Queenara

Queenara
Calon menantu Amri



Keesokan harinya Windi kembali mendapatkan sift bekerja di pagi hari. Dan seperti beberapa hari yang lalu, ia berangkat ke supermarket menggunakan bus dari halte yang berada tidak jauh dari rumah sakit. Untung saja setiap pagi ia berangkat lebih awal dan penumpang di dalam bus belum terlalu ramai hingga ia tidak harus berdesak-desakan di dalam bus seperti saat pulang bekerja.


"Windi." Teriakan Alisa menghentikan langkah Windi yang hendak masuk ke dalam supermarket.


"Alisa?" Ucap Windi tersenyum pada sahabat baiknya.


"Kau berangkat dengan bus lagi pagi ini?" Tanya Alisa.


Windi mengangguk. "Lalu aku harus menggunakan apa lagi untuk berangkat bekerja?" Tanya Windi masih tetap tersenyum.


Wajah Alisa berubah layu mendengar ucapan Windi. "Maaf jika aku menyinggung perasaanmu." Ucap Alisa merasa tidak enak.


"Tak masalah. Kau seperti orang lain saja." Ucap Windi lalu menarik tangan Alisa masuk ke dalam supermarket.


Wajah Alisa masih layu saat mengingat beberapa hari yang lalu Windi memutuskan untuk menjual motornya untuk biaya rumah sakit dan biaya hidupnya selama ayahnya dirawat.


"Apa kau sudah sarapan, Windi?" Tanya Alisa saat mereka telah berada di dalam ruangan khusus karyawan supermarket.


Windi meletakkan tas selempangnya di dalam lemari lalu menatap pada Alisa. "Sudah. Apa kau sudah sarapan, Al?" Tanya Windi kembali.


Alisa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Benarkah kau sudah sarapan? Jika kau belum sarapan aku ada sesuatu di dalam tasku untuknu." Ucap Alisa dengan tatapan penuh arti.


Windi dapat melihat arti tatapan Alisa padanya. "Ayo cepat keluarkan roti itu untukku." Ucap Windi pada Alisa. Ia tahu jika Alisa saat ini membawa roti coklat kesukaannya di dalam tasnya.


"Haha." Alisa tertawa lalu mengeluarkan roti yang ia bawa untuk Windi. "Aku tahu kau pasti menginginkannya." Ucap Alisa.


"Tentu saja. Roti coklat buatan ibumu sangatlah enak." Ucap Windi lalu tanpa membuang waktu lama memakan roti yang diberikan Alisa padanya.


Alisa tersenyum mendengarnya.


"Oh ya, Alisa. Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu." Ucap Windi setelah menghabiskan roti coklat pemberian Alisa.


"Apa itu?" Tanya Alisa.


"Hem, bagaimana kalau aku menceritakannya saat jam istirahat siang saja." Ucap Windi saat melihat jam sudah hampir memasuki waktu mereka mulai bekerja.


"Kalau begitu ayo kita mulai bekerja." Ajak Windi yang dibalas Alisa dengan anggukan kepalanya.


*


Di saat Windi tengah sibuk bekerja di supermarket, di tempat yang berbdeda tepatnya di rumah sakit tempat Amri dirawat, Marvel terlihat baru saja memasuki rumah sakit dengan membawa bingkisan buah di tangannya.


Pria itu melangkah dengan penuh percaya diri hingga akhirnya langkahnya terhenti tepat di depan ruangan rawat Ayah Windi.


Tok


Tok


Tok


Marvel mengetuk pintu dengan pelan lalu membuka pintu ruangan rawat Ayah Windi.


Amri yang kebetulan tengah terjaga pun menatap ke arah pintu yang baru saja terbuka dan memperlihatkan wajah Marvel di sana. Melihat Amri tengah menatap padanya membuat Marvel mengembangkan senyuman tampan di wajahnya.


"Selamat pagi, Tuan Amri." Sapa Marvel setelah berada di dekat ranjang.


Amri menatap Marvel dengan kening mengkerut karena gagal mengenali siapa pria yang ada di hadapannya saat ini.


"Selamat pagi anak muda. Maaf, kalau boleh tahu anda siapa?" Tanya Amri dengan wajah bingung.


Marvel meletakkan bingkisan di tangannya di atas meja lalu mengulurkan tangannya pada Amri. "Perkenalkan, Tuan. Saya Marvel. Calon menantu anda Tuan." Ucap Marvel dengan sopan.


*


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, gift dan komennya dulu, ya.


Sambil menunggu Queenara update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!🖤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.