
"Marvel?" Lirih Windi sambil berusaha mengingat-ingat nama pria bernama Marvel. Pemikiran Windi pun langsung tertuju pada sosok pria yang kemarin tiba-tiba datang menawarkan sebuah pernikahan padaya.
"Apa Marvel yang Ayah maksud adalah Marvel itu?" Tanya Windi pelan.
"Kau berbicara apa, Nak?" Tanya Amri yang tidak terlalu mendengarkan ucapan Windi.
"Emh, tidak ada Ayah." Jawab Windi pelan.
"Windi, Ayah sangat senang karena kau mendapatkan pria yang baik untuk pendamping hidupmu." Ucap Amri sambil membayangkan sikap Marvel padanya tadi.
"Kenapa Ayah semudah itu menilainya?" Tanya Windi mencoba masuk dalam pembicaraan Ayahnya.
"Walau pun baru satu kali bertemu dengannya, namun Ayah percaya jika Marvel adalah pria yang baik. Tutur kata dan cara bersikapnya pada Ayah membuat Ayah merasa yakin padanya." Jawab Amri.
Windi dibuat tertegun mendengarnya. Apa bisa semudah itu ayahnya menilai pria yang baru satu kali bertemu dengannya? Namun melihat cara Ayahnya selama ini dalam menilai seseorang membuat Windi yakin jika ayahnya tidak semudah itu menilai sikap seseorang jika tidak membawa perasaan dan akal sehatnya.
"Baru kali ini ada pria yang berani menemui Ayah dan memintamu menjadi istrinya. Ayah sungguh terharu mendengarnya." Lanjut Amri kemudian.
Windi semakin dibuat bingung untuk berkata-kata. Ia hanya bisa tersenyum kaku membalas senyuman di wajah ayahnya saat ini.
"Emh, Ayah. Kalau begitu Windi ingin membersihkan tubuh lebih dulu. Akan tidak baik jika Windi terlalu berlama-lama di sebelah Ayah dalam keadaan baru pulang bekerja seperti saat ini." Ucap Windi.
"Baiklah, Nak." Jawab Ayah Amri.
Windi pun beranjak dari duduknya lalu berjalan ke arah tasnya berada. Ia mengeluarkan baju gantinya di sana dan tak lupa mengambil handuk. Setelahnya, Windi pun berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.
*
"Tidurlah, Ayah. Semoga setelah bangun nanti keadaan Ayah sudah semakin baik lagi." Ucap Windi penuh harap.
Setelah memastikan Amri nyaman dalam tidurnya, Windi pun melangkah ke arah jendela yang kini tengah memperlihatkan pemandangan kota saat malam hari. Pandangan Windi tertuju pada sebuah gedung yang terlihat sangat terang dibandingkan gedung-gedung yang lainnya.
"Gedungnya tinggi sekali. Aku jadi merasa penasaran siapakah pemiliknya." Ucap Windi. Pandangan Windi pun beralih pada gedung yang lainnya hingga terhenti pada satu gedung yang terlihat gelap.
"Huft... sungguh menyeramkan." Komentarnya. Cukup lama Windi melihat pemandangan kota dari jendela hingga akhirnya pandangannya terasa kosong saat mengingat ucapan ayahnya sore tadi di saat ia baru pulang bekerja.
"Apa maksud pria itu menemui ayah? Bukankah aku kemarin sudah menolak tawaran konyolnya itu? Apa dia tidak sadar dengan tindakannya itu membuat ayah jadi menaruh harapan padaku dan padanya." Ucap Windi merasa bingung. "Aku harus menghubunginya untuk menanyakan maksud kedatangannya ke sini." Ucap Windi lalu merogoh ponsel dari saku celananya. "Agh, bodoh sekali. Aku kan tidak ada menyimpan nomer ponselnya." Ucap Windi lalu mendecaknya lidahnya.
"Oh, ya." Windi pun teringat dengan sahabat baiknya. "Sebaiknya aku menghubungi Alisa saja untuk menceritakan ini semua." Ucap Windi. Windi pun memilih keluar dari dalam ruangan rawat ayahnya agar tidak mengganggu ayahnya yang sedang istirahat. "Ayah, Windi pergi sebentar dan akan segera kembali." Ucap Windi lalu keluar dari dalam ruangan.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Queenara update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.