jawab Mama Lita.


Di sebelah Mama Lita Papa Adam nampak menggeram melihat istrinya yang begitu akrab dengan Kevin.


"Daddy, Boy mau main!" Ucap Boy sambil menunjuk pada anak-anak yang sedang bermain di kolam bola.


"Boy ingin bermain bersama mereka?" Tanya Kevin sambil mengusap rambut Boy.


"Ya, iya!" Seru Boy sambil menunjuk ke arah teman-temannya.


"Baiklah kalau begitu." Ucap Kevin lalu menurunkan Boy dari gendongannya.


"Daddy itut!" Ucap Boy sambil memegang jari telunjuk Kevin.


"Eh." Walau pun merasa terkejut dengan tindakan putranya, tapi Kevin tetap mengikuti permintaan putranya untuk berjalan ke kolam bola.


"Pah..." Mama Lita mengelus lengan suaminya untuk meredamkan amarah di dalam diri Papa Adam saat ini. "Biarkan Boy bersama Daddynya. Apa Papah tidak bisa melihat jika Boy sangat senang bertemu dengan Kevin?" Tanya Mama Lita dengan lembut.


"Papa tidak melihatnya. Lebih baik sekarang kita mengambil Boy dan membawanya bermain di tempat lain!" Titah Papa Adam tanpa mengalihkan pandangannya dari Boy yang kini nampak sudah masuk ke dalam kolam bola.


"Papah jangan bersikap egois. Apa Papa tega memisahkan Boy yang sedang senang bermain bersama Daddynya karena keegoisan Papa? Dan apa Papa mau karena keegoisan Papa orang-orang yang berada di sekitar kita menilai Papa buruk?" Tanya Mama Lita.


Papa Adam menghembuskan nafas kasar di udara. Apa yang diucapkan Mama Lita benar jika dirinya tidak mungkin memisahkan Boy yang sedang bermain begitu saja dari Kevin yang akan membuat Boy menangis dan membuat keributan di sekitar mereka.


"Om ganteng... siapa bocil ini?" Tanya Zeline dengan tatapan menyelidik pada Boy. Karena keseringan mendengar Farhan dan Fahri memanggil Ziko dengan sebutan bocil, Zeline pun terbawa memanggil Boy dengan sebutan bocil.


"Capa nih, Tak?" Tanya Ziko pada Zeline.


"Mana Kakak tahu. Om ganteng belum menjawab pertanyaan Kakak." Jawab Zeline pada Ziko. Zeline pun mengalihkan tatapannya pada Kevin dengan menatap Kevin tajam.


"Daddy..." Boy pun meminta keluar dari dalam kolam bola dengan mengulurkan kedua tangannya pada Kevin. "Capa tuh?" Tanya Boy sambil menatap Zeline dan Ziko secara bergantian.


"Zeline... Ziko... perkenalkan ini adalah Boy anak Om Kevin." Ucap Kevin sambil mengusap kepala Boy.


"Anak Om Kevin?" Ulang Zeline. Matanya nampak membola sempurna setelah mendengarkan ucapan Kevin.


"Ya. Dia adalah anak Om Kevin dan Aunty Queen." Jawab Kevin lagi.


"Apa? Ini adalah adik bayi? Adik bayi kembaran Ziko?" Tanya Zeline dengan tatapan tak percaya.


Kevin pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban pada Zeline.


"Daddy..." Boy yang merasa posisinya terancam pun merengek pada Kevin.


"Jangan takut... Kakak Zeline tidak akan jahat kepada Boy." Tutur Kevin lembut.


Zeline mendekat pada Kevin lalu memegang kaki Boy. "Hei... kenapa adik bayi terlihat takut kepadaku?" Tanya Zeline dengan wajah bingung.


"Itu karena Zel menatapnya dengan garang." Timpal Marvel yang sudah berada di belakang Kevin bersama Dio.


"Tidak. Zel tidak garang pada adik bayi." Zeline menggeleng-gelengkan kepalanya. "Benar begitu kan, Ziko?" Tanya Zeline pada Ziko yang tidak akan mengerti maksud ucapannya.


Dan benar saja, Ziko kini menatap Zeline dengan wajah bingungnya.


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.


Sambil menunggu Queenara update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!🖤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.