
Puk
Sebuah bantal sofa melayang tepat di kepala Marvel.
"Aw." Pekik Marvel sambil mengelus kepalanya yang terasa sedikit sakit.
"Jangan sembarangan berbicara!" Ketus Daniel. Sedangkan pelaku pelempar bantal nampak menggeleng melihat Marvel.
"Kau..." Marvel menggeram. Bukan pada Daniel, melainkan pada Dio yang telah melempar bantal sofa ke kepalanya.
"Hahaha..." Zeline tertawa-tawa melihat Marvel yang kesakitana. "Om Marvel lucu." Celetuk Zeline.
"Lucu?" Marvel menatap Zeline tak habis pikir. Zeline pun mengangguk sebagai jawaban. "Kau bilang lucu? Ini tidak lucu, Zeline. Kepala Om sakit karena dilempar bantal." Gerutu Marvel.
Zeline tak menghiraukan ucapannya dan justru tertawa melihat padanya.
"Huh sudahlah, ayo kita duduk." Ajak Marvel.
Zeline mengangguk lalu berjalan kembali ke arah sofa sambil memeluk erat bonekanya.
"Mamah... Zi mau main." Ucap Ziko menunjuk pada boneka baru di tangan Zeline.
"Ziko mau mainan?" Tanya Naina lembut.
Ziko pun mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Mommy..." Boy pun turut merengek pada Queen meminta mainan.
"Tidak untuk sekarang, ya. Kan mainan Boy masih banyak yang baru di rumah." Tutur Queen.
"Hee..." Boy masih saja merengek tapi Queen tetap tak mengiyakan permintaan putranya.
Kevin pun mengambil alih putranya untuk menenangkannya. Untung saja setelah berada di pangkuan Kevin, Boy tak lagi merengek hingga membuat Queen menghela nafas lega melihatnya.
"Jadi bagaimana keadaan Zel saat ini, apa sudah semakin membaik?" Tanya Dio membuka percakapan di antara mereka.
"Syukurlah keadaan Zel semakin membaik. Kau bisa lihat sendiri bukan jika Zel sudah riang seperti biasanya." Jawab Daniel seraya tersenyum.
Dio menatap Zeline seraya tersenyum. "Kau benar. Zel sudah terlihat baik-baik saja." Jawab Dio.
"Apa Zel menyukai bonekanya?" Tanya Marvel.
"Suka. Zel sangat suka!" Jawab Zeline bersemangat.
Marvel tersenyum lebar mendengarnya. "Kalau suka ucapkan apa pada Om Marvel dan Om Dio?" Tanya Marvel.
"Terima kasih Om." Jawab Zeline cepat.
Marvel dan Dio tersenyum mendengarnya.
"Lain kali harus ikuti pesan Mama Nai agar tidak masuk rumah sakit lagi." Tutur Marvel lembut.
Kepala Zeline seketika tertunduk menyadari kesalahannya. "Ya, Om. Maafkan Zel, Mamah." Lirih Zeline merasa kembali bersalah pada Mama Naina karena tidak mendengarkan ucapannya.
"Mama sudah memaafkan Zel. Tapi ingat jangan diulangi lagi." Pesan Naina.
Zeline mengangguk saja sambil tersenyum pada Naina.
"Jadi bagaimana dengan permintaan pimpinan perusahaan M? Apa benar pimpinan perusahaan M memintamu untuk menikah sebagai syarat mendapatkan tender?" Tanya Kevin pada Kevin pada Marvel.
Mendengar pertanyaan Kevin membuat wajah Marvel murung seketika. "Seperti yang kau katakan. Dia tidak menerima syarat lain selain syarat itu." Jawab Marvel.
Kevin tersenyum miring mendengarnya. "Kenapa tidak kau turuti saja permintaan mereka. Lagi pula saat ini kau sudah cukup umur untuk menikah." Cibir Kevin.
"Kau..." Marvel menggeram. "Kau tahu jelas misi dalam hidupku saat ini." Pungkas Marvel.
"Walau pun begitu, belum tentu misimu itu baik untuk kelangsungan hidupmu untuk ke depannya. Bagaimana pun juga kau membutuhkan pasangan untuk menemanimu menikmati hari tua nanti." Ucap Kevin dengan wajah serius.
Marvel menatap malas pada Kevin. "Jika untuk menemani hari tua, aku bisa menyewa banyak wanita untuk menemani hari-hari tuaku nantinya." Ucap Marvel asal dan berhasil membuat sebuah bantal kembali mendarat di kepalanya.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Queenara update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.