
Tanpa membuang waktu lama, keesokan harinya, Marvel pun mendatangi rumah sakit untuk menemui Kak Dara. Ia memilih datang tepat di waktu Kak Dara masuk bekerja. Untung saja pagi itu Dara belum memiliki pasien yang harus diperiksa hingga bisa memudahkan Marvel masuk ke ruangan kerjanya untuk menemuinya.
"Kau datang tepat waktu." Ucap Dara setelah Marvel duduk di depan meja kerjanya.
Marvel tersenyum mendengarnya. "Tentu saja. Aku adalah pria yang tidak ingin membuang waktu terlalu lama." Jawanya.
"Emh, ya,ya. Tunggulah sebentar. Kakak akan meminta tolong OB untuk membuatkan minum lebih dulu untukmu." Ucap Dara.
Marvel mengangguk saja. Ia pun menunggu Dara selesai melakukan panggilan dengan pihak OB lalu kembali bersuara.
"Jadi apa yang ingin Kakak bicarakan kepadaku?" Tanya Marvel.
Dara tersenyum melihat Marvel yang terlihat begitu penasaran menunggu informasi yang akan disampaikannya. "Kakak memiliki informasi yang mungkin baik untukmu." Ucap Dara.
"Informasi apa itu, Kak?" Tanya Marvel yang merasa cukup penasaran dengan ucapan Dara.
"Kemarin sore saat Kakak sedang menemani rekan kerja Kakak memeriksa keadaan Ayah Windi, Kakak tidak sengaja mendenagar permintaan Om Amri pada Windi." Ucap Dara.
Marvel diam menunggu kelanjutan ucapan Dara.
"Om Amri meminta Windi untuk segera menikah sebagai permintaan terakhirnya. Ia tidak ingin di saat umurnya ternyata tidak sampaiĀ Windi belum memiliki pasangan yang bisa menemaninya dan menjaganya." Ucap Dara.
Marvel terdiam tak dapat berkata-kata mendengarkan ucapan Dara yang terdengar sangat menyentuh hatinya. "Tapi bukankah keadaan Om Amri sudah semakin membaik setelah sadar dari komanya?" Tanya Marvel kemudian.
"Ya. Menurut pemeriksaan memang seperti itu. Namun masih ada penyakit lain di dalam tubuh Om Amri yang membuat tubuhnya semakin lemah. Ditambah keadaannya pasca kecelakaan membuat otak bagian belakangnya terganggu dan harus segera dilakukan tindakan." Terang Dara.
Marvel menghela nafasnya yang terasa kian memberat. Walau ia sudah menangkap maksud dari ucapan Dara, namun tetap saja ia menaruh rasa iba pada Windi yang hanya tinggal memiliki Ayah sebagai keluarga dan pelindung dalam hidupnya.
Marvel mengangguk. Melihat keadaan Windi saat ini semakin menguatkan tekadnya untuk menjadikannya sebagai istrinya. Terlepas dari tuntutan kedua orang tuanya yang ingin ia segera menikah, Marvel juga menaruh rasa kemanusiaan pada Windi untuk bisa melindungi Windi.
"Kenapa kau diam saja?" Tanya Windi.
"Aku sedang memikirkannya. Baiklah, kalau begitu aku akan secepatnya menemuinya kembali." Ucap Marvel.
"Maksudmu? Apa kau sudah menemuinya sebelum ini?" Tanya Dara.
"Ya. Aku sudah menemuinya tadi malam sebagai pertemuan terbaik kami." Jawab Marvel.
Dara hampir tertawa mendengar ucapan Marvel. "Oh ya, Marvel. Terlepas dari niat baikmu itu, Kakak harap kau tidak menjadikan pernikahan sebagai sebuah permainan atau sekedar untuk kebutuhan pribadimu. Jangan pernah menyakiti seorang wanita baik atau kau tidak akan lagi mendapatkan wanita baik lagi di dalam hidupmu." Pesan Dara.
Marvel mengangguk. "Aku tidak berniat untuk mempermainkannya, Kak." Jawab Marvel.
"Bagus. Kakak rasa kau sudah memiliki pengalaman banyak dari kisah hidup kedua sahabatmu. Lihatlah mereka, di saat mereka menyia-nyiakan seorang wanita baik, hidup mereka terasa tidak pernah bahagia sampai wanita itu kembali menjadi milik mereka." Ucap Dara mengingatkan Marvel pada kedua sosok sahabat baiknya.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Queenara update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!š¤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.